Beranie Gagal Commercial










Cara Pasang Banner

Donasikan Blog Ini
Beranie Gagal Award
 
Beranie Gagal Partners







BERHADIAH 30 JUTA
KLIK DISINI
TDW Mastery - Sources to Skyrocketing Your Success
















Hubungi Kami
Silahkan hubungi kami bila ada saran, kritik, pertanyaan, ingin kirim artikel ataupun tukeran link

Nama
Email
Judul
Pesan

Quote's Of The Day



   



Your Ad Here
Thursday, August 25, 2011
Beranie Gagal Juli 2011 Versi PDF Sudah Ada
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal!

Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal Juli 2011 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2011.


Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?!

Selamat Membaca!

Salam sukses!
Ryan - Dody
Founder & Moderator BeranieGagal.com
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 2:45:00 PM   0 comments
Tuesday, August 23, 2011
Cara Gila Jadi Pengusaha
Judul di atas memang meminjam istilah dari Pak Purdie Chandra sang pemilik Primagama untuk mengambarkan cerita yang akan saya sampaikan dalam artikel ini.

Cerita ini terinspirasi setelah saya mendengar audiobooks Pak Tung Dengsem yang merupakan kisah nyata dan mungkin anda pun pernah mendengarnya. Tapi di sini saya akan mencoba menceritakan kembali dengan sedikit modifikasi bagaimana cara menjadi pengusaha dengan cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Sebut saja pak Aryo mempunyai tanah seluas 15 hektar yang sudah lama menganggur dan beliau sudah berusaha keras menjualnya namun tidak ada orang yang tertarik membeli walaupun dengan harga yang paling rendah, sebut saja 100 ribu/meter. Ingin dibuat tempat usaha pun memerlukan modal yang sangat besar untuk mengelola tanah seluas itu.


Saat itu beliau berpikir bagaimana menjual tanah itu dengan mudah namun dengan harga yang tinggi. Loh bagaimana sih? Jual harga rendah aja susahnya minta ampun gimana dengan harga yang tinggi? Kita lihat saja lanjutan ceritanya.

Akhirnya pak Aryo mempunyai ide yang menurutnya sangat gila. Mulailah rencana tersebut dengan menggambarkan keadaan tanahnya dan pengukuran luasnya dengan desain proposal yang sangat menarik.

Setelah memutuskan untuk ditawarkan ke mana, beliau akhirnya memutuskan untuk menawarkan tanahnya ke sebuah developer hotel bintang lima. Bertemulah dia dengan sang pemilik. Setelah melihat proposal tersebut si pemilik hotel mengatakan dia tidak tertarik. Tapi apa tanggapan dari pak Aryo, dia mengatakan,

“Jangan memutuskan sekarang, datang dan lihat saja dulu kondisi tanah dan pemandangan sekitarnya. Kemudian ukur luas yang anda butuhkan untuk mendirikan sebuah hotel bintang lima. Bila luas tanah yang anda butuhkan masuk akal maka akan saya berikan G R A T I S…”

Mendengar kata “GRATIS” si pemilik hotel langsung menimbang kembali keputusannya dan memutuskan untuk melihat tanah tersebut. Setelah ia melihatnya dia memutuskan untuk membangun sebuah hotel di tanah tersebut. Tapi pak Aryo memberi syarat agar si pemilik memasang papan nama bertuliskan “DI SINI AKAN DIBANGUN SEBUAH HOTEL BINTANG LIMA”, dan juga meminta si pemilik untuk menawarkan kepada koleganya sisa luas tanah tersebut tapi jangan bilang kalau ia mendapatkannya dengan gratis. Si pemilik hotel setuju.

Dengan adanya bangunan hotel bintang lima maka nilai tanah pak Aryo akan meningkat 20 kali lipat dari harga sebelumnya. Kemudian dia menjalankan rencana selanjutnya yaitu menawarkan tanahnya ke developer lapangan golf yang paling terkenal.

Setelah si pemilik lapangan golf melihat proposal, seperti si pemilik hotel, awalnya beliau tidak tertarik dengan tanah tersebut. Lagi-lagi pak Aryo menawarkan penawaran gilanya kepada si pemilik lapangan golf.

“Jangan memutuskan sekarang, datang dan lihat saja dulu kondisi tanah dan pemandangan sekitarnya. Kemudian ukur luas yang anda butuhkan untuk mendirikan sebuah lapangan golf. Bila luas tanah yang anda butuhkan masuk akal maka akan saya berikan G R A T I S…”

Dan lagi-lagi mendengar kata “GRATIS” si pemilik lapangan golf langsung menimbang kembali keputusannya dan memutuskan untuk melihat tanah tersebut. Setelah ia melihatnya dia memutuskan untuk membangun sebuah lapangan golf di tanah tersebut. Pak Aryo pun memberikan syarat yang sama dengan memasang papan nama bertuliskan “DI SINI AKAN DIBANGUN SEBUAH LAPANGAN GOLF” dan tidak boleh memberitahukan koleganya kalau ia mendapatkan tanah ini dengan gratis. Si pemilik lapangan golf pun setuju.

Senanglah hati pak Aryo karena dengan adanya 2 bangunan yang cukup menjual berarti nilai tanahnya akan naik menjadi 30 kali lipat. Anggap saja tanah yang dia gratiskan 5 hektar, berarti dia masih punya 10 hektar yang sangat potensial untuk dijual. Dengan asumsi 3 juta/meter maka paling sedikit dia akan mendapatkan 300 milyar. Sungguh angka yang luar biasa hanya dengan bermodalkan proposal dan kekuatan negosiasi.

Saat dia mulai menjual pada pembeli pertama, dia mengandalkan bangunan hotel dan lapangan golf kepada pembeli bahwa tanah dia sangat potensial dan akhirnya dia berhasil menjual sisa-sisa tanahnya dengan harga yang makin naik seiring dengan bangunan-bangunan yang dibangun di sekitar tanahnya dari para pembeli yang mendirikan usahanya masing-masing ditanah tersebut.

Pak Aryo tidak hanya menjual semua sisa tanahnya tapi juga menyewakan tanah tersebut dan juga ia mendirikan bisnis ditanahnya sehingga selain mendapat income dari penjualan tanah, ia juga mendapatkan income rutin dari penyewaan dan bisnisnya.

Cerita di atas memang menarik jika kita mempunyai tanah tersebut. Tapi bagaimana jika kita tidak mempunyai tanah? Mudah saja!

Dalam audiobooks Tung Dengsem disarankan anda cari orang yang memiliki tanah yang luas dan potensial namun tidak laku-laku dijual. Loh dari mana duitnya? Lihat dulu kelanjutannya.

Anda temui si pemilik tanah. Misalnya luas tanah 10 hektar dan si pemilik menawarkan 200 ribu/meter tapi anda tawarkan ke si penjual 20% lebih tinggi jadi 240 ribu/meter. Di jamin si penjual akan langsung tertarik. Loh kok nawar malah lebih tinggi?!

Iya lebih tinggi, tapi anda mengajukan syarat ke si penjual anda minta opsi bahwa akan membayar tanah tersebut 1 tahun kemudian dan selama 1 tahun jangan dijual ke siapapun. Hitung-hitung si penjual seperti depo tanahnya dengan bunga 20%/tahun!

Tapi bila si penjual bertanya bagaimana kalau 1 tahun kemudian anda tidak bisa membayar. Ya tidak apa-apa, toh selama ini tanahnya tidak laku-laku dan tanah tersebut belum resmi dijual kepada anda, jadi kalau sampai 1 tahun anda tidak berhasil menjualnya ya transaksi dengan si pemilik tanah tidak jadi.

Bila si pemilik tanah setuju dengan syarat anda, barulah anda lakukan seperti yang pak Aryo lakukan di atas. Tidak usah persis sama, minimal sesuai dengan kemampuan anda bernegosiasi. Jadi anda bisa jadi pengusaha tanpa modal uang yang besar dan bahkan tanpa aset dari anda.

Cara-cara di atas memang sering dilakukan oleh mereka yang lebih sering menggunakan kekuatan otak kanan yang kadang mereka memiliki cara-cara yang tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang yang cenderung menggunakan otak kiri. Karena bagi orang-orang otak kiri cara-cara tersebut tidak masuk akal, tidak mungkin dan mereka lebih pesimis sebelum menjalakannya. Orang-orang yang sukses suka melakukan apa yang orang gagal tidak suka lakukan.

Keunggulan kita bukan pada kita kaya atau tidak, kita punya modal uang besar atau tidak. Kalau memang kekayaan dan uang itu modal utama supaya kita berhasil, ternyata banyak orang kaya yang bangkrut, anak konglomerat yang tidak berhasil, pejabat yang tidak sukses, keluarga bangsawan yag rapuh.

Modal untuk sukses itu sesungguhnya adalah diri anda sendiri, ya.. Diri anda sendiri, dengan segala kelengkapannya, dari panca indra, akal, hati, kejujuran, keyakinan, kemandirian, ketangguhan, percaya diri, kerendahan hati dan kharisma yang semua itu Allah telah berikan secara cuma-cuma kepada anda!

So... Tidak ada alasan untuk tidak sukses hari ini. Selamat Mencoba!


M. Rian Rahardi
Founder Beraniegagal.com
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 12:13:00 PM   0 comments
Friday, August 19, 2011
Ombak Besar, Ombak Kecil
Alkisah, di tengahsamudra yang luas, saat air laut pasang, tampak ombak besar bergulung-gulung dengan gemuruh suaranya yang menggelegar, seakan ingin menyatakan keberadaan dirinya yang besar dan gagah perkasa.

Sementara itu, jauh di belakang gelombang ombak besar, terdengar gemericik suara ombak kecil bersusah payah mengikuti jejak si ombak besar. Tertatih-tatih, mengekor hempasan ombak besar. Si ombak kecil merasa dirinya begitu kecil, lemah, tidak berdaya, dan tersisih di belakang. Sungguh, terasa menyakitkan.

Dengan suaranya yang lemah, kurang percaya diri, ombak kecil bertanya kepada ombak besar. Maka sayup-sayup, terdengar serangkaian percakapan di antara mereka.

"Hai ombak besar...! Aku ingin bertanya kepadamu...!! Mengapa engkau begitu besar, begitu kuat, dan gagah perkasa? Sementara lihatlah diriku... begitu kecil, lemah, dan tidak berdaya. Aku ingin seperti kamu!"


Ombak besar pun menjawab, "Sahabatku, kamu mengganggap dirimu kecil dan tidak berdaya. Sebaliknya, kamu mengganggap aku begitu hebat dan luar biasa. Anggapanmu itu muncul karena kamu belum sadar dan belum mengerti jati dirimu yang sebenarnya!"

"Jati diri? Kalau jati diriku bukan ombak kecil, lalu apa...?" timpal ombak kecil.

Ombak besar meneruskan, "Memang di antara kita terasa berbeda, tetapi sebenarnya jati diri kita adalah sama! Kamu bukan ombak kecil, aku pun juga bukan ombak besar. Ombak kecil dan ombak besar adalah sifat kita yang sementara. Jati diri kita yang sejati adalah air. Bila kamu bisa menyadari bahwa kita sama-sama air, maka kamu tidak akan menderita lagi. Kamu adalah air, setiap waktu kamu bisa menikmati menjadi ombak besar seperti aku: kuat, gagah, dan perkasa."

Netter yang Luar Biasa!

Sebagai manusia, sering kali kita terjebak dalam kebimbangan akibat situasi sulit yang kita hadapi. Yang sesungguhnya, itu hanyalah pernak-pernik atau tahapan dalam perjalanan kehidupan. Seringkali kita memvonis (keadaan itu) sebagai suratan takdir, lalu muncullah mitos: "Aku tidak beruntung", "Nasibku jelek", "Aku orang gagal". Bahkan ada yang menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk ketidakadilan Tuhan!

Dengan memahami bahwa jati diri kita adalah sama-sama manusia, tidak ada alasan untuk merasa kecil dan kerdil dibandingkan dengan orang lain. Karena sesungguhnya, kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bukan monopoli orang-orang tertentu. Jika orang lain bisa sukses, kita pun juga bisa sukses!

Kesadaran tentang jati diri, bila telah ditemukan, maka di dalam diri kita akan timbul daya dorong dan semangat hidup yang penuh gairah; sedahsyat ombak besar di samudra nan luas, siap menghadapi setiap tantangan dan mengembangkan potensi terbaik demi menapaki puncak tangga kesuksesan.

Penulis : Andrie Wongso
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 10:26:00 AM   0 comments
Tuesday, August 16, 2011
Bersediakah Anda?
Bersediakah Anda mengerjakan apapun yang saat ini menjadi pekerjaan Anda, seandainya Anda tidak dibayar sepeser pun untuk itu? Bersediakah Anda menjual produk dan jasa yang sekarang Anda jual, seandainya Anda tidak mendapatkan gaji, insentif, atau komisi dari penjualan tersebut? Bersediakah Anda menjadi akuntan publik, seandainya Anda tidak mendapatkan imbalan uang sama sekali?

Bersediakah Anda melakukan pekerjaan sebagai dokter, sekalipun tak ada yang mau membayar Anda untuk itu? Bersediakah Anda bekerja sebagai pengacara, kalau hal itu tidak memberikan manfaat finansial bagi Anda? Bersediakah Anda bekerja sebagai insinyur sipil, arsitek, pembawa acara televisi, musisi, penyanyi, penari, penulis, ekonom, hakim, jaksa, polisi, tentara, anggota DPR, pejabat pemerintah, guru, pembicara, motivator, dan sebagainya, jika pekerjaan itu tidak mendatangkan uang buat Anda?


Jika jawabannya adalah YA, maka Anda sedang dalam perjalanan menuju sukses.

Begitulah salah satu nasihat Oprah Winfrey, ratu talk-show dunia yang kesohor itu. "Jika Anda bersedia melakukan pekerjaan Anda yang sekarang tanpa menerima bayaran, Anda dalam perjalanan menuju sukses," katanya. Sebab, jika Anda tidak digerakkan oleh motivasi uang, maka ada kekuatan lain yang lebih besar yang menggerakkan Anda. Kekuatan itu boleh disebut dengan nama apapun-inner power, the giant within, DNA sukses, hasrat inti, burning desire, the spirit of success, dsb-yang jelas kekuatan macam itulah yang menuntun orang meraih sukses.

Nasihat Oprah itu bisa juga dibaca demikian: "Jika Anda bersedia melakukan pekerjaan Anda yang sekarang semata-mata karena menerima bayaran, Anda dalam perjalanan menuju kegagalan." Sebab jika Anda bekerja setiap harinya sekadar untuk mendapatkan gaji setiap bulannya, maka pekerjaan itu pastilah bukan pekerjaan yang menantang bagi jiwa Anda. Pekerjaan itu hanyalah sekadar nafkah yang tidak mendorong Anda untuk meraih sesuatu yang lebih besar dari sekadar materi. Pekerjaan itu tidak menggali bakat-bakat, kemampuan, hasrat dan pilihan-pilihan terbaik Anda. Pekerjaan semacam itu tidak perlu terkait dengan ketetapan hati (pikiran-perasaan-kemauan), sesuatu yang justru sangat penting untuk bisa membuat Anda sukses.

Sungguh menantang untuk mengetahui "apa yang bersedia kita lakukan, sekalipun hal itu tidak mendatangkan uang. Sebab sejak kecil kita diajar untuk mengejar nilai baik dalam tiap ulangan dan ujian di sekolah, tetapi kita tidak diberi contoh bagaimana belajar secara baik. Akibatnya, kita belajar untuk mendapatkan nilai dengan cara menyontek. Kita tidak diajar untuk bersedia memilih jujur, sekalipun mendapatkan nilai jelek di rapor sekolah. Akibatnya kita terbiasa menganggap kejujuran sebagai suatu 'tindakan bodoh' yang harus dihindari sebisanya. Dan karena biasa menyontek, maka kita tidak biasa mempertanyakan minat-bakat-ambisi-hasrat kita yang terdalam. Kita terbiasa untuk menjadi ikut-ikutan, menjadi manusia rata-rata, menjadi bagian dari gerombolan yang tak punya tujuan, tanpa identitas, tanpa rasa tanggung jawab. Kita telah dikelabui oleh cara berpikir "habis sekolah cari kerja yang menghasilkan banyak uang secepat-cepatnya, dengan cara apapun juga".

Sungguh penting mengambil waktu memikirkan "apa yang bersedia saya lakukan, sekalipun hal itu tidak menghasilkan uang". Rutinitas kerja mencari nafkah telah mengaburkan pandangan banyak orang mengenai apa yang sungguh-sungguh diinginkan jiwanya, atau apa yang sebenarnya merupakan tugas dan panggilan hidupnya.

Rutinitas kerja telah menjadi belenggu baja yang memasung segala potensi, sehingga tak kunjung teraktualisasi. Rutinitas kerja telah membuat banyak orang lupa mengejar makna, mencari jawaban yang lebih baik mengenai apa sebabnya ia dilahirkan di bumi ini. Rutinitas kerja telah memasung kreativitas, menurunkan kecerdasan dari tahun ke tahun, sekadar untuk melakukan pekerjaan yang berulang-ulang, yang membuat otak berfungsi minimum, yang membuat hidup terasa membosankan. Rutinitas kerja telah membuat orang lupa bahwa kerja juga merupakan ibadah untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Allah. Rutinitas kerja mengantar orang sampai pensiun. Lalu mati. Tanpa kontribusi. Tanpa makna.

Sungguh menarik untuk menemukan kembali, "apa yang bersedia saya lakukan, sekali pun hal itu tidak menghasilkan uang". Sebab usaha untuk menjawabnya akan menuntun kita masuk ke dalam batin kita, melakukan ziarah spiritual, mengaktivasi kembali kompas jiwa yang lama tersandera. Jalannya pasti tak mudah dan tidak bisa instan. Berbagai kerak dan kotoran batin mesti dikeluarkan lebih dulu, sebelum mencapai kebeningan hati. Persis seperti penggali sumur yang berupaya menemukan air bersih. Ia harus mengebor tanah sampai kedalaman beberapa meter, lalu mengeluarkan air berlumpur secara terus menerus, dengan tekun, dengan ketetapan hati, dengan keyakinan bahwa kebeningan menanti di kedalaman. Setelah menggali sekian puluh meter, ia mungkin baru menemukan air berpasir putih, yang menjadi penanda bahwa sumber air yang jernih telah dekat. Seperti itulah pula pertanyaan reflektif "apa yang bersedia saya lakukan, sekalipun hal itu tidak menghasilkan uang" perlu diselenggarakan. Dilakukan secara secara terus menerus, dengan tekun, dengan ketetapan hati, dengan keyakinan bahwa kebeningan menanti di kedalaman.

Berani mencoba? Refleksi macam begini, memang, bukan untuk orang pengecut!

Penulis : Andrias Harefa
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 10:26:00 AM   0 comments
Monday, August 15, 2011
Aku Mau Berubah
Dikisahkan, di sebuah seminar motivasi, setelah mendengar banyak kiat-kiat dan pelajaran di sana, saatnya para peserta pulang dengan membawa kesan dan semangat yang membara untuk dipraktikkan di kehidupan mereka lebih lanjut.

Di antara mereka, beberapa orang yang merasa sangat terbantu setelah mengikuti seminar tersebut, memberitahu teman dan saudara-saudaranya bahwa seminar yang diikutinya sangat bagus dan luar biasa. Kemudian, mereka mulai melakukan anjuran yang diajarkan serta mengalami perubahan cara pandang & kebiasaan. Di kesehariaannya, mereka berusaha terus menyemangati diri sendiri, aktif mengikuti kegiatan yang positif, mengarahkan seluruh perhatiannya pada usaha yang dijalankan, dan hasilnya....perubahan yang luar biasa di kehidupannya! Mereka mengalami kemajuan yang berarti dan mensyukuri hal itu!


Ada kelompok yang lain. Setelah mengikuti seminar, mereka juga tampak bersemangat, bersiap-siap untuk mengadakan perubahan, membuat rencana sedetail mungkin. Sayangnya, setelah beberapa saat, rencana yang dibuat tetaplah rencana. Ada mental block karena kebiasaan yang dijalani selama ini, yakni malas, suka menunda, tidak bisa menerima penolakan, cepat putus asa saat mengalami benturan, serta cara pandang yang negatif terhadap sekelilingnya. Akhirnya mereka kembali ke pola lama dan mulai menyalahkan keadaan di sekelilingnya yang dituduh tidak mendukung.

Akhirnya, saat ditanya, Anda pernah mengikuti seminar motivasi? "Oh ya. Saya pernah mengikutinya, seminar yang bagus, pesertanya banyak dan pembicaranya hebat! Tapi, apa yang diajarkan tidak mudah untuk dijalankan. Karena sukses kan milik orang-orang tertentu dan sayangnya saya bukanlah orang itu."

Ada kelompok yang lain lagi. Setelah mengikuti seminar, mereka pun mulai mencoba membuat perubahan. Sayangnya, upayanya tidak terlalu kuat. Maka, saat orang-orang di sekelilingnya tidak menyukai perubahan yang dicobanya, dia pun merasa dijauhi dan tidak diterima di lingkungannya. Akhirnya, sudah bisa ditebak kan?

Netter yang Luar Biasa!


Seminar sehebat apapun, teknik secanggih apapun, rumus teori seampuh apapun, selamanya tidak akan mampu mengubah manusia jika manusia itu sendiri tidak mau mengubah dirinya sendiri!

Bagi saya, kehidupan adalah ruang kuliah atau tempat belajar tanpa batas. Seorang "pembelajar sejati" bisa menjadi guru bagi dirinya sendiri. Sementara seorang "pembelajar tulen" akan cepat sekali menyerap apa yang terjadi di sekelilingnya dan dengan cerdas mampu mencerna sebagai bahan belajar untuk kemajuan karier dan hidupnya.

Jadi akhirnya semua kembali pada diri sendiri;bagaimana kita mengelola pikiran dan sikap mental dalam menghadapi perubahan, sekaligus secara tegas mau berubah hingga mampu mengaktualisasikan diri sampai ke puncak kesuksesan! Salam sukses luar biasa!!

Penulis : Andrie Wongso
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:37:00 AM   0 comments
Friday, August 12, 2011
Berhentilah Mengeluh
Pantaskah anda mengeluh? Padahal anda telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah anda berkeluh kesah? Padahal anda telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan anda untuk membenahi segala sesuatunya.

Apakah anda bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab anda? Janganlah kekuatan yang ada pada diri anda, terjungkal karena anda berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati anda. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena anda tidak tahu jawaban dari masalah anda tersebut.


Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kamu. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak anda. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.

Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding anda. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada mereka sesali. Jika demikian masihkan anda lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ini?

Sumber : iphincow.wordpress.com
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 12:46:00 PM   0 comments
Thursday, August 11, 2011
Salesman Batu Intan
Seorang salesman batu intan sedang berkeliling di sebuah tempat untuk menawarkan barang yang akan dijualnya. Akhirnya salesman ini tiba di rumah yang pertama, lalu mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan muncullah pemilik rumah. Kemudian salesman tersebut menawarkan batu intan kepada si pemilik rumah, namun si pemilik rumah menolak mentah-mentah dengan mengatakan, "Untuk apa batu intan ini, saya tidak butuh batu jelek seperti ini."

Akhirnya salesman itu pun pergi dan menuju rumah kedua. Setelah mengetuk pintu, si pemilik rumah kedua keluar. Lalu salesman tersebut menawarkan batu intannya. Setelah mendengar penjelasan salesman itu, si pemilik rumah akhirnya membeli sebuah batu intan. Namun setelah itu, ia bingung karena tidak tahu harus diapakan. Jadi, batu itu hanya diletakkan begitu saja.


Salesman itu kemudian mengunjungi rumah ketiga. Si pemilik rumah begitu senang saat melihat batu intan tersebut. Tanpa banyak bertanya, si pemilik rumah langsung memborong semua batu intan itu. Si salesman senang karena semua batunya habis terjual, namun si pemilik rumah lebih senang berkali lipat. Dengan semangat, batu-batu intan itu diubahnya menjadi berlian yang berkilau dan kemudian dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Manusia sama seperti ketiga pemilik rumah itu. Setiap saat, "batu intan" berupa peluang selalu menghampiri kita. Masalahnya bagaimana kita menyambut peluang itu. Apakah kita seperti :
1. Pemilik rumah pertama, yang menolak peluang itu mentah-mentah?
2. Pemilik rumah kedua, yang menerima peluang itu, namun hanya dibiarkan begitu saja? atau
3. Pemilik rumah ketiga, yang menerima peluang itu, dan mengubahnya menjadi kesuksesan?


Termasuk manakah diri Anda?

Penulis : Suhardi
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 12:49:00 PM   0 comments
Monday, August 08, 2011
Penyakit Malas
Tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa sebuah usaha. Kemalasan menjadi penyakit yang melanda banyak orang. Mereka mencari pembenaran atas tindakan yang dilakukan dengan mengkambinghitamkan keadaan ekonomi, susahnya mencari kerja, banyaknya PHK dan lainnya. Padahal sesungguhnya mereka malas untuk bekerja dan lebih senang menjadi peminta-minta yang bekerja di perempatan jalan.

Sekarang ini tidaklah susah untuk mencari orang-orang yang seperti itu, hampir di tiap perempatan kota besar banyak ditemui peminta yang memiliki badan sehat dan sebenarnya sanggup untuk bekerja. Bahkan yang membuat saya lebih prihatin, ada banyak sekali peminta yang memanfaatkan anak kecil bahkan balita untuk menjadi peminta juga. Segala cara dilakukan untuk mencari uang, padahal sebagian dari mereka masih sanggup untuk bekerja. Lebih baik menjadi pengamen, kuli bangunan atau pemulung dari pada menjadi peminta-minta.


Ya, inilah yang harus kita perjuangkan bersama. Pembentukan mental pantang menyerah untuk mencapai tujuan apapun yang berguna bagi semua orang yang berada di sekeliling kita. Apabila sahabat ingin sukses maka pantang bagi sahabat untuk bermalas-malasan. Berjuang dengan kegagalan, berjuang dengan semangat membara, dan berjuang untuk kesuksesan!

Saya pernah mendengar sebuah gurauan dari seorang sahabat kost saya, ia berkata bahwa "resep sukses anti gagal adalah dengan tidak mendengarkan apa-apa, tidak berbicara apa-apa dan tidak melakukan apa-apa". Gurauan ini sangat membekas di hati saya. Memang benar agar kita tidak terjebak dengan kegagalan maka kita tidak perlu melakukan apa-apa. Namun bukan itu tujuan kita, tujuan kita hidup di dunia adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini dan memberikan yang terbaik bagi sekeliling kita. Dari gurauan tersebut saya pun menjawab dengan tegas, "Dengan resep itu, Sahabat tidak akan menjadi siapa-siapa, tua mengandalkan kepedulian orang lain dan akan mati tanpa meninggalkan apa-apa." Apakah sahabat mau seperti itu?

Memang hal terberat dalam melakukan sesuatu adalah memulainya. Pernahkah sahabat merasakan susah sekali bangun dari tempat tidur ketika pagi hari? Padahal bangun dari tempat tidur bisa dilakukan oleh siapapun juga bahkan anak TK-pun bisa melakukannya dengan mudah. Yang dibutuhkan hanya niat untuk bangun atau tidak. Tidak peduli semudah apapun tindakan yang dilakukan, akan tampak berat sekali apabila sahabat tidak memulai untuk melakukannya. Percayalah kepada saya, bahwa dengan melakukan tindakan sedikit saja maka akan mempermudah apapun yang sahabat lakukan. Tindakan sedikit ini akan membuka jalan yang sebelumnya tertutup. Mulailah dan buktikan perkataan saya!

Coba tanyakan kepada atlet angkat besi atau jika sahabat tidak mengenalnya coba buktikan sendiri. Waktu yang paling berat dan membutuhkan tenaga yang besar adalah ketika akan mengangkat besi dari lantai, namun ketika besi sudah terangkat maka beban besi akan berkurang dari pada saat pertama mengangkatnya. Hal yang paling utama adalah meghilangkan secepatnya rasa malas yang ada dalam pikiran kita dan mulailah melakukan yang seharusnya dilakukan. Dengan malas semua tidak mungkin tercapai, kecuali kebetulan ada sebuah koper berisi emas batangan jatuh dari langit di hadapan sahabat.

Hal yang harus diperhatikan adalah kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Kita hidup di dunia yang tiap hari jumlah penduduknya semakin meningkat, sehingga persaingan hiduppun semakin sengit. Perkembangan zaman ini membutuhkan orang-orang yang kekuatan mental yang kuat pula. Orang yang malas dan tidak punya gairah hidup akan tertinggal dari yang lain. Inilah alasan kenapa kita tidak boleh bermalas-malasan. Tidak selamanya kita berada di bangku SD, tidak selamanya kita berada di bangku SMU, dan tidak selamanya kita mengandalkan hidup pada orangtua. Kita harus mulai dari sekarang untuk meraih kehidupan yang baik di masa depan. Bukan orang lain yang melakukannya untuk kita, melainkan kita sendiri yang melakukannya untuk diri kita sendiri. Tidak ada yang lebih peduli pada keadaan kita selain diri kita sendiri.

Sahabat,

Mari kita baca kembali paragraf pertama pada bab ini. Di sana saya membahas mengenai orang-orang yang mengkambinghitamkan ekonomi, lowongan kerja dll. Sehingga mengambil jalan pintas menjadi peminta-minta. Marilah kita semua menjadi orang sukses, bukan lagi sebagai keinginan melainkan menjadi sebuah keharusan. Karena banyak sekali orang yang membutuhkan kesuksesan kita. Apabila kita sukses, maka kita bisa membuka lowongan kerja yang luas bagi masyarakat Indonesia.

Bayangkan jika ada hanya 100 orang pertahun menjadi pengusaha, dan tiap orang pengusaha membutuhkan minimal 20 orang, maka ada 2000 orang yang bekerja di perusahaan Sahabat. Tidak ada lagi alasan untuk menjadi peminta, dan sahabat menjadi satu bagian yang memberikan kebaikan bagi masyarakat.

Semoga bermanfaat,

Firman Erry Probo
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 10:54:00 AM   0 comments
Friday, August 05, 2011
Berapa Harga Secangkir Teh?
(Inspirasi cerita ini diambil dari sebuah blog yang memuat tulisan mengenai value sebuah kaleng coke, dikisahkan dan dibumbui kembali menurut versi sang penulis dalam judul "Berapa Harga secangkir Teh?")

Pada sebuah tempat pelatihan, sang guru memberikan tugas bagi murid-murid barunya untuk menjawab sebuah pertanyaan sebelum mereka dinyatakan lulus pada kelas tersebut. Dan pertanyaanya selalu berubah dari satu angkatan dengan angkatan lainnya.


Kali ini guruitu bertanya "Berapa Harga Secangkir Teh ini?" katanya sambil mencicipinya.

Murid pertama, langsung berkata "Paling-paling harganya dua ribu lima ratus rupiah saja"

Sang guru lalu berkata "Ternyata nilaimu sampai hari ini hanya seharga dua ribu lima ratus rupiah saja, sungguh disayangkan."

Sekarang giliran Murid ke-dua, kali ini ia berkata lebih diplomatis, tapi dengan keyakinan penuh "Harganya pasti tergantung pada label dan packaging-nya"

"Misalnya, kalau teh dengan merek A yang terkenal, nilainya akan berbeda, nilainya akan lebih tinggi dari pada merek B yang dikenal biasa-biasa saja (walau dibuat dari bahan dasar yang sama) dan kadang harganya akan naik jika di-packaging dengan baik, dibuat lebih menarik" lanjutnya.

Sang guru lalu berkata "Setidaknya kamu lebih bernilai dibandingkan temanmu yang pertama, tapi pengetahuanmu itu masih sebatas kulit saja, belum cukup memuaskan."

Murid ke-tiga segera memutar otaknya, ia tak ingin mendapat penilaian yang sama dengan teman-temannya tadi, sejenak ia terdiam memikirkan jawaban terbaiknya,lalu berkata.

"Tempat, Harga secangkir teh ini tergantung tempatnya."

Sang guru lalu segera meresponnya "Maksudmu? Wadah tempat teh itu ditempatkan atau tempat di mana teh tersebut dihidangkan?"

Mendapat tanggapan sang guru, murid ke-tiga seperti mendapat angin surga, ia lalu dengan semangat memberikan argumentnya.

"Dua-duanya guru, kalau teh yang sama saya letakan di wadah yang lebih baik, nilainya akan mengikuti wadah tersebut.Lalu, tempat penyajian memegang peranan berarti, secangkir teh yang disajikan di warung, akan berbeda dengan secangkir teh yang disajikan di restorant, berbeda lagi dengan secangkir teh yang disajikan di cafe-cafe ternama, apalagi di lobby hotel berbintang lima"

"Bagus, Pengetahuanmu sudah sampai ke bagian dalam, kamu sudah mulai mengerti pokok permasalahan" puji sang guru.

Sang Guru segera mengarahkan pandangannya ke murid ke-empat, lalu dengan lembut murid ke-empat berkata,

"Harga secangkir teh ini tergantung cita rasanya"

"Teh yang diproduksi dengan baik, diproses dengan cermat akan menghasilkan teh dengan cita rasa yang berkwalitas, yang nilainya pasti akan lebih tinggi, bahkan nilai teh akan bertambah hanya karena kita menambahkan beberapa tetes sari lemon"

"Bagus sekali, cita rasamu memang sudah menyentuh hati" kata sang guru.

Sekarang giliran murid terakhir, murid ke-lima, ia sempat kesulitan mencari kata-kata yang indah, kamusnya seakan kehabisan ide, terpakai oleh keempat temannya.

Akhirnya ia berkata,

"Terserah Kita"

Lalu Sang Guru mengacungkan jempol, "KAMU LULUS"

Jika, Secangkir teh itu adalah diri kita, Berapakah Harga yang pantas untuk diri kita?

1. Apakah kita hanya menghargainya dengan dua ribu lima ratus rupiah saja?
2. Apakah kita akan lebih berharga dengan sederetan label (title)?
3. Apakah kita jauh lebih berharga dengan meningkatkan Kwalitas diri kita?

Apapun pilihan Anda, harganya tetap "TERGANTUNG PADA PILIHAN KITA, HARGANYA AKAN TERGANTUNG PADA SEBERAPA JAUH KITA MENGHARGAI DIRI KITA SENDIRI, KE LEVEL MANA KITA AKAN MEMBAWA DIRI KITA"

Selamat Mencoba Meningkatkan Harga Anda !

Salam Sukses Selalu

Penulis : Seng Guan CPLHI
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 9:24:00 AM   0 comments
Thursday, August 04, 2011
Bring Cheer to Others
Di saat kita sedang mengalami kejenuhan, bosan, suntuk atau bahkan mengalami masalah yang berat, sering kali kita membangun tembok-tembok yang tinggi bertuliskan "DO NOT DISTURB" (Jangan Mengganggu). Tentu saja, teman-teman dan keluarga kita bisa melihat tembok itu dengan jelas, karena tulisan tersebut melekat pada wajah kita. Dan kita juga menjadi pribadi yang tidak mau peduli dengan sekitar kita. "EGP! Tidak peduli! Saya juga sedang ada masalah!" Begitulah pembelaan yang sering kita lontarkan.

"Saya butuh dihibur!" atau "Saya jenuh, tetapi tidak ada yan peduli pada saya!" Pertanyaannya, bagaimana orang bisa mendekati kita di saat kita tetap memperlihatkan duri di punggung kita seperti landak yang siap menyerang? Dengan tembok-tembok yang bertuliskan "Do Not Disturb!"? Melihat wajah kita yang sedang stres, marah, tidak ada senyum, tentu mereka sudah ketakutan atau menjaga jarak.


Seringkali kita menuntut orang-orang untuk mengerti kondisi kita, perhatian dengan kita karena kita terlalu mengasihani diri sendiri ("Saya kan sedang ada masalah, hidup saya susah," dan sebagainya). Loh, memang yang punya masalah hanya kita sendiri? Semua orang pasti punya masalah.

Dan egoisnya manusia, di saat dia sedang mengalami masalah, di saat dia sedih, dia akan mengatakan, "Bagaimana saya bisa menghibur orang lain, sedangkan diri sayalah yang butuh dihibur?" atau "Bagaimana saya bisa berbagi, sedangkan saya sudah tidak punya apa-apa lagi?"

Beberapa hari yang lalu, saya merasa jenuh dan lelah sekali dengan rutinitas saya. Lalu, saya berpikir untuk me-nonaktifkan BBM saya. Tetapi, saya tidak melakukannya. Saat malam tiba, saya baru saja ingin beristirahat. Tiba-tiba, satu per satu teman saya mengirimkan BBM dan meminta waktu saya untuk mendengarkan curhatan mereka, ada yang merasa kesepian, ada yang merasa jenuh. Saya pun dengan sabar membaca BBM mereka, lalu, menarik nafas dalam-dalam, dan tersenyum, dan membalas BBM mereka dengan memberikan semangat kepada mereka.

Setelah itu, mereka mengucapkan terima kasih atas waktu dan semangat yang saya berikan kepada mereka. Mereka memberikan icon 'tersenyum'. Saya tidak membantu mereka menyelesaikan masalah, tetapi saya mencoba untuk menghibur mereka, bahwa segalanya akan baik-baik saja. Lalu apa yang terjadi? Saya yang tadinya juga merasa jenuh dan tidak semangat, seolah dikembalikan semangatnya dua kali lipat. Mereka mengucapkan terimakasih berkali-kali. Saya tidak merasa berbuat apa-apa, tidak membantu apa-apa. Saya hanya memberikan waktu untuk mendengarkan mereka. Terkadang, tanpa kita sadari, sekecil apapun yang kita lakukan untuk orang lain, itu sangat berarti bagi mereka.

Mungkin teman-teman juga pernah mengalami hal yang sama dengan pengalaman saya ini. Semoga kita selalu belajar untuk berbagi dalam kondisi apapun, karena apa yang kita bagikan akan dikembalikan kepada kita, bahkan dilipatgandakan.

The best way to cheer yourself is to try to cheer someone else up. - Mark Twain

The unselfish effort to bring cheer to others will be the beginning of a happier life for ourselves. - Helen Keller



Penulis : Rosita
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 9:40:00 AM   0 comments
Wednesday, August 03, 2011
Everyday is a Miracle
Saya pernah bertemu seorang berusia 65 tahun. Waktu itu saya bekerja sebagai pelayan gift-shop di hotel. Setelah customer selesai berbelanja dan akan meninggalkan toko, biasanya saya mengucapkan salam "have a nice day" dan itu saya ucapkan juga kepada nenek tersebut sehabis ia membayar di kasir.

Nenek itu berhenti dan berpaling ke arah saya sambil berkata, "Anakku, setiap hari adalah miracle day, bukan nice day!"


Lalu ia bercerita bahwa ia telah operasi jantung dua kali. Yang pertama ia menerima donor jantung anak usia 14 tahun tetapi tidak kompartibel dan sempat koma selama tiga hari. Lalu kedua kali ia menerima jantung pria berusia 35 tahun dan ternyata cocok hingga saat itu.

Nenek itu menambahkan sejak peristiwa tersebut ia merasakan hidup yang kedua kalinya. Baginya setiap saat adalah "miracle"; setiap tarikan dan hembusan nafas adalah keajaiban. Jadi hidup bukan hanya "nice day" tetapi hidup adalah "miracle every second".

Pertemuan singkat dengan nenek tersebut telah membuat saya lebih menghargai arti hidup, dan nenek itu datang sebagai guru bagi saya agar lebih menghargai hidup. Hidup akan jauh lebih berarti bila kita bisa memanfaatkannya dengan baik daripada sekadar menghitung hari.

Mengutip kata Tom Hanks dalam film Forrest Gump: "Life is like a box of chocolate, we never know what we gonna get". Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan tetapi dengan mempersiapkan diri dan attitude every day is miracle seperti nenek tersebut mungkin akan membuat hidup kita lebih hidup dan lebih berwarna baik bagi diri kita maupun bagi lingkungan sekitar kita.

Salam sukses dan tetap semangat!

Penulis : Kwan Hartono
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:26:00 AM   0 comments
Monday, August 01, 2011
Ingin sukses berbisnis? Jauhi Sifat-Sifat Ini
Menjadi seorang pengusaha bukan hal yang mudah. Selain skill, anda perlu memiliki mental yang kuat sehingga usaha anda mampu terus bertahan dan berkembang.

Berdasarkan studi, hampir kebanyakan usaha runtuh dalam kurun waktu lima tahun pertama.Ketidakmampuan bisnis-bisnis itu bertahan dalam lima tahun pertama antara lain disebabkan karakteristik-karakteristik mental para pemiliknya, yang perlu anda pahami dengan baik dan jauhkan dari diri anda.


Tidak Sabar dan Meledak-ledak

Pengusaha yang memiliki sifat tidak sabaran dan meledak-ledak akan bertindak sembrono. Orang-orang seperti ini adalah contoh orang yang tidak memiliki ketenangan dalam tingkat yang membahayakan usaha. Mereka tidak memiliki kewaspadaan dan mengambil keputusan hanya berdasarkan reaksi sesaat. Ketika menemui masalah, orang yang memiliki sifat ini tidak berupaya melakukan penyesuaian-penyesuaian, tetapi mengambil jalan pintas untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Padahal, untuk bisnis yang masih dalam tahap inkubasi, diperlukan langkah-langkah yang hati-hati, pelan tapi pasti.

Terlalu Percaya Diri

Pengusaha yang terlalu percaya diri tidak mampu melihat kemampuan dirinya secara nyata dalam menggerakkan dan menjaga kesinambungan perkembangan bisnisnya. Mereka juga tidak memiliki kewaspadaan dan mengabaikan peringatan-peringatan karena merasa terlalu percaya bahwa tidak ada satupun masalah yang dapat mengganggu usahanya. Pengusaha seperti ini juga terlalu berlebihan menilai kekuatan rencana bisnisnya, kemampuannya untuk mendapatkan dana, dan berlebihan memperkirakan permintaan atas produk atau jasanya.

Masa Bodoh

Beberapa pengusaha tidak memiliki patokan yang jelas dari mana mereka harus memulai usahanya. Hasilnya, mereka tidak terbiasa dengan pasar tidak berpengalaman menjalankan sebuah bisnis dan masa bodoh mengenai kebutuhan-kebutuhan kewirausahaan seperti kondisi keuangan, ketahanan fisik dan sikap emosionalnya. Anda tidak boleh masa bodoh, mau tidak mau anda harus benar-benar mempelajari setiap aspeknya sekecil apapun. Tahukah anda, kegagalan mengetahui secara pasti setiap aspek dari usaha bisnis, atau kegagalan menimbang investasi pribadi yang dibutuhkan adalah kesalahan yang kelak harus anda bayar mahal.

Mental Tempe

Pengusaha yang memiliki “mental tempe” mudah menyerah ketika menghadapi tantangan atau kemunduran. Mereka tidak memiliki ketangguhan untuk terus berjalan dalam keadaan sulit sekalipun. Inilah yang membedakan antara pengusaha sukses dan pengusaha gagal. Dalam sejarah, hampir setiap pengusaha yang sukses melewati masa-masa sulit sebelumnya. Mereka yang tetap berada dalam bahtera dan melanjutkan mimpi-mimpinya adalah mereka yang berhasil.

Pencarian

Contoh Usaha yang pasti dibutuhkan orang setiap hari, karakteristik artikel pengusaha sukses, kisah itb, kumpulan karangan karangan tentang teman baru di sekolah.

Sumber: Resensi.net
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 10:15:00 AM   0 comments

©2006- Beranie Gagal


Inilah Kami


Nama: Ryan - Dodi
Kota: Depok, Jawa Barat, Indonesia
Tentang Kami:
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hi Succesor call Us Dodi dan Ryan, Kami Berdua adalah salah satu dari kalian semua yang datang kesini. Kami hanyalah pejuang-pejuang yang mencoba untuk mewujudkan satu persatu cita-cita kami mejadi kenyataan. Sudah lama kami sangat menyenangi artikel-artikel motivasi yang akan dan selalu membuat kami optimis dan bahagia dalam menapaki satu persatu anak-anak tangga yang akan mengantarkan kami ke dalam dunia kesuksesan. Untuk itu kami sangat berharap kebahagian kami ini dapat kami bagi kepada teman-teman semua dengan meramu blog ini menjadi semacam arena rekreasi soul and mind teman-teman semua, sehingga setiap kali teman-teman keluar dari blog ini maka akan ada semangat baru yang mengiringi langkah teman-teman dalam menjalani kehidupan.

Satu kalimat yang selalu kami usung :

"Kesuksesan itu bukan hanya dari banyaknya harta akan tetapi berapa banyak yang telah kita lakukan untuk mencapai kesuksesan"

Salam sukses dari kami!

Walaikumsalam Wr Wb.

Lihat profil lengkap kami

Online





Sekarang jam berapa ya?

Artikel sebelumnya

Arsip artikel

Cari Artikel @ Beranie Gagal





 Berlangganan Artikel @
 Beranie Gagal

Masukkan email anda di sini, bila ada postingan baru di blog kami otomatis akan ke kirim ke email anda :


E-book Beranie Gagal

Download Beranie Gagal
Versi PDF


Situs Mitra

Shout it out!




Help us to spread the world





Silahkan copy & paste kode banner di dalam box untuk di pasang di website atau blog anda
Terms
  • Boleh mengutip tulisan-tulisan dari blog kami, asal disebutkan sumbernya.
  • Dipersilahkan bagi yang hendak me-link blog kami. Tak perlu minta ijin. Justru kami akan berterima kasih.

Visitor since 18 Desember 2006

Web Counter
Web Counter

Statistics