| Beranie Gagal Commercial |
Cara Pasang Banner
|
| Donasikan Blog Ini |
|
|
| Beranie Gagal Award |
|
| Beranie Gagal Partners |
|
| Hubungi Kami |
|
|
| Quote's Of The Day |
|
|
|
| Monday, February 08, 2010
|
|
Mengapa Aku "RESIGN" dari Bank Central Asia (Inspiration Story)
|
“Kok resign sih dari BCA ?”
Entah sudah berapa kali, pertanyaan simple (yang jawabannya sama sekali tidak simple) ditanyakan kepadaku. Seandainya saja aku mau berusaha keras untuk mengingat kemudian menghitung jumlahnya, aku akan kesulitan melakukannya. Karena memang tak terhitung jumlahnya, alias sudah teramat sering.
Bahkan beberapa orang sempat berkali-kali memintaku untuk menuliskan hal itu. Supaya menjadi pelajaran bagi orang lain, begitu alasan mereka. Bagi siapa ? Entahlah.
Segolongan teman yang mewakili wiraswasta atau lebih beken disebut enterpreneur, menunggu jawaban yang mereka harapkan dapat menjadi sekedar pembenaran bagi alasan-alasan mereka menjadi enterpreneur. Alasannya beragam, dari gaji karyawan yang dianggap kurang, dendam pada atasan, tidak punya pilihan, dan berbagai alasan lainnya.
Sedangkan golongan yang kedua adalah kaum profesional (baca : karyawan) tentunya, seringkali merasa jengah, bahkan sebelum mereka mendengar sepatah kata apapun sebagai jawaban atas pertanyaan diatas.
Bagiku pribadi keduanya sama-sama klise dan sama-sama menggelikan.
Aku bekerja di PT. Bank Central Asia, Tbk dengan awal yang unik. Sebagai seorang yang masih tergolong freshgraduate aku dipanggil oleh BCA untuk sebuah wawancara. Sebagai sebuah catatan, ketika itu krisis moneter tengah hebat-hebatnya terjadi di Indonesia. Puluhan ribu karyawan di PHK, sementara puluhan ribu sarjana dan calon sarjana, ketar-ketir harap-harap mules, di kampus mereka masing-masing. Mau keluar dari sana, tidak ada pekerjaan. Mau bertahan dikampus, malu karena ketuaan.
“Saya ingin ditempatkan di team internet banking BCA”, jawabku ketika dua orang petinggi di Divisi Teknologi Informasi bertanya tentang minat yang mendorongku bergabung dengan mereka. “Tetapi team yang Anda maksud belum ada”, jawab salah satu dari mereka, sambil menatapku tajam. “Dalam beberapa bulan lagi team itu akan Bapak bentuk”, jawabku tidak mau kalah.
Mereka saling berpandangan satu sama lain.
“Salah seorang direktur BCA mengatakannya di koran”, sahutku seolah mengerti jalan pikiran mereka. “Ia mengatakan dalam beberapa bulan BCA akan mengkonsetrasikan diri mereka kepada pengaplikasian teknologi internet. Dan itu pastilah berarti bahwa BCA akan membentuk team itu segera. Dan saya ingin berada disana !”.
Salah seorang kembali bertanya, “Seandainya saja Anda ditempatkan di team lain, dengan bidang yang lain, yang bukan merupakan team yang Anda mau. Apakah Anda bersedia ?”.
“Maaf Pak, yang saya inginkan hanya di team internet banking, dan bukan yang lain. Jika saya diletakkan dibagian lain, saya lebih memilih untuk tidak diterima di bank ini, karena bagi saya itu adalah sebuah langkah mundur”, jawabku membulatkan tekad memberanikan diri.
Dengan tidak aku duga sama sekali, kedua orang pewawancara itupun tertawa terbahak-bahak, sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka.
“Orang gila..orang gila….ya..ya..ya..”, kata mereka kepadaku.
Interview hari itu ditutup begitu saja. Dengan sebutan gila untukku dan terakhir sebuah jabat tangan erat.
Beberapa hari kemudian aku dipanggil kembali, kali ini oleh dua orang yang berbeda. Yang seorang berwajah tampan menggunakan kaca mata dan berkulit putih bersih. Dia jauh lebih irip seorang model atau pemain film, dibandingkan seorang pakar IT(Information Technology). Sedangkan yang seorang lagi, berambut tipis dan memiliki perut yang gemuk. Kalau yang satu ini memiliki aura IT yang begitu kental. Sorot matanya menandakan ia orang yang sangat cerdas.
“Ha..ha..ha..rupanya ini orangnya…ha..ha…ha..”, sambut mereka serempak ketika baru saja melihat sosokku memasuki pintu ruangan itu.
Kami segera berjabat tangan (lagi), dan setelah itu entah mengapa kedua orang itu menghabiskan kurang lebih 2 menit selanjutnya dengan mengamatiku, berpandangan satu sama lain, kemudian tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa.
Singkat cerita, beberapa bulan kemudian BCA membangun aplikasi Internet Banking mereka yang kemudian diberinama klikBCA, dan aku ada disana, sebagai team inti yang bertanggungjawab akan tugas tersebut. Sesuatu yang sangat membanggakan dan tidak akan terlupakan seumur hidupku. Aku mendapatkan apa yang sungguh-sungguh ingin ku kudapatkan. Teknologi internet banking, database, networking, web programming dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, sejak saat itu aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berarti, bahwa hidup ini akan memberikan sesuatu apapun itu (yang baik) kepada siapapun yang sungguh-sungguh meminta dan mengingininya.
Perjalanan yang sangat mengasyikkan kulakoni di bank itu, hingga tidak terasa hampir tujuh tahun berlalu ! Banyak hal berharga yang telah kuterima dari BCA kala itu, diantaranya : memperkokoh gelar Sarjana Komputer dari kampus, dengan serangkaian praktek nyata dilapangan, belajar sistem dunia perbankan, investasi didunia saham, termasuk pelajaran-pelajaran “tambahan” lain.
Sepanjang waktu itu juga aku bertemu dengan beberapa tipe karyawan yang “katanya” nyaris ada disetiap perusahaan. (Bahkan diperusahaan yang kubentuk )
Tipe pertama, mereka yang antusias akan pekerjaan mereka dan bahagia sekaligus bersyukur dengan salary yang mereka dapatkan. Mereka adalah golongan orang-orang yang walau masih hidup didunia, tetapi merasa di surga.
Golongan kedua adalah mereka yang pasrah dengan pekerjaan mereka dan iklash dengan salary mereka. Ini adalah tipe robot, yang melakukan sesuatu bukan karena hasrat, tetapi sebagai sebuah kebiasaan. Dingin dan otomatis.
Golongan karyawan ketiga, adalah mereka yang begitu termotivasi pada pekerjaan mereka tetapi tidak ambil pusing pada gaji yang mereka peroleh. Ini adalah golongan pekerja sosial.
Yang terakhir, golongan keempat, adalah mereka-mereka yang benci pada pekerjaannya, tetapi menerima uangnya (karena alasan kebutuhan). Tipe ini akan selalu komplain, tetapi tidak pernah berani keluar dari tempat dimana ia bekerja. Golongan ini kami sebut (bukan oleh saya…tetapi oleh kami)..agak kasar mohon maaf…sekali lagi maaf…sebagai pelacur.
Golongan pelacur inilah yang paling mengherankan. Mereka komplain setiap hari akan pekerjaan mereka, komplain akan gaji mereka, setiap hari menjelek-jelekkan perusahaan tempat mereka bekerja, selalu merasa diperlakukan tidak adil, selalu kurang, selalu ada yang salah, tetapi tidak berani atau tidak berhasil mendapatkan tempat kerja baru. (mungkin karena takut, atau mungkin tidak keterima dimana-mana).
Kempat hal inilah pelajaran “tambahan” yang kumaksud itu.
Oh iya, ada satu hal lagi yang paling berharga yang kuterima dari BCA saat itu, yaitu diperkenalkan pada sebuah hobby bernama photography. Sebuah hobby yang sangat luar biasa. Hobby ini juga yang membuat hari Sabtu dan Minggu adalah hari tanpa istirahat buatku. Senin sampai Jumat di kantor, sedangkan Sabtu, Minggu motret. Hobby ini terus bergerak sedemikian rupa sehingga membuat Selasa hingga Kamis ada di kantor, Jumat bolos setengah hari, untuk motret. Senin bolos fullday (jika Sabtu Minggu motret diluar kota). Sabtu dan Minggu, hampir pasti untuk motret.
Boss di kantor yang semula bertanya, “Kemana lu kok nggak masuk ?”, akhirnya mengubah pertanyaan itu menjadi “Gimana foto kemaren, bagus nggak ?”
Clientnya pun beragam, dari wedding, perorangan hingga perusahaan. Bahkan kegiatan potret memotret didunia wedding, secara tidak sadar menggiring kami untuk membentuk sebuah wedding planner yaitu Kistijah, yang tetap beroperasi hingga sekarang. Lebih dari itu hobby photography akhirnya menggiringku kesebuah persimpangan yang membuat aku mau tidak mau harus memilih yang satu dan meninggalkan yang lain.
Tidak ada yang salah dengan Bank Central Asia, yang terjadi adalah sesuatu yang berbeda dalam diriku. Aku menemukan sebuah panggilan yang semakin lama semakin kurasakan memang diperuntukkan oleh kehidupan bagiku. Dan panggilan itu bernama “enterpreneur”.
Proses kontemplasi ini berlangsung selama sebulan penuh pada saat aku terbaring karena sakit dirumah. Ketika itu aku baru saja selesai mengerjakan sebuah proyek foto dari dua buah perusahaan obat-obatan terbesar di Indonesia, yaitu Kalbe Farma dan Dankos Laboratories. Mungkin juga karena kurang beristirahat setiap minggunya, membuatku kelelahan dan akhirnya jatuh sakit.
Merasa terpanggil, dan tidak ingin mendua hati, disamping perasaan bersalah kepada BCA karena tidak bekerja seoptimal dulu, membuat aku akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu dan meninggalkan Divisi Teknologi Informasi PT. Bank Central Asia, Tbk.
Jadi alasan kepergianku dari BCA dan memulai perjalanan dalam dunia enterpreneur tidak sama dengan alasan klise yang sering “digembar-gemborkan” oleh sebagian dari mereka yang kemudian beralih dari karyawan menjadi siluman enterpreneur. Orang-orang yang merasa mentok di karir pekerjaan, atau ingin buru-buru kaya, ataupun dendam akan pekerjaan dan perusahaan mereka.
(Aku resign dari BCA, sambil mengantongi sebuah janji promosi di satu tahun kedepan)
Entah mengapa begitu banyak orang, baik dari golongan profesional/karyawan maupun enterpreneur, mempunyai anggapan bahwa enterpreneur itu berada di srata lebih tinggi dari kaum karyawan. Sebuah anggapan yang bagiku pribadi, tidak selalu benar dan sangat tidak mendasar. Padahal kaum enterpreneur seringkali sangat menggantungkan kesuksesan dan kelangsungan hidup bisnis mereka pada para profesional yang ada. Apakah pengusaha sekaliber Bob Sadino tidak membutuhkan sederet kaum profesional yang membantunya mencetak miliaran rupiah ? Rasanya tidak mungkin.
Anggapan ini juga sama kelirunya -bagiku pribadi- dengan sebuah anggapan bahwa kalau ingin cepat kaya jadilah enterpreneur, sedangkan kalau mau miskin seumur hidup jadilah karyawan. Ini sesuatu yang aneh, mengingat setiap orang memiliki gunung rejekinya sendiri-sendiri. Dan TUHAN, Yang Maha Kaya sama sekali tidak dapat diukur dengan “besar-kecilnya” gaji yang diperoleh oleh karyawan diperusahaan tempatnya bekerja, karena rejeki yang IA siapkan tidak terbatas bagi masing-masing orang.
Sekali lagi, bagiku pribadi, semua ini adalah masalah panggilan dan pilihan.
Sehingga tidak ada alasan untuk tidak berbangga menjadi seorang karyawan/kaum profesional apalagi seorang karyawan yang sungguh-sungguh profesional. Dan sama sekali tidak ada alasan bagi kaum enterpreneur untuk membusungkan dada dan memandang rendah mereka yang berada diquadrant lain.
Seperti nasehat bijak yang pernah kudapatkan dari seseorang yang luar biasa, “Yang jelas dimanapun kita berada dan apapun status kita, selalu berikan yang terbaik. Jika kita kebetulan sebagai karyawan, berikan yang terbaik dan berdoalah selalu bagi perusahaan tempat kita bekerja. Jika kita adalah enterpreneur, berikan yang terbaik untuk karyawan kita dan untuk client-client kita, maka rekaman-rekaman tak kasat mata dalam hidup ini akan mencatat secara sangat detail semua sumbangsih kita, kemudian menunggu waktu tepat untuk membalaskan kepada kita semuanya itu. Bukan berdasarkan golongan enterpreneur atau karyawan, tetapi seberapa tulus kita memberikan yang terbaik bagi kehidupan. Karena TUHAN pemilik kehidupan ini tidak pernah membiarkan diri-NYA berhutang kepada siapapun !” (***)
what a wonderfull world ! what a exiciting journey !! Made Teddy Artiana, S. Kom http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/ mobile # 0813 178 227 20
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:08:00 PM
  |
|
|
|
| Saturday, February 06, 2010
|
|
Airnya Yang Keruh, Atau Dispensernya Yang Berdebu?
|
Hore, Hari Baru! Teman-teman. Apakah anda pernah berurusan dengan para pemakai ’topi negatif?’ Apapun yang anda katakan, mereka selalu menanggapinya secara negatif. Sekalipun anda membicarakan sesuatu yang positif, dimata mereka tetap saja negatif. Bahkan, sekalipun mengakui bahwa gagasan anda mengandung sisi positif, mereka tetap berdiri disudut pandang negatif. Walhasil, mereka tidak mendapatkan manfaat apapun dari apa yang anda sampaikan. Eh, jangan-jangan; yang memakai topi negatif itu kita sendiri, ya? Teman saya yang bekerja disebuah perusahaan air minum dalam kemasan bercerita tentang seorang pelanggan yang komplain dengan sangat garang. Sungguh seorang pelanggan yang sadar bahwa ’Customer is King’. Didorong oleh dedikasi, teman saya mengunjungi rumah sang pelanggan untuk menindaklanjuti pengaduannya. Tahap pertama yang dilakukan oleh teman saya adalah memastikan bahwa air minum yang dibelinya memang asli keluaran perusahaannya. Ternyata asli. Jadi, seharusnya air itu mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kualitas air yang dipasarkannya. Tahap kedua, teman saya menginspeksi tata cara penanganan air tersebut. Termasuk diantaranya kondisi dispenser yang digunakan tuan rumah. Pemeriksaan tidak hanya dibagian yang mudah terlihat, melainkan juga bagian dalamnya. Dan dengan disaksikan oleh tuan rumah, pemeriksaan itu menghasilkan ’beberapa telur kecoa’ dan biangnya sekalian. Sekali lagi, salah satu sifat ’lemah’ manusia muncul. Jika air yang keluar dari dispenser kita kotor, kita berkesimpulan bahwa air yang kita beli kualitasnya buruk. Dan pihak yang harus bertanggungjawab adalah produser air itu. Dalam banyak situasi, kisah nyata yang diceritakan oleh teman saya itu sangat mirip dengan keseharian kita. Kita cenderung melihat ’keluar’ daripada ’kedalam’. Makanya tidak heran jika ada saja orang-orang yang selalu memandang negatif terhadap pemikiran, gagasan dan pendapat orang lain. Dari sudut pandang ilmu perilaku, hal semacam itu disebut dengan istilah ’judgemental’. Orang dengan sikap ’judgemental’ selalu terfokus kepada kelemahan pendapat orang lain. Sehingga, terhadap apapun yang dikatakan oleh orang lain; dia selalu berusaha menemukan sisi buruknya. Tidak peduli betapa baik dan mumpuninya gagasan seseorang, pasti ada celah untuk diserang. Lagipula, bukankah kita percaya pada dogma ’tidak ada yang sempurna’? Lho, bukankah kemampuan seseorang untuk menemukan titik lemah adalah salah satu ciri kecerdasan? Itu betul. Karena kemampuan untuk berpikir kritis adalah tanda dari orang-orang yang IQ-nya tinggi. Namun, kita semua tahu, bahwa IQ bukanlah faktor penentu utama dalam mengukur kualitas diri seseorang. Karena, tanpa standar kecerdasan lain, seseorang dengan IQ tinggi hanya mirip mesin hitung. Sederhananya, ’berpikir kritis’ ada di daerah ’kedigdayaan’ IQ, sedangkan ’menemukan cara terbaik untuk ’mengekspresikan’ beda pendapat ada di wilayah ’kearifan’ EQ. Dan untuk membangun interaksi positif manusia butuh kedua-duanya. Makanya, orang-orang yang hanya cerdas IQ tapi rendah EQ, sering dilanda frustrasi karena kegagalannya untuk meraih penerimaan orang lain atas ’kecanggihan’ dirinya. Tahap ketiga yang dilakukan oleh teman saya adalah menunjukkan cara membersihkan dispenser, dan tips merawatnya agar tetap bersih. Dan setelah dispenser itu dibersihkan, ternyata air yang keluar dari dalamnya juga bersih. Boleh jadi, bukan gagasan atau sumbernya yang bermasalah, melainkan kepala dan hati kita yang berfungsi seperti dispenser itu yang kurang bersih. Sehingga kalau kita bersedia membersihkannya, akan kita temukan kebenaran, dan kejernihan dari gagasan yang datang dari orang lain. Mengapa kita butuh itu? Karena, orang paling cerdas sekalipun tidak mampu menemukan semua solusi. Sehingga, kesediaan kita untuk menerima gagasan dan masukan dari orang lain dengan hati yang bersih menjadi faktor penting. Apakah itu berarti kita harus selalu setuju dengan gagasan orang lain? Tidak juga. Namun, setidak-tidaknya kita bisa bertukar pikiran dengan itikad yang baik, melalui cara yang baik, untuk menemukan solusi terbaik. Mengapa begitu? Karena, dari sudut pandang ilmu komunikasi, bukan hanya isi atau konten yang harus baik, melainkan juga bagaimana cara menyampaikannya. Jika menerapkan prinsip ini, mungkin kita bisa menghindari konflik yang terjadi karena salah satu pihak merasa benar sendiri. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bersedia membersihkan ’dispenser’ didalam dirinya sendiri. Caranya? Antara lain, (1) Menghargai hak orang lain untuk menyampaikan gagasan, (2) Membuka diri akan kemungkinan kebenaran pihak lain, (3) Menenpuh jalan elegan saat berbeda pendapat, dan (4) Jikapun tidak bisa mencapai kata sepakat, junjung tinggilah norma yang berlaku dimasyarakat. Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman “SS-Pro™ Office Communication Strategy” Learning Facilitator http://www.dadangkadarusman.com/ Catatan Kaki: Kualitas diri seseorang tidaklah semata-mata dinilai dari kecanggihan hasil pemikirannya. Melainkan juga, melalui cara dia menyampaikannya.
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:39:00 PM
  |
|
|
|
| Friday, February 05, 2010
|
|
Anda Hanya Butuh 1 Kata dalam berhubungan dengan orang lain yaitu Pujian
|
Cerita-cerita terdahulu banyak sekali yang memberitahukan kita bahwa setiap manusia itu ingin dan selalu ingin merasa di hargai dan diakui keberadaannya di dunia ini. Yaa...pengakuan ini tentu saja akan berbeda-beda bagi setiap orang tergantung siapa dan bagaimana backgroundnya terdahulu. Namun benang merahnya (seperti kata dalang dalam OVJ), untuk mendapatkan hal ini hanya satu yaitu memperoleh perasan penting diantara rekan teman,keluarga dan lingkungan sejawatnya.
Hasrat menjadi penting dan besar hampir sama mutlaknya seperti keinginan makan dan tidur. Hal ini merupakan gambaran yang jelas yang pernah di keluarkan oleh beberapa orang besar yaitu Sigmun Freud yang pernah berkata,
"Bahwa segala yang anda dan saya kerjakan berasal dari dua motif, desakan seks dan hasrat menjadi besar".
John Dewey: "Desakan yang paling dalam pada sifat dasar manusia adalah hasrat untuk menjadi penting". William James" "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan di hargai".
Bahkan Lincoln juga pernah mengirim suratnya dengan mengucapkan, "setiap orang menyukai pujian".
Kita ambil saja contoh George Washington ingin dipanggil yang mulia. Colombus memohon mendapatkan sebutan "Admiral lautan dan raja muda india". Yang mulia Catherine menolak untuk membuka surat-surat yang tidak bertuliskan yang mulia. Yang di depan mata kita saja bagaimana guru bangsa kita yang baru saja berpulang sedang berusaha mendapatkan gelar pahlawan.
Tidak aneh memang hal ini terjadi, dan ini memang sifat dasar. Kalau anda pernah merenungkan diri anda sendiri, anda baru akan sadar kalau biasanya pada saat anda tidak memikirkan sebuah pekerjaan, maka lebih dari 75 % waktu anda akan anda habiskan untuk memikirkan diri anda sendiri. Apa yang anda pikirkan ini menunjukkan bahwa setiap orang itu memang memiliki sifat egoisme dan mengutamakan dirinya di dalam kehidupannya. Hal ini sangat wajar dan tidak ada yang salah dengan itu.
Menarik bukan, penjabaran di atas penting sekali dalam kehidupan kita karena hal tersebut dapat menjadi modal utama bagi kita semua untuk dapat berhasil dalam hidup kita. Seorang teman saya di kantor yang terdahulu, yang sering selalu saya sebut sebagai ideal leader, adalah sebuah karakter yang sempurna menurut saya. Dia adalah seorang teman, atasan dan rekan kerja yang luar biasa. Beliau adalah seorang pemimpin department di sebuah perusahaan besar di Indonesia. Beliau sangat tahu bagaimana untuk menghargai orang lain dan dengan kemampuannya ini menjadi tenaga pegas yang luar biasa dalam karirnya.
Dengan umurnya yang terbilang muda beliau sudah bisa memimpin sebuah departemen strategis di perusahaan tersebut. Saya sempat terheran melihat beberapa hal yang dia lakukan didalam kegiatan bersosialisasi di kantor. Mari kita telaah beberapa kebiasaaanya :
Dia selalu memuji setiap pendapat yang di keluarkan siapapun, bahkan menurut saya itu pendapat yang biasa banget tapi dia bisa memberikan penghargaan yang tulus akan itu (pujian/penghargaan).
Dia selalu fokus dan berusaha tidak terganggu oleh apapun apabila orang lain sedang berbicara, dan seakan-akan pendapat orang tersebut sebegitu pentingnya untuk dia (pujian/penghargaan).
Dia selalu mengingat beberapa patah kata yang pernah dia dengar dan dalam kesempatan lain dia akan memberitahukan kata-kata tadi dan memberitahukan dia mendapatkan pendapat itu dari siapa (pujian/penghargaan).
Beberapa tindakan diatas saya sampaikan dengan maksud ingin menunjukkan kepada anda, bahwa memang pujian dan penghargaan merupakan hal penting dalam hidup ini. Saya yakin anda pun setuju bahwa dipuji atau di hargai orang lain merupakan kebutuhan dasar kita.
Untuk itu mari kita berhenti memikirkan diri sendiri saja, luangkan waktu yang lebih untuk mencari kelebihan seseorang dibandingkan mencari kelemahan seseorang. Berilah pujian yang tulus, lakukan pujian itu sepenuh hati. Ingat bahwa seorang M. Schwab - seorang pemimpin perusahaan baja terkenal yang bergaji sejuta dolar tiap tahun atau tiga ribu dolar sehari- pada saat berbagi rahasaianya beliau berkata,
"Bahwa asset yang paling besar yang saya miliki adalah kemampuan saya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain, dan hal ini saya lakukan dengan sebisa mungkin memberikan penghargaaan dan pujian dan meninggalkan sejauh-jauhnya yang namanya kritik". Salam hangat dari saya dan sukses selalu
D_loebiz Founder & Motivator Beranie Gagal.com
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:03:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, February 03, 2010
|
|
Haruskah Kita Memarahi atau Mengkritik? I Don't Think So...
|
Setiap hari kita bertemu dengan berbagai macam orang, pasti akan menjadi alat musik yang akan menjadi nada-nada yang mengisi kehidupan kita. Ada yang lagi senang, sedih, bahagia bahkan ada yang lagi tidak jelas sambil tertawa (hihihihi.. mudah-mudahan bukan kita), ada juga yang sambil terbengong bengong.
Fyuh...seru sekali yah. Itulah memang kenyataanya bahwa latar belakang dan permasalahn yang dihadapi setiap orang yang menyebabkan mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang mungkin menurut kita bodoh atau sama sekali out of our mind. Mungkin anda akan bilang: "Gila apa ya?!", "Kok bisa ya?", "Ampun deh", "Woww!!", dan mungkin masih banyak lagi yang lainnya. Terkadang kegiatan-kegiatan yang tidak masuk akal ini akan mereka lakukan di dalam kehidupannya bertetangga dengan kita, bekerja sama dengan kita dan berbisnis dengan kita. Dan kalau ini terjadi menyebabkan kita ingin meledak dan memakan orang-orang ini, karena dengan adanya masalah-masalah mereka kita yang terkena dampaknya.
Pernah dalam satu diskusi dengan teman saya, sebut saja TAnzil, beliau mengatakan,
"Dod, di dalam hidup ini hanya satu yang nggak ingin saya temuin"
"Apa tuh zil?" tanya saya, beliau menjawab,
"Saya gak pingin ketemu dengan orang gila",
Saya tercengang, dan kembali menanyakan maksud dari perkataan dia tadi, lalu teman saya ini menjawab,
"Kalau sampai saya ketemu satu orang gila aja pasti akan merusak semua kehidupan saya", semakin bingung saya dan kembali menanyakan apa maksudnya, sambil dia tertawa dia menjelaskan,
"Kamu bayangin kalau kamu ketemu tetangga yang gila dan hidup seenaknya. Bagaimana kehidupan kita bermasyarakat pasti ada yang tak beres. Kalau di kantor ketemu orang gila pasti akan ada aja ritme yang dirusak. Kalau berbisnis bertemu orang gila pasti ada aja yang jahilin. Itu lah makanya saya tidak ingin ketemu dengan orang gila".
Kiasan yang menarik dan saya sangat menyetujuinya. Tapi apakah anda bisa menghindarinya? Tentu tidak, di kantor saya yang dahulu ada seperti itu, di tempat usaha saya ada yang seperti itu, di lingkungan saya pun ada. Lalu apakah kita harus menghindar? Tentu tidak!
Lalu apa yang terjadi kalau kita bertemu dengan orang-orang semacam ini? Setiap kali kita bertemu dengan orang-orang semacam ini, saya yakin anda akan terpancing emosinya dan marah lalu mengkritiknya. Tidak ada yang salah, sangat manusiawi, bahkan dulu saya juga pernah melakukannya. Namun apakah tindakan itu benar? Ya, saya rasa anda tahu jawabannya, marah atau mengkritik bukan solusi yang terbaik dalam menghadapi hal ini. Anda tahu bahwa kritik dan marah adalah hal yang sia-sia.
Mengapa demikian? Karena kedua hal ini menempatkan seseorang dalam posisi defensive dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik dan marah itu sangat berbahaya karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya dan meimbulkan rasa benci.
Pasti anda akan bertanya Mengapa demikian? Dalam buku "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengarui Lawan", karangan Dale Carnegie, beliau mengatakan bahwa semua orang tidak pernah merasa salah, dan apa yang mereka lakukan mereka selalu rasionalisasi. Sebagai contoh:
Seorang pembunuh berdarah dingin di Amerika (Crowley) yang tidak segan-segan membunuh siapapun dengan sadis. Pada saat membunuh polisi yang dibunuhnya dan pada saat sebelum tertangkap Crowley menulis dengan darah "Di balik pakaian saya ada hati yang letih, tapi ada sebuah hati yang baik". Begitu pula pada saat hendak di hukum mati, Crowley mengatakan bahwa apa yang saya lakuan karena membela diri saja.
Al capone, yang pemimpin gang yang paling kejam dan pernah membantai di Chicago, menganggap dirinya adalah dermawan yang tidak dihargai dan tidak di mengerti.
Dutch Schultz, salah seorang penjahat paling terkenal di New York, menyatakan dalam wawancara bahwa dia adalah dermawan publik.
Ketiga contoh di atas diakui oleh Lewis Laws yang merupakan sipir penjara sing sing New Yor , yang menyatakan bahwa hanya sedikit dari para kriminal yang menganggap dirinya orang jahat, dan mereka sama manusiawinya seperti anda dan saya.
Dari beberapa hal di atas membuktikan bahwa semua orang itu tidak ada yang menganggap dirinyaitu gila, salah dan buruk. Mereka beranggapan bahwa kita saja (orang di sekelilingnya) yang tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu, dan hal ini yang menyebabkan mengkritik dan memarahi adalah hal fatal dalam bersosialisasi.
BF Skinner, seorang psikolog terkenal di dunia membuktikan lewat pengalamannya, bahwa seekor binatang yang diajari dengan imbalan hadiah akan belajar jauh lebih cepat dibandingkan yang dengan menggunakan hukuman dan amarah.
Hans Selye, seorang psikolog besar lainnya mengatakan bahwa kehausan kita akan persetujuan sama besarnya dengan ketakutan kita atas kritik.
Dari beberapa hal di atas saya ingin kita semua memahami bahwa it's useless (tidak guna) bagi kita untuk memarahi dan mengkritik seseorang, maka jadilah temannya, pahami dia dan sentuhlah dia tepat di hatinya (hua hua hua seperti lagunya ari lasso), maka anda akan jauh lebih mudah merubah seseorang. Ingat hal ini, memarahi dan mengkritik hanya akan membuat anda ikut kesal, capai dan buang-buang tenaga. Jadilah orang yang yang wise, memahami dan merubah orang lain dengan hati.
Salam hangat dari saya dan sukses selalu,
D_loebiz Founder & Motivator BeranieGagal.com
|
posted by Ryan - Dodi
@ 8:41:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, February 02, 2010
|
|
Beranie Gagal Desember 2009 & Januari 2010 Versi PDF Sudah Ada
|
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal!
Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal Desember 2009 & Januari 2010 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2009 untuk Desember 2009 dan E-book Beranie Gagal > Arsip 2010 untuk Januari 2010. Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?!
Selamat Membaca!
Salam sukses!
Ryan Founder & Moderator Beranie Gagal
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:44:00 AM
  |
|
|
|
|
|