| Beranie Gagal Commercial |
Cara Pasang Banner
|
| Donasikan Blog Ini |
|
|
| Beranie Gagal Award |
|
| Beranie Gagal Partners |

BERHADIAH 30 JUTA KLIK DISINI
|
| Hubungi Kami |
|
|
| Quote's Of The Day |
|
|
|
| Tuesday, April 26, 2011
|
|
Pemancing yang Sabar
|
Dikisahkan, ada orang tua yang sering mengunjungi sebuah sungai kecil untuk memancing. Setiap ada waktu luang, ia selalu menghabiskan waktunya untuk hobi yang satu ini.
Sampai suatu hari, ada seorang pemuda yang juga memancing di sungai itu dan kebetulan duduk di sampingnya.
Akhirnya mereka berdua pun memancing dan menunggu. Orang tua tersebut melempar kail ke tengah sungai dan mengencangkan tali pancingan dan setelah itu menunggu dengan sabar sampai ada ikan yang memakan umpannya.
Lain halnya dengan pemuda yang duduk di sampingnya. Ketika ia melempar kail ke tengah sungai, ia terus menarik, memutar dan menggulung tali pancingannya. Setelah menggulung habis, ia melempar lagi kailnya dan terus menerus melakukan hal yang sama berulang kali.
Ketika orang tua tersebut sudah mendapatkan ikan yang lumayan banyak, pemuda itu masih belum mendapatkan satu ikan pun. Akhirnya ia frustrasi.
Orang tua yang melihat pemuda tersebut berkata, "Anak muda, tahukah kamu apa kesalahanmu sehingga kamu tidak mendapatkan satu ikan pun?"
Pemuda tersebut menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab, "Tidak tahu, Pak"
Dengan tersenyum, orang tua itu menjawab, "Anak muda, inti dari memancing adalah kesabaran. Untuk mendapatkan seekor ikan, kamu harus bersabar untuk menunggu sampai ikan tersebut memakan umpanmu. Yang kamu lakukan adalah melempar kail, menarik, dan menggulung kail, begitu seterusnya."
Ia meneruskan, "Yang perlu kamu lakukan adalah melempar kail, mengencangkan tali pancingan dan menunggu dengan sabar. Setelah talinya bergerak dan bergoyang, itulah saatnya kamu harus menarik pancingannya dengan cepat begitu ada kesempatan. Jika ikannya berhasil memakan umpanmu, kamu tinggal menarik dan menggulung talinya."
Setelah berhenti sejenak, ia berkata lagi, "Jika kamu tidak sabar, maka kamu akan sulit sekali mendapatkan ikan. Memancing berarti melatih kesabaran sampai mendapatkan apa yang kamu inginkan."
Pemuda tersebut sadar dan berterima kasih kepada orang tua tersebut karena telah mendapatkan pelajaran yang amat berharga.
Pesan kepada pembaca:
Banyak sekali orang yang tidak berhasil mewujudkan mimpi mereka hanya karena mereka TIDAK SABAR. Mereka ingin sukses dalam waktu yang singkat dan cepat. Mereka tidak sabar jika harus melewati proses yang sangat panjang dan berliku untuk meraih apa yang mereka inginkan.
Seperti yang kita ketahui, bahwa untuk meraih sukses dibutuhkan perjuangan yang besar dan kadang-kadang membuat diri kita melambaikan kain putih pertanda menyerah. Kemauan kita seolah-olah diuji sampai batas yang kadang-kadang tidak bisa kita tahan.
Tapi, sesulit apa pun perjuangan dan perjalanan menuju sukses, tetap ada orang yang berhasil mencapai garis akhir tidak peduli seberapa besarnya rintangan yang menghalangi.
Mereka berhasil meraih kesuksesan besar karena SABAR. Mereka sabar dalam menghadapi tantangan, rintangan, masalah dan kegagalan. Mereka tidak pernah menyerah karena mereka memiliki kesabaran yang luar biasa.
Ketika mereka menemui kegagalan, mereka tidak berhenti. Mereka percaya suatu hari nanti mereka pasti akan meraih sukses yang mereka inginkan. Sikap inilah yang membuat mereka dengan sabar terus berjuang dan menunggu sampai akhirnya mencapai tujuan akhir.
Di sisi lain, orang gagal selalu tidak sabar. Ketika mereka mendapatkan hasil yang mengecewakan, mereka tidak sabar. Akibatnya mereka berhenti dan menghakimi diri sendiri bahwa kesuksesan bukanlah takdir mereka.
Ingat, orang sukses selalu sabar dalam usaha meraih sukses. Mereka sabar dalam menghadapi cobaan dan mereka tetap sabar menunggu sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Penulis : Suhardi Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 2:34:00 PM
  |
|
|
|
| Monday, April 25, 2011
|
|
Jadilah Pemain
|
Saya dulu memaki Roberto Baggio gara-gara dia gagal mengeksekusi tendangan penalti. Akibatnya, kesebelasan Italia tersingkir dari kejuaraan dunia sepakbola sejagad saat itu. Yang memaki Baggio ketika itu ternyata bukan hanya saya. Komentator di televisi para pendukung kesebelasan Italia di seluruh dunia dan pecandu sepak bola di Italia turut mencercanya.
Apakah setelah itu Roberto Baggio berhenti menjadi pemain sepakbola? Tidak! Apakah lelaki itu kehilangan penghasilan dari sepakbola? Juga tidak… Lantas, apa yang saya peroleh dari memaki? Apa juga yang diperoleh oleh para penggila bola Italia? Saya dan mereka tidak memperoleh apa-apa.
Ya, Insan SuksesMulia… para pemain tidak kehilangan penghasilan dan bahkan terus memperoleh penghasilan. Sementara para penonton tidak memperoleh satu rupiahpun bahkan harus terus membayar tiap kali menyaksikan pertandingan.
Begitupula dalam kehidupan sehari-hari, bila kita sibuk menjadi komentator dan penonton kita tidak akan memperoleh apa-apa. Bila Anda ingin memperoleh sesuatu, Anda harus menjadi pemain, Anda harus menjadi pelaku, Anda harus action sendiri dan tak boleh diwakilkan. Tatkala Anda diberi target oleh pimpinan, Anda berusaha dengan keras untuk meraih target itu. Anda mencari cara dan upaya agar target itu tercapai itulah pemain, itulah pelaku.
Namun bila Anda sibuk mengomentari target dari pimpinan, misalnya, “Targetnya ketinggian bos, tidak realistis bos, nanti kalau tercapai tahun depan target kita dinaikkin lebih besar lagi dari kantor pusat.” Bukan hanya itu, Anda juga malah sibuk mempengaruhi angota tim yang lain agar pimpinan mengubah targetnya. Nah, bila Anda mengambil sikap seperti ini Anda adalah penonton. Anda tidak akan dapat apa-apa, bahkan mungkin Anda akan kehilangan posisi dan pekerjaan Anda.
Insan SuksesMulia… berhentilah jadi penonton, jadilah pemain dalam kehidupan karena pemainlah yang penghasilannya terus meningkat, dikenal oleh banyak orang dan mendapat penghargaan serta piala. Ayo jadilah pemain! Salam SuksesMulia! Bila dirasa manfaat silahkan tulisan ini dishare ke para sahabat Anda..
Jamil Azzani www.JamilAzzaini.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:26:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, April 20, 2011
|
|
Mari Belajar dari Ulat Bulu
|
Bagi penggemar tanaman atau yang memiliki hobi berkebun, seringkali menemukan binatang yang menjengkelkan, dimana dedaunan muda yang tumbuh segar, menjadi tak beraturan dan bolong-bolong bahkan habis dan tinggal tangkainya saja. Ternyata setelah kita perhatikan ada hewan yang biasanya berwarna hijau, sehijau dedaunan untuk kamu flase, binatang tersebut adalah ulat.
Ulat adalah salah satu binatang yang sangat rakus dalam melahap hijaunya dedaunan tanaman yang kita sayangi. Rasa marah yang sangat bila kita jumpai tanaman kesayangan kita telah habis dedaunannya, bahkan hanya tinggal ranting-ranting saja. Sedih dan marah rasanya karena usaha kita terasa terampas begitu saja karena ulah sang ulat.
Dibalik kekesalan dan rasa marah, pernahkah kita mencoba untuk melihat atau sedikit tertegun mengernyitkan dahi atas ulah sang ulat tersebut atau sebaliknya kita membunuhnya untuk melampiaskan kekesalan hati, setega itukah?
Hasil yang diakibatkan oleh ulah sang ulat memang sangat mengesankan bila dibanding dengan wujud ulat yang lemah dan lunak tubuhnya.
Melihat dari akibat yang dihasilkan maka dapat kita katakan bahwa karakter ulat adalah pekerja keras dalam menggunduli dedaunan tanaman kita, seakan-akan mereka seperti dikejar deadline dan harus buru-buru untuk menyelesaikan. Hasilnya sangat mengesalkan sekali buat kita, yaitu tanaman yang gundul dalam waktu yang relatif singkat dan sekali lagi sungguh mengesankan.
Dalam menjalani misinya sang ulat tak membiarkan sedikit waktu terbuang. Sang ulat baru berhenti ketika sampai pada saat yang ditentukan dimana ia harus berhenti makan untuk menuju ke dalam kondisi puasa yang keras. Puasa yang sangat ketat tanpa makan tanpa minum sama sekali, dalam lingkupan kepompong yang sempit dan gelap.
Pada masa kepompong ini terjadi sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, masa dimana terjadi transformasi dari seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang elok dan indahnya dikagumi manusia. Sang kupu-kupu yang terlahir seakan-akan menjadi makhluk baru yang mempunyai perwujudan dan perilaku yang baru dan sama sekali berubah.
Haruskah kita membiarkan begitu saja sebuah peristiwa yang sangat indah dan mengesankan ini, tentu tidak. Sebenarnya kita patut malu bila melihat tabiat ulat yang pekerja keras. Ulat seakan tak mempunyai waktu yang terluang dan terbuang sedikitpun. Waktu yang tersedia adalah waktu yang sangat berharga bagi ulat untuk menggemukkan badan sebagai persiapan menuju sebuah keadaan dimana diperlukan energi yang besar yaitu masa kepompong, seakan dikejar-kejar oleh deadline sehingga sang ulat tak pernah beristirahat ejenakpun untuk terus melahap dedaunan.
Berpacunya sang ulat dengan waktu, ternyata disebabkan sang ulat telah mempunyai sebuah tujuan yang sangat jernih dan jelas yaitu mengumpulkan semua potensi yang ada untuk menghadapi satu saat yang sangat kritis yaitu masa kepompong, dimana pada masa kepompong tersebut dibutuhkan persiapan yang prima. Datangnya masa kepompong adalah sebuah keniscayaan, maka sang ulat mempersiapkan dengan kerja keras untuk menghadapinya.
Sebuah persiapan diri dengan kerja keras dilakukan juga pada hewan- hewan yang mengalami musim dingin.Dimana untuk menghadapi masa sulit di musim dingin, banyak hewan yang melakukan hibernasi selama musim dingin di gua-gua atau liang-liang, agar terhindar dari ganasnya musim dingin. Agar tubuh tetap hangat dan tersedianya energi maka sebelum menjelang musim dingin, hewan-hewan tersebut akan menumpuk lemak sebanyak-banyaknya di dalam tubuhnya, untuk dipakai sebagai bekal dalam tidur panjangnya.
Lalu coba kita berkaca dan mereview diri kita, adakah semangat yang luar biasa selayaknya ulat yang telah menggunduli dedaunan, bukankah sebuah masa depan dan tanggung jawab yang begitu beratnya harus kita pikul dan tunaikan. Namun kita terbuai dan masih sering suka bermain- main, selayaknya tertipu oleh permainan yang sangat melenakan.
Masa-masa dalam kehidupan kita sebagai individu atau kelompok, pasti tak akan pernah luput dari masa yang menyenangkan dan kemudian digantikan masa-masa yang sulit, itu adalah sebuah kepastian, sepasti bergantinya musim hujan disongsong oleh musim kemarau yang memayahkan.
Janganlah kita terlena bahkan kalah dengan hewan yang bernama ulat yang mempunyai etos kerja unggul dan memiliki pola pandang yang jauh ke depan yang meniti masa depan tersebut dengan kerja keras, karena masa depan dengan kesulitan dan cobaan itu pasti akan datang dan menghampiri kita, maka persiapan yang matang dan kerja keras yang mampu menolong kita dan bukan kemalasan dan menunda-nunda pekerjaan.
Have a positive day!
Salam Inspirasi
Mohamad Yunus, CHt, CPHR, MNLP “You Create your own Reality” Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:26:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, April 18, 2011
|
|
Kekuatan Sebuah Impian
|
Saat kita terbangun di pagi yang cerah terdapat dua pilihan yang harus kita pilih, yaitu melanjutkan mimpi indah kita ATAU membuat impian kita menjadi kenyataan yang indah. Kebanyakan orang hanya menganggap mimpi adalah suatu hal yang sepele dan hanyalah khayalan semata. Seharusnya mimpi yang kita punya jangan hanya dijadikan sebuah khayalan saja, tapi jadikan juga sesuatu tujuan (goal) yang ingin kita raih dan kita idam-idamkan untuk menjadi kenyataan di masa depan atau bisa kita sebut dengan IMPIAN. Kita harus mengubah mimpi kita menjadi impian, karena apabila menjadi sebuah impian kita bertekad dengan sungguh-sungguh dalam menggapainya.
Tapi perlu diketahui bahwa mimpi yang sudah menjadi impian pun tidak ada artinya apabila tidak ada usaha untuk merealisasikannya menjadi kenyataan. Bangunlah dari tidur kita lalu capai dan raihlah impian kita! Saya pernah mendengar kata yang sangat menginspirasi dari film Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yaitu, "Bukanlah seberapa besar mimpi Anda, tapi seberapa besar Anda untuk mimpi Anda."
Seringkali kita dengar, "Kalau mimpi jangan tinggi-tinggi 'Bro! Kalau jatuh nanti sakit!" Banyak orang yang tidak berani bermimpi dan memiliki impian tinggi karena kalau jatuh sakit. Sebenarnya tidak ada salahnya memiliki mimpi setinggi mungkin, asal kita bisa mengubahnya menjadi sebuah impian dan punya komitmen yang kuat dalam menggapainya. Banyak orang yang bermimpi setinggi mungkin tapi tidak menjadikannya sebuah impian, sehingga mimpi tersebut hanyalah menjadi angan-angan belaka. Ada juga yang sudah punya impian tapi tidak punya komitmen yang kuat, sehingga saat ada 1 orang saja meremehkannya malah langsung 3D (Drop, Down, Desperate) padahal ia tidak menyadari ada 100 orang yang mendukung mimpinya. Percayalah saat 1 pintu tertutup, masih ada 100 pintu terbuka. Hanya saja terkadang kita sudah 3D dulu sebelum menemukan 100 pintu terbuka itu. Saat kita punya komitmen, jatuh dari impian setinggi apapun hanya terasa seperti tersandung batu kerikil.
Simak kisah nyata dari Kolonel Sanders! Impiannya untuk membangun suatu restoran dengan konsep franchise ditolak oleh ribuan orang, dan pada orang ke-1007 barulah mimpinya diterima. Teman-teman, bayangkan komitmen dari Kolonel Sanders begitu kuat! Jatuh-bangkit sampai ribuan kali pun ia tetap memiliki komitmen sekeras baja. Maka dari itu, bermimpilah lalu ubahlah menjadi sebuah impian dan berkomitmenlah pada impian kita tersebut.
Semua orang-orang sukses di dunia tidak akan pernah sukses tanpa punya mimpi di awal karirnya. Karena saat kita bertekad untuk mau menjadi orang sukses, yang PALING penting itu bukanlah berani gagal, take action, bangkit setelah jatuh, mental baja. Bagaimana kita mau melakukan itu semua kalau mimpi dan tujuan belum ada? Maka yang paling penting, pertama kali, adalah PUNYA MIMPI. Tanpa adanya mimpi dan impian dari Thomas Alva Edison, Wright bersaudara, Graham Bell dan Albert Einstein sekarang manusia di bumi mungkin tidak mengenal yang namanya lampu bohlam, pesawat terbang, telepon dan teori relativitas. Itu mengatakan bahwa segala sesuatu berawal dari mimpi.
Ada suatu kisah menarik dari seorang legenda basket dari Amerika yaitu Michael Jordan, berawal dari mimpi yang dijadikannya sebuah impian yaitu menjadi seorang pemain basket terkenal. Suatu hari dengan impian dan tekad yang kuat, ia mengikuti perkemahan basket. Di sana ia sangat memukau, Michael memiliki kecepatan dan ketepatan melempar bola sangat akurat. Tidak ada satu orang peserta yang dapat menghentikannya dan ia pun yakin kalau ia akan lolos masuk ke tim basket universitasnya. Sampai pada akhir dari perkemahan, pelatihnya mengatakan bahwa Michael tidak dapat lolos ke tim basket karena tingginya kurang untuk seorang pemain basket. Seharian ia menangis dan menyendiri, sampai ia sadar dan bertekad bahwa impiannya harus dapat tercapai. Ia akan membuktikkan kepada pelatih basketnya bahwa ia pantas masuk tim basket!
Pada saat libur musim panas, setiap hari ia berlatih di gedung olahraga sekolahnya dengan tidak kenal lelah, ia juga sering bergelantungan di ring basket agar tingginya menambah. Setahun kemudian, tinggi Michael bertambah 10 cm dan saat ada seleksi pemilihan anggota tim basket ia mengikuti seleksi tersebut. Pelatih universitasnya dengan tidak ragu memasukan Michael ke dalam tim basket. Sampai akhirnya ia menjadi seorang pebasket legendaris yang tidak akan pernah dilupakan semua pecinta basket. Kejadian itulah yang membuat Michael memiliki kepribadian yang kuat dan komitmen tinggi.
"Saat 1 pintu tertutup, saya percaya masih ada 100 pintu yang terbuka". Walaupun Michael gagal dalam perkemahan basket tersebut, ia tidak mengakhiri impiannya. Ia tetap berjuang demi meraih impiannya menjadi seorang pemain basket, sampai pada akhirnya sebuah pintu pun terbuka untuk Michael. Moto hidup Michael adalah "Saya bersedia menerima kegagalan. Setiap orang pernah gagal. Tapi saya tidak mau jika saya tidak mencoba!"
Pernahkah suatu kali impian kita diremehkan orang lain? Tapi percayalah bahwa orang yang berkata seperti itu tidak pernah bermimpi, makanya hidupnya 'gitu-gitu aja'. Dunia mimpi adalah dunianya orang sukses! Saya sangat percaya akan hal itu. Tapi saat kita memiliki impian, jangan setengah-setengah, jangan tanggung-tanggung!
Semoga impian Anda, saya, dan kita semua yang sedang membaca artikel ini menjadi kenyataan. Apapun mimpi kita jadikanlah sebuah impian dan percayalah kalau impian adalah awal dari kesuksesan kita semua. Seperti dalam lirik lagu Laskar Pelangi, "Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia". Selamat bermimpi para pemimpi!
"Knowledge is POWER, but DREAM is a SUPER POWER!"
Salam Sukses! LUAR BIASA!
Penulis : Yasa Paramita Singgih
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:57:00 AM
  |
|
|
|
| Friday, April 15, 2011
|
|
Mundur Sejenak
|
|
"Untuk melompat lebih jauh, kita perlu mundur beberapa langkah dahulu." Sahabat,
Kalimat ini pernah kita dengar ketika kita mengikuti pelajaran olah raga di bangku sekolah. Ternyata kita juga bisa menggunakan teroi ini dalam kehidupan kita. Ada kalanya seorang manusia merasakan lelah, tidak fokus, bingung, marah dan lain-lain. Dalam keadaan negatif seperti itu, apapun yang kita lakukan tidak akan memberikan hasil yang maksimal. MASALAH APABILA DISELESAIKAN DENGAN EMOSI, MAKA EMOSI PULA HASIL YANG DIDAPATKAN.
Pengalaman membuktikan, apabila dua orang yang saling memiliki ikatan baik pernikahan, pertemanan maupun pekerjaan di mana salah satunya sedang mengalami masalah terhadap yang lain maka apabila dilawan dengan emosi, malah akan semakin memperburuk keadaan. Tidak ada titik temu dari masalah yang dihadapai. Dalam hal ini, sebaiknya salah satu mengalah dan mencoba mendengarkan secara bijak masalah apa yang sedang dihadapi oleh pasangannya. Bukan menyerah, tapi mengalah untuk berpikir. Inilah yang saya maksud sebagai "mundur" beberapa langkah.
Sahabat,
"Mundur" bukan berarti kita menyerah menghadapi masalah. Namun seperti ketika akan melompat, kita membutuhkan konsentrasi yang tinggi serta menghimpun kekuatan agar memiliki daya dorong yang cukup sehingga lompatan yang didapatkanpun akan semakin jauh. Begitu juga dalam menghadapai masalah apapun, kita tidak harus menyelesaikannya dengan terburu-buru. Tindakan buru-buru akan memberikan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sehingga berpotensi untuk menjadi masalah di kemudian hari.
Dalam menggapai kesuksesanpun, terkadang kita menghadapai berbagai hambatan. Bahkan, biasanya orang terdekat kitalah yang sering sekali menjadi penghambat untuk sukses, karena kesuksesan itu membutuhkan impian yang besar yang sering dianggap mustahil oleh orang lain. Karena tidak ingin anaknya kecewa, biasanya orang tua membatasi anaknya untuk berpikir besar. Hal-hal seperti inilah yang membutuhkan waktu dan perenungan yang mendalam. Cara mengatasi masalah seperti ini harus dipikirkan secara bijak bukan dengan buru-buru agar orang lain mau menerima dan mendukung kita. Selesaikan dahulu faktor yang mungkin bisa menghambat dengan penyelesaian yang baik, agar kita bisa lebih Fokus dalam menggapi cita-cita.
Sahabat,
Mundur bukan berarti kalah, tetapi untuk mempersiapkan segala sesuatu agar lebih terarah dan terencana dengan baik. Menyusun kembali cita-cita, merencanakan bagaimana menggapainya, melakukan apa yang telah direncanakan dan adakan evaluasi terus menerus untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan begitu, saya yakin hasil yang akan didapatkanpun akan semakin baik dan indah.
Semoga bermanfaat,
Firman Erry Probo Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:50:00 AM
  |
|
|
|
| Thursday, April 14, 2011
|
|
The Pursuit of Happynes
|
Bukan bermaksud sok Inggris, tapi hanya mengutip. Judul diatas adalah judul sebuah film, yang berulang saya tonton ketika malam sudah mulai dingin, embun mulai jatuh dan jengkerik mulai berdendang.
Sebuah film biasa, tapi dengan cerita luar biasa, karena diilhami kisah nyata seorang Chris Gardner, seorang sales biasa namun berbakat, dengan anak semata wayangnya Christopher yang berjuang berdua : menemukan kebahagiaan.
Kisah ini sebenarnya jamak terjadi di lingkungan kita. Barangkali saya atau anda adalah Chris Gardner. Seorang salesman miskin, dengan anak semata wayang tak berdosa di dunia kesendirian tanpa dukungan : berjuang mengejar mimpi.
Maka kembali pada Chris Gardner. Dia seorang salesman miskin, dengan balita yang belum lagi tahu apa-apa. Keyakinan pada mimpi besar yang dimiliki, membawa dia berjuang menjual alat yang sia-sia saja dijualnya. Bisnis kadang kelihatan manis di kulitnya. Hingga ketidakberdayaan ekonomi membuatnya terbuang dari apartemen-bersama anaknya- terlempar dan terusir dari satu penginapan ke penginapan lain, tertidur di WC stasiun kereta dan mengejar bis kota hanya agar tak ketinggalan antre di rumah singgah. Christopher-sering tak mengerti dan menangis : mengapa ayahnya mengajaknya hidup susah dan berpindah-pindah.
Tapi, nasib baik hanya berpihak pada yang mau bermimpi besar dan berjuang-mengambil langkah nyata- untuk mengejarnya. Terinspirasi seorang broker saham bermobil mewah, dia mencoba peruntungannya di sebuah perusahaan sekuritas. Bekerja tak digaji dan hanya mendapatkan ilmu baru saja. Dan Tuhan selalu Maha Adil. Kini Chris Gardner adalah multi miliuner dan filantropis di Amerika sana.
Lalu, mengapa film ini sebegitu mempesona? apa hebatnya film yang dibuat di Amerika, di negeri yang terkenal dengan pengagungannya pada materi?
Coba lihat diri kita. Anak kita menangis ketika kita akan berangkat bekerja, setiap subuh. Mereka ingin sekedar bercanda dan ngobrol dengan kita, karena semalam -seperti malam-malam yang lain- kita datang saat mereka sudah tidur. Suami atau istri kita bersedih karena pekerjaan mengharuskan kita pulang terlambat atau tak pulang sama sekali : demi penghasilan yang sama, seperti yang diterima bulan lalu atau bahkan tahun lalu. Dan kita merasa harus bangga bertepuk dada di depan semua anggota keluarga kita karena penghasilan, yang selalu kurang itu: bukan karena jumlahnya, tapi bila dibandingkan dengan waktu untuk keluarga yang telah terbuang sia-sia.
Maka lihatlah Chris Gardner.
Dia mengambil sebuah titik mula dari lembah yang paling dalam. Tanpa bantalan "keamanan finansial" hanya bertopang pada mimpi besar. Maka apabila itu disebut penderitaan, itulah dasar dari semua derita. Bayangkan bagaimana dia begitu gigih meyakinkan Christopher -seorang balita yang belum genap bernalar- untuk ikut "melindungi mimpinya". "Don't ever let somebody tell you : you can't do something...You got a dream, you gotta protect it. If you want something, go get it. Period".
Maka bandingkan dengan diri kita. Kita makhluk yang ber-Tuhan. Mustinya tak cuma bertopang pada mimpi kita berani melakukan "sesuatu yang berbeda". Mustinya kita juga bertopang pada Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Adil. Mustinya tak ada lagi kebimbangan, karena keyakinan penuh kita juga akan meyakinkan seluruh anggota keluarga kita. Sebagaimana Christopher meyakini mimpi ayahnya.
Maka tak ada lagi rasa jenuh atau tersia-sia. Sehingga belajar dari Chris Gardner : timbang lagi mimpi anda, lakukan sesuatu yang berbeda...pasti hasil yang akan kita capai juga berbeda. Ingin memiliki gaji lebih besar, carilah karir di tempat yang bisa memberikan gaji lebih baik (artinya bekerja dengan sedikit waktu, dengan gaji yang lebih banyak); atau ingin memiliki bisnis sendiri? Mulailah jangan banyak berfikir, mempertimbangkan dan menunda.
Timbanglah banyak waktu untuk keluarga, karena kesanalah kita akan pulang. Uang bukan segala-gala.
Tuhan selalu bersama kita. Setidaknya itu yang diajarkan Chris Gardner pada kita. Semoga menginspirasi. ------------------------------------ Bogor, 11 April 2011
Basri Adhi www.misterblek.co.cc http://bazz-misterblek.blogspot.com
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:46:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, April 12, 2011
|
|
No More UKM (Usaha Kecil Melulu)
|
Sejak era reformasi, idiom UKM (Usaha Kecil dan Menengah) sangat sering dijumpai di berbagai media massa. Istilah tersebut juga sering menjadi wacana yang hangat dalam berbagai forum seminar. Ibarat gula, UKM menjadi semacam "komoditas" yang menjanjikan masa depan yang luar biasa.
Namun, bagaimana sebenarnya nasib UKM? Kalau dilihat dari data di beberapa lembaga resmi negara, salah satunya dari data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jumlah pengusaha kelas UKM itu mencapai lebih dari 40 jutaan. Jumlah yang sangat banyak. Dan, seandainya satu usaha itu mempekerjakan dua orang saja, bisa dibayangkan, pengangguran langsung bisa diberantas!
Sayang, jumlah itu hanya hitungan optimis, setidaknya sampai saat ini. Betapa tidak. Ternyata, dari jumlah tersebut, separuh lebih adalah pengusaha kelas mikro, atau bahkan kelas supermikro. Yah, itulah kenyataannya. Banyak yang sudah berkembang, tapi jarang yang kemudian menjadi besar dan mampu jadi usaha mandiri yang menghidupi banyak orang. Namun, ada juga yang kemudian mampu jadi usaha yang benar-benar menjadi besar.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat "jurang" perbedaan itu? Barangkali, beberapa tips kecil yang disarikan dari beberapa pengalaman entrepreneur baik lokal dan internasional ini bisa jadi referensi agar usaha yang kita jalankan tak sekadar berkelas UKM, alias Usaha Kecil Melulu tapi bisa jadi Usaha Konglomerasi Mandiri!
1. Mulailah lebih fokus dengan mengatur jadwal yang lebih tertata
Banyak usaha kecil yang ketika mulai membesar, sang pengusaha "tergoda" untuk ekspansi ke bidang lain yang kurang sesuai dengan yang sudah dijalaninya. Ada baiknya, jika ingin mengembangkan usaha lebih besar, kita fokus terlebih dulu.
Menurut John Kotter (pakar dari sekolah bisnis Harvard Amerika, yang menulis buku "Leading Change") untuk berubah menjadi besar, sangat diperlukan perhatian yang terfokus pada usaha yang sudah dijalankan. Dengan fokus, kita bisa mengatur jadwal dan kegiatan berkait pengembangan usaha dengan lebih maksimal.
2. Perhatikan kembali hubungan dengan karyawan
Usaha kecil dan usaha besar pasti memengaruhi hubungan dengan karyawan. Saat kecil, untuk bertatap muka dan bertukar pendapat dengan karyawan bisa dilakukan dengan mudah untuk mendapatkan hasil maksimal sesuai tujuan bersama. Namun, saat menjadi besar, tatap muka semacam ini agak sulit terjadi seiring dengan bertambahnya karyawan. Untuk itu, perlu dibuat sebuah sistem di mana karyawan tetap merasa diperhatikan dan pemilik usaha pun tetap bisa menjalin kedekatan sehingga semangat saling dukung demi kemajuan tetap terjaga.
3. Maksimalkan kemampuan teknologi informasi (TI)
Teknologi informasi telah berkembang demikian pesatnya. Karena itu, bagi pengusaha yang ingin membesarkan skala usahanya, sudah seharusnya lebih melek teknologi. Sebab, dengan adanya TI, kita bisa dengan mudah berinteraksi, berkomunikasi, hingga bertransaksi hingga tingkat global. Untuk itu, pembuatan website perusahaan juga menjadi syarat mutlak representasi usaha. Tentu, jika ingin lebih bonafide, penggunaan bahasanya pun harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.
Alibaba.com salah satu contoh nyata di mana sebuah usaha berbasis web yang tadinya bukan apa-apa, dengan kemudahan dan kelengkapan yang diberikan, kini telah membuat Jack Ma - pemiliknya - mampu jadi pengusaha besar.
4. Tingkatkan kemampuan meramal pasar
Salah satu cara pengembangan usaha adalah dengan sebanyak mungkin mengumpulkan informasi yang berguna untuk pengembangan usaha. Karena, dengan informasi tersebut, kita bisa "meramalkan" dan bahkan menciptakan tren baru yang bisa membuat usaha kita makin berkembang. Dengan menganalisis perkembangan yang terjadi, kita akan lebih menguasai pasar untuk melakukan ekspansi usaha.
5. Dorong karyawan lebih kreatif
Karyawan adalah aset paling berharga. Dengan SDM yang mumpuni, bisa dipastikan usaha akan lebih mudah berkembang. Karena itu, cobalah membuat suasana usaha agar karyawan bisa memiliki lebih banyak ide untuk membantu pengembangan usaha kita.
Beberapa perusahaan yang berkembang sering kali membuat kompetisi antarkaryawan, misalnya lomba ide pemasaran paling kreatif. Dengan cara-cara semacam ini, usaha akan lebih memiliki alternatif untuk dikembangkan sesuai dengan tujuan bersama yang telah disepakati sebelumnya bersama seluruh karyawan.
6. Cari partner yang bisa mendukung pengembangan usaha
Salah satu upaya membesarkan usaha dengan cepat adalah dengan menjalin kemitraan, baik yang sifatnya sebagai penanam saham, penggabungan, atau bahkan akuisisi. Namun, untuk usaha yang masih skala kecil, bisa dimulai dengan mencari partner usaha yang sevisi agar usaha pun bisa lebih cepat lajunya.
Salah satu bentuk pengembangan usaha secara cepat yang belakangan sering kita jumpai adalah waralaba. Sebenarnya, bisa dikatakan bahwa konsep waralaba adalah konsep kemitraan untuk membesarkan usaha. Namun, untuk hal ini, memang diperlukan banyak persyaratan yang cukup detail agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.
7. Tulis ulang rencana-rencana pemasaran
Usaha kecil bisa menjadi besar salah satunya adalah karena implementasi pemasaran yang tepat. Menurut Deb Roberts, CEO dari Synapse, salah satu kunci memahami pasar adalah dengan menguasai 5C, yakni consumer, channel, company, competition, dan climate. Setelah mengetahui beberapa hal seputar pemasaran, sudah saatnya kita bergerak dengan rencana-rencana yang matang dan penuh perhitungan.
8. Pelajari masalah dan perbaiki lebih intensif
Saat masih kecil, ketika mulai bergerak maju, pastilah tantangan yang dihadapi akan lebih besar. Dan, makin besar usaha, makin besar pula masalah yang akan dihadapi. Buat semua analisis terhadap semua hal tersebut, di sana kita akan belajar banyak hal untuk menjadikan usaha lebih kuat dan mandiri saat menghadapi berbagai ujian lain.
9. Perbaiki arus komunikasi
Komunikasi adalah hal paling penting yang bisa membuat usaha kita mandeg, jalan di tempat, atau bahkan maju pesat. Karena itu, jangan remehkan komunikasi, baik internal maupun eksternal. Misalnya, saat mendapat pesanan via SMS atau email, buatlah segera tanggapan yang diperlukan untuk menangani pesanan tersebut. Sedangkan ke dalam, selalu perhatikan komunikasi antarkaryawan. Adanya komunikasi dua arah yang intensif akan mendekatkan karyawan dengan perusahaan sehingga bisa saling dukung guna menggapai impian.
10. Jangan sungkan bertanya, berguru, dan "bercermin"
Ada banyak pengusaha besar yang bisa dijadikan teladan dalam pengembangan usaha. Karena itu, cobalah masuk ke komunitas-komunitas seperti misalnya KADIN, HIPMI, atau komunitas pengusaha lainnya. Di sana, selain bisa meluaskan jaringan, kita bisa mendapat ilmu yang berguna untuk menjadikan usaha kita maju.
Selamat mempraktikkan kiat-kiat di atas, sesuai dengan keadaan Anda. Semoga bisa semakin sukses. Salam sukses luar biasa!
Penulis : Tim AndrieWongso.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 12:09:00 AM
  |
|
|
|
| Friday, April 08, 2011
|
|
Kegagalan yang Sukses
|
|
Ada kegagalan yang sukses dan ada kegagalan yang gagal. Kegagalan jenis pertama adalah syarat mutlak sebuah sukses, sementara kegagalan kedua adalah kekonyolan hidup. Jika yang pertama serupa humus bagi tanaman, yang kedua adalah karat bagi besi. Baik humus maupun karat berpusat pada satu sumber: perilaku. Ada perilaku yang menyuburkan, ada perilaku yang mematikan. Amat berbahaya jika kematian itu berlangsung pelan karena akan membuat korban tenteram di tengah bahaya. Ketika ia tersadar, semuanya sudah percuma. Itulah watak karat yang mengikis besi demikian intens dan pasti.
Maka, marilah melihat jenis perilaku hidup apa saja yang membuat hidup berkarat itu. Saya akan melihat diri sendiri saja biar lebih mudah mencari contoh kasus. Misalnya, malu sekali saya jika mengingat segenap karat baik yang sudah saya lalui maupun yang masih saya lakukan hingga kini. Saat SMP saya pernah gagal menjadi bendahara arisan kelas, karena duit arisan itu ternyata cuma saya habiskan untuk jajan pelan tapi pasti.
Saya memarahi habis-habisan diri sendiri atas perilaku ini. Tidak mudah karena bahkan untuk marah kepada diri sendiri, butuh usaha demikian keras. Jika cuma mengandalkan sanksi pihak lain rasanya tak banyak berarti. Semua jenis sanksi rasanya kecil saja di hadapan hati yang sedang gelap. Sanksi paling efektif ternyata harus bersumber dari kesadaran saya sendiri. Dan kesadaran pertama itu ternyata bukan rasa takut, tetapi rasa malu. Dan malu yang paling menggugah bukanlah malu pada pihak lain tetapi malu kepada diri sendiri.
Saya ingat bagaimana mekanisme malu ini dimulai. Pertama saya disadarkan pada keterbatasan tampang saya sendiri. Walau tidak jelek-jelek amat, tampang saya lebih dekat ke jelek ketimbang ganteng. Di waktu kecil kejelekan itu malah terasa sekali. Bahkan tanpa harus berbuat aib dan salah pun saya sudah biasa grogi tampil dengan tampang pas-pasan ini. Lalu apa jadinya jika sudah tampang rusak, kelakuan ikut pula rusak? Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tapi efeknya fundamental sekali. Pelan-pelan ada dorongan bahwa saya tidak ingin jelek dua kali. Jelek tampang, jelek laku. Saya tidak mungkin mengubah tampang, tapi saya pasti bisa mengubah perilaku.
Membayangkan bahwa saya yang jelek adalah saya yang juga seorang penipu, sungguh menumbuhkan rasa malu yang pekat. Lalu apalagi yang tersisa dalam hidup saya ini jika seluruh nilai itu semuanya rusak. Rasa malu itu saya naikkan intensitasnya dari waktu ke waktu hingga di hari ini. Hasilnya, walau saya tidak bisa menarik kesalahan saya di masa lalu, setidaknya, rasa malu itu membuat saya sanggup meminta maaf di hari ini. Tapi yang terpenting, saya bisa mencegah agar kesalahan yang sama tidak lagi terjadi di hari ini.
Manajemen malu semacam itu sungguh mengubah hidup dan perubahan ini rasanya tidak akan lahir kalau saya tidak pernah membuat aib itu. Jadi ada jenis kegagalan dan bahkan aib sekali pun yang dilahirkan sebetulnya cuma untuk membelokkan manusiake arah yang lebih baik. Jika Anda berhadapan jalan buntu, itulah kesempatan bagi Anda untuk berpikir tentang jalan baru. Itulah kegagalan yang sukses. Jadi kegagalan itu bukan cuma penting, tapi harus. Karena sifatnya yang "harus" inilah, sebuah kegagalan harus disambut dengan tenang dan kalau perlu layak disyukuri. Karena sekali lagi, jika seseorang menemukan jalan buntu, justru itulah saatnya ia harus menemukan jalan baru.
Tapi pernahkah Anda melihat kegagalan yang cuma membuahkan kegagalan baru? Banyak sekali. Di tengah gempuran mal dan minimarket misalnya, jelas bahaya sedang mengepung aneka warung kelontong dari segenap penjuru. Untuk bertahan hidup saja, jelas mereka sudah membutuhkan usaha amat keras. Apalagi jika ia hendak bersaing dan maju. Ia pasti butuh memacu diri habis-habsian. Tetapi jangankan memacu diri, yang terjadi malah banyak sekali gerakan yang mempercepat kematiannya sendiri.
Karena alasan tertentu, sebenarnya saya masih suka belanja di warung kelontong tak peduli betapa sederhana keadaan mereka. Tempatnya yang kusam dan lampu-lampunya yang muram. Tapi saya tegaskan, kepada mereka saya tak meminta banyak (karena itu tak mungkin), cukup asalmereka ramah kepada pembeli, itu saja. Tetapi betapa ada saja penjual yang bahkan keramahan saja tak punya, padahal itulah dagangan terakhir mereka. Jika bahkan peluru terakhir tak lagi dimilki, saya tak melihat ada kemungkinan lagi kecuali terpaksa membiarkannya mati. Itulah kegagalan yang gagal. Kegagalan yang tidak membelokkan arah tetapi sekadar mempertajam arahnya yang telah salah. Contoh yang lebih jelas ialah dengan cara membayangkan orang yang sedang ingin melunasi utang tetapi tidak dengan cara membayarnya melainkan cukup dengan mengeroyok penagihnya. Percayalah, utang orang ini pasti akan beranak-pinak begitu banyaknya, bahkan bersiap memasuki wilayah yang tak terduga.
Penulis : Prie GS Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:53:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, April 06, 2011
|
|
Pantang Mengeluh
|
Sebagai manusia, wajarlah jika sesekali kita mengeluh dengan keadaan yang tidak sesuai keinginan. Tetapi, tidak pantas rasanya jika setiap kali kita menemukan hal yang melenceng saja dari apa yang kita inginkan dihadapi dengan mengeluh.
Mengeluh sepertinya sudah menjadi “tren”. Contohnya saja dengan adanya jejaring sosial yang memungkinkan untuk kita bisa share apapun yang kita alami. Ini secara tidak langsung dapat menjadi hal pelancar mengeluh. Pentingkah menceritakan semua yang menimpa kita kepada semua orang? Apakah dengan menceritakan semuanya dapat menghilangkan masalah itu? Tentu tidak.
Memang, mengeluh sah-sah saja untuk mencari solusi masalah kita. Yang terjadi ketika kita mengeluh, apakah kita berpikir untuk menemukan solusi? Kebanyakan kita tidak berpikir jauh seperti itu. Secara tersirat, tujuannya hanya ingin orang mendengarkan keluh kesah kita
Sebenarnya, dengan atau tanpa mengeluh hidup tetaplah hidup. Yang harus dijalani walaupun lelah, yang harus dihadapi walaupun berat, yang harus dimengerti walaupun rumit. Memperlihatkan kelemahan kita justru akan menjadi negatif.
Sebegitu susahkah untuk bersyukur?
Oleh Esti Gumansuci
Sumber : resensi.net Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 2:13:00 PM
  |
|
|
|
| Tuesday, April 05, 2011
|
|
Kosong Adalah Isi..Isi Adalah Kosong
|
Teringat kejadian unik..dalam masa-masa pemotretan di rumah Bob Sadino. Pengalaman yang sangat berkesan buat ku.
“Made, kamu kan pinter..”, kata Om Bob mengambil posisi duduk berhadapan dengan ku..
“Ah nggak Om..kata siapa..? Kawan-kawan malah bilang saya gelo !! Saya sendiri bilang diri saya : orang ganteng yang beruntung..!”, sahutku sambil tertawa.
Kolektor Jaguar itupun mengangguk-angguk ikut-ikut tertawa.
“Ok…sekarang kasih tau saya..gelas ini kosong atau isi..”
Om Bob meletakkan sebuah gelas diatas meja diantara kami.
Aku terdiam. Sejenak memperhatikan raut wajah laki-laki tua didepanku, kemudian beralih ke benda diatas meja itu. Cukup lama gelas itu membuat aku termenung. Sebenarnya aku bukan memikirkan pertanyaan Om Bob..tidak..tidak seluruhnya.
Aku teringat perumpamaan Peter F Drucker, Sang Dewa dalam dunia manajemen, Classic Drucker judul buku tersebut. Disana Drucker memberikan analogi serupa –dengan segelas air setengah isi- untuk menggambarkan kondisi statistik kesehatan di Amerika pada suatu masa.
Saat itu salah satu lembaga statistik terpercaya mengeluarkan sebuah laporan tentang bagaimana keadaan kesehatan di Amerika yang meningkat pesat, dari sebelumnya. Tapi herannya, seolah kontra produktif, laporan menggembirakan itu malah membuat kecemasan baru dikalangan warga Amerika Serikat. Mereka justru kuatir bagaimana mempertahankan kesehatan yang sedemikian itu. Unik memang. Namun begitu kalangan bisnis segera menanggapi positif kecemasan tersebut, sehingga bermunculanlah berbagai bisnis di area kesehatan, seperti : pusat gym, majalah kesehatan, produk alat-alat aerobik indoor, suplemen..dan lain sebagainya.
“Bagaimana Made..?”, ujar Om Bob mengagetkanku dari lamunan.
“Gelas ini kosong atau isi ?”
Aku kembali terdiam..sama sekali tidak mengalihkan perhatianku dari gelas itu.
“Theory of Relativity, Einstein”, jawabku perlahan.
Diluar dugaan.. Om Bob tertawa terbahak-bahak..
“Kali inipun kamu beruntung..”,ujarnya,”Jawabanmu benar !”
“And You know what Made…apapun sebuah kondisi, adalah relatif bagi setiap orang, ini diluar norma-norma agama dan moral ya... Orang bilang menjadi entrpreneur itu penuh resiko, saya bilang menjadi karyawanlah yang beresiko, orang bulang pake dasi keren, saya bilang pake dasi kaya kambing diiket, mereka bilang sekolah penting, saya bilang belajarlah yang penting..bukan sekolahnya, orang bilang Si A cantik, yang lain bilang jelek, sekelompok orang bilang ancaman, yang lain bilang itu peluang..dan sebagainya..dan sebagainya..”
Aku mendengarkan omongan Om Bob, sambil terus menatap gelas itu.
Kali ini aku teringat adik iparku. Seorang yang berkepribadian sangat unik. Bagi banyak orang ia adalah trouble maker, tapi bagi kami ia adalah Dewa Penyelamat. Bagi banyak orang dia orang gila, namun bagi kami ia sangat genius. Bagi banyak orang dia aneh, bagiku dia sangat peka terhadap mode fashion.
“Dan…Made…itu terjadi di seluruh bidang kehidupan..dikantor..di kampus..dimanapun juga. Itulah yang membuat kita terpenjara disuatu tempat…” (Om Bob meneruskan wejangan beliau, sementara aku sembari mendengarkannya dan sesekali menatap gelas setengah kosong setengah isi itu…sambil terus membayangkan adik iparku…)
Lucunya dia punya mantra ajaib yang sering kali kita ucapkan untuk memotivasi diri atau mungkin sekedar menghibur. Mantra dari kisah Kera Sakti dan Biksu Gurunya itu…Kosong adalah isi..Isi adalah kosong…Nah mantra itu lalu ditambahinya sebuah kalimat lagi…menjadi : Kosong adalah isi..isi adalah kosong…ISI DONG !!!
Hahahaha….!!
“Satuhal yang terpenting adalah…”, ujar Om Bob, “melatih otak kita melihat dengan cara berbeda…melihat segala sesuatu dari perspektif yang lain”.
Bob Sadino menutup wejangan beliau dengan sebuah senyum bijak, lalu beranjak keberanda belakang rumah beliau, meninggalkan ku seorang diri diruang tengah. (*)
What a wonderfull world ! What an exciting journey !!
Made Teddy Artiana, S. Kom fotografer, penulis & event organizer http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:44:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, April 04, 2011
|
|
Lima Menit Lagi
|
Pada suatu hari, tampak seorang ayah sedang berdiri di taman, menemani anaknya yang sedang gembira bermain ayunan. Agaknya waktu serasa cepat berlalu, sambil sesekali melirik pada jam di tangannya, si ayah tahu, saatnya bermain telah selesai, karena masih ada pekerjaan yang menunggu untuk segera diselesaikan.
"Sebentar Ayah, lima menit lagi yaaaah, pliiiisss," suara kecil itu terdengar memelas. Ayahnya dengan spontan menjawab, "Oke, lima menit lagi!" Si kecil berlari ke ayunannya dan kembali bermain dengan gembira sedangkan si ayah mengamati dari kejauhan dengan senyuman senang.
Lima menit berlalu dengan cepat, saat si ayah mengingatkan kepada puteranya. "Pliiiissss, lima menit lagi, Yah. Lima menit terakhiiir deh. Janji, setelah ini udahan. Oke, Yah?" suara memohon disertai tatapan mata yang penuh harap membuat si ayah tidak tega dan kembali mengabulkan permintaan si kecil.
Seorang ibu yang sedari tadi mengamati kejadian itu di sebelahnya berkomentar, "Wah... Bapak hebat sekali, sabar dengan anak-anaknya ya, Pak." Dengan tersenyum si ayah berkata, "Iya Bu, belajar sabar. Saya pernah kehilangan anak saya yang sulung karena terjatuh saat naik sepeda. Sampai sekarang, masih terasa kekecewaan dan penyesalan di dalam hati ini. Saat mereka ada, saya terlalu sibuk dan tidak berusaha lebih keras menyisihkan waktu untuk keluarga hingga kemudian harus kehilangan salah satunya. Saat sibuk dengan pekerjaan, saya berpikir, toh yang saya lakukan untuk membahagiakan mereka, untuk memenuhi kebutuhan mereka juga. Dan saya salah. Uang yang saya kumpulkan seberapa banyak pun, ternyata tidak pernah bisa membeli kebahagiaan itu," ujarnya dengan nada duka.
"Sejak saat itu saya berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan saat si kecil merengek minta 'lima menit', sesungguhnya, bukan dia yang meminta waktu kepada saya, tetapi dia justru sedang memberi tambahan waktu kepada saya untuk menikmati kegembiraan bersamanya," papar si ayah sambil melontarkan pandangan sayang kepada putranya yang sedang asyik bermain.
Netter yang Luar Biasa!
Manusia seringkali lupa mensyukuri dan menghargai yang telah dipunyai. Saat keadaan memaksa dia harus kehilangan, segera kecewa dan rasa sesal pun seiring mengikuti, bahkan kerap kali terpuruk dengan perasaan bersalah yang berkepanjangan dan sulit untuk memaafkan diri sendiri.
Maka, mari kita siapkan waktu bahkan 'paksakan' diri untuk membiasakan berbagi perhatian dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai.
Salam sukses luar biasa!!
Penulis : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:39:00 AM
  |
|
|
|
|
|