| Beranie Gagal Commercial |
Cara Pasang Banner
|
| Donasikan Blog Ini |
|
|
| Beranie Gagal Award |
|
| Beranie Gagal Partners |

BERHADIAH 30 JUTA KLIK DISINI
|
| Hubungi Kami |
|
|
| Quote's Of The Day |
|
|
|
| Monday, August 30, 2010
|
|
Berfikir Di Luar Kotak
|
Apa yang di maksud dengan berfikir di luar kotak? Mungkin kita perlu mendefinisikan dulu apa yang di maksud dengan berfikir di dalam kotak. Yang di maksud dengan berfikir di dalam kotak adalah kita selalu berfikir dengan berpijakan kepada kebiasaan. apa yang sudah biasa di lakukan oleh orang lain, termasuk di dalamnya hal – hal yang sudah bisa dan biasa kita lakukan atau yang mudah kita lakukan. Berpikir di dalam kotak juga berarti bagaimana kita berfikir dalam zona nyaman kita , tentu saja berfikir di luar kotak adalah kebalikanya, Yaitu cara berfikir kita dengan melihat hal-hal yang tidak biasa, hal-hal yang aneh di luar kemampuan kita, tidak biasa dilakukan oleh orang lain, tidak biasa dilakukan oleh diri kita, termasuk tidak biasa dilakukan oleh kelompok kita, bahkan tidak ada orang yang pernah melakukanya.
Berfikir di luar kotak memang melawan kecenderungan manusia yang ingin selalu nyaman, ingin berada di zona nyaman atau status quo, namun masalahnya jika kita hanya berfikir dengan cara-cara yang biasa, maka haslinyapun akan biasa.
Jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda, maka kitapuun harus berfikir dengan cara yang berbeda. Memang dengan hanya berfikir di dalam kotak saja anda masih tetap bisa bergerak, perusahaan anda masih bisa terus berjalan, namun kondisi anda maupun kondisi perusahaan anda akan stagnan, artinya berjalan ditempat, atau sekedar hanya bertahan, kalaupun ada peningkatan, peningkatan itu hanya terjadi secara linear atau lambat. Mungkin kita tidak asing dengan peningkatan 5 atau 10 % bahkan kurang dalam setahun.
Bagi seorang pemikir revolusioner, jika kita ingin menggandakan hasil kita, kita harus berfikir di luar kotak dimana kita tidak lagi berharap bahwa peningkatan itu hanya 5 % atau 10 % dalam setahun, kita ingin peningkatan itu berkali lipat, bahkan bukan hanya dalam setahun tapi kurang dari setahun. Misalnya kita ingin pendapatan kita berkali lipat hanya dalam waktu 6 bulan. Berfikir di dalam kotak itu justru dapat membahayakan diri kita, mungkin kita menganggap bahwa kita sudah cukup berfikir dalam kotak saja, masalahnya beban akan terus bertambah, persaingan akan semakin ketat, jika kita hanya berfikir didalam kotak sementara orang lain berfikir di luar kotak, dengan ide-ide baru yang inovatif, ide-ide baru yang terobosan, maka kita akan kalah, kita akan tenggelam. Oleh karena itu kita perlu berfikir di luar kotak sehingga kita mampu bersaing dengan orang lain.
Cobalah tengok keluar, cobalah tengok di toko, cobalah tengok di internet produk-produk baru terus bermunculan. Kita lihat seperti handphone, mungkin produknya tetap berupa hangphone atau alat komunikasi, namun dapat kita lihat fitur yang inovatif yang hadir di dalam handphone yang baru, handphone lama sudah mulai ketinggalan dan harganyapun akan turun drastis. Jika kita hanya mengandalkan handphone gaya lama, jelas perusahaan handphone akan bankrut dengan segera.
Apapun bisnis kita, persaingan itu tidak akan pernah diam, perubahan tidak akan pernah berhenti, kita harus tetap terus menerus menemukan ide-ide terobosan supaya kita terus berada di depan.
Berhubungan dengan masalah waktu, berfikir di luar kotak adalah kita mencari cara-cara baru, bagaimana kita meningkatkan produktivitas diri kita. Bukan hanya meningkat 5 % atau 10 % saja tetapi bagaimana cara kita melipatgandakanya. Jika anda masih mengatakan “Ah itu tidak mungkin!”. Artinya anda masih berfikir di dalam kotak, kita harus berani berfikir di luar kotak, karena jika kita sudah berani berfikir di luar kotak, maka peluang – peluang terobosan akan muncul di hadapan kita. Jika kita membatasi pikiran kita, maka semua ide-ide hebat tersebut diatas tidak akan pernah muncul dan datang kepada kita. Kita memerlukan berani, berani yang bagaimana?
1. Kita harus berani melawan keraguan, baik itu keraguan yang datang dari kita sendiri, maupun keraguan itu dari orang-orang di sekitar kita. Setiap ide yang baru, setiap ide yang aneh, pasti akan mendapatkan penolakan dari berbagai pihak. Namun anda harus tetap berani, seaneh apapun ide tersebut, bahkan ide anda dianggap ide gila anda harus tetap berani melaksanakan ide-ide tersebut, jika tidak maka anda tidak akan pernah bisa berfikir di luar kotak.
2. Berani mengambil resiko. Jika anda menghasilkan ide-ide baru, gagasan baru untuk meningkatkan produktivitas anda, maka saya katakan bahwa ide tersebut besar kemungkinan untuk tidak berhasil alias gagal. Tidak ada jaminan keberhasilan, karena melakukan sesuatu yang baru tingkat kegagalanya lebih tinggi daripada melakukan sesuatu yang sudah biasa. Karena resikonya besar maka di perlukan suatu keberanian. Suatu keberanian mengambil resiko. Yang jadi pertanyaan adalah kenapa kita mengambil resiko-resiko itu?”.Jawabnya adalah karena di balik resiko tersebut ada sesuatu peluang yang jauh lebih besar. Ingatlah hukum peluang dan resiko, “Semakin besar resiko yang kita ambil, semakin besar pula peluang yang akan kita dapatkan.” Jika kita tidak berani mengambil resiko – resiko yang besar dan kita hanya mengambil resiko-resiko yang kecil, maka apa yang akan kita dapatkan akan kecil pula. Maka wajarlah jika apa yang akan anda raih tetap stagnan atau mengalami peningkatan secara linier dan lambat.
Jika anda ingin menggandakan peningkatan anda, maka anda harus berani berfikir di luar kotak, berani melawan keraguan, berani mengambil resiko. berfikir di luar kotaklah yang memungkinkan kita mendapatkan cara-cara baru, cara-cara yang inovatif, cara-cara terobosan, cara-car yang lebih cepat,cara-cara yang tidak biasa.
Cara-cara seperti ini hanya akan kita dapatkan jika mau berfikir di luar kotak. memang cara-cara yang akan kita dapatkan jika kita berfikir di luar kotak adalah cara yang tidak biasa, cara yang berbeda. Justru disitulah peluangnya.
Jika anda melakukan cara-cara yang biasa, maka hasilnyapun akan biasa, jika anda melalui jalan yang sama, melalui mobil yang sama, malalui kecepatan yang sama maka waktu yang anda perlukan untuk mencapai tujuan anda akan sama pula.Namun sekali anda berubah, cara anda mengendarai mobil misalnya kecepatan anda di tambah, atau jalan yang anda tempuh berbeda, atau mobil yang anda gunakan berbeda, maka hasilnya akan berbeda pula. Begitu juga dengan pekerjan-pekerjaan lain, jika anda ingin menghasilkan yang berbeda, maka anda harus melakukan sesuatu yang berbeda. Semakin berbeda apa yang anda lakukan, maka semakin besar pula peluang yang akan anda dapatkan.
Dengan berfikir di luar kotak, kita bebas berfikir, kita akan bebas dari cara lama, kita akan bebas dari tradisi, kita akan bebas dari kebiasaan, kita akan bebas dari status quo, dan kita akan terbebas dari zona nyaman.
Semoga bermanfaat…
ROFI ROKHMAN http://rofirokman.blogspot.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:21:00 AM
  |
|
|
|
| Friday, August 27, 2010
|
|
ABG Ini Raup Rp 10 Miliar, Punya 8 Staf
|

Internet membawa berkah besar bagi Christian Owens, anak baru gede (ABG) dari Corby, Northamptonshire, Inggris, ini. Ketika bisnisnya baru berjalan setahun, dan usianya baru 15 tahun, dia sudah mampu meraup uang jutaan poundsterling.
Tapi dia masih bersumpah, "Saya tak akan berhenti sampai dapat 100 juta poundsterling (sekitar Rp 1,4 triliun)." Kini, masih dalam usia 16 tahun itu, dia bahkan sudah punya delapan staf.
Semuanya justru orang dewasa. Owens memimpin mereka dari kantornya yang kecil, sebetulnya sebuah kamar di rumah orangtuanya.
Usaha macam apa yang membuat pelajar ini jadi juragan besar di usia muda?
Pada 2008, ketika usianya baru 14 tahun, Owens memakai uang sakunya untuk bikin website Mac Box Bundle dan hingga kini sudah meraup hampir Rp 10 miliar. Situs Mac Box Bundle menjual kombinasi aplikasi populer Mac.
Setahun kemudian, Owens mendirikan Branchr, website untuk melayani jasa iklan pay-per-click, dan mengelolanya hanya sepulang sekolah serta di akhir pekan.
Branchr pun ngetop dengan meraup 500.000 poundsterling (sekitar Rp 7 miliar) di tahun pertama. Kini, situs taruhan William Hill malah menjadi salah satu kliennya. Owens tentu terlalu muda untuk melayani bisnis taruhan seperti itu.
Situs besar lainnya yang diuntungkan oleh perusahaannya adalah MySpace, media jejaring sosial.
Branchr kini menjual lebih dari 250 juta iklan ke 11.000 website setiap bulan dan mengakuisisi perusahaan Atomplan yang melayani software untuk bisnis.
Untuk mengendalikan bisnis berpenghasilan besar itu, ia dibantu delapan karyawan dewasa yang tinggal di Inggris maupun Amerika Serikat, sebagai sales dan asisten teknis. Tahun depan, ia malah berencana membuka dua kantor baru untuk Branchs.
Owens kini masih tinggal bersama orangtuanya. Ayahnya bernama Julian (50) adalah pekerja sebuah pabrik. Ibunya, Alison (43), sekretaris satu perusahaan. Inspirasinya menekuni bisnis muncul setelah mengamati kesuksesan luar biasa yang dicapai bos Apple, Steve Jobs.
Owens menanamkan lagi mayoritas pendapatannya untuk kedua bisnisnya tadi, Mac Box Bundle dan Branchr. "Aku benar-benar ingin menciptakan sesuatu yang inovatif dan sederhana yang akan merevolusi cara kerja iklan," katanya.
"Mac Box Bundle sebetulnya sudah sukses, tapi saya benar-benar ingin mendorong diri sendiri dan melakukan sesuatu yang berbeda, jadi saya datang dengan ide Branchr."
Menurut bocah ini, sebetulnya tidak ada pula formula ajaib dalam bisnis, hanya perlu kerja keras, keteguhan, dan semangat untuk mengerjakan sesuatu yang hebat. "Tujuan saya adalah menjadi terkemuka dalam dunia internet dan periklanan mobile serta menekan saya sendiri untuk mencapai puncak permainan ini."
"Saya tidak tahu akan di mana dalam 10 tahun mendatang, tetapi saya tidak akan meninggalkan Branchr sampai menembus pendapatan 100 juta pounsterling."
Kesuksesannya sekarang pun tidak mengubah kehidupan pribadinya dan tetap saja hobi fotografi serta main gitar. Begitu juga relasinya dengan teman-temannya. Tak ada yang berubah.
Satu lagi hebatnya bocah ini, tentu saja berkat orangtuanya. Pada usia tujuh tahun, dia sudah dikenalkan dengan komputer dan belajar mendesain situs secara otodidak pada usia 10 tahun, ketika pertama kali mendapat komputer bikinan Mac.
Sumber: Kompas.com
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 2:51:00 PM
  |
|
|
|
| Thursday, August 26, 2010
|
|
Dulu Preman, Sekarang Juragan
|
Tak ada yang bisa diandalkan oleh Kaiman saat mengawali usaha budi daya jamur lima tahun lalu. Selain bermodal nol besar, dia hanya protolan SD serta baru saja terperosok ke dunia hitam dengan menjadi preman. Namun, kejelian melihat peluang plus kerja keras tanpa lelah membuat derajat hidup Kaiman meningkat pesat. Dari budi daya jamur, dia meraup puluhan juta rupiah tiap bulan.
SAAT berkunjung ke rumah sekaligus tempat produksi jamur di Desa Bulu Kandang,Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jatim, itu pekan lalu, Kaiman tampak sangat sederhana. Tak terlihat kesan bahwa dia adalah pengusaha berskala menengah kecil yang sukses. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan polos. Namun, jika disimak betul, orang dengan mudah paham bahwa dia sangat menguasai ilmu budi daya jamur tiram putih. Pria yang menghabiskan 15 tahun umurnya dengan bekerja serabutan di sektor informal itu hanya mengenakan pakaian kerja sehari-hari, kaus oblong. Saat ini umurnya sudah setengah abad.
Penampilan ala kadarnya itu tak lepas dari perjalanan hidup Kaiman yang penuh warna. Memulai perjalanan hidup dari seseorang yang tidak memiliki apa pun hingga terperosok ke dunia hitam, sekarang Kaiman menjadi pengusaha dengan 20 karyawan. Omzetnya bisa mencapai Rp 100 juta dengan keuntungan bersih sampai Rp 20 juta per bulan. "Dulu saya menjalani pekerjaan sing gak nggenah (tidak benar, Red)," tutur dia sambil mengisap rokok keretek dalam-dalam. "Karena saya pengin punya uang buat keluarga, bapak dan ibu saya sampai mikir tingkah saya," lanjut dia dengan nada sesal.
Kaiman menceritakan awal mula dirinya terlibat dalam aktivitas kriminal. Saat itu mata pencahariannya hilang gara-gara krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997. Ayah dua anak tersebut sebelumnya bekerja sebagai sopir truk barang rute Surabaya-Bali. Setelah hubungan kerja itu diputus, Kaiman mulai bergelut dalam kriminalitas. "Saya jadi orang kepercayaan salah satu kelompok penjahat terkenal di salah satu pusat grosir besar Surabaya," ujar Kaiman tanpa menjelaskan dengan lebih rinci salah satu babak gelap masa hidupnya itu. Dia menjadi joki alias sopir kendaraan yang mengangkut barang curian kelompoknya. "Tapi, sepertinya, saya tidak cocok di pekerjaan itu. Sebab, komplotan saya selalu gagal saat beroperasi. Pernah ingin mencuri ternak, tapi pemiliknya kebal senjata tajam. Saya dan teman-teman malah lari tunggang-langgang," katanya sambil tertawa renyah.
Orang tua Kaiman sangat prihatin terhadap kelakuan anak pertama di antara enam bersaudara tersebut. Karena terlibat dalam aksi kejahatan, si sulung itu tak punya waktu untuk membantu adik-adiknya mandiri. "Karena kasihan terhadap orang tua, akhirnya saya berhenti dari pekerjaan yang nggak benar. Tapi, saya malah binggung mau kerja apa," ungkap Kaiman tentang kegalauan hatinya ketika mentas dari dunia hitam.
Di tengah keputusasaan itu, pria yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas V SD itu diajak mengikuti pelatihan kewirausahaan budi daya jamur yang dihelat perusahaan rokok,PT HM Sampoerna Tbk. "Mau kerja, saya tak mungkin. Saya tidak punya ijazah karena tidak tamat SD. Maka, tak ada pilihan lain bagi saya, kecuali mengikuti pelatihan itu," ujar dia.
Meskipun sudah mengikuti pelatihan tersebut secara intensif, Kaiman menyatakan tak pernah terlintas dalam benaknya terus-menerus menekuni budi daya tanaman pangan itu. "Pokoknya, saya nggak ingin nganggur. Tak ada niat menjadi pengusaha jamur," ungkapnya. Sumber motivasinya hanyalah keinginan mengangkat derajat hidup keluarga. "Memilih budi daya jamur juga hanya kebetulan. Sebab, di desa saya banyak sekali limbah serbuk kayu. Dari pelatihan, saya tahu bahwa limbah tersebut malah menjadi media tanam jamur tiram," terangnya.
Melalui Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna yang saat ini bernama Pusat Pengembangan Kewirausahan (PPK) Sampoerna, pada 2005 Kaiman mendapatkan bantuan bibit jamur tiram seratus baglog (media tanam). Selain bibit, PPK menyediakan seorang pendamping yang membantu Kaiman menjalankan usaha itu. "Awalnya, sering gagal. Nggak bisa dipanen. Dari nyetek seribu benih, yang jadi cuma 500 jamur tiram. Banyak yang gagal karena ada kontaminasi benih dan hama. Jamur tiram itu dibudidayakan secara organik. Jadi, kalau ada hama, nggak boleh dibasmi dengan pestisida," papar pria yang sering diminta menjadi pembina bagi petani jamur di berbagai daerah itu.
Selain persoalan hama, pada awal-awal usaha itu Kaiman diuji dengan masalah pemasaran. Lima tahun lalu, ada imaji kuat di masyarakat bahwa jamur tidak aman dikonsumsi karena beracun. Namun, dengan teguh Kaiman blusukan ke pasar-pasar bersama motor tuanya untuk meyakinkan calon pembeli bahwa jamur tiram merupakan makanan yang aman dikonsumsi, bergizi tinggi, dan bisa diolah dalam berbagai variasi.
Dua tahun Kaiman banting tulang. Berkat ketekunan itu, perlahan-lahan penjualan jamur hasil budi daya Kaiman meningkat. Saat permintaan mencapai 1.500 baglog, Kaiman memikirkan ekspansi usaha. Namun, dia terjerat masalah modal. Hasil penjualan bibit jamur tidak cukup untuk meluaskan tempat produksi. Terpaksa, dengan pinjaman BPKB mobil kerabatnya sebagai agunan, Kaiman nekat mengajukan permohonan kredit Rp 10 juta kepada bank. "Syukur, perhitungan saya tepat. Penjualan saya terus meningkat sehingga bisa melunasi kredit delam waktu enam bulan saja dari jatuh tempo yang sebetulnya setahun," ucap dia. Melihat kegigihan Kaiman, bank tak segan-segan memberikan kepercayaan dengan meminjamkan uang dua kali lipat dari jumlah pinjaman pertama.
Dua tahun setelah mengawali usaha, Kaiman mampu mendapatkan laba bersih Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per bulan. Saat itu dia membanderol satu baglog bibit jamur dengan harga Rp 1.800-Rp 2.250. Padahal, media tanam yang terdiri atas serbuk kayu gergajian, dedak/bekatul, tepung jagung, dan kalsium yang dibungkus plastik dengan bobot 1,1 kg per unit itu hanya dibuat dengan modal tak sampai Rp 1.000.
Meskipun Kaiman terhitung sebagai pengusaha baru, insting bisnisnya cukup tokcer. Dia menyadari bahwa menjual bibit jamur tiram lebih menguntungkan daripada menjual jamur siap olah. Dia mengungkapkan, sejak tiga tahun lalu 80 persen pendapatan usaha jamurnya berasal dari berjualan baglog. Sedangkan sisanya diperoleh dari berjualan jamur tiram. "Jamur tiram tergolong tanaman yang cepat tumbuh. Setiap baglog jamur tiram bisa menghasilkan panenan hingga 1 kg selama lima bulan, lalu diganti dengan media tanam baru," ujarnya.
Pada 2008 Kaiman memberanikan diri melakukan ekspansi pasar dengan menjual produknya ke luar pulau. Baglog itu sudah dipesan untuk wilayah Bali, NTB, hingga Kalimantan. Setahun kemudian, Kaiman terus berinovasi dengan memperbaiki kemasan produk jamur tiram dengan styrofoam serta memberikan merek Jatiman. "Kemasan tersebut membuat harga jamur saya meningkat dua kali lipat. Nama Jatiman adalah pemberian mahasiswa progam best student Sampoerna 2009, merupakan singkatan Jamur Tiram Kaiman dari Jawa Timur," ungkapnya. Untuk jamur tiram siap olah, Kaiman memasang harga sekitar Rp 10.000 per kg. Dia hanya memasok produk itu untuk kebutuhan di Surabaya dan Pasuruan. "Konsumennya, mulai rumah makan, supermarket, hingga penjual jamur crispy," tambahnya.
Saat ini Kaiman memiliki lima kumbung (bangunan berdinding gedek), masing-masing seluas 50 meter persegi (5 meter x 10 meter). Dia juga sudah mampu menjual 60 ribu baglog setiap bulan atau 40 kali lipat lebih banyak daripada omzetnya saat mengawali usaha. "Saya sekarang bisa menikmati keuntungan bersih Rp 30 jutaan per bulan dengan omzet Rp 130 juta-Rp 150 juta," ujarnya blak-blakan.
Kaiman pun menekuni pembiakan bibit jamur tiram. Dia memiliki dua jenis produk. Yang pertama disebut bibit Formula 1 (F1). Harganya mencapai Rp 150 per botol kaca kecil. Sementara itu, harga bibit F2 hanya sepersepuluhnya. "Sebulan, saya bisa mengirim 120-130 botol F1 ke luar Jawa," ucap dia. Peminat F1 memang lebih tinggi. Sebab, satu botol F1 bisa dijadikan 60 botol bibit berkualitas F2.
Saat menapak tangga sukses seperti sekarang, Kaiman tetap berpikir sederhana tentang cita-citanya. "Saya hanya ingin usaha saya maju terus dan sebisanya tidak lontang-lantung lagi seperti dulu," katanya. Kaiman menyatakan memiliki tiga rumah, lahan 1 hektare untukbudi daya jamur, empat kendaraan umum, dan kendaraan roda dua.
Pria itu juga berharap bisa aktif membantu para petani lain untuk memulai usaha di bidang jamur tiram. "Saya juga ingin membantu anak muda yang senasib dengan saya dulu," terang dia dengan rendah hati. Dia juga menjelaskan bahwa ke-20 karyawannya berlatar belakang nakal. "Lihat saja, semua anak buah bertato. Tapi, jangan takut, semua sudah insaf, kok," tegas dia.
Tak Tamat SD, Punya Murid Mahasiswa hingga Mantan Bos
TAK sempat mengenyam bangku sekolah tak membuat Kaiman tersingkir dari duniapendidikan. Berkat sukses dalam budi daya jamur, Kaiman malah menjadi "guru" yang laris diundang ke berbagai daerah untuk mengajar.
Mulai mahasiswa, calon petani jamur, hingga mantan pimpinan berbagai perusahaan terkenal yang pensiun dengan antusias mendengarkan cerita Kaiman tentang kesuksesannya. Mereka juga belajar budi daya tanaman bergizi tersebut dari Kaiman.
Salah satu pengalaman unik yang pernah dialami pria kelahiran 1960 itu adalah ketika didaulat menjadi pembicara di Bandung beberapa tahun silam. "Saya terima karena akomodasi dan transportasi ditanggung panitia. Juga dapat uang Rp 15 juta," ujar Kaiman polos.
Karena penerbangan telat, Kaiman datang terlambat ke acara pelatihan itu. Padahal, semua peserta sudah berada di dalam ruang acara. "Saat saya masuk, MC memperkenalkan diri saya sebagai dosen. Waduh, rasanya sangat malu ketika maju ke depan. Wong sekolah SD saja gak tamat, kok disebut dosen," kenangnya.
Pria berbadan kecil itu menyatakan, sejak berhasil sebagai petani jamur tiram, banyak yang memintanya untuk menjadi pembicara. Kaiman didaulat sebagai pembicara tetap di pelatihan-pelatihan yang digelar Dinas UKM dan Koperasi Pemprov Jawa Timur maupun dinas pertanian.
Kota-kota seperti Bontang dan Riau dia singgahi untuk jadi pembicara mengenai jamur. "Saya diajari Sampoerna untuk menjadi trainer mengenai jamur tiram. Juga sering diajak pameran. Lama-kelamaan jadi berani berbicara," ungkap dia.
Bapak dua anak tersebut juga sering menerima peneliti maupun magang di rumahnya. Tak hanya mahasiswa maupun akademisi yang tertarik akan keberhasilannya dalam mengembangkan bibit jamur tiram organik super. Bahkan, banyak tamu dari luar negeri yang mampir ke rumah yang dia beli dari hasil jamurnya itu. "Ada yang dari Tiongkok. Ada juga yang dari Taiwan," ungkap Kaiman. Gaya hidup bersahaja tak menghalangi dia untuk membagi ilmunya kepada siapa pun.
Kaiman terus berinovasi dengan memperbaiki kemasan produk jamur tiram dengan styrofoam serta memberikan merek Jatiman. "Nama Jatiman adalah pemberian mahasiswa progam best student Sampoerna 2009, merupakan singkatan Jamur Tiram Kaiman dari Jawa Timur," ungkapnya.
Sumber: Voila web Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:12:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, August 25, 2010
|
|
Beranie Gagal Juli 2010 Versi PDF Sudah Ada
|
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal! Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal Juli 2010 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2010. Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?! Selamat Membaca! Salam sukses! RyanFounder & Moderator Beranie Gagal Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 3:20:00 PM
  |
|
|
|
| Tuesday, August 24, 2010
|
|
Ketika Pak Jalal Tidak Takut Miskin
|
Menyaksikan sinetron Para Pencari Tuhan 4 (PPT4) memang berbeda dengan sinetron yang lain. Setidaknya itu pendapat saya pribadi.
Sahur ditemani sinetron PPT4 cukup menghibur dan banyak insight.
Tokoh-tokohnya terkesan begitu nyata, bagaimana digambarkan seorang yang miskin tapi sombong seperti Azrul, seorang yang tidak berpengetahuan tetapi sok tahu yang digambarkan dalam sosok udin, seorang pemuka agama yang mencari ketenaran dibalik seruannya yang diperankan oleh Akri, orang-orang yang ingin kembali ke jalan yang benar namun banyak godaan yang dihadapi, seperti yang digambarkan oleh 3 anggota kelompok komedi Bajaj. Masih ada lagi, sosok bang Jack yang baik namun seringkali salah melangkah, sosok pengurus kampung yang seringkali menggunakan ‘kepengurusannya’ untuk kepentingan pribadi, serta tokoh pak Jalal, yang digambarkan sebagai orang kaya yang sebenarnya murah hati namun kadang ria’ dalam bersedekah.
Melihat tokoh-tokoh itu dimainkan, rasanya benar-benar ada bila kita kembalikan ke dunia nyata. Yang pasti, dalam sinetron ini tidak ditayangkan seorang yang sangat kaya raya, atau sebaliknya sangat miskin papa. Juga tidak ditayangkan seorang yang jahat, yang tertawa terbahak-bahak setelah melakukan kejahatan sebagaimana yang sering kita saksikan di sinetron pada umumnya, tidak ditayangkan pula seorang yang baik hati, suci tanpa pernah berbuat salah sedikit pun. Benar-benar hampir nyata. Setiap orang pasti memiliki sisi baik dan sisi buruk. Tinggal bagaimana orang tersebut mengelola sisi buruknya mengarah menjadi kebaikan dan terus mempertahankan sisi baiknya.
Saya bukan bermaksud membuat resensi atau rekomendasi untuk menonton sinetron ini. Namun saya akan menyoroti salah satu episode yang menggambarkan bagaimana seorang Pak Jalal yang notabene adalah orang terkaya di kampung tersebut, berikhlas hati melepas semua kekayaannya demi terhindar dari fitnah duniawi, salah satunya adalah dengan melunasi hutang-hutangnya tanpa rasa khawatir bahwa hartanya akan tak bersisa bila hal itu dia lakukan dan akan jatuh miskin.
Digambarkan di sinetron tersebut bagaimana penolakan dari keluarga yang menganggap harta mereka adalah hak mereka, dan mereka takut jatuh miskin. Namun, tak sedikitpun ada keraguan dalam diri Pak Jalal untuk meneruskan niatnya. Tentunya dengan tetap berpikir rasional bahwa tanggung jawabnya terhadap keluarga tetap ada.
Diceritakan pula bagaimana proses pelunasan hutang-hutangnya dan Pak Jalal pun pulang berjalan kaki, karena mobilnya termasuk yang harus dia relakan. Sedihkan pak Jalal? Tidak.
Pada saat berjalan kaki pulang, dia pun bergumam, “Sudah lama saya tidak jalan kaki.” sambil terus berjalan pulang.
(Seberapa sering kita berjalan kaki akhir-akhir ini?)
Mari kita bercermin,
Kalau kita di posisi Pak Jalal, akankah kita melakukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan?
Saya kok pesimis ya. Jangankan melunasi hutang-hutang, yang terjadi malah berhutang lagi dan lagi.
Coba kita tengok dompet kita, berapa kartu ‘hutang’ yang kita miliki, yang menjadi kebanggaan kita pada saat membuka dompet, karena kartu-kartu emas itu menyembul di sela-sela dompet kita, yang (menurut dunia konsumerisme) hal ini menunjukkan betapa ‘pentingnya’ kita di mata para pemberi hutang.
Bahkan begitu pentingnya kita, sampai-sampai produsen dompet pun menciptakan dompet khusus untuk menyimpan kartu-kartu itu sehingga dompet uang kita tidak ‘kegendutan’.
Coba tengok lagi di jalanan, berapa banyak mobil baru yang beredar, tidak hanya mobil ‘murah’ tetapi juga mobil mewah bertebaran, bahkan sehari setelah kita lihat iklannya di media, esoknya kita sudah bisa lihat para penggunanya di jalanan. Saya yakin, tidak semuanya membeli dengan cash, sebagian besar malah dengan cara berhutang (kredit). Apalagi dengan tersedianya ‘kemudahan’ untuk berhutang yang ditawarkan oleh para pemberi hutang.
(Bahkan seorang teman saya sampai mengeluh karena menerima pesan pendek yang masuk melalui ponselnya di tengah malam buta, yang ternyata hanya untuk menawarkan pinjaman. Sungguh luar biasa! Siang malam kita dikerumuni dengan berbagai tawaran yang terkadang mengaburkan mata dan hati kita.
Akan tetapi semua berpulang kepada kita, seberapa kuat kita menahan diri dari semua godaan itu. Seberapa sering kita menimbang fokus aktivitas kita antara untuk kepentingan dunia dan kepentingan ‘hari nanti’. Seberapa ikhlas kita melepas sebagian harta kita, baik yang memang diwajibkan maupun yang kita relakan tanpa takut miskin.
Banyak contoh yang bisa saya lihat seorang miskin yang sabar karena tak berharta, namun sulit saya temukan contoh seorang kaya yang bersabar akan hartanya.
Semoga kita termasuk orang kaya yang sabar…amiiin…
Salam,
Oktira Kirana
http://okirana.blogspot.com/2010/08/ketika-pak-jalal-tidak-takut-miskin.html Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:57:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, August 23, 2010
|
|
Guru dan Semangatnya
|
Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya.
Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang Cerebral Palsy (sindroma gangguan otak belakang).
Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak disana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil.
Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik. Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian anak yang beradu dengan lantai.
Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk, duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral Palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan kepandaiannya menyusun huruf.
Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan. Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa damai dan hangat.
Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar. Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu. Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar.
Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing. Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya. Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin, membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan.
Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat” kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya. Ddduh, ada apa ini?
Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam, mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya. Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk sekedar mencium tangan saya.
Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya.
***
Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.
Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik mereka.
Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?
Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru. Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu, dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan. Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 1:41:00 PM
  |
|
|
|
| Thursday, August 19, 2010
|
|
Benar, Baik, dan Berguna
|
"Adanya dua telinga diciptakan adalah untuk memastikan bahwa Anda mendengar kebaikan lebih banyak." -- Anonim
RABU pagi. Jam belum menunjukkan pukul delapan. Dari sudut pantry sebuah kantor terdengarlah percakapan seperti ini: "Pak, sudah dengar cerita si Rifka?" "Belum," kata pria setengah baya yang tengah asyik menyeduh kopi. Sebut saja Pak Bagus namanya. "Nah, ada yang menarik nih untuk diceritakan." "Sebentar, sebentar." Lelaki itu memotong. Tampaknya dia paham betul arah cerita dari rekan kerjanya itu. "Sebelum kamu cerita, saya mau tanya dulu soal tiga hal. Tolong dijawab dengan jujur." Dia pun mengajukan syarat. Si lawan bicaranya tersenyum. Lalu mengambil cangkir, hendak menyeduh teh. "Pertanyaan pertama, apakah kamu yakin kalau cerita itu benar?" "Wah, kalau itu saya gak tahu persis. Saya gak bisa memastikan. Ini juga dapat ceritanya dari orang lain, " jawabnya santai. "Artinya, cerita itu belum tentu benar," katanya. "Sekarang saya lanjut bertanya, apakah cerita tentang Rifka itu soal kebaikannya?" "Lo, justeru sebaliknya saya pikir," jawabnya. Wajahnya tampak sumringah. "Artinya justeru keburukannya yang ingin disampaikan?" "Ya, iyalah," katanya cepat. "Nah, artinya yang diceritakan malah keburukan orang lain, bukan kebaikannya," kata Pak Bagus sambil tersenyum. "Sekarang pertanyaan terakhir," Pak Bagus menyeruput sejenak kopi buatannya sendiri, "Apakah cerita si Rifka ini ada manfaatnya, minimal bagi kamu atau saya tentunya?" "Hm, gak kayaknya," kata pria itu yang mulai bisa menebak ketidaktertarikan Pak Bagus. "Nah, kalau yang kamu ceritakan itu belum tentu benar, bukan soal kebaikan, malah sebaliknya, dan bahkan tidak berguna, mengapa saya harus mendengar soal itu? Sorry Bro, saya harus segera meeting." Pak Bagus pun berlalu.
Dua jempol sepatutnya ditujukan pada Pak Bagus. Dia begitu tegas terhadap informasi yang teramat menggoda. Padahal Rifka adalah kembang kantor yang begitu cantik, seksi, dan hidupnya penuh dengan cerita yang mengejutkan. Namun, sekali lagi, karena merasa tidak berguna cerita yang dijanjikan rekan sekerjanya, Pak Bagus memilih untuk menutup kuping.
Keberanian dan ketegasan Pak Bagus itulah yang seharusnya ada dalam diri kita. Berani memilah mana informasi yang menguntungkan, di kala serbuan kabar yang masuk tiap hari merupakan suatu godaan yang tidak mudah untuk dielakkan.
Coba perhatikan. Saat kita bangun pagi misalnya, televisi sudah menyiarkan kabar tentang kehidupan pribadi selebritis yang tengah dirundung masalah. Semestinya, kita sudah bisa memutuskan bahwa semua info atau tepatnya gosip itu sama sekali tidak berguna buat kita. Kehidupan pribadi, apalah artinya buat kita. Sesampai di kantor misalnya, kita bertemu dengan orang yang punya perangai persis lawan bicara Pak Bagus.
Meniru Pak Bagus adalah langkah yang paling tepat. Singkirkan hal-hal yang tidak berguna. Tentukan prioritas hidup kita. Hal itu akan membuat kita bijak seperti Pak Bagus dalam menerima informasi yang benar, baik, dan berguna bagi kehidupan kita. Informasi di luar itu semua hanya akan membuang waktu semata dan tidak membuat kita cerdas. Is that right brother?
Oleh: Sonny Wibisono Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 1:32:00 PM
  |
|
|
|
| Wednesday, August 18, 2010
|
|
Mari Belajar Pada Lance Armstrong
|
"Jika saya masih bisa bergerak, artinya saya tidak sakit." -- Lance Armstrong, pembalap Amerika Serikat, juara Tour de France 1999-2005
VONIS itu bak gledek di siang hari. Oktober 1996, dokter menyatakan Lance Armstrong positif mengidap kanker testis. Padahal sebagai pembalap sepeda profesional, karirnya lagi kinclong-kinclongnya di pucuk kesuksesan. Kontrak dengan tim balap Perancis baru saja diteken. Nilainya, wow, fantastis, dua tahun dia dibayar 2,5 juta dolar AS.
Namun, testisnya memang sudah membengkak sebesar buah jeruk. Dia pun muntah darah. Lebih membahayakan lagi, menurut diagnosis dokter, kanker itu sudah menjalar ke paru-paru dan otak. Operasi darurat pun dijadwalkan saat itu juga. Dokter mengatakan kepadanya bahwa persentase berhasil untuk hidup adalah 50%. Angka manipulasi sebenarnya. Dalam hitungan secara medis, diketahui harapan hidup Armstrong saat itu sesungguhnya tinggal 3%. Jangankan mendengar 3%, mendengar 50% saja jantung serasa mau copot. Siapa pun tentu akan lemas mendengar pengumuman itu.
Tapi, Armstrong tidak. Meski merasakan sakit yang luar biasa, namun dia tetap tegar. Armstrong berpacu dengan waktu. Baginya, penyakit kanker ibaratnya sebuah perlombaan. Ia harus menjalani operasi untuk menghilangkan kanker dan kemoterapi yang dilakukannya selama berbulan-bulan. Kanker membuat Armstrong ambruk. Pembalap tangguh itu kini lemah tak berdaya. Untuk mengayuh sepeda keliling halaman rumahnya saja ia tak mampu. Namun, dia tetap menjalani proses penyembuhannya dengan kukuh. Tanpa mengeluh. Satu harapannya, dia ingin sembuh total. Dan ia percaya itu. Kemoterapi pun selesai dilakukan, dan ajaib, kanker yang dideritanya hilang.
Siapa saja yang mengikuti kisah Armstrong pasti akan jatuh kagum. Semua itu merupakan hasil didikan yang keras. Mentalnya sudah ditempa sejak muda. Ia dididik oleh seorang ibu yang pekerja keras. Ibunya pernah mendapati Armstrong berhenti di tengah jalan karena kelelahan dalam lomba triathlon. Sang Ibu memarahinya, "Kamu tidak boleh berhenti meskipun harus berjalan." Armstrong pun menyelesaikan lomba itu hingga garis finish.
Keputusan besar dilakukan Armstrong setelah dinyatakan sembuh: dia kembali mengayuh sepeda. Banyak orang yang ragu tentu saja. Bersepeda bukan olahraga ringan. Butuh stamina fisik yang prima dan kuat. Tapi lagi-lagi dia menganggap sebagai tantangan yang harus ditaklukkan. Dia berlatih. Bahkan lebih keras dan lebih keras lagi. Ia pun berlatih bersepeda dengan mendaki ke atas puncak pegunungan. Ia mampu.
Ketika saat ia merasa sudah benar-benar pulih, pada 1999, Armstrong siap untuk mengikuti segala jenis lomba. Saat yang bersamaan, istrinya pun hamil. Terapi kesuburan menuai hasil. Padahal sebelumnya gara-gara kanker itu pulalah, dia divonis mandul. Hasilnya tak terkira. Lima bulan berselang, untuk pertamakalinya, Armstrong berhasil menjuarai Tour de France pada 1999. Dia pun menjadi raja tur paling terkenal sejagat itu. Berturut-turut, selama tujuh tahun, hingga 2005, dia selalu tampil di podium pemenang.
Setelah itu, dia benar-benar mundur. Tapi dia tidak sepenuhnya lengser. Pengalaman dirinya menghadapi penyakit kanker memberinya inspirasi untuk mendirikan Yayasan Lance Armstrong. Dan pada tahun 2004, ia mengembangkan Gelang Livestrong sebagai upaya meningkatkan kesadaran bagi para korban kanker.
Armstrong telah mengajarkan kepada banyak orang, ketika melawan kanker, ia mengalahkan musuh terbesar kehidupan, yakni keputus-asaan. Setiap orang boleh gagal, tapi jangan pernah berputus asa. Penyakit kanker yang dideritanya dijadikan pengalaman hidup yang tak ternilai. Pantang menyerah pada keadaan membuat dirinya mampu bertahan hidup dengan mengagumkan dan melewati berbagai rintangan untuk meraih gelar juara.
"Jika Anda meminta saya untuk memilih menang di Tour de France atau dari kanker, saya akan memilih menang dari penyakit itu. Karena itu adalah kemenangan saya sebagai manusia, pria, suami, anak, dan ayah," kata Armstrong.
Armstrong memberikan pelajaran penting. Jangan pernah menyerah dalam kehidupan. Seberapa pun beratnya.
Oleh: Sonny Wibisono Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:02:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, August 17, 2010
|
|
Sang Promotor Autodidak Sejati
|
|
Bagaimana jadinya jika seorang buta berjalan tanpa tongkat? Berulang kali menabrak, jatuh, atau tertubruk sesuatu. Dan, itu juga barangkali yang dirasakan seorang sosok bernama Adrie Subono ini. Saat kali pertama memutuskan untuk terjun di bisnis pertunjukan musik, tak ada satu pun "tongkat" yang akan memandunya. "Enggak ada satu pun panduan atau orang yang ngajarin. Karena, waktu itu bisnis ini orang hanya datang dan pergi. Jadi, ya jalanin saja, karena memang saya senang," akunya kepada redaksi majalah LuarBiasa. "Saya hanya ingat ucapan Om Habibie (Adrie adalah keponakan dari mantan Menristek dan Presiden RI ke-3, red). Katanya, ‘Adrie, kalau kamu mau sukses, jadilah kamu ahli di bidang yang kamu geluti!' Itulah kata-kata yang teringat dan saya jadikan pegangan hingga sekarang." Dan, tujuan pasti untuk menjadi "ahli" itulah yang kemudian menjadi "tongkat" Adrie hingga mampu melewati masa-masa pembelajaran kehidupan dan bisnis yang dijalaninya. Awalnya Sulit Menilik apa yang dicapainya sekarang, barangkali orang tak membayangkan betapa sulit dan susahnya Adrie mengawali bisnis promotor musik dengan JAVA Musikindo-nya. Seratus lebih artis berkelas dunia sudah berhasil didatangkannya ke Indonesia. Berbagai aliran musik, dari pop, rock, R&B, hingga instrumen modern mampu diolahnya menjadi satu paket hiburan yang membius banyak penggemarnya. Tak heran, jika kemudian orang mengidentikkan dirinya dengan hampir semua pertunjukan musik internasional yang diadakan di Indonesia. Hingga kini, banyak tawaran artis dari luar yang justru datang padanya. 
"Kemarin itu ada tawaran manggung artis Pitbull. Saya saja awalnya enggak tau siapa dia.. hahaha. Tapi, karena didesak terus sama agennya, ya sudah. Saya sebarin info kalau saya ada yang nawarin Pitbull. Ternyata, responsnya banyak banget," serunya berkisah. Bisa dikatakan, Adrie mengawali semua kesuksesannya hanya bermodalkan kenekadan. Adrie yang tak tamat SMA ini belajar jadi promotor dengan modal kesenangannya melihat konser musik saat di luar negeri. "Saya hanya melihat bisnis ini tak bakal ada matinya. Sebab, meski artis silih berganti, tapi mereka semua pasti butuh promotor untuk menggelar pertunjukannya," beber mantan pebisnis bidang perkapalan dan telekomunikasi ini. "Lagipula, ini kan sama saja dengan dagang juga. Kalau dulu jualan kapal, ini jualan tiket...hehehe. Cuma saya sempat dibilang 'sinting' karena ninggalin bisnis yang untungnya jelas-jelas lebih besar." Belajar Mulai dari Usia 40 Konser perdana yang ditanganinya adalah Saigon Kick. Kala itu, di tahun 1994, melalui PT. JAVA Musikindo yang didirikannya, pelajaran pertama segera dipetiknya. Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar menjadi saksi sejarah pelajaran pahit pertamanya. "Di Jakarta, itu hanya terisi setengah. Di Bandung, malah lebih kacau lagi. Izin keramaian dari polisi baru turun setelah lagu pertama dimainkan," kisah pria kelahiran 11 Januari 1954 ini. "Tapi, dari situ saya jadi belajar banyak hal. Meski ongkosnya pahit dan sangat menyakitkan, saya nggak kapok. Justru di situ komitmen saya diuji." Kegagalannya di usia ke-40 tahun itu kemudian membuatnya tertantang. Ia ingin membuktikan, bahwa panggilan jiwanya itu telah mengarahkannya pada jalan yang dicari-carinya selama ini. "Saya pada dasarnya kan memang suka musik. Jadi ya jalanin aja." Konser berikutnya, ia mendatangkan Supergroove yang dipentaskan di M-Club, kawasan Blok M, Jakarta. Dari sana, ia belajar bahwa pemilihan tempat manggung artis menjadi salah satu komponen yang juga harus diperhatikan untuk mendatangkan massa. Jadwal pemilihan waktu acara juga sempat menjadi pelajaran pahit yang didapatnya. Kala itu, ia sempat mengadakan acara di musim ulangan umum. Padahal, acara yang digagas tergolong besar, yakni Jakarta Pop Alternative Festivals. Bahkan, tiga artis ternama didatangkan sekaligus. "Sejak saat itu, saya belajar melihat tanggal-tanggal penting agar tidak jeblok lagi sat jualan." Begitulah, begitu banyak pembelajaran dari kisahnya mendatangkan band-band kelas dunia untuk manggung di Indonesia. Dari mulai menangani penonton yang pingsan, membuat barikade keamanan berlapis, hingga membatasi jumlah penonton untuk meningkatkan kenyamanan adalah berbagai pelajaran berharga yang membuatnya sukses hingga kini. "Coba dilihat, sekarang setiap kali JAVA Musikindo bikin pertunjukan, kita pakai standar maksimal hanya 80% saja yang boleh diisi penonton. Itu semua agar kenyamanan bisa didapat," cetusnya. "Sekarang, kita pasti juga bikin empat lapis keamanan untuk jaga tiket. Itu untuk antisipasi agar tak terjadi desak-desakan dan kecurangan di tiket. Semua itu didapat karena pengalaman." Tak hanya itu. Urusan menangani artis pun butuh pembelajaran yang sangat unik dan pelik. "Kadang, ada saja artis yang minta macam-macam dan aneh-aneh. Soal nego harga juga lain lagi. Itu semua bisa saya lakukan karena pengalaman dari belajar menangani satu konser ke konser yang lain," terang Adrie yang kemudian menuliskan pengalamannya dalam buku berjudul WOW ini. "Yang pasti, meski sudah menangani banyak konser, saya masih sering tegang hingga kini." 
Belajar dan terus belajar, itulah kunci sukses Adrie Subono hingga mampu menjadi promotor musik paling sukses di Indonesia saat ini. "Komitmen untuk menjadi ahli seperti yang dikatakan Om Habibie itu terus saya pegang. Karena itu, sesulit apa pun, apalagi saat jenuh dan bosan melanda, komitmen untuk memberikan yang terbaik pada semua pihak, artis, penonton, sponsor, terus saya jadikan pegangan," paparnya. "Satu lagi,selalu bersyukur dengan apa yang saya raih, itu juga menjadi pelajaran penting bagi hidup saya. Dulu saya pernah mencoba menumbuhkan rambut botak ini dengan operasi, tapi batok kepala sudah dioperasi di Jerman, tetap saja tidak tumbuh...hahaha. Di situ saya belajar mensyukuri apa yang saya dapat." ~Kunci Sukses Adrie Subono~
• Komitmen tinggi pada apa yang dikerjakan. • Selalu optimis apa pun tantangan yang menghadang. • Terus bersyukur dan jangan cepat putus asa. • Fokus, fokus, dan fokus, dan jadilah ahli di bidang yang digeluti. • Segera bangkit dan berdiri lagi ketika menghadapi kegagalan. Sumber : andriewongso.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:27:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, August 16, 2010
|
|
Mr. Alasan, Penghambat Sukses
|
"Sembilan puluh sembilan persen dari semua kegagalan berasal dari orang-orang yang punya kebiasaan berdalih"
GEORGE WASHINGTON CARVER Ahli Kimia yang menemukan lebih dari 325 manfaat kacang tanah
Kalau mau jujur, kita sering menciptakan alasan atas setiap kegagalan dan kesalahan yang kita lakukan. Sebagai contoh, pada waktu kita terlambat ke sekolah atau ke kantor, pikiran kita langsung mencari dan menciptakan alasan. Pikiran kita diarahkan untuk mencari alasan untuk menghindari kesalahan yang kita lakukan. Jika ada sekolah alasan, maka setiap kita mungkin telah mendapatkan gelar doctor bahkan mungkin ada diantara kita sudah mendapatkan gelar professor. Ketika kita dilahirkan tidak ada orang tua yang mengajarkan bagaimana menciptakan alasan atas setiap kesalahan yang kita lakukan.
Kita selalu menciptakan alasan untuk menghindari hukuman atas kesalahan yang kita lakukan. Kita harus pahami, bahwa alasan yang kita ciptakan tidak pernah memberikan perubahan dalam hidup kita.
Alasan adalah penghambat kesuksesan. Setiap alasan yang kita ciptakan atas kegagalan yang terjadi adalah tirai yang ditancapkan untuk membatasi dan memenjarakan kita setiap saat. Saudara dari berdalih adalah sikap mengeluh. Karyawan yang senang membuat alasan, pasti selalu mengeluh dengan gaji yang diterima dan mengeluh dengan kebijakan dan aturan yang ditetapkan perusahaan. Anak yang selalu menciptakan alasan atas kesalahan yang dilakukan, selalu mengeluh dengan keadaan fisiknya, kondisi ekonomi keluarga, fasilitas pendidikannya, dan semuanya.
Banyak orang mengharapkan tubuhnya langsing dan mengharapkan orang lain yang melakukannya untuk dirinya. Mereka mengharapkan orang lain yang berolahraga untuk dirinya, orang lain yang diet makanan lezat untuk dirinya, orang lain yang hidup disiplin untuk dirinya. Sesuatu yang mustahil.
Jika Anda ingin menciptakan kehidupan yang penuh keberhasilan, Anda harus memegang kendali hidup Anda. Mulai sekarang, berhenti berdalih, berhenti mengeluh, berhenti mengeluh atas kekurangan fisik Anda, berhenti mengeluh atas ketidakadilan yang terjadi dalam hidup Anda, berhenti menggunakan alasan mengapa Anda tidak bisa dan belum mendapatkan apa yang Anda impikan sampai saat ini, dan berhenti menyalahkan keadaan di luar diri Anda. Anda harus berjanji pada diri Anda, bahwa mulai saat ini, Anda berhenti melakukan semuanya itu selamanya. Tindakan berhenti menyalahkan adalah tanda bahwa Anda mengasihi diri Anda dan masa depan Anda. Berhenti sejenak (selama 5 menit), tuliskan dan katakan sebanyak 7 (tujuh) kali pada diri Anda kalimat ini: Saya bertanggungjawab atas hidup saya ! Harus ditanamkan dalam benak Anda, bahwa Andalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab terhadap hidup Anda.
Kesuksesan adalah keputusan untuk mengubah hambatan menjadi kesempatan untuk meraih sukses. Mungkin salah satu hal yang menghambat Anda untuk meraih sukses karena Anda dipenuhi dengan berbagai macam dalih. Hentikan dalih Anda jika Anda ingin meraih keberhasilan di tahun ini. Jadikan tahun ini sebagai tahun penuh berkat dan pelipat ganda dan mujizat, kepercayaan dan keberhasilan. GBU
Salam,
Johny Kilapong, MA Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:59:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, August 11, 2010
|
|
Harimau dan Serigala
|
Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.
Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.
Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.
Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.
Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.” Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.” Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”
**
Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.
Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.
Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau. Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:42:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, August 10, 2010
|
|
Membangun Hidup
|
Setiap pikiran yang terlintas, entah itu baik ataupun buruk, akan membangun karakter anda. Sama seperti batu bata yang tersusun satu di atas yang lain, untuk membangun rumah – demikian pula pikiran anda disusun satu di atas yang lain. Setiap saat, setiap waktu ketika anda berfikir. Baik secara sengaja atau tidak.
Siapa diri anda, apa yang anda capai, kepuasan yang anda temukan, bagaimana cara pandang anda terhadap diri sendiri, semuanya tergantung pada pikiran yang membangun hidup anda.
Setiap pikiran, setiap waktu, dapat memperkuat bangunan diri anda. Tak satu pencapaian senilai apapun yang secara tiba-tiba muncul. Segalanya harus dibangun. Langkah demi langkah. Dan anda memiliki kekuasaan untuk membangun hidup macam apa yang anda inginkan. Kekuasaan itu datang dari masa tempat anda hidup, dalam pilihan yang anda ambil, dalam tindakan yang anda kerjakan.
Pilihan anda menentukan bangunan seperti apa yang anda buat.
Saat ini, anda sedang membangun hidup anda. Saat ini, anda membuat SEBUAH PERBEDAAN dalam jalan hidup anda. Saat ini adalah masa keemasan untuk mengubah masa depan anda. Sudahkah anda memanfaatkannya…?
Sumber: Arsip Milis Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 2:23:00 PM
  |
|
|
|
| Friday, August 06, 2010
|
|
Winner VS Looser
|
|
The Winner says,”It may be difficult but it is possible” The Loser says ,”It may be possible but it is too difficult” When a Winner make a mistake, he says ,”I was wrong” When a Loser make a mistake, he says ,”It wasn’t my fault” The Winner is always part of the answer The Loser is always part of the problem
Winner chooses what they say Loser say what they chooses The Winner sees an answer for every problem The Loser sees a problem for every answer Winner sees the gain Loser sees the pain The Winner says ,”Let me do it for you” The Loser says ,”That’s not my job” Winners believe in win win Loser believe win for them and someone has to lose A winner makes commitments A Loser makes promises Winner sees the potential Loser sees the past Winner makes it happen Loser wait it happen A winner creates vision A Loser creates imagination A winner says “I am doing it” A Loser says “I’ll do it” Which are you ? Sumber: Anonymous
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 5:40:00 PM
  |
|
|
|
| Thursday, August 05, 2010
|
|
Kegigihan Seorang "Colonel Sanders" KFC
|
Pasti pada tau kan ama Colonel Harland Sanders a.k.a Colonel Sanders nya KFC yang sering bgt kita makan d KFC nya itu.
Btw inilah kisah kegigihan Kolonel Sanders, pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulainya di usia 66 tahun. Pensiunan angkatan darat Amerika ini tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Namun dia memiliki keahlian dalam memasak dan menawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Kolonel Harland Sanders adalah pelopor Kentucky Fried Chicken atau KFC yang telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam industri waralaba makanan siap saji di dunia.
Sosok Kolonel Sanders, bahkan kini menjadi simbol dari semangat kewirausahaan. Dia lahir pada 9 September 1890 di Henryville, Indiana, namun baru mulai aktif dalam mewaralabakan bisnis ayamnya di usia 65 tahun. Di usia 6 tahun, ayahnya meninggal dan Ibunya sudah tidak mampu bekerja lagi sehingga Harland muda harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Di masa ini dia sudah mulai menunjukkan kebolehannya.
Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah, sehingga ia meninggalkan rumah tempat tinggalnya untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah Greenwood, Indiana. Selepas itu, ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun.
Pertama, sebagai tukang parkir di usia 15 tahun di New Albany, Indiana dan kemudian menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan ke Kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel.
Di usia 40 tahun, Kolonel ini mulai memasak untuk orang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin. Kolonel Sanders belum punya restoran pada saat itu. Ia menyajikan makanannya di ruang makan di bengkel tersebut. Karena semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran bisa menampung 142 orang.
Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini. Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi negara bagian Cuisine. Dan pada tahun 1939, keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines “Adventures in Good Eating.”
Di awal tahun 1950 jalan raya baru antar negara bagian direncanakan melewati kota Corbin. Melihat akan berakhir bisnisnya, Kolonel ini akhirnya menutup restorannya. Setelah membayar sejumlah uang, ia mendapatkan tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105.
Dikarenakan memiliki rasa percaya diri kuat akan kualitas ayam gorengnya, Kolonel membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi negara bagian ini dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual.
Pada 1964, Kolonel Sanders sudah memiliki lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Pada tahun itu juga ia menjual bunga dari pembayarannya untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada sejumlah grup investor termasuk John Y Brown Jr, (kelak menjadi Gubernur Kentucky). Pada tahun 1976, sebuah survey independen menempatkan Kolonel Sanders sebagai peringkat kedua dari deretan selebriti yang terkenal di dunia.
Di bawah pemilik baru, perusahaan Kentucky Fried Chicken tumbuh pesat yang kemudian menjadi perusahaan terbuka pada 17 Maret 1966, dan terdaftar pada New York Stock Exchange pada 16 Januari 1969. Lebih dari 3.500 waralaba dan restoran yang dimiliki perusahaan ini beroperasi hampir di seluruh dunia. Kentucky Fried Chicken menjadi anak perusahaan dari RJ Reynolds Industries, Inc. (sekarang RJR Nabisco, Inc.), semenjak Heublein Inc. diakuisisi oleh Reynolds pada tahun 1982. KFC diakuisisi pada Oktober 1986 dari RJR Nabisco Inc oleh PepsiCo Inc, seharga kurang lebih 840 juta dolar.
Pada Januari 1997, PepsiCo, Inc mengumumkan spin-off restoran cepat sajinya — KFC, Taco Bell dan Pizza Hut – menjadi perusahaan restoran independen, Tricon Global Restorans Inc. Pada Mei 2002, perusahaan ini mengumumkan persetujuan pemilik saham untuk merubah nama perusahaan menjadi Yum! Brands Inc. Perusahaan, yang dimiliki oleh A&W All-American Food Restorans, KFC, Long John Silvers, Pizza Hut dan Taco Bell restorans, adalah perusahaan restoran terbesar di dunia dalam kategori unit system dengan jumlah mendekati 32,500 di lebih dari 100 negara dan wilayah.
KFC berkembang pesat. Kini, lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel ini dinikmati setiap tahunnya, bukan hanya di Amerika Utara, bahkan tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia. Tapi Kolonel Sanders tidak lagi bisa menyaksikannya. Pada 1980, di usia 90 tahun, ia terserang leukemia. Ia meninggal seusai melakukan perjalanan 250.000 mil dalam satu tahun kunjungannya ke restoran KFC di seluruh dunia.
“Impian meraih sukses tidak harus di masa kecil. Impian bisa juga di saat usia senja.” Kolonel Sanders, pendiri KFC.
Sekarang udah banyak nih cabangnya di berbagai tempat d sekitar kita ini. Dan bisa do bilang ayamnya uenak bgt dah, apalagi twisternya. Tapi yg penting dari kisah dia ini, dia memang benar-benar berusaha dari yang tidak mempunyai apa-apa hingga bisa sukses. Walaupun itu hanya bisa di rasakannya saat tua hasilnya tapi kegigihannya memang benar-benar menghasilkan sesuatu yg hebat. So walaupun kita ini belum sukses sekarang ini maka teruslah berusaha sebaik mungkin sampai titik penghabisan. Dan semoga kegigihan kita itu suatu saat akan membuahkan hasil juga. Jadi jangan pantang menyerah, liatlah dulunya Colonel Sanders ini bukanlah siapa-siapa, dan lihatlah apa yang sudah dia hasilkan sekarang ini.
Sumber: Arsip milis Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:32:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, August 04, 2010
|
|
Tiga Kunci Sukses Memulai Bisnis ala Brian Tracy
|
Memulai bisnis sendiri bisa dari mana saja. Namun kebanyakan orang menganggap modal menjadi hambatan utama. Ternyata uang bukan faktor utama yang membuat seseorang bisa sukses dalam bisnis. Apa saja kunci sukses berbisnis?
Menurut penulis dan pembicara terkenal Brian Tracy, ada tiga langkah kunci untuk menjadi seorang pebisnis yang sukses.
Pertama, temukan bidang bisnis yang cocok (disukai). Jika sudah menemukan bisnis yang cocok, seseorang harus mendedikasikan seluruh sumber dayanya (waktu dan usaha/effort) untuk bisnis tersebut. Termasuk sabar menjalaninya, pada saat bisnis tersebut masih belum memberikan penghasilan.
Coba tengok kisah para pebisnis sukses. Sebanyak 74 persen para miliarder di Amerika Serikat (AS) mendapatkan kekayaannya dari bisnis yang mereka jalankan sendiri. Dan satu hal lagi, beberapa di antara mereka bahkan tak punya bisnis pada tahap awal kariernya.
"Kita tak perlu punya pengalaman bisnis saat akan memulai bisnis. Yang kita butuhkan adalah mempelajari berbagai hal yang diperlukan untuk menjalankan bisnis kita dan jangan lupa menjalankannya," papar Tracy.
Kedua, bangun karier dari passion kita. Passion (gairah, keinginan besar, atau kegemaran) merupakan faktor penting dalam menentukan sukses bisnis.Banyak pebisnis sukses yang memulai bisnisnya dengan menjual produk yang paling mereka sukai seolah-olah mereka akan menggunakannya sendiri. Sebagian lain memulainya dari hobi atau minatnya. Karena itu, untuk memulai bisnis pikirkan suatu produk atau jasa di mana kita bisa menyatu dengannya.
Ketiga, kita harus punya aset berharga. Aset di sini bukan uang. Menurut Tracy, aset terpenting yang harus dimiliki adalah energi, imajinasi, karakter, dan disiplin. Dengan keempat hal ini seseorang bisa bekerja dan menciptakan sesuatu. Bisa memutuskan sesuatu, berhadapan dengan konsumen dan membukukan penjualan. Ingat, bisnis kita adalah gambaran karakter dan kemampuan kita. Bahkan sebesar apapun suatu bisnis, itu menjadi gambaran siapa pemiliknya. Bisnis kita mengatakan pada dunia siapa kita sebenarnya! Setuju kan?
Sumber : Tim AndrieWongso.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:07:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, August 03, 2010
|
|
Tetaplah Maju
|
Tetaplah bergerak maju, sekalipun lambat. Karena dalam, keadaan tetap bergerak, anda menciptakan kemajuan. Adalah jauh lebih baik bergerak maju, sekalipun pelan, daripada tidak bergerak sama sekali.
Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya. Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat keberhasilan dibalik setiap masalah.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, eraman hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku! Sesaat kemudian, bukan kematian yang kita terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak akan menjadi seseorang yang sejati.
Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang bertubi-tubi.
Apa yang anda raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang anda lakukan terus menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda, maka anda harus memiliki ketekunan untuk berusaha. Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan di tengah tekanan yang dan kesulitan. Jangan hanya berhenti pada langkah pertama!
Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah yang menantang. Disitulah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan kebahagiaan.
Jangan terkecoh dengan keberhasilan seseorang. Di balik kejayaan selalu ada jalan panjang yang berisikan catatan perjuangan dan pengorbanan. Keringat dan kepayahan. Tak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan. Bila anda terpesona pada kenyamanan yang diberikan oleh kesuksesan, anda bisa lupa dari keharusan untuk berupaya. Namun bila anda terkagum pada ketegaran seseoarang dalam berusaha, anda akan menyerap energi kekuatan, keberanian dan kesabaran. Tak ada harga diskon untuk sebuah keberhasilan. Ada harga yang harus dibayar untuk meraih keberhasilan itu.
Berusahalah terus!
Mulailah dengan hal kecil, dan jangan berhenti. Bertumbuhlah, belajarlah, dan kembangkan pencapaian anda. Sukses bukan dicapai oleh orang yang memulai dengan hal yang besar, tetapi oleh orang yang memelihara momentumnya dalam waktu yang cukup panjang, hingga pekerjaannya menjadi karya besar.
Apapun yang anda lakukan, lakukanlah dengan kebaikan hati. Keberhasilan bukan semata-mata karena kekuatan otot dan ketajaman pikiran. Anda perlu bertindak dengan kelembutan hati. Sukses tidak selalu dibangun di atas upaya sendiri. Di balik semua pencapaian terselip pengorbanan orang lain. Hanya bila anda melakukannya dengan kebaikan hati, siapapun rela berkorban untuk keberhasilan anda.
Seorang bijak berujar. "Bila busur anda patah dan anak panah penghabisan telah dilontarkan, tetaplah membidik. Bidiklah dengan seluruh hatimu." Semua tindakan anda bagaikan bumerang yang akan kembali pada anda. Bila anda melempar dengan baik, ia akan kembali dalam tangkapan anda. Namun, bila anda ceroboh melemparkannya, ia akan datang untuk melukai anda. Renungkan bagaimana tindakan anda sekarang ini. Lakukan segala semuanya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Tiada yang lebih manis daripada memetik buah atas kebaikan yang anda lakukan
Semangat!
Salam sukses
Syane Marlina Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 3:03:00 PM
  |
|
|
|
| Monday, August 02, 2010
|
|
Usaha Perlu Modal?
|
Pertanyaan kebanyakan calon-calon wirausahawan adalah bagaimana saya bisa memulai wirausaha jika saya tidak punya modal? Atau saya hanya memiliki modal yang sedikit tetapi usaha saya perlu modal yang banyak, terus bagaimana?
Saat ini setidaknya tercatat 625 ribu sarjana menganggur di Indonesia, angka tersebut menunjukkan betapa timpangnya permintaan pekerjaan dan ketersediaan lapangan kerja. Ini juga merupakan alasan mengapa wirausaha itu sangat didukung di Indonesia belakangan ini. Beberapa contoh: PT Bank Mandiri Tbk menargetkan bisa menggaet pendaftaran 3.600 wirausaha Mandiri tahun ini lewat 11 kantor wilayah Bank Mandiri di seluruh Indonesia, Menkop UKM dalam seminarnya baru-baru ini menantang sarjana-sarjana untuk menjadi wirausahawan pemula dan kementerian koperasi UKM tersebut bersedia membantu jika ada keterbatasan dana.
Kita bisa melihat bahwa bila kita memulai berwirausaha, kita secara tidak langsung membantu menyediakan lapangan pekerjaan dan juga meningkatkan kualitas ekonomi di negara kita tercinta. Apakah kita masih bisa pesimis menghadapi situasi seperti ini, jika kita mengetahui alasan kita berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain dan juga negara kita?
Modal yang sebenarnya untuk mulai berwirausaha adalah keberanian untuk memulai, ide/konsep bisnis, komitmen, dan doa. Tuhan selalu memberikan ide-ide yang brilian, yang jika dikembangkan dengan baik akan menuai hasil yang luar biasa.
Rico Kurniawan Business Consultant (@Rico_kurniawan) http://ricokurniawan.posterous.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:48:00 AM
  |
|
|
|
|
|