| Beranie Gagal Commercial |
Cara Pasang Banner
|
| Donasikan Blog Ini |
|
|
| Beranie Gagal Award |
|
| Beranie Gagal Partners |

BERHADIAH 30 JUTA KLIK DISINI
|
| Hubungi Kami |
|
|
| Quote's Of The Day |
|
|
|
| Friday, October 28, 2011
|
|
Alasan Oh Alasan
|
|
Saya adalah seorang pemuda berusia 16 tahun yang gemar mendengarkan musik. Mulai dari yang bergenre pop, jazz hingga rock. Lama-kelamaan kecintaan saya pada musik membuat saya tertarik untuk dapat memainkan salah satu alat musik. Pilihan saya jatuh pada alat musik yang sangat merakyat yaitu gitar. Alasannya cukup simpel, yang pertama karena banyak orang yang bisa bermain gitar sehingga mudah untuk belajarnya dan yang kedua saya memiliki gitar yang nganggur di rumah.
Pertama saya membeli buku panduan di Toko Buku Gramedia dengan harapan beberapa hari ke depan saya dapat langsung mahir bermain gitar. Ternyata setelah membaca buku dan mencoba mengaplikasikan nya, hitungan hari tidak membuat saya mahir bermain gitar.
Saya pun beralasan bahwa senar gitar saya yang pada saat itu adalah "string", tidak enak untuk pemula seperti saya. Karena saat itu menurut saya senar string itu keras dan membuat tangan kapalan. Esok harinya saya membawa gitar saya untuk diganti dengan senar nilon. Pada saat itu saya berasumsi dengan senar nilon yang baru ini saya dapat belajar gitar dengan mudah. Lagi-lagi perkiraan saya salah, senar string dan senar nilon sama saja susahnya!
Saat ini, saya sudah bisa bermain gitar dengan lancar dan bisa membawakan beberapa lagu dengan cukup lumayan. Sekarang saya telah sadar atas kesalahan saya sebelumnya, yaitu terlalu banyak mencari-cari alasan! Tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses selangkah demi selangkah, layaknya ulat yang tadinya menjijikan berubah menjadi kepompong yang keras dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Semua butuh proses yang dilalui, karena dari proses tersebut ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk ke depannya.
Lalu yang kedua, (kesalahan) "bukan pada alatnya". Bukan berarti dengan mengganti senar gitar saya dapat dengan mudah belajar gitar, tapi dibutuhkan kerja keras, kemauan dan pantang menyerah dalam menggapai suatu tujuan. Jika ingin menjadi pribadi yang sukses, yang harus dibenahi pertama kali bukanlah yang ada di luar diri tapi yang ada di dalam diri. Kekuatan sebenarnya bukan terletak di luar diri tapi terletak di dalam diri kita sendiri.
Jika kita ingin menjadi orang yang sukses dan berhasil mencapai tujuan kita, jangan banyak beralasan. Tapi banyak-banyaklah belajar dan bertindak! Orang sukses sibuk mencari jalan sedangkan orang gagal sibuk mencari alasan. Mulai dari sekarang mari kita mencari jalan menuju jalan kesuksesan kita! Kita semua punya potensi! Kita semua punya HAK! Semua tergantung dari dalam diri kita, Mau atau Tidak?!
Jadi, mulai sekarang marilah kita berusaha menjadi pribadi yang sukses dengan tidak banyak beralasan tetapi dengan banyak-banyak belajar, bertindak, dan berdoa.
Salam Sukses untuk kita semua! Anda Juara!
Penulis : Yasa Paramita Singgih Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:33:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, October 25, 2011
|
|
Agar Bisnis Tidak Berhenti, Sustain & Growing
|
Seperti apakah kita jika kita berhenti di tengah jalan ketika merintis sebuah usaha dan tidak berusaha lagi?
Sudah tentu kita takkan menggapai apa yang kita impikan. Sudah tentu juga kita takkan merasakan keberhasilan dan kesuksesan yang kita idam-idamkan.
Jika seseorang mengalami sebuah kesulitan ketika berusaha namun tidak berupaya untuk mengatasinya kemungkinan ia akan mundur dari usahanya dan berhenti total. Bisa jadi dia dikemudian hari akan membuka usaha lain, menemukan sebuah kesulitan..kemudian quit alias berhenti..membuka usaha lain...quit...membuka usaha lain...quit lagi.. Begitu terus siklusnya.
Mirip sebuah perkawinan..yang apabila orangnya mengalami kesulitan dalam perkawinannya, dia tidak berusaha untuk mengatasinya dan kemudian memilih jalan cerai. Bisa jadi dia kemudian akan menikah lagi..dan bercerai..menikah dan bercerai lagi. Begitu terus.
Itu yang akan terjadi apabila orang tersebut memilih untuk tidak mengatasi kesulitannya dan berhenti. Tentu bukan itu yang kita inginkan.
Bagaimana jika diri kita yang sedang menemui kesulitan?
Ada dua hal yang perlu diubah...
Yang pertama adalah diri kita sendiri..diri kitalah yang pertama kali harus diubah..
Apa yang perlu diubah? Mungkin mindset kita perlu diubah. Mungkin ilmu kita perlu diubah atau ditambah. Mungkin belief-belief kita perlu diubah dan lain-lain.
Yang dulunya berpikiran tidak pantas untuk menjadi kaya...sekarang sudah memasang belief dalam dirinya bahwa dirinya pantas menjadi trilyuner karena dirinya adalah anugerah terbaik Allah. Yang dulunya tidak punya ilmu marketing, akhirnya mencari ilmu marketing. Yang dulunya tidak percaya diri, sekarang jadi lebih pede. Yang tadinya tidak bisa selling, akhirnya berusaha untuk selling. Yang tidak mengerti laporan keuangan, akhirnya mencari tahu tentang itu, dll
Mungkin juga kita perlu lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta..memohon ampun dan berdoa..memperbaiki ibadah kita agar senantiasa dilapangkan jalannya... Bisa jadi juga kita lupa untuk berzakat atau bersedekah..
Segala hal yang ada dalam diri kitalah yang harus diubah. Di Qur'an pun sudah diterangkan bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.
Yang kedua adalah cara kita... Sudah barang tentu kita takkan mendapatkan hasil yang luarbiasa jika menggunakan cara-cara lama... Adalah sangat naif jika kita menginginkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama...
Cari dan dapatkanlah cara-cara baru agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Mungkin kita perlu memperbaiki cara kita membangun team. Mungkin kita perlu memperbaiki cara kita berkomunikasi. Mungkin juga kita perlu memperbaiki cara kita marketing atau selling produk kita. Mungkin juga kita perlu membenahi cara-cara mengelola usaha kita supaya efektif dan efisien. Bisa jadi juga kita perlu memperbaiki cara kita mengelola keuangan usaha, dan lain-lain
Jadi ketika mengalami sebuah kesulitan dalam berusaha, ubahlah diri anda sendiri dan cara anda. Insya Allah solusi akan berdatangan dan hasil yang diidamkan pun akan semakin mendekat.
Kemudian dalam berusaha bagaimana agar bisnis kita sustain dan growing? Ternyata jawabannya hanya satu yaitu di intention atau niat.
Seseorang akan mendapatkan hasil dari usahanya tergantung dari niatnya. Dan kita perlu memiliki niat yang betul dalam berusaha. Semakin kuat intention kita yang benar, semakin dekat kita ke keberhasilan kita.
Apa saja intention yang membuat bisnis kita sustain?
Ada dua, yaitu niat yang berdasarkan dari faktor eksternal dan faktor internal.
Untuk faktor eksternal/dari luar: Kembali ke niat, seseorang akan mendapatkan hasil dari usahanya tergantung dari niatnya..
Jika seseorang berniat usaha karena kepepet...pasti kepepetlah yang akan dia dapat dalam bisnisnya. Semua yang serba kepepet.
Jika seseorang berniat usaha karena materi, maka hanya sekedar materi atau uanglah yang akan dia dapat.
Namun jika seseorang berniat kuat karena ingin berkontribusi...maka ia akan mendapatkan suatu bisnis yang sustainable...yang berkelanjutan.
Give and you will receive. Contribute and you will receive.
Jadikan bisnis kita sebagai karya atau kontribusi kita kepada khalayak manusia...kepada dunia.
We're here for a reason on earth.. kita ada di dunia ini untuk suatu alasan. Jadikan bisnis kita, bisnis yang banyak memberi manfaat kepada manusia.
Kata Rasul sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Coba kita lihat deretan orang-orang terkaya di dunia, ternyata mereka adalah orang-orang yang membawa banyak manfaat kepada umat manusia.
Seperti halnya Bill Gates yang sampai saat ini masih dalam deretan orang terkaya.. Juga pendiri Facebook yang meroket masuk ke dalam 100 deretan orang terkaya... Mereka bukan Muslim tapi mereka menjalankan apa yang disabda Rasul..memberi manfaat dan mendapatkan efek sampingnya yaitu kekayaan.. Perusahaan Robert Kiyosaki pun misinya adalah untuk mengangkat derajat kondisi keuangan umat manusia...
Jadi niatkan diri kita untuk berkontribusi melalui usaha kita..
Kemudian niat dari faktor internal... Sekali lagi seseorang akan mendapatkan hasil dari usahanya tergantung dari niatnya...
Pernah dengar orang yang buka usaha karena cari makan? Ya dia akan mendapat makan dari usahanya. Tidak lebih dari itu. Pernah dengar juga orang yang buka usaha karena ingin dapat kerjaan, kesibukan atau aktivitas? Ya, dia akan mendapatkan kesibukan yang luar biasa dari usahanya. Tidak lebih dari itu.
Dan ini niat yang paling baik untuk berusaha...adalah untuk mencapai kemakmuran atau prosperity.. Bukankah dengan hidup makmur kita bisa menolong lebih banyak orang? Bukankah kita pantas hidup makmur karena hidup kita hanya sekali? Bukankah Allah telah menjadikan diri kita makhluk terbaik dari ciptaanNya yang lain? Kita pantas hidup makmur karena kita adalah anugerah terbaik Allah.
Semoga dengan terus memperbaiki diri kita, cara-cara kita dan meniatkan berusaha untuk berkontribusi dan mencapai kemakmuran, kita mendapatkan bisnis yang sustainable and growing. Semoga juga melalui usaha kita dapat meraih ridhaNya..amiin.
Penulis: Ayesha (aye_nd@yahoo.com)
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:25:00 AM
  |
|
|
|
| Friday, October 21, 2011
|
|
Kebiasaan Menunda
|
|
Suka menunda-nunda bukanlah penyakit keturunan. Suka menunda-nunda adalah penyakit mental! Hasil dari kebiasaan yang sengaja kita biarkan berjalan.
Jika kita ingin meraih sukses yang LEBIH besar! Tidak ada cara yang paling efektif.. Kita haru tegas dan keras kepada diri sendiri! Untuk bebas dari penyakit menunda-nunda.
Salam Sukses Luar Biasa!!
[Andrie Wongso] Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:13:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, October 18, 2011
|
|
Beranie Gagal September 2011 Versi PDF Sudah Ada
|
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal!
Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal September 2011 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2011.
Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?!
Selamat Membaca!
Salam sukses! Ryan - Doddy Founder & Moderator BeranieGagal.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:42:00 PM
  |
|
|
|
|
|
Kejutkan Pelanggan
|
Kejutan kadang diperlukan untuk membuat kesan pada pelanggan. Dengan sedikit layanan tambahan berupa kejutan-kejutan, sebuah usaha bisa jadi akan selalu berada di hati pelanggan. Inilah nilai tambah yang seharusnya selalu diberikan dalam bentuk layanan kepada pelanggan.
Kejutan seperti apa yang bisa kita coba berikan?
Berikan bonus yang tak dikira-kira Intinya, jangan sepelekan bonus, bahkan meski nilainya kecil sekali pun. Sebab, banyak orang mengapresiasi dan merasa senang mendapat barang "gratisan". Maka, jangan heran jika saat ini, banyak perusahaan berlomba memberikan bonus-yang bahkan diiklankan besar-besaran-untuk menarik konsumen.
Ucapkan salam yang khas Ucapan selamat datang dengan menyebut nama toko, kadang itu sudah bisa menjadi "ajang" untuk lebih mengenalkan produk ke alam bawah sadar pembeli.
Tunjukkan keramahan dengan ketulusan Ini sebenarnya adalah sesuatu yang lumrah dan memang seharusnya dilakukan sebagai bagian dari layanan pelanggan. Tapi, cobalah misalnya amati antrean di bank. Kadang, hanya dengan memberikan "kejutan" kecil seperti permen, minuman kemasan, atau balon bagi yang membawa anak kecil, sudah membuat konsumen merasa diistimewakan.
Berikan kejutan pada yang ulang tahun Jika menyusuri jalur mudik di Utara atau Selatan Jawa, ada restoran yang cukup unik. Saat hendak memesan makanan, biasanya sang pelayan menanyakan tanggal lahir pembeli. Ternyata, jika kebetulan ada yang sedang ulang tahun, maka restoran itu akan memberikan "bonus" pesta kecil bagi yang bersangkutan. Tentu, kejutan itu akan membuat sang konsumen senang dan hampir bisa dipastikan, ia akan bertutur ke orang lain tentang kejutan tersebut.
Berikan diskon sesuai dengan hal yang tak dikira Pernah melihat iklan di media yang menyebutkan sebuah restoran memberikan diskon sesuai umur? Bayangkan, jika yang berkunjung berusia 90 tahun (meski sangat jarang) diskonnya pasti superbesar. Kejutan semacam ini akan memancing orang untuk datang.
Penulis : Tim AndrieWongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:47:00 AM
  |
|
|
|
| Thursday, October 13, 2011
|
|
Ubah Tindakan dan Raih Keajaiban
|
Seorang pria sedang menunggu pesawat yang akan dinaikinya di ruang tunggu bandara. Selang 30 menit kemudian, sebuah suara yang keluar dari pengeras memberitahu agar para penumpang dengan nomor penerbangan sekian tujuan kota X segera menaiki pesawat.
Pria tersebut kemudian masuk ke dalam pesawat dan mencari tempat duduk sesuai tiket. Kebetulan ia duduk di samping emergency exit atau pintu keluar darurat. Tidak lama kemudian setelah semua penumpang berada di tempat duduk, datanglah seorang pramugari yang mendekati pria tersebut.
Pramugari cantik itu berkata padanya, "Maaf Pak. Kebetulan Bapak duduk di samping pintu darurat. Untuk itu kami mohon kerja samanya. Jika terjadi sesuatu dan terpaksa harus mendarat darurat, silakan Bapak buka pintu darurat ini agar penumpang bisa keluar darurat. Untuk lebih jelasnya, silakan baca petunjuknya di buku instruksi keselamatan."
Pria itupun menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang disampaikan pramugari itu. Kemudian ia beserta pramugari lainnya segera memberikan instruksi keselamatan kepada para penumpang di saat pesawat mulai berjalan perlahan menuju landasan pacu.
Pesawat berhasil lepas landas dan mengudara meninggalkan bandara. Segalanya berjalan dengan normal dan tidak ada masalah sama sekali. Tapi di tengah perjalanan, mesin pesawat tiba-tiba bermasalah sehingga harus dilakukan pendaratan darurat. Para penumpang langsung panik. Mereka diminta untuk memakai pelampung keselamatan dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa.
Pria tadi yang duduk di samping pintu darurat segera teringat dengan perkataan pramugari tadi agar segera membuka pintu darurat jika terjadi masalah. Maka ia segera membuka pintu darurat itu. Ia berusaha membuka, tapi pintunya tidak bisa terbuka. Di saat pesawat semakin mendekati daratan, pria itu semakin panik dan mendorong dengan sekuat tenaga, meninju, bahkan menendang pintu tersebut. Tapi, pintu tetap tidak mau terbuka.
Ia mulai pasrah. Ia berpikir hidupnya akan segera berakhir. Pintu darurat tidak bisa dibuka dan ia tidak akan bisa keluar hidup-hidup. Tapi untunglah, ternyata pesawat dapat mendarat darurat dengan selamat meskipun sedikit hancur. Semua penumpang selamat dan tidak ada yang luka parah meskipun banyak dari mereka yang begitu shock.
Pintu pesawat akhirnya terbuka dan para penumpang langsung segera berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Pria itu pun ikut keluar dengan langkah cepat. Untunglah tidak terjadi sesuatu yang mengerikan. Semua bernapas lega karena masa kritis sudah lewat.
Pria itu kemudian teringat dengan pramugari yang tadi memberikan instruksi padanya. Ia pun segera mencari dan akhirnya berhasil menemuinya. Ia berkata dengan sedikit marah, "Kamu menyuruhku untuk membuka pintu darurat, tapi pintunya sama sekali tidak bisa dibuka."
Lalu pramugari itu membalas, "Pintunya berfungsi dan tidak rusak."
Pria tersebut membalas dengan kesal, Saya mendorong dan menendang pintu sampai kaki tanganku kesakitan, tapi tetap tidak terbuka."
Mendengar penjelasan pria itu, si pramugari menghela napas dan menggelengkan kepala sambil berkata, "Pintunya harus ditarik, bukan didorong, baru bisa terbuka. Apakah Bapak tadi membaca buku instruksinya?"
Pria itu wajahnya merah karena malu. Katanya, "Saya tidak membacanya."
Pesan kepada pembaca:
Cerita di atas mungkin sering terjadi pada sebagian besar orang. Mereka melakukan sesuatu, tapi ketika ingin mendapatkan hasil yang berbeda, mereka malah terus melakukan hal yang sama berulang kali. Itulah yang disebut "gila" oleh Albert Einstein, yang menunjuk pada orang yang terus melakukan tindakan yang sama dan berharap mendapatkan hasil yang berbeda.
Jika Anda menanam bibit jeruk, maka Anda akan memanen buah jeruk. Jika Anda tidak ingin buah jeruk, melainkan buah apel, maka Anda harus menanam bibit apel. Itulah analogi yang sederhana. Tapi banyak orang terjebak dengan menanam bibit jeruk sambil berharap memanen buah apel.
Seringkali kesuksesan tidak dapat diraih karena tidak peka terhadap hasil yang didapatkan dan terus melakukan tindakan yang sama. Padahal salah satu rumus sukses adalah fleksibel dengan tindakan yang kita ambil. Jika tindakan yang kita ambil terus membawa hasil yang mengecewakan, itu artinya kita harus mengubah dan mengambil tindakan yang berbeda. Jika gagal lagi, kita harus bertindak lagi dengan cara yang berbeda sampai kita berhasil. Itulah yang dinamakan fleksibel.
Banyak orang yang tidak fleksibel. Akibatnya, mereka terus melakukan tindakan yang salah. Bahkan mereka tidak menyadari bahwa tindakan tersebut membawa mereka ke arah yang salah. Tidak heran banyak yang tidak mengerti mengapa mereka masih belum berhasil padahal sudah bertindak dan pantang menyerah.
Seringkali kesuksesan begitu dekat dengan kita. Jaraknya hanya terpaut tingkat fleksibilitas tindakan kita. Jika tidak fleksibel dan terus melakukan tindakan sama yang salah, maka jangan harap kesuksesan akan datang meskipun kesuksesan sudah begitu dekat. Apakah bisa melihat matahari terbit, jika Anda selalu berjalan ke arah barat?
Suhardi (Penulis buku "Patterns of Success") http://www.facebook.com/suhardi.inspirator.motivator Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:56:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, October 12, 2011
|
|
Biasakan Berbuat Jujur
|
|
Satu dari tiga pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2011 adalah wanita dari Yaman bernama Tawakkul Karman. Di usianya yang baru 32 tahun ia menjadi salah satu peraih Nobel termuda sepanjang sejarah. Aktivis yang juga wartawati ini menjadi perhatian dunia atas perlawanannya pada rezim Presiden Ali Abdullah Saleh.
Tawakkul dikenal juga sebagai "Wanita Besi" atau "Ibu Revolusi" karena kegigihannya menegakkan demokrasi di negaranya. Sebagai wartawati, ia memperjuangkan kebebasan pers yang jujur tidak dikekang oleh penguasa. Sebagai perempuan, ia mendorong agar kaum perempuan lebih berperan dalam kegiatan pembangunan sehingga sejajar dengan kaum laki-laki.
Ia tak takut dengan ancaman penjara dan kematian atas gerakan yang ia gagas. Karena itu, keberanian, kejujuran, dan gerakan perdamaian yang ia jalankan telah menarik para juri Nobel untuk menempatkannya menjadi salah satu dari tiga pemenang Nobel Perdamaian 2011 bersama Presiden Liberia Ellen Johnson-Sirleaf dan aktivis Liberia Leymah Gbowee.
Tekanan berat sering kali membuat kita tak berani berbuat jujur. Tekanan berat itu bisa apa saja. Bisa berupa ancaman dari penguasa, penjahat, keadaan, atau hal lain, bisa juga datang dari ambisi yang membabi buta. Karena ingin cepat kaya dan untung besar, misalnya, ada pihak-pihak yang mengelabui konsumen dengan menyebutkan hal yang tidak sebenarnya mengenai produk atau layanannya. Karena ingin cepat kaya, ada pula orang yang berusaha mengelabui pemerintah, masyarakat, dan melakukan korupsi. Intinya, ketidakjujuran sudah menjadi masalah sehari-hari. Kita akan dengan mudah menemukan praktik-praktiknya di lingkungan kita.
Sahabat yang Luar Biasa!
Senin pagi ini saya membawakan tema "Kejujuran" dalam talkshow rutin saya di jaringan Radio Sonora. Seberapa kuat kita terdorong untuk selalu berbuat jujur? Sambutannya luar biasa. Ratusan SMS dan telepon masuk untuk sekadar sharing masalah yang dihadapi maupun meminta mendiskusikannya. Ada yang kasus besar, ada juga yang begitu lumrah.
Namun seberapa kecil pun suatu ketidakjujuran, tetap saja ketidakjujuran. Sebaliknya dengan kejujuran. Ada kata-kata bijak yang menyebutkan bahwa kejujuran adalah "mata uang" yang berlaku di mana-mana. Dengan kejujuran, hidup kita akan terbebas dari perasaan waswas, takut, dan cemas. Dengan kejujuran, kita akan menikmati kehidupan dengan tentram, damai, dan bahagia. Oleh sebab itu, mari biasakan berbuat jujur dalam keseharian kita.
Salam sukses, Luar Biasa!
Penulis : Tim AndrieWongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:49:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, October 10, 2011
|
|
Cinta Suamiku
|
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjaku kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki.
Penulis: Anggia Krisnina anggiakrisnina@yahoo.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:23:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, October 05, 2011
|
|
Berbuat Baik
|
Beberapa waktu lalu saya membaca hasil penelitian menarik yang dipublikasikan oleh Sciencedaily. Penelitian itu mencoba menelusuri motivasi seseorang saat akan menjadi tenaga sukarelawan. Dari hasil penelitian terungkap bahwa seseorang bersedia membantu orang lain karena alasan azas saling membantu, membantu orang lain adalah aktivitas terbaik yang bisa dilakukan, menolong juga bisa membuat perasaan seseorang jadi lebih baik.
Lalu apa manfaat dari kebiasaan membantu orang lain itu? Ternyata menolong orang lain secara fisik bisa membuat seseorang lebih sehat. Menurut penelitian itu, orang yang suka bekerja menjadi tenaga sukarelawan memiliki umur lebih panjang dibanding orang sebaliknya.
Selain dari itu, ternyata responden yang diteliti tak menyadari manfaatnya saat melakukannya. Mereka berbuat baik semata-mata karena keterpanggilan jiwa dan tulus demi membantu orang lain. Saya berpikir, jangan-jangan ketulusan ini yang jadi kuncinya.
Sahabat yang Luar Biasa!
Tadi pagi di Radio Sonora saya pun membawakan tema serupa untuk talkshow rutin setiap Senin pagi, yakni: "Imbalan Perbuatan Baik".
Saya tak bercerita tentang apa saja imbalan yang bisa didapat. Tetapi cepat atau lambat, perbuatan baik selalu mendatangkan kebaikan pula bagi yang melakukannya. Salah satu contohnya diilustrasikan pada cerita motivasi yang tadi pagi saya bawakan pada talkshow "AW Success, Wisdom & Motivation".
Hasil penelitian tim dari University of Michigan seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan ini memperkaya manfaatnya. Ternyata berbuat baik juga menyehatkan dan pada gilirannya bisa membuat seseorang panjang umur. Seharusnya hal ini akan mendorong kita untuk membantu orang lain lebih sering lagi. Kuncinya adalah "tulus" melakukannya.
Karena itu, mari lakukan perbuatan-perbuatan baik secara spontan, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Kita tak perlu memikirkan untung-ruginya saat membantu orang lain. Setuju, teman-teman?
Salam sukses, Luar Biasa!
Penulis : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:13:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, October 04, 2011
|
|
Mensyukuri Pekerjaan
|
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Banyak sekali orang yang mengeluhkan tentang pekerjaannya. Alasannya pun beragam macam. Ada yang soal gaji rendah. Teman yang tidak bersahabat. Atasan yang pilih kasih. Karir yang tidak naik-naik. Dan seribu satu alasan lainnya. Makanya, tidak heran jika setiap pagi rasanya berat sekali untuk berangkat ke kantor. Setelah tiba di kantor juga tidak bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh kemampuan. Datang kesiangan, pulang kegesitan. Seakan-akan kita ini tidak membutuhkan pekerjaan itu. Sekarang, coba bayangkan; bagaimana seandainya besok pagi kita kehilangan pekerjaan itu? Apakah hidup Anda akan tetap baik-baik saja? Hmmmh, barangkali ini adalah saat yang tepat untuk kembali mensyukuri pekerjaan yang saat ini kita miliki. Sudahkah Anda mensyukuri pekerjaan pagi ini?
Kehidupan kerja kita tidak selamanya menyenangkan. Kadang Anda dimarahi pelanggan. Kadang diomeli atasan. Kadang dijegal oleh teman. Dan masih banyak situasi sulit lainnya yang bisa menimbulkan kekecewaan. Kita sering keliru melampiaskan kekesalan dengan membenci pekerjaan. Padahal, semakin benci Anda pada pekerjaan, semakin memburuklah keadaannya. Semakin memburuk keadaannya, semakin jauhlah Anda dari rasa syukurnya. Semakin jauh dari rasa syukur? Semakin benci Anda pada pekerjaan. Dan terjebaklah Anda dalam kegelisahan tanpa ujung. Maka, tidak ada pilihan lain selain menysukuri pekerjaan yang kita miliki. Karena rasa syukur, membimbing kita untuk menemukan makna terdalam dari pekerjaan. Memang mudah untuk dikatakan, tapi bersyukur itu sungguh tidak gampang untuk dilakukan. Kita butuh pemahaman yang tepat tentang makna syukur itu bagi hidup kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami makna rasa syukur pada pekerjaan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:
1. Rasa syukur menentukan kebahagiaan.
Rasa syukur kepada pekerjaan adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan setiap kekecewaan. Seberat apapun beban pekerjaan yang Anda hadapi, pasti akan terasa ringan jika Anda memiliki rasa syukur yang lebih besar dari beban itu. Sebaliknya, seenak apapun suasana dan imbalan yang dapatkan dari pekerjaan Anda; maka Anda akan tetap mengeluhkannya jika rasa syukur Anda atas semua kenikmatan kerja itu terlalu kecil untuk menghidupkan lentera nikmat dalam hati Anda. Makanya, banyak orang dengan kedudukan dan imbalan tinggi yang masih mengeluhkan pekerjaannya. Dan banyak orang yang pekerjaannya bejibun namun tetap gembira meski bayarannya ’tidak seberapa’. Keluhan bukanlah monopoli orang-orang berkedudukan rendah. Kegembiraan juga bukan monopoli mereka yang jabatannya tinggi. Malah kita sering menyaksikan hal yang sebaliknya. Jika kita tidak kunjung bahagia dengan kehidupan kerja, mungkin kita perlu bersyukur lebih banyak lagi. Mengapa? Karena rasa syukur pada pekerjaan sangat menentukan apakah kita bahagia dengan pekerjaan itu atau tidak.
2. Rasa syukur memberi ketabahan. Jika boleh memilih, apakah Anda lebih menyukai pekerjaan yang berat secara fisik, atau berat tanggungjawabnya? Normalnya, orang-orang berpendidikan tinggi tidak menyukai pekerjaan fisik yang berat. Meski tidak terlalu suka pada tanggungjawab yang berat, tetapi itu adalah pilihan terbaiknya. Pekerjaan fisik itu melelahkan dan imbalannya rendah. Sedangkan tanggungjawab besar pada pekerjaan non fisik diimbangi dengan ruang kerja yang nyaman nyaris tanpa keringat, pakaian perlente, dan tentunya; bayaran yang jauh lebih tinggi. Maka, kemungkinan besar; Anda akan memilih tangggungjawab besar daripada kerja fisik yang berat. Normal. Tapi, mengapa banyak orang yang memegang tanggunjawab besar justru sering ingin berhenti, atau lari ke tempat lain hanya karena merasa beban yang harus kita pikul terasa sangat berat? Mengapa banyak pegawai biasa-biasa saja yang justru lebih kuat dan lebih tabah? Ternyata orang-orang biasa itu lebih banyak bersyukur daripada kita. Dengan rasa syukur itu mereka membangun kekuatannya. Karena rasa syukur memberi kita ketabahan.
3. Rasa syukur melahirkan keikhlasan. Jangan salah kaprah. Ikhlas itu tidak sama artinya dengan tidak dibayar. Kita semua berhak untuk mendapatkan bayaran yang sepadan atas pekerjaan atau kontribusi yang kita berikan. Ikhlas juga bukan berarti menerima saja perlakukan tidak senonoh orang lain. Ikhlas itu berkaitan dengan sikap mental ketika kita menerima penugasan atau kondisi-kondisi tertentu yang belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Ini bisa berkaitan dengan jenis pekerjaan, lingkungan kerja, atau orang-orang yang bekerja dengan kita. Orang ikhlas itu jarang mengeluh. Tidak ada yang bisa kita dapatkan dari keluhan pada pekerjaan. Justru dengan keluhan itu hati kita semakin lelah. Produktivitas kita semakin rendah. Dan performance appraisal kita semakin payah. Maka marilah kita belajar untuk ikhlas menerima penugasan atau tuntutan kerja. Marilah belajar ikhlas pada lingkungan kerja dan orang-orang yang bekerja bersama kita. Lalu kita alokasikan energy yang biasa kita gunakan untuk mengeluh itu menjadi daya dorong bagi pencapaian dan prestasi tinggi kita. Dan untuk bisa ikhlas, kita butuh rasa syukur. Mengapa? Karena keikhlasan dilahirkan dari rasa syukur atas setiap anugerah yang kita terima melalui pekerjaan yang kita dapatkan.
4. Rasa syukur mendorong untuk berprestasi. Bayangkan Anda adalah orang yang memiliki ketiga indikator ini; bahagia, tabah, dan ikhlas. Apakah dengan ketiga indikator itu Anda bisa mencapai prestasi tertinggi di tempat kerja? Yes, tanpa keraguan sedikitpun. Mengapa? Orang-orang yang bahagia bekerja tanpa beban sehingga semua energy yang dimilikinya didedikasikan tanpa gangguan. Mereka yang tabah tidak mudah menyerah saat berhadapan dengan tugas-tugas sulit, melelahkan dan menantang. Sedangkan keikhlasan yang dimilikinya membuat mereka bersedia melakukan tugasnya dengan sepenuh hati sehingga tidak ada kesempatan, peluang, energy maupun dedikasi yang disia-siakan. Maka wajar jika orang yang bahagia, tabah dan ikhlas itu bisa melampaui kinerja kebanyakan orang. Dan kita sudah membahas dimuka bahwa, kebahagiaan ditempat kerja, ketabahan dalam menjalani pekerjaan, dan keikhlasan menerima keadaan dihasilkan dari rasa syukur kepada pekerjaan. Maka nyata sekali jika rasa syukur itu mendorong kita untuk berprestasi tinggi. Maka bersyukurlah atas pekerjaan Anda, karena dengan rasa syukur itu Anda bisa mengukir prestasi yang lebih tinggi lagi.
5. Rasa syukur memberi lebih banyak nikmat. Guru kehidupan saya mengatakan jika Tuhan sangat menyukai orang-orang yang bersyukur sehingga Dia tidak segan-segan untuk menambah kenikmatan bagi mereka yang senang bersyukur. Boleh saja jika Anda mengira hal itu hanya berlaku untuk aspek-aspek spiritual yang langsung berhubungan dengan Tuhan. Tapi, coba bayangkan situasi ini. Anda mempunyai 2 anak buah. Yang pertama adalah si jago komplain, tukang mengeluh, dan tidak pernah puas atas apa yang Anda berikan kepadanya. Yang satu lagi adalah orang yang tahu berterimakasih, lalu membalas kebaikan Anda kepadanya dengan kesungguhan dalam bekerja, memberikan yang terbaik dari dirinya sehingga prestasinya selalu memuaskan Anda. Saya tidak perlu bertanya orang yang mana yang menjadi kesayangan Anda. Saya juga tidak perlu bertanya kepada siapa Anda akan memberi lebih banyak lagi. Sudah jelas sekali jika Tuhan menyukai orang-orang yang bersyukur. Atasan atau pemilik perusahaan tempat kita bekerja juga demikian. Maka rasa syukur kita kepada pekerjaan, benar-benar memberi kita lebih banyak lagi. Mungkin penghasilan. Mungkin kesempatan. Mungkin kepercayaan. Atau mungkin, hal-hal lain yang tidak pernah kita bayangkan.
Pekerjaan merupakan salah satu anugerah terbesar dalam hidup. Dengan pekerjaan, bukan saja kita mendapatkan nafkah untuk memenuhi kebutuhan fisik belaka. Dengan pekerjaan, kita bisa mendapatkan ketentraman jiwa dan ketenangan hati. Pekerjaan juga memberi kita kebanggaan dihadapan orang lain. Bisa jadi pekerjaan kita tidak gampang untuk dijalani. Bisa jadi juga pekerjaan kita tidak selalu menyenangkan. Mungkin pekerjaan kita belum menghasilkan imbalan yang tinggi. Tapi percayalah, memiliki pekerjaan itu jauh lebih baik daripada kondisi sebaliknya. Maka bagaimanapun juga, pekerjaan yang hari ini kita miliki, sangat layak untuk kita syukuri.
Mari Berbagi Semangat! Dadang Kadarusman Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 12:05:00 PM
  |
|
|
|
| Monday, October 03, 2011
|
|
Melakukan Kunjungan
|
Salah satu rutinitas penting seorang salesman yang sukses adalah melakukan kunjungan secara fisik (tidak cukup dengan menelpon atau korespondensi) ke kantor pelanggannya.
Selama pengalaman saya sebagai seorang salesman di atas lapangan, banyak sekali pelanggan-pelanggan penting (dan besar) yang berhasil saya rebut dari pesaing saya hanya karena pesaing saya mulai kendur dalam melakukan kunjungan ke tempat pelanggan tersebut.
Secara psikologis, melakukan kunjungan rutin ke pelanggan akan membuat ikatan emosional menjadi semakin kuat dan pada ujung-ujungnya Anda seperti membangun tembok pertahanan yang kokoh di sekitar pelanggan Anda tersebut sehingga pesaing Anda pastinya sangat mengalami kesulitan dalam melakukan pendekatan atau usaha untuk merebut pelanggan tersebut dari tangan Anda.
Seorang salesman level pemula yang masih serba canggung sekalipun akan tetapi memiliki tekad sekuat baja dan sering melakukan kunjungan ke tempat seorang (calon) pelanggan lebih berpotensi untuk memenangkan persaingan bisnis dibandingkan seorang salesman level senior yang sangat berpengalaman (bahkan dengan posisi sebagai Direktur sekalipun, dari pihak pesaing bisnisnya namun tidak pernah atau jarang melakukan kunjungan ke tempat pelanggan).
Business Warriors yang perkasa...
Bisnis penjualan yang sukses dan kokoh untuk jangka panjang "dalam bahasa sederhana"?
Lakukan Kunjungan, titik!
Semoga bermanfaat. Salam Sukses Selalu!
Oleh : Samuel Tan
www.stantutorial.wordpress.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 7:01:00 AM
  |
|
|
|
|
|
Beranie Gagal Agustus 2011 Versi PDF Sudah Ada
|
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal!
Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal Agustus 2011 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2011.
Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?!
Selamat Membaca!
Salam sukses!
Ryan - Dody Founder & Moderator BeranieGagal.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:32:00 AM
  |
|
|
|
|
|