| Beranie Gagal Commercial |
Cara Pasang Banner
|
| Donasikan Blog Ini |
|
|
| Beranie Gagal Award |
|
| Beranie Gagal Partners |

BERHADIAH 30 JUTA KLIK DISINI
|
| Hubungi Kami |
|
|
| Quote's Of The Day |
|
|
|
| Monday, January 31, 2011
|
|
Batu Besar
|
|
Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, "Okay, sekarang waktunya untuk quiz." Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?" Semua mahasiswa serentak berkata, "Ya!"
Dosen bertanya kembali, "Sungguhkah demikian?" Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, "Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, "Mungkin tidak."
"Bagus sekali," sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" "Belum!" sahut seluruh kelas.
Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, "Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?"
Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."
"Oh, bukan," sahut dosen, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan "batu besar" terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya."
Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda? Anak-anak anda; Pasangan anda; Pendidikan anda; Hal-hal yang penting dalam hidup anda; Mengajarkan sesuatu pada orang lain; Melakukan pekerjaan yang kau cintai; Waktu untuk diri sendiri; Kesehatan anda; Teman anda; atau semua yang berharga.
Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestin ya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.
Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: "Apakah "Batu Besar" dalam hidup saya?" Lalu kerjakan itu pertama kali."
IMPIAN = BATU BESAR
Life For Success
Salam Trainer,
HENDRY RISJAWAN www.hendryrisjawan.com
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 2:24:00 PM
  |
|
|
|
| Saturday, January 29, 2011
|
|
Fokus Pada Proses Bukan Pada Hasil
|
Akisah, ada seorang pandita sakti. Seperti biasa selalu saja ada orang yang datang mengunjunginya, entah apa yang mendorong mereka untuk rela menempuh perjalanan jauh, siang dan malam, menaiki gunung dan menuruni lembah yang tidak sedikit hanya untuk bisa berjumpa dengannya.
Tak lupa para murid menyiapkan kopi Bali yang rasanya sudah sangat terkenal kala itu, hasil olahan tangan-tangan trampil para murid senior mengikuti arahan sang guru. Di antara para tamu yang datang tampaklah seorang pemuda sederhana, berpakaian ala kadarnya namun bersih dan rapi. Dari raut mukanya tampak dia bukanlah pemuda seperti pemuda kebanyakan. Wajahnya tenang, tatapan matanya lembut tapi sangat tajam, menandakan dia bukanlah orang sembarangan. Pemuda ini sangat sopan, perilakunya santun dan menarik perhatian sang Pandita.
Sambil tersenyum sang guru mendekati anak muda itu. Mereka duduk berdampingan, kemudian bercakap-cakap dengan akrab seakan mereka telah bersahat bertahun-tahun, padahal hari itu adalah hari pertama mereka bertemu. Secara logika ada beberapa kemungkinan alasan kenapa mereka bisa sangat cepat akrab.
Pertama mungkin karena kehebatan sang guru dalam menerima setiap tamu yang datang, pandai dalam berbicara dan mengambil hati orang, menghargai setiap orang tidak dengan penampilan luarnya, sehingga sang pemuda menjadi tidak canggung untuk berkelakar.
Kedua, kemungkinan sang pemuda juga adalah orang yang berpengalaman dalam bergaul, sehingga mudah akrab dan mampu mengimbangi setiap topik pembicaraan yang diangkat oleh sang guru.
Kemungkinan ketiga, keduanya memiliki kesamaan baik dalam hal kesukaan, bakat, minat, aktivitas dan lain-lain. Kalo diperhatikan dengan seksama memang secara fisik keduanya ada kemiripan.
Sambil sesekali menegak kopi Bali, mereka berbincang-bincang dari hal-hal kecil hingga hal-hal yang menyangkut masalah hidup dan kiat-kiat mencapai kesuksesan dalam hidup. Tampaknya pemuda ini datang bukan untuk berguru menjadi seorang pandita. Hal itu terlihat dari pertanyaan yang diajukan pada sang guru,
"Sudilah kiranya pandita memberikan petunjuk pada hamba yang muda ini untuk mencapai hasil yang maksimal dalam setiap aktivitas yang dijalani?"
Sang Pandita mengelus janggutnya panjang. Beliau diam sejenak kemudian dengan tersenyum manis ia menatap sang pemuda sambil berkata:
"Anakku setiap orang pasti ingin berhasil dalam hidupnya, artinya dia berhasil dalam setiap aktivitas yang dijalaninya, keberhasilan ini bisa dicapai apa bila kita mampu menggunakan potensi/energi kita yang terbatas secara optimal. Tidak ada pencuri energi (thief energy) atau kebocoran-kebocoran energi (leak energy) dengan memfokuskan pada proses bukan pada hasil dari setiap aktivitas itu, maka pemanfaatan energi akan menjadi optimal, teguh menghadapi setiap tantangan yang datang berkunjung, hasil optimal pun akan mudah dicapai".
Sang pemuda termenung berusaha memahami yang dipaparkan sang guru. Dia menarik nafas pelan, kemudian menghembuskannya dengan pelan, mengikuti alur nafas secara alami tanpa berusaha untuk memaksa aliran nafas dalam dirinya. Pikirannya mulai terkonsentrasi dengan baik. Dia melanjutkan pertanyaannya:
"Guru, kalau kita tidak memfokuskan diri para hasil, apakah itu berarti kita tidak konsisten pada target, bukankah hasil baik yang ingin dicapai sesungguhnya adalah target/goal dari setiap aktivitas yang kita lakukan?"
Sang guru tersenyum kembali, Dengan pandangan lembut ia melanjutkan penjelasannya:
"Anakku, engkau benar hasil yang diinginkan itu adalah target yang dicanangkan, namun dengan memfokuskan diri pada proses yang sempurna sudah pasti hasilnya akan baik. Namun bila energi kita banyak terkonsumsi untuk hanya memikirkan hasil tanpa diiringi dengan praktik nyata hanyalah sebuah mimpi. Oleh karenanya, fokuskanlah energimu pada setiap proses, pusatkan pikiran untuk melakukan aktivitas dengan sebaik mungkin, hasil baik pasti akan datang. Karena sesungguhnya dalam proses itu kita bisa belajar banyak hal, kita bisa menemukan mutiara-mutiara hidup yang tersembunyi, kita bisa mengetahui kelemahan dan kelebihan kita."
Demikian pula dalam Gita V-12 dikatakan: Seorang pengabdi mencapai kedamaian dengan melepaskan keterikatan hasil kegiatan kerja, tetapi mereka yang tidak menyatukan jiwanya dengan yang illahi, didorong oleh keinginan-keinginan dan terikat dengan hasil kegiatan kerja sehingga mereka terbelenggu.
Orang yang terbelenggu akan sulit bergerak apalagi berlari dan terbang, oleh karenanya marilah kita pusatkan energi dan pikiran kita pada proses, bagaimana melakukan setiap aktivitas dengan sebaik mungkin, hasilnya kita pikirkan ataupun tidak pasti akan datang.
Salam sukses dan damai selalu,
Made Mariana Abu Dhabi - UAE http://www.singajara.wordpress.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 4:36:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, January 25, 2011
|
|
Harimau dan Prajurit
|
Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja mempunyai kegemaran yang tidak lazim, yakni mengukur kekuatan prajuritnya dengan cara mengadu mereka di arena aduan dengan binatang buas yang kelaparan. Banyak tentara yang mati sia-sia karena kesenangan yang mengerikan dari raja mereka. Tetapi, tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Karena, menentang perintah raja berarti mati! Maka setiap kali hari aduan tiba, pasti akan ada korban meninggal di sana.
Suatu ketika, hari aduan kembali tiba. Telah disiapkan seorang prajurit dan seekor harimau yang sedang kelaparan. Dari kejauhan, terdengar suara raungan marah dan kelaparan si harimau sehingga membuat siapa pun yang mendengar menjadi ciut nyalinya, apalagi si prajurit yang akan diadu. Sang prajurit pun hanya bisa berusaha mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar ia tak sekadar jadi mangsa empuk si harimau lapar. Setelah sang raja duduk di tempatnya, si prajurit pun melangkah memasuki arena aduan dengan kepasrahan sembari berdoa, siapa tahu keberuntungan memihaknya hingga tak perlu meregang nyawa. Tak berapa lama, pintu kandang harimau pun dibuka. Segera si harimau mengaum sambil melangkahkan kakinya masuk ke arena dengan sikap waspada.
Beberapa saat, aroma ketegangan pun menghiasi suasana. Si prajurit segera menyiapkan diri untuk mempertahankan diri dari serangan harimau. Namun, sebuah keanehan terjadi. Harimau yang terlihat ganas bukannya segera menyerang dan siap memakan mangsanya, tetapi dia malah berputar mengendus-endus mengitari si prajurit tanpa menunjukkan sikap bermusuhan sama sekali.
Anehnya lagi, harimau justru berusaha mendekat ke prajurit yang tadi sudah siap melawan harimau. Prajurit makin terheran dengan tindakan harimau yang lantas menjulurkan lidahnya dan menjilat kaki si prajurit tanpa bermaksud menyakiti sedikit pun. Arena aduan pun menjadi heboh.
Raja segera memerintahkan membawa si prajurit ke hadapannya. "Hai prajurit! Apa yang telah kamu lakukan kepada harimau kelaparan itu sehingga dia tidak melahapmu, malah seakan dia tunduk dan menghormatimu? Ilmu apa gerangan yang kamu pakai? Segera beritahu rajamu ini," perintah sang raja.
"Ampun baginda. Hamba juga tidak mengerti apa yang terjadi. Hamba hanya pasrah sembari bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi. Tetapi, setelah melihat harimau yang tiba-tiba mendekati tanpa terlihat ingin menyerang, hamba juga segera menghentikan niat hamba mempertahankan diri.
Saat itu, kemudian hamba teringat sebuah peristiwa. Dahulu sekali, hamba pernah menyelamatkan dan mengobati seekor harimau kecil yang sedang diburu dan terluka. Dan sangat mungkin, harimau kecil itu adalah harimau yang sama yang ada di arena tadi. Kebaikan masa lalu yang telah hamba perbuat dan tidak pernah hamba ingat, ternyata telah menyelamatkan hidup hamba hari ini."
Pembaca yang luar biasa,
Kisah di atas adalah gambaran nyata dari pepatah "kita menuai apa yang kita tanam." Dan, meski cerita tadi sulit dipercaya, tetapi peristiwa semacam itu bisa terjadi di kehidupan nyata. Semua hal tersebut berhubungan dengan hukum universal tentang sebab akibat. Walaupun kita telah lupa pernah berbuat baik kepada orang lain, tetapi hukum Tuhan tidak akan lupa. Kita pasti akan menerima kebaikan-kebaikan yang sepadan, bahkan melebihi apa yang pernah kita lakukan.
Begitu juga sebaliknya. Kita boleh saja lupa pernah berbuat jahat pada orang lain. Namun, bila saatnya telah tiba, kita pasti akan menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatan kita. Hal tersebut sejalan dengan keyakinan dan ajaran yang harus kita praktikkan, yaitu menjauhkan diri dari berbuat kejahatan yang merugikan orang lain dan selalu berbuat baik dan membantu sesama makhluk.
Untuk itu, mari terus menanamkan benih kebaikan di setiap kesempatan yang ada, baik pada lingkungan terdekat kita maupun pada sesama. Niscaya, kita akan mampu menjalani hidup dengan penuh kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan.
Penulis : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 8:44:00 AM
  |
|
|
|
| Monday, January 24, 2011
|
|
Miliki Harapan
|
Vince Lombardi (1913-1970), seorang pelatih American Football, pernah berkata: "Kami tidak kalah, kami hanya kehabisan waktu!"
Kalau direnungkan, ucapan Lombardi mempunyai makna sangat dalam yaitu kita tidak boleh menyerah salama waktu masih memungkinkan. Yang artinya, sejauh masih ada waktu, maka masih ada HARAPAN. Selama masih ada harapan, maka masih besar pula peluang terjadinya kesuksesan dalam karir dan keluarga. Kalau kita sudah tidak lagi memiliki waktu, maka berarti sudah habislah semuanya..
Albert Einstein (1879-1955), ilmuwan ternama, bahkan berkata, "Saya tidak lebih pintar; saya hanya bertahan lebih lama mengatasi masalah!"
Di dalam HARAPAN, segala sesuatu masih mungkin dan kita punya segala energi untuk tetap melaju!
Selama masih ada waktu, masih ada harapan; dan teruslah berjuang untuk meraih kesuksesan hidup. Jangan menyerah karena keajaiban ada setiap hari.
Milikilah HARAPAN!
Penulis : Tim AndrieWongso.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 8:08:00 AM
  |
|
|
|
| Thursday, January 20, 2011
|
|
Kisah 5 Orang ‘Bodoh’ yang Paling Sukses di Dunia
|
Orang sukses yang saya maksudkan di sini bukan mereka-mereka yang baru dapat seragam perusahaan lantas sudah menulis “dompet saya tebal” di status facebook mereka. Orang-orang sukses ini adalah mereka yang lebih banyak bertindak daripada berbicara dan lebih banyak berusaha daripada mengumbar..
Kesuksesaan orang-orang ini bukan dalam bentuk kebanggaan status sosial atau kebanggaan sebuah seragam, dan karena itu awal karir mereka dipenuhi orang-orang yang meledek mereka ‘bodoh’. Tapi orang-orang ini dengan sukses mengalahkan semua rintangan yang menghalangi mereka dari keberhasilan, dan tentunya keberhasilan mereka ini diikuti dengan nominal penghasilan yang gila-gilaan! Yang oleh kebanyakan orang hanya bisa didapatkan lewat mimpi.1) Bill Gates William Henry Gates III alias Bill Gates adalah orang terkaya dunia selama 13 tahun berturut-turut sejak 1995 sampai 2007. Dia adalah ketua umum perusahaan perangkat lunak Amerika Serikat, Microsoft Corp. Pada dasarnya, si Bill Gates ini memang anak yang cerdas. Gates belajar di Lakeside School, sekolah elit yang paling unggul di Seattle, dan meneruskan berkuliah di Universitas Harvard. Lalu kenapa orang meledek dia bodoh? Karena Bill Gates gagal menyelesaikan kuliahnya di Harvard dan harus di DO alias Drop-Out. Saya ulangi.. di DROP-OUT! Tidak usah jauh-jauh lah, bayangkan saja apa kata orang tua dan orang-orang di sekitar anda bila anda harus kena DO dari kampus. Pasti banyak bunyi sumbang seperti: ‘Ah dasar memang dianya malas’, ‘Ah dasar memang dia bodoh’, ‘Ah, dasar memang dia ndak bakat jadi orang sukses’ dan lain-lain. Itu karena kebanyakan orang berkuliah bukan untuk mendapat ilmu, tapi untuk dapat titel. Bill Gates, harus mengorbankan kuliah dan kesempatannya mendapat titel untuk fokus kepada penulisan Microsoft BASIC, bahasa komputer terjemahan yang utama untuk sistem operasi komputer MS-DOS, yang akhirnya menjadi kunci pada kesuksesan Microsoft. Sekarang, jumlah kekayaan Bill Gates diperkirakan sebesar 18 trilliun dollar, yang belum juga bisa dibandingkan dengan pendapatan 20 orang pejabat korup terhormat dengan titel-titelnya yang sepanjang 10 senti.. Makan tuh titel. 2) Adam Khoo Si Adam Khoo ini adalah seorang berkebangsaan Singapura. Beda dengan Bill Gates, si Adam Khoo ini memang terkenal ‘batu’, terutama dalam hal akademis. Saking gebleknya, dia sudah dikeluarkan dari sekolah di kelas 4 SD. Sesusah apa sih pelajaran di kelas 4 SD sampai harus dikeluarkan? Jadinya dia masuk ke SD terburuk di Singapura untuk terus melanjutkan sekolah. Saat pendaftaran masuk SMP, dia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana. Akhirnya, lagi-lagi dia harus masuk ke SMP terburuk di Singapura untuk melanjutkan sekolah. Dengan prestasi akademis yang kerdil ini, wajar saja dia menjadi bahan tertawaan teman-teman sejawatnya waktu itu. Tapi kekurangaanya di dunia akademis tidak membuntukan ketajamannya di bidang bisnis. Adam Khoo memulai bisnisnya sejak umur 15 tahun. Kini dia bergerak di bidang bisnis training dan seminar. Bahkan di saat usianya baru 22 tahun, Adam Khoo sudah menjadi trainer tingkat nasional di Singapura dengan bayaran $10.000 perjam! Bayangkan saja, di umur 22 tahun saat semua orang masih disibukkan dengan ngeband, kuliah, dan mendaftarkan diri di bank-bank swasta, Adam Khoo yang dibilang bodoh sudah menghasilkan 100 juta rupiah perjam! Kini di usia 26 tahun, dia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset US$ 20 juta per tahun. Lalu bagaimana dengan teman-teman sejawatnya yang dulu meledek nilai akademis Adam? Menelan ludah! Makan tuh nilai akademis. 3) Mark Zuckerberg Nama panjang orang ini memang bisa membuat lidah keseleo, jadi anda pasti setuju kalau saya cukup memanggilnya Mark saja. Nah, siapa si Mark ini? Anda pasti sudah akrab kan dengan situs jejaring sosial bernama Facebook tempat dimana anda berhubungan dengan kolega, atau tempat anda berusaha mencari jodoh, atau sekedar untuk memajang foto anda dengan narsisnya. Nah, Facebook adalah mesin pencetak uang bagi si Mark. Mark adalah pembuat situs Facebook dan sekarang masih menjabat sebagai CEO jejaring sosial tersebut. Mungkin anda pernah bertanya: “Kok Facebook didominasi warna biru mulu ya?” Itu karena si Mark ini ternyata buta warna hijau dan merah, dan warna terbaik yang bisa dia lihat hanya warna biru. Lalu kenapa dia pernah dibilang bodoh? Karena si Mark nekat mengikuti jejak seniornya Bill Gates, yaitu di DO alias Drop-Out dari Harvard University. Tapi di DOnya dia bukan karena keasyikan dengan organisasi kampus atau sibuk ‘boya’ cewek-cewek junior, tapi sibuk mengembangkan situs jejaring sosial ini. Di saat teman-teman kampusnya masih sibuk dengan pertanyaan ‘Saya diterima kerja apa tidak ya?’, si Mark sudah menjadi milyarder termuda dalam sejarah, dan itu karena usahanya sendiri dan bukan karena warisan nenek moyang. 4) Thomas Alfa Edison Kisah hidup Thomas Alfa Edison memang sangat mengharukan. Waktu kecil saya pernah meminjam buku otobiografi Thomas di sebuah perpustakaan umum, dan buku itu selalu berhasil membuat saya menangis. Karena selain kisahnya yang memang mengharukan, bukunya juga terlalu tebal hingga saya terkadang menangis karena kelelahan membaca..bleh. Siapa yang menyangka kalau sang penemu lampu adalah seorang yang agak tuli dan hanya mengenyam pendidikan formal selama 3 bulan? Ketika berumur 4 tahun, Thomas Alfa Edison pulang ke rumah dengan membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya kemudian membaca kertas tersebut: “Tommy, anak Ibu, sangat bodoh. Kami minta Ibu mengeluarkannya dari sekolah,” Tapi apa yang terjadi? Dengan bimbingan Ibunya, Thomas Alfa Edison dengan leluasa dapat membaca buku-buku ilmiah dewasa dan mulai mengadakan berbagai percobaan ilmiah sendiri. Di usianya yang relatif muda, Thomas sudah berhasil mengukuhkan temuan-temuannya. Hingga akhir hayatnya, Thomas tercatat memegang rekor 1.093 temuan paten atas namanya. Penghasilannya dari temuan-temuan tersebut pun lebih dari cukup untuk mendirikan perusahanya sendiri. Pada tahun 1928 dia menerima penghargaan berupa sebuah medali khusus dari Kongres Amerika Serikat atas semua temuan-temuan yang telah dia patenkan. Lalu nasib si guru yang dulu mengatai Thomas bodoh lewat suratnya? Boro-boro dapat penghargaan, namanya pun tidak pernah terdengar.. 5) Abraham Lincoln Abraham Lincoln juga adalah salah satu contoh orang yang sukses dalam meladeni kegagalannya. Bayangkan saja, beliau mengalami kegagalan demi kegagalan dalam hidupnya selama 20 tahun! Gagal dalam bisnis pada tahun 1831. Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832. Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun1833. Mengalami patah semangat pada tahun 1836. Gagal memenangkan kontes pembicara pada tahun 1838. Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840. Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843. Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848. Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855. Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856. Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858. Kira-kira apa yang akan terjadi pada anda bila mengalami kegagalan demi kegagalan terus menerus selama puluhan tahun? Saya pribadi cuma punya 2 jawaban: Menyerah, atau gila. Wajar saja banyak yang menganggap dia bodoh jika terus memaksakan dirinya berada di dunia politik. Tapi kegagalan Abraham Lincoln dalam dunia politik tidak lantas membuat dia menyerah dan membuka counter pulsa kecil (karena memang handphone saja belum ada), dia terus maju walaupun pada tahun 1836 pernah terpuruk karena kegagalan-kegagalannya. Abraham Lincoln berhasil menjadi presiden Amerika ke -16 pada tahun 1980 dan juga sebagai salah satu Presiden tersukses dalam memimpin bangsanya, menghentikan perang saudara Amerika, dan menghapuskan perbudakan. Lalu apa yang bisa kita pelajari dari para ahli sukses di atas? Keberhasilan hanya bisa diraih dengan bertahan dari kegagalan. Dalam proses pencapaian kesuksesan, akan banyak rintangan dari luar, termasuk caci maki dari orang-orang anti-sukses disekitar anda. Tetaplah berani untuk menempuh jalan yang berbeda dari kebanyakan orang, dan tetap percaya pada potensi dan impian anda.. Maka sukses hanya soal waktu. Life For SuccessSalam Trainer, HENDRY RISJAWANwww.hendryrisjawan.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:51:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, January 19, 2011
|
|
Sriyono, Mantan Miliarder yang Kini Jadi Pria Pink Penjual Siomay Keliling
|
Jalan hidup tak bisa ditebak. Sriyono, seorang mantan miliarder, kini berjualan siomay keliling. Namun, berkat penampilannya yang eksentrik, predikat miliarder itu tampaknya bakal kembali disandangnya.
Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat Sriyono terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.Minggu lalu (16/1) INDOPOS menelusuri rute jualan Sriyono di kawasan kelas menengah ke atas di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan, tak ada orang yang tahu namanya. Tapi, ketika disebut nama Siomay Pink (barang dagangan Sriyono), kebanyakan warga yang ditemui mengenali. Mulai sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak. Siomay Pink juga menjadi identitas pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu di dunia maya. Mesin pencari Google menyebut 83.500 hasil yang merujuk pada usaha siomay yang dijalankan Sriyono sambil berkeliling di atas sepeda pink. Sriyono menjadi topik hangat di kalangan komunitas entrepreneur. Sebab, selain berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serbapink, kegigihannya dalam berwirausaha menjadi inspirasi tersendiri. ’’Mungkin karena saya dianggap nyentrik. Itu saja. Tapi, entahlah, saya nikmati saja momen-momen ini,’’ ujarnya sambil melayani pelanggan. Dia pun meracik bumbu siomay dari panci pink yang terikat di belakang sepeda pink yang telah dimodifikasi dengan sejumlah kotak kayu yang juga berwarna pink. Di depan sepeda itu terdapat dua keranjang pink dengan dua teddy bear pink terduduk di dalamnya.  Sriyono juga mengenakan kaus pink, bercelana pendek pink, topi pink, serta jam dan bahkan anting pink Namun, di balik penampilan nyentrik itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang cukup berliku. Kisah sukses Sriyono dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran Klaten, 21 Juli 1954, tersebut merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka. Dialah yang mengajari Sriyono membuat siomay. Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan dengan beberapa teman. Berbagai cara ditempuh untuk membesarkan usaha tersebut. Mulai membikin armada siomay sepeda keliling sampai mendirikan warung-warung kecil. Puncak sukses diraih pada 1996 ketika dirinya berhasil membuat outlet di salah satu mal elite di ibu kota, yakni Plaza Senayan. Sriyono adalah pendiri dan pemilik outlet Siomay Senayan dengan beberapa cabang. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Sriyono mengenang, tinggal di ibu kota dengan duit melimpah ketika itu bagai hidup di surga. Bahkan, bisnisnya sangat kuat sehingga ketika krisis 1998 menerpa modalnya tidak berkurang. Tapi, dia justru masih bisa mendirikan outlet di beberapa tempat lain. April 1999, Sriyono memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan menikahi putri seorang polisi. Pernikahan yang tidak direstui orang tua sang istri itu kemudian menjadi bom waktu bagi kehidupan Sriyono. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus muncul sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang. Ketika itu, dia menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai siomay di puluhan gerai KFC di Jakarta yang ketika itu memiliki menu khusus siomay. Namun, persoalan rumah tangga yang tak kunjung selesai pelan-pelan membuat manajemen bisnisnya kolaps. Akhirnya, Sriyono terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan dan usahanya pun gulung tikar. Awal 2004, setelah 4 tahun 7 bulan berumah tangga dan dikarunia dua anak, yakni Peksi Safira Miradalita (kini 11 tahun) dan Pramesti Dewi Angelita (kini 10 tahun), sang istri menggugat cerai Sriyono. ’’Saya ingat. (Saat itu) hanya baju yang melekat di badan yang saya miliki,’’ kenangnya sambil menerawang. Setelah perceraian, sang istri kemudian mengasingkan diri dan membawa serta dua anak Sriyono. Sejak itu dia pun tidak pernah lagi bertemu dua buah hatinya. Dalam kondisi bangkrut, Sriyono sempat ditampung mantan rekan-rekan bisnisnya. Dia pun sempat mendapat bantuan modal dan berusaha merintis lagi usaha siomay kelilingnya mulai nol dengan konsep awal, yakni belasan armada siomay keliling. Tapi, pada 2008, usaha itu lagi-lagi bangkrut. ’’Saya selalu ingat anak saya dan rindu yang tidak tertahan membuat saya sulit berkonsentrasi,’’ katanya. Kegagalan kali ini membuat Sriyono tertekan. Dia pun memilih menjadi gelandangan dan tinggal di jalanan kotakota Jakarta. Tiap malam, dia tidur berpindah- pindah, dari halte bus ke kolong jembatan dan dari pinggir jalan ke masjidmasjid. Hingga 2009, Sriyono memilih menetap di Masjid Al Bina di kawasan Senayan. Setelah beberapa minggu tinggal di sana, tiba-tiba dia mendapat bantuan modal dari seorang jamaah pengajian yang mengetahui latar belakang dirinya sebagai pengusaha siomay. ’’Waktu itu saya diberi modal Rp 1 juta untuk memulai bisnis lagi,’’ katanya. Awal 2010, Sriyono pun sudah memiliki gerai siomay di mal Pasaraya Blok M yang bernama Siomay Maestro. Namun, lagi-lagi karena tinggal kesepian dan rindu kepada dua buah hatinya, konsentrasinya dalam berbisnis terganggu. Dia pun kembali bangkrut. Sampai saat ini, Sriyono masih berutang kepada manajemen Pasaraya Rp 13 juta. Di ambang keputusasaan, sebulan menjelang bulan puasa 2010, dia memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik. Diharapkan, ketika dia menjadi eksentrik, sang anak akan mengetahui dan dirinya dapat bersua dua buah hatinya setelah lima tahun berpisah tanpa kabar itu. Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan. Pernak-pernik pink pun dikenakan untuk berdagang keliling. Dia juga berusaha tampil di setiap momentum di mana publik Jakarta banyak yang berkumpul. Sriyono akhirnya dijuluki ’’maskot’’ dalam even Hari Bebas Kendaraan alias Car Free Day yang diberlakukan sebulan sekali di jalan protokol Jakarta. ’’Semakin banyak orang yang kenal saya, kesempatan untuk bertemu kembali dengan anak saya semakin besar,’’ katanya. Tapi, usaha tampil nyeleneh itu tidak semudah yang dia bayangkan. Setiap hari, bahkan sampai sekarang, Sriyono harus rela menjadi bahan ejekan orang-orang yang lewat. Tak jarang perkataan mereka sangat pedas dan menusuk hati. Tak sedikit yang mengira Sriyono adalah seorang waria yang nyambi berjualan siomay saat siang dan ’’berpraktik’’ saat malam. Tapi, demi menemukan sang anak, hinaan dan cacian itu ditanggapi dengan se-nyum dan hati ikhlas. Bahkan, kini dia sudah memiliki 34 kaus pink, 18 pasang sandal pink, 12 topi pink, 3 jam pink, 3 pasang kacamata pink, kalung pink braces, anting-anting pink, dan tiga pasang sepatu pink. Upaya tampil eksentrik itu membuahkan hasil ketika dirinya muncul sebagai topik di Twitter dan BlackBerry Messenger. Popularitasnya menanjak ketika kisah usahanya dipublikasikan di situs kaskus.us. Pertengahan Desember 2010, sebuah koran berbahasa Inggris di Jakarta memuat foto Sriyono dengan full aksesori pink. Hasilnya, pekan lalu, awal Januari 2010, sebuah televisi nasional berhasil mempertemukan Sriyono dengan sang anak. ’’Waktu itu, rasa senangnya tak terhingga. Saya bersyukur mereka mengakui saya sebagai bapak, walaupun mereka memiliki ayah tiri warga Inggris yang kaya,’’ ujarnya, kali ini sambil terisak. Tampil di televisi mendatangkan keuntungan bagi usaha Sriyono. Dalam dua pekan terakhir, omzet berjualan keliling yang biasanya hanya Rp 200 ribu per hari naik lima kali lipat menjadi Rp 1 juta per hari. Banyak pesanan dalam jumlah besar sehingga pendapatan berjualan berkeliling terdongkrak. Sejak pekan lalu, seorang pengusaha getol menawari Sriyono untuk membuka franchise siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta. Dia juga mendapat tawaran untuk bermain sinetron. Rundown jadwal casting oleh sebuah rumah produksi juga sudah di tangannya. Lalu, apa yang akan dilakukan sekarang? Sriyono menyatakan, dirinya masih berencana meneruskan usaha berjualan dan akan membuka warung kecil di Jalan Otto Iskandar Muda, Jakarta. Dia fokus meraih sukses lagi dengan Siomay Yo Pink itu. ’’Saya ingin anak saya bangga dengan bapaknya si penjual siomay berkaus pink ini. Saya akan bangkit demi putri-putri saya,’’ ujarnya lantas tersenyum. Sumber: indopos.co.id Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 12:17:00 PM
  |
|
|
|
| Tuesday, January 18, 2011
|
|
Tiga Tipe Orang Dalam Berhubungan Dengan Orang Lain
|
1. Tipe orang yang memberi energi
Orang semacam ini selalu menyegarkan kelelahan, memberikan stimulan dengan semangat dan gagasan-gagasan baru. Tidak mudah tersinggung dan selalu berusaha melakukan lebih daripada yang diharapkan. Tipikal orang seperti ini tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dan lingkungan yang mungkin memprovokasinya dan bukan orang yang senang menjilat. Mereka adalah orang – orang yang kuat berpendirian teguh, pola pikir yang matang, berani mengambil resiko dengan segala kemungkinan yang terukur dan mampu memilah dengan benar mana hal – hal yang negatif dan mana hal – hal yang positif. Orang ini memiliki kelembutan jiwa yang benuh belas kasih, kepedulian dan keikhlasan. Mereka tidak berusaha menjatuhkan lawan mereka melalui perdebatan terbuka atau argumentasi yang kasar, menjelekan- jelekkan orang lain, mengadu domba dan bermuka dua. Orang ini boleh saja memiliki argumentasi yang berbeda dengan orang lain, namun selalu menghormati perbedaan sebagai sebuah kekayaan ide untuk menemukan hal-hal yang lebih baik dan positif.
2. Tipe orang yang membantu mempertahankan energi
Orang ini selalu memberikan sesuatu dengan apa adanya pada waktu dibutuhkan, orang ini selalu berkontribusi sesuai dengan apa yang mereka terima, orang seperti ini akan melakukan apa yang diminta dengan sepenuh hati. Mereka bukan saja menghendaki umpan balik tapi juga mau dipimpin dengan baik. Mereka paham betul akan tugasnya adalah melaksanakan peranannya dalam sebuah tim. Orang ini membantu dalam melaksanakan tugas dan peranan orang lain, orang ini adalah rekan kerja yang menyenangkan dan sahabat sejati, dia akan menemani baik suka maupun duka. Orang seperti ini akan selalu sabar dan tekun dalam menjalani proses organisasi maupun proses kehidupannya.
3. Tipe orang yang menghabiskan energi
Apabila melihat orang ini datang ataupun lewat dihadapan Anda tanpa sadar Anda akan berkata “ Wah Si Biang Kerok Lewat! “. Mungkin Anda tidak tahu masalah apa yang akan ditimbulkan, tapi Anda sangat yakin bahwa akan terjadi sebuah masalah, mengapa? karena memang selalu demikian jika orang ini ada dalam tim kita. Mereka membuat lelah secara emosional, mereka selalu membawa masalah dan tidak pernah ada penyelesaian dan jalan keluar. Jika tidak ada masalah, mereka menciptakannya.
Orang seperti ini mudah dikenali, orang seperti ini akan menyerang Anda secara frontal, melindas orang lain, mematikan semangat kelompok dan membuat lingkungan menjadi tidak nyaman. Mereka tidak ingin melihat sebuah perubahan sedikitpun jika tidak menguntungkan untuk mereka. Orang seperti ini akan selalu menghambat dan mempersulit proses kerja.
Siapakah ANDA? Mari membangun tim dengan spirit yang baru dan segar.. Sampai jumpa dalam artikel yang berbeda..
Salam Sukses,
Guguh Unggul Satriadi Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 1:56:00 PM
  |
|
|
|
| Sunday, January 16, 2011
|
|
Berpikir Keseluruhan, Berani Bertindak, dan SEKARANG!
|
Netter yang budiman,
Perhatikan! Umumnya di sekeliling kita ada orang-orang yang apatis dan tidak mau bertindak apa-apa. Mulai dari pedagang kecil sampai orang yang berkuasa di pemerintahan Indonesia ini.
Apa sebabnya? Sebab utama adalah :
1. Hanya berpikir sepotong-sepotong. Jika ada suatu pandangan selalu diklaim : "Ah itu kan hanya satu kejadian, belum tentu terjadi pada saya."
2. Ketika ditanya suatu solusi, maka jawaban yang pasti adalah "Wah saya pun tidak tahu dan bingung untuk menjawabnya."
3. Ketika dituntut kapan penyelesaian suatu pekerjaan, maka jawaban yang pasti adalah "Entar! Dikasih tahu atau di SMS!"
Dari ketiga sebab di atas tersebut,saya berharap para netter tidak perlu kaget, hasil kerja tidak maksimal dan korupsi uang dan waktu terjadi. Tapi ini bisa terjadi karena sekeliling kita hanya diliputi oleh orang-orang yang berkapasitas rendah dan bermental buruk.
Bayangkan, sekarang ini setiap komputer memiliki kapasitas sudah di atas 5 GB. Bagaimana kita dapat menyelesaikan pekerjaan jika komputer kita hanya memiliki kapasitas 520 Megabytes? Yang pasti, kita tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan frustrasi terjadi dalam diri kita.
Itulah yang terjadi di sekitar kita.
Oleh sebab itu, netter yang budiman, tingkatkan kapasitas kita dengan melihat secara keseluruhan, berani bertindak, dan SEKARANG!!!
Salam sukses luar biasa!
Debbie Sianturi Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:34:00 PM
  |
|
|
|
|
|
Menciptakan Kehidupan yang Indah
|
Hidup ini tidak pasti, tidak ada jaminan. Siapa orang yang bisa tahu apa yang akan terjadi besok? Lalu kenapa harus mencemaskan hari esok! Banyak orang yang mencemaskan masa depan dan mulai merencanakan masa depan namun merugikan masa kini yang sebetulnya jauh lebih berharga.
Saat ini adalah satu-satunya waktu yang sangat berharga. Bila seseorang mengorbankan masa sekarang - mengisinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak penting - sebetulnya sama saja dengan menggorbankan kebahagiaannya sendiri. Jadi nikmatilah saat ini dan berbuatlah sesuatu yang bermakna bagi diri Anda dan orang lain di sekeliling Anda. Untuk mengisi hidup yang indah dan bahagia di masa sekarang dan masa depan cobalah untuk mempraktikkan langkah-langkah di bawah ini:
1. Hayatilah hidup setiap hari sepenuh-penuhnya. Isilah hari Anda hari ini dengan sesuatu yang bermanfaat, dan mengembirakan serta memberikan dampak positif bagi diri Anda dan orang-orang di sekitar Anda.
2. Tetapkan sasaran untuk setiap hari. Lakukan sesuatu yang benar-benar Anda sukai dan menggembirakan bagi Anda. Kalau hari ini Anda ingin berkebun, lakukan saja, tidak usah mendengarkan omongan orang lain. Jangan takut kalau ada orang menganggap apa yang Anda kerjakan itu (misalnya) hal yang sepele; kalau itu ada artinya bagi Anda, itulah yang penting.
3. Katakan kepada diri sendiri bahwa Anda punya hak untuk berbahagia. Banyak orang terlalu khawatir dan cemas mendengar apa yang disampaikan oleh orang-orang di sekelilingnya. Jangan membiarkan orang lain membuat Anda khawatir dengan pikiran mereka yang negatif. Anda harus menyaring semua informasi yang ingin Anda masukkan ke dalam pikiran. Dan putuskan hanya yang baik bagi diri Anda yang Anda izinkan untuk disimpan dan diingat.
4. Sisihkan waktu beberapa jam untuk rileks setiap hari. Jangan pelit memberi makan kepada jiwa dan hati Anda. Lakukan hal-hal yang memberi Anda kedamaian jiwa dan membebaskan Anda dari masalah hidup. Luangkan waktu untuk relaksasi, meditasi, rekreasi, dan bersosialisasi. Karena semua ini akan memberikan kesegaran bagi pikiran, emosional, dan jiwa Anda.
5. Terimalah diri sendiri seperti apa adanya. Terimalah semua kekuatan dan kelemahan diri Anda apa adanya dan tidak mencoba untuk menjadi orang lain. Dengan menerima diri sendiri apa adanya, akan muncul rasa kecukupan hati di dalam diri Anda, dan Anda akan menjadi diri sendiri dan menemukan kebahagiaan.
Pembaca yang budiman, setiap orang bisa menciptakan kehidupan yang indah, karena sumber daya untuk ini telah tersedia di dalam diri kita. Jika Anda menginginkan kehidupan yang indah, ikutilah dan praktikkan saran-saran di atas. Key pointnya adalah "Jangan hidup untuk hari esok." Hiduplah untuk hari ini sepenuh-penuhnya..!! Salam Bahagia dan Sejahtera.
Soegianto Hartono Pelatih dan Konsultan Citra Diri Sukses HP: 0813 - 64808061atau0857 - 653 - 64838 Email: soe_hartono@hotmail.com Blog: www.soegiantohartono.blogspot.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:29:00 PM
  |
|
|
|
|
|
Habiskan Jatah Gagalmu!
|
Apa yang akan Anda lakukan seandainya Anda diberikan jatah makanan sebanyak lima piring nasi? Kira-kira, jumlah itu sudah cukup untuk Anda, terlalu banyak ataukah kurang?
Andai terlalu banyak, apakah Anda memang harus menghabiskan semuanya? Bila kurang, apakah Anda tidak bertanya kepada diri sendiri, jangan-jangan memang diri Anda terlalu rakus?
Anda mungkin akan berpikir lagi, bisa jadi jatah itu sudah cukup bagi Anda. Jatah itu sudah sesuai. Kalau Anda memakan lebih daripada jatah itu, ada kemungkinan Anda akan mengalami masalah, misalnya: perut kembung, lemas dan menjadi cepat mengantuk. Tentu hal itu akan mengganggu. Jika Anda memakan kurang dari jumlah itu, maka Anda mungkin akan merasa kelaparan dan tidak akan cukup energi yang dibutuhkan gerak dan kerja Anda. Jatah itu sudah diperhitungkan. Nah, seperti itulah prinsip dari jatah Anda dan masing-masing orang. Sekarang, bagaimana kalau kita berbicara mengenai kegagalan? Sepertinya kata ini sudah menjadi momok bagi banyak orang. Kegagalan dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan, menakutkan, menyeramkan, bahkan menjijikkan. Sebegitu buruknya kata tersebut hingga kita berharap tidak bertemu dengannya. Kita ingin hidup kita selalu berhasil dan tanpa kegagalan. Persepsi ini sungguh sangat salah dan menyalahi kodrat kita sebagai manusia. Kalau ada yang selalu berhasil dan tidak pernah gagal, maka itu adalah Tuhan Yang Mahakuasa. Manusia adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya tanpa kuasa dari Tuhan. Jadi, manusia pasti akan menemui kegagalan, bagaimanapun bentuk, waktu dan keadaannya.
Dalam masyarakat kita, seseorang yang gagal seringkali dianggap sebelah mata. Seolah-olah dia adalah manusia hina. Oleh karena itu, kita mungkin sering mengolok-ngoloknya. Mungkin pula kita berbuat seperti itu karena kita "sayang" kepadanya. Kita kasihan kepada orang yang gagal dalam bisnis sehingga uangnya habis. Kita kasihan kepada orang yang mengalami kegagalan dalam rumah tangganya.
Ah, benarkah kita kasihan terhadap mereka? Lalu kita mengatakan untuk menyudahi usahanya, daripada gagal lagi. Apakah itu termasuk nasihat? Jangan-jangan, yang kita keluarkan itu bukan kalimat nasihat, melainkan justru racun! Ya, racun yang membuat mereka terus berpikir tentang kegagalannya. Meratapi nasib. Menyalahkan orang lain. Bahkan menyalahkan Tuhan. Membuat mereka berpikir ulang untuk bangkit lagi karena siapa tahu kegagalan yang lebih besar memang benar akan ditemui. Akhirnya, daripada bertemu dengan kegagalan, lebih baik tidak melakukan apa-apa. Tidak ada risiko. Semuanya aman-aman saja.
Padahal, jika dihubungkan dengan jatah seperti yang dibahas di awal tadi, kita ini sebagai manusia sebenarnya sudah diberikan jatah kegagalan oleh Tuhan. Ada yang banyak, ada pula yang sedikit. Tuhan Maha Adil. Jatah kegagalan diberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing orang. Tidak ada kedholiman dalam hal itu.
Jadi, bila kita suatu saat menemui kegagalan, lebih baik kita berpikir positif saja. Ini kegagalanku yang keberapa? Jika kita merasa masih sedikit mengalami kegagalan dan sadar akan jatah kegagalan kita, maka kita akan terus mencari kegagalan kita. Kita tidak perlu risau dalam hal ini. Lebih positif dan dahsyatnya lagi, kita malah akan penasaran, berapakah kita diberikan jatah kegagalan itu? Wah, luar biasa dahsyat! Kita akan terus bangkit, tanpa terlalu dipedulikan dengan omongan orang lain tentang kegagalan kita. Kita sudah ada jatah gagalnya. Kalau makin banyak jatahnya, maka sebenarnya kita ini adalah manusia yang luar biasa berkualitas, hebat dan dahsyat. Bukankah orang hebat dan dahsyat itu sanggup melalui masalah-masalahnya? Sanggup pula melewati kegagalan-kegagalannya?
Sampai di sini, marilah kita terus bangkit, berjalan dan selalu bersemangat dalam menjalani setiap napas kehidupan. Kita harus siap untuk mencari kegagalan-kegagalan kita dan siap pula untuk menghadapinya. Habiskanlah jatah kegagalan kita dan nikmatilah hidup ini!
Rizky Kurnia Rahman Pegawai Organik Sekretariat KPU Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:27:00 PM
  |
|
|
|
| Monday, January 10, 2011
|
|
Bangkit atau Tidak, Itu adalah Pilihan
|
Saya pernah menonton film The Karate Kid" yang dibintangi oleh Jackie Chan dan Jaden Smith, putra aktor Hollywood Will Smith. Film ini menceritakan tentang kungfu.
Film ini terbilang sangat bagus karena di dalamnya terkandung pesan moral yang sangat berharga yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar adegan berkelahi.
Ada sebuah percakapan antara Jackie Chan (Han) dan Jaden Smith (Dre) dimana Jackie mengatakan lebih kurang seperti ini, "Life will knock us down, but we can choose whether we want to get back up or not." Artinya hidup akan selalu menjatuhkan atau mengalahkan kita, tetapi kita bisa memilih apakah kita mau bangkit atau tidak. Ia mengatakan itu pada saat merenungi istri dan anaknya yang tewas akibat kecelakaan mobil. Dan Jaden telah memberinya pelajaran yang berharga. Kalimat itu sungguh menggugah diri saya. Kadang kala hidup tidak adil kepada kita. Kadang hidup kelihatannya selalu mempermainkan kita, bahkan membuat kita terjatuh. Tetapi, kita bisa memilih untuk bangkit atau menyerah kalah. Bangkit atau tidak adalah pilihan yang kita buat!
Ketika kita jatuh dalam keterpurukan, kita bisa memilih untuk merasa menjadi korban dan menyalahkan hidup yang sungguh tidak adil. Konsekuensinya, kita tidak akan bisa mengubah apa pun karena kita telah mengembangkan sikap pasrah tanpa mau berbuat apa pun untuk memperbaikinya.
Di sisi lain, ketika kita jatuh, kita bisa memilih untuk tegar dan bangkit. Kita bisa memilih untuk tidak mau menyerah kalah. Kita bisa memilih untuk terus maju menerjang rintangan dalam hidup. Jika kita bisa bersikap seperti itu, percayalah, hidup tidak akan benar-benar bisa menjatuhkan kita.
Lantas mengapa ketika jatuh, ada sebagian orang yang memilih untuk terus bangkit dan sebangian orang memilih untuk merasa terhina dan hidup dalam keterpurukan? Alasan adalah karena pilihan. Setiap hari, kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan, baik pilihan yang mudah sampai pilihan yang sangat sulit.
Apa yang kita lakukan saat ini adalah hasil dari pilihan kita. Kita bisa memilih apa pun yang kita inginkan, tanpa ada yang melarang. Kita bisa memilih untuk sukses, kita juga bisa memilih untuk menjadi biasa-biasa saja, kita bahkan juga bisa memilih untuk menjadi pecundang. Semua tergantung pada apa yang Anda pilih. Bahkan ketika kita tidak membuat pilihan, itu juga sudah merupakan pilihan.
Hidup memang akan selalu berusaha merintangi kita. Hidup tidak 'jahat', melainkan agar kita menjadi orang yang lebih kuat ketika berhasil bangkit dan melewati rintangan. Orang yang memilih untuk tidak bangkit adalah orang yang berpikir bahwa hidup ini jahat dan tidak adil. Dengan berpola pikir seperti itu, mereka merasa menjadi korban ketidakadilan. Mereka lebih memilih untuk berhenti daripada bangkit dan kemudian jatuh lagi.
Mereka yang memilih untuk bangkit tidak peduli berapa kali mereka jatuh. Mereka akan bangkit satu kali lebih banyak. Mereka memilih untuk tidak mau begitu saja dikalahkan dengan telak oleh kehidupan. Tidak heran, mereka adalah para juara yang berdiri tegak sampai garis finish.
Hidup ini penuh pilihan, apakah Anda memilih untuk bangkit atau tidak, itu adalah pilihan Anda. Ingat kata-kata ini, "Hidup akan selalu menjatuhkan atau mengalahkan kita, tetapi kita bisa memilih apakah kita mau bangkit atau tidak."
Salam Sukses,
Suhardi email : csd_suhardi@yahoo.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:26:00 AM
  |
|
|
|
| Sunday, January 09, 2011
|
|
Beranie Gagal Oktober, November & Desember 2010 Versi PDF Sudah Ada
|
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal!
Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal Oktober, November & Desember 2010 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2010. Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?!
Selamat Membaca!
Salam sukses! Ryan - Dody Founder & Moderator Beranie Gagal Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 12:21:00 AM
  |
|
|
|
| Saturday, January 08, 2011
|
|
Untung Saya Belum Tahu
|
Seringkali manusia menduga-duga kalau saja bisa mengetahui masa depan, atau hal-hal yang akan terjadi maka hidup akan berjalan jauh lebih mudah.
Si A mengeluhkan istrinya yang cerewet, si B mengeluhkan pekerjaannya yang "nggak asyik", si Cmengeluhkan mengapa dulu menjatuhkan pilihan pada si D yang tampan tapi perilaku sehari-harinya sangat kasar bahkan karena ulah si D dia sampai harus kehilangan dua buah giginya akibat lemparan asbak pada hari Rabu yang kelabu baru-baru lalu. "Aaah...seandainya saja saya tahu!" Itulah yang selalu menjadi keinginan manusia.
Tapi saya berpikir sebaliknya!
Saya bisa merasakan keajaiban berserah diri dan merasa harus percaya saja pada tuntunan Tuhan yang selalu membuat saya merasakan hati yang tentram, merasakan "gregetnya" sebuah tantangan, merasakan "passion dan semangat" dalam mengejar segala hal yang menjadi IMPIAN SAYA justru karena saya belum tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya atau ganjaran apa yang sedang menanti saya nantinya! Justru karena saya belum tahu apa-apa mengenai "hari esok".
Kalau manusia tahu segalanya atau tahu mengenai hari esok, saya menduga - manusia tidak akan pernah mencapai usia seperti saat ini... Semuanya akan "mati muda" karena menderita gagal jantung akibat insomnia yang akut.
Manusia akan menjadi makhluk yang menderita aneka "over phobia" sehingga tidak akan banyak yang dapat dilakukan untuk mengisi kehidupannya. Sekali lagi, tidak akan banyak yang akan dilakukannya selama hidupnya.
Atau bahkan, manusia merasa menjadi makhluk yang paling super, "petantang-petenteng" bertemperamen sangat panas mencari lawan siapa saja yang "pasti kalah" (karena sudah tahu bakal menang) kalau berani menentang kehendaknya dan paling parahnya lagi tidak merasa memerlukan Tuhan Sang Pemberi dan Sang Pemelihara Kehidupan itu sendiri.
Aahh... Terima kasih Tuhan! Untung Saya Belum Tahu.
Semoga bermanfaat - Salam Sukses Selalu
Samuel Tan Author: "Zaman Sekarang Cari Kerja Itu Gampang" www.stantutorial.wordpress.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:34:00 PM
  |
|
|
|
| Friday, January 07, 2011
|
|
Pilih Lingkungan Anda Untuk Sukses
|
Keadaan sekeliling dan lingkungan kita dapat mempengaruhi kita. Keadaan jiwa juga dapat mempengaruhi kita. Keadaan suasana hati dapat pula mempengaruhi kita. Mempengaruhi untuk bersikap dan melakukan sesuatu tindakan.
Pada bulan puasa beberapa waktu lalu, saya diberitahu tentang banyaknya pengemis yang dapat penghasilan 1-2 juta per hari. Ibu-ibu tua, bahkan anak-anak di pinggir jalan tiba- tiba penghasilannya meningkat di bulan Ramadhan dan puncaknya pas lebaran. Karena hal ini pula seringkali mereka khusus datang dari desa ke kota hanya untuk mengemis. Namun mengapa orang-orang begitu baik hati untuk beramal ? Kenapa mereka beramal sedemikian banyak pada waktu itu ? Semua karena hatinya yang menjadi khusyuk sewaktu menjalankan ibadah di bulan yang suci itu. Mereka begitu bersemangat menjalankan semua ibadah yang bisa dilakukan, termasuk banyak beramal.
Orang Amerika yang sering pergi ke Las Vegas, tahu-tahu ada kabar menikah di sana. Mendadak saja keinginan menikah mereka timbul. Hal ini dikarenakan suasana kota Las Vegas yang sering kali menikahkan dengan persyaratan dan tata cara yang begitu mudah. Katanya satu gereja sehari bisa menikahkan sampai 30 pasangan. Sampai antri segala.
Saya sering tanya ke teman-teman yang sering bepergian ke Singapura, "Kalau kamu ke Singapura, apakah kamu akan membuang sampah sembarangan ?" "Tidak," jawab mereka. "Lalu kenapa kalau di Indonesia masih membuang sampah sembarangan ?". "Ya, karena di sini semua begitu."
Apakah mereka tidak bisa disiplin ? Apakah mereka tidak bisa diajarkan yang seharusnya ? Bisa. Bahkan tidak usah diajarkan, suruh saja mereka ke Singapura. Begitu sampai di sana mereka sudah tidak mau membuang sampah sembarangan. Kenapa di Indonesia mereka melakukannya ? Karena mereka mengganggap di Indonesia sah-sah saja untuk melakukan seperti itu. Tidak apa-apa, tak ada tindakan. Beda dengan di Singapura yang bisa didenda sampai ratusan ribu rupiah.
Saya punya teman yang sangat pelit. Dia bahkan di awal-awal tinggal di Amerika tidak mau memberi tip, uang terima kasih untuk karyawan restoran. Namun setelah tinggal di sana selama 3-4 bulan, dia terbiasa untuk memberi tip 15% dari total pengeluaran, minimal 10%. Kok berubah ? "Saya bisa celaka kalau tidak memberi tip. Bisa dipanggil untuk dimintai," jawabnya.
Ternyata orang yang pelit yang biasanya tidak memberi tip, sampai di tempat dimana semua orang memberi tip, dia juga turut melakukannya. Hal ini karena lingkungan sekitarnya melakukan itu sehingga mempengaruhinya.
Suasana hati seperti bulan puasa, lingkungan seperti di Singapura, nilai-nilai budaya seperti di Amerika mau tidak mau mempengaruhi kita. Yang pelit menjadi beramal. Yang biasa tidak berderma menjadi berderma. Yang tidak disiplin menjadi disiplin.
Nah, demikian juga sukses. Sukses juga akan dipengaruhi oleh lingkungan, orang-orang sekeliling kita dan nilai-nilai buadaya yang dianut. Karenanya kita juga harus mencari lingkungan, orang-orang yang mempunyai nilai- nilai yang sukses. Karena hal ini akan mempengaruhi kita menjadi sukses pula.
Penulis : Tanadi Santoso
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:01:00 AM
  |
|
|
|
| Thursday, January 06, 2011
|
|
Tiga Pengemudi Bus
|
Jika kita sebagai calon penumpang sebuah bus, manakah di antara ketiga sopir berikut yang akan kita pilih ?
Sopir pertama selalu melihat spion kiri dan kanan serta kaca di tengah untuk memperhatikan situasi di belakang. Dia tidak sadar di depannya lampu lalu lintas sedang menyala merah, atau ada orang yang sedang menyeberang, atau ada ‘polisi tidur’, dan lain-lain.
Sopir kedua selalu melihat jauh ke depan, ke arah yang dituju. Dia tidak sadar ada mobil lain yang akan menyalipnya, lampu lalu lintas di depannya sedang menyala merah, atau ada orang yang sedang menyeberang, atau ada ‘polisi tidur’, dan lain-lain. Sopir ketiga tahu persis tujuan yang ingin dicapai sehingga tahu arah ke depan yang harus ditempuh. Juga berdasarkan pengalamannya, dia sadar bahwa sesekali harus melihat spion kiri, kanan dan tengah untuk mengantisipasi kondisi di belakangnya. Dan yang terpenting, sopir ini memberikan perhatian sepenuhnya pada jalan di depan yang sedang dilalui.
Hampir semua dari kita akan memilih sopir ketiga karena kita lebih yakin bisa mencapai tujuan tanpa mengabaikan keselamatan sepanjang perjalanan.
Kenyataannya banyak orang yang tanpa disadari berlaku sebagaimana halnya sopir pertama dan kedua. Yang lebih memprihatinkan adalah orang-orang yang sebenarnya sadar bahwa dirinya berlaku seperti sopir pertama dan kedua tapi tidak pernah berupaya secara sungguh-sungguh untuk melakukan transformasi dirinya menjadi sopir ketiga yang sebenarnya memiliki ‘cara mengemudi‘ yang jauh lebih aman dan pasti dalam mencapai tujuan.
Sopir pertama adalah orang yang selalu terbenam pada masa lalunya, yang baik maupun kurang baik, keberhasilan atau kegagalan, dan lain-lain. Dia kurang memberikan perhatian pada saat sekarang dan tidak pula mencoba untuk menentukan arah dan tujuan hidupnya. Jika bisa waktu akan diputar olehnya kembali ke masa lalu.
Sopir kedua adalah orang yang penuh ambisi dan semangat untuk mencapai banyak hal dalam hidupnya di masa mendatang. Dia kurang memberikan perhatian pada saat sekarang dan sedikit sekali belajar dari pengalaman masa lalunya untuk dipakai sebagai pengungkit bagi dirinya dalam menghadapi kehidupannya sekarang dan di masa mendatang. Jika bisa waktu akan diputar olehnya lebih cepat ke masa depan.
Sopir ketiga adalah orang yang memberikan perhatian terhadap kekinian, terhadap saat sekarang dengan selalu berkonsentrasi pada apapun yang sedang dihadapi.
Jika kita bisa menjadi sopir ketiga dan mampu mempraktekkan perhatian penuh pada setiap saat, sedikit demi sedikit hasil yang kita raih dari setiap aktivitas yang kita lakukan akan meningkat kualitasnya. Pada akhirnya kita akan menjadi orang-orang yang lebih baik dan lebih berkualitas, yang mampu bersaing dalam kompetisi hidup profesional maupun sosial kemasyarakatan yang begitu ketat dewasa ini.
Bukan berarti kita dilarang mengingat masa lalu ataupun merencanakan dan berpikir tentang masa depan. Akan tetapi kita secara sadar dan tepat meletakkan diri, pikiran dan perhatian kita berkaitan dengan tiga horizon waktu (masa lalu, saat sekarang, masa depan). Gunakan masa lalu sebagai pengalaman dan pelajaran untuk menjadi lebih baik, dan masa depan sebagai tuntunan, penunjuk jalan dan visi ke depan dalam hidup kita. Yang paling utama adalah berikan totalitas kita terhadap masa sekarang, maka masa depan pada akhirnya akan menjadi masa sekarang dan selanjutnya bergerak menjadi masa lalu yang tidak akan pernah kita sesali karena sudah diisi dengan sebaik-baiknya.
Penulis : Toni Yoyo, STP, MM, MT Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 1:11:00 PM
  |
|
|
|
| Monday, January 03, 2011
|
|
Lompati Tiga Batu Ujian Dalam Hidupmu
|
"Manusia tidak mungkin kesandung batu sebesar gunung. Paling hanya sebesar batu kerikil".
Ada seorang pendekar, dia merasa ilmunya sudah cukup. Saatnya dia turun gunung. Untuk itulah dia pun menghadap sang guru.
“Guru, kiranya ilmu yang sudah guru ajarkan sudah hamba serap semuanya dengan baik. Ijinkan hamba turun gunung untuk mengabdikan ilmu hamba kepada masyarakat.”
Sang Guru dengan jenggotnya yang tebal. Hanya tersenyum. Dia pun hanya bergumam saja. Sang pendekarpun binggung melihat perilaku gurunya.
“Guru, ijinkan hambamu ini turun gunung?”. Kata sang pendekar sekali lagi. Gurunya pun kembali bergumam. Secara perlahan gurunya pun berdiri.
“Anakku, memang benar semua ilmu sudah aku turunkan samamu. Tapi sebelum engkau turun gunung. Pergilah ke tepian sungai.” Gurunya pun menunjuk kearah sungai tersebut.
”Menyeberanglah dari tepi sungai itu ke ujung tepian yang di seberang. Tapi aku tidak ingin kamu berenang. Tapi melompatlah dengan menggunakan tiga batu yang sudah ada di sungai tersebut”. Sang pendekar pun dengan riang gembira menuju ke tepian sungai tersebut. Ketika sampai di tepian sungai. Dia pun mencoba melihat batu-batu yang ada di sungai tersebut. Aha, tak lama diapun melihat batu besar. Tak lama kemudian dia pun melompat. Dan dengan mudah bisa berdiri di batu tersebut. Kembali dia mencari batu kedua. Dengan hati-hati dia pun melihat di sekelilingnya. Tapi batu keduapun belum bisa dengan jelas terlihat. Sekali lagi dia mencoba. Dan dari kejauhan. Dia melihat sebuah batu yang ukuran tidak terlampau besar. Sambil memfokuskan kekuatannya. Dia pun kembali melompat ke atas batu tersebut. Tapi ketika dia mau berdiri ternyata batu tersebut sangat licin. Byurrr….Dia pun jatuh ke sungai. Ternyata batu tersebut pijakan sangat kecil. Tidak cukup dua kaki. Hanya cukup satu kaki saja. Lalu dia pun mencoba lagi. Lebih fokus dan lebih relaks. Akhirnya dia bisa berdiri dengan satu kaki di batu kedua tersebut.
Tinggal satu ujian lagi, pikirnya. Dia pun kembali mencari batu ketiga. Setelah cukup lama. Dari kejauhan dia melihat sebuah sinar. Ternyata itulah batu terakhir yang dia cari. Dia pun kemudian melipat gandakan kekuatannya. Dia pun kembali melompat dengan kecepatan tinggi. Tapi sekali lagi dia terkejut. Ternyata ukuran batu itu sangat kecil sekali. Tidak cukup untuk satu kaki saja. Kembali byurrr…. dia harus jatuh ke sungai. Dia pun mencoba lagi. Byurr….jatuh ke sungai lagi. Arus sungai pun semakin deras. Dengan susah payah. Dia kembali lebih fokus. Dia pun melompat. Dan pada saat di udara dia pun membalikkan badannya. Ternyata si pendekar berhasil berdiri di atas batu terakhir. Dengan menggunakan satu tangannya. Kakinya diatas. Setelah itu dia pun kembali melompat. Karena tepi sungai pun sudah dekat. Akhirnya dia berhasil sampai di darat.
Ketika dia sampai di ujung tepi sungai. Gurunya pun sudah ada di hadapannya.
”Anakku, engkau sudah melewati uji kehidupan. Batu pertama melambangkan kesulitan yang akan engkau hadapi. Batu kedua melambangkan kesetiaan. Disinilah ujuanmu mulai sulit. Kamu dituntut untuk setia sama dirimu sendiri. Termasuk sama gurumu sendiri. Atau kamu mengkhianati aku. Disinilah letak ujianmu sebenarnya. Batu terakhir melambangkan bersyukur. Ketika kamu sudah melewati dua ujian di batu sebelumnya. Kamu sudah berhasil. Tapi apakah kamu menjadi sombong? Atau menjadi orang yang rendah hati. Selalu bersyukur kepada Pencipta. Inilah ujian terkahirmu. Bila semua kau laluin dengan baik. Maka kamu akan menjadi manusia yang sempurna.”
Ketika mengakhirinya wejangannya. Sang guru pun mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Ketika dibuka isinya adalah tiga buah batu. Satu batu ukuran besar, yang kedua ukuran sedang dan panjang. Batu terakhir ukurang kecil dan tipis. Ya, itulah batu ujian sang pendekar ketika dia turun gunung. Sang pendekar pun menerimanya. Esoknya, dia mohon pamit kepada sang guru.
Para Pembaca Yang Budiman,
Ketika merasa ilmu kita cukup. Maka kita dengan berani ingin masuk kedunia sebenarnya yang kita impikan. Baik itu di dunia kerja maupun dunia bisnis. Memang baik mengamalkan ilmu kita. Sesuai dengan orang bijak pernah mengatakan,” Menuntut ilmu hingga memasuki liang kubur adalah proses yang bagus, tetapi jangan lupa bahwa ilmu yang sudah dituntut itu masih perlu dipraktekkan ”. Bila tidak, untuk apa menuntut ilmu ? Pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri, ia harus ditindaklanjuti dengan praktek, dengansikap mental yang benar.
Dalam kehidupan seperti cerita diatas. Ada tiga batu ujian yang harus kita lewati.
Batu ujian pertama adalah kesulitan.
Baik kesulitan secara keuangan, hubungan kerja, kurangnya pengalaman. Dan bermacam-macam kesulitan yang lain. Ternyata ujian kesulitan ini adalah ujian pertama kita. Tentu ada ingat ketika daerah Aceh dihantam tsunami. Begitu banyak kesulitan yang datang baik secara mental dan materi. Tapi lewat proses selama ini cukup banyak. Masyarakat Aceh yang mulai bangkit. Mereka mencoba berdagang kembali. Menata perekonomian keluarga mereka yang sudah hancur. Walaupun hasilnya masih sedikit minimal mereka sudah mencoba untuk bangkit adalah jauh lebih penting.
Apabila kita berhasil melewati ujian ini maka mental kita menjadi lebih berani, lebih disiplin, lebih komitmen, lebih ulet, lebih optimis dan lebih kreatif.
Batu ujian kedua adalah kesetiaan.
Manusia pada umumnya dengan sangat mudah bisa melewati kesulitan mereka. Harta pun mulai berlimpah. Dulu dari tidak punya rumah, sekarang rumah mewahpun sudah bisa dibeli. Dulu mobilpun susah sekali didapat. Sekarang di garasi rumah sudah tersedia tiga mobil yang siap mengantar kemanapun kita pergi. Tapi manusia sering tergelincir melewati ujian kedua ini. Ketika harta berlimpah. Mata kita pun mulai disilaukan dengan kehidupan duniawi. Istri yang dulu lengket sekali. Sehingga nyamuk paling kuruspun susah lewat. Kalaupun belanja sang suami dengan enak di depan berjalan sendirian. Badan istripun yang dulu kutilang dara. Sekarang sudah dipandang bapindo (bagian pinggang dobel). Sambil membawa belanjaan di tangan kiri-kanan yang berat-berat pula. Sehingga gajah paling gemuk pun gampang lewat. Lama-kelamaan cintapun sering menjadi pudar. Mulai mata bermain-main. Melihat keindahan cewek-cewek yang berpakaian seksi. Sesuai dengan peribahasa,”Dari mata turun ke hati”. Akhirnya kita pun mulai tidak setia dengan istri dan anak-anak kandung sendiri. Dulu semboyan kita ”Family is my love”, sekarang pun diubah menjadi ”Family is my memory”.
Fase ini adalah fase yang berat dan paling penting. Disinilah mental kita benar-benar diuji. Apakah kita masih setia sama istri, keluarga, sahabat, orang tua? Hanya waktu jualah yang bisa menentukan kita. Tetapi dengan menyadari bahwa hidup itu tidak hanya bisa berdiri diatas satu kaki. Kita harus butuh pasangan. Sebagai teman seperjuangan dalam suka dan duka.
Bila kita berhasil melewati ujian ini, maka rasa cinta bukan hanya sebatas perasaan saja. Tapi sudah menerima satu sama lain sebagai bagian yang tidak pernah terpisahkan. Bahkan kita rela mengorbankan jiwa bagi keluarga yang kita cintain. Seperti Romero dan Juliet nih.
Batu ujian ketiga adalah beryukur.
Bila anda pernah melihat film The Secret. Tentu anda tahu ada batu bersyukur. Dimana mengingatkan kita bahwa semua hidup ini harus kita syukurin. Dalam cerita diataspun digambarkan bagaimana pendekar harus berdiri dengan satu tangan. Dan posisi terbalik. Artinya kita harus tunduk kepada Tuhan. Kita ini masih begitu kecil dibandingkan Sang Pendipta. Bila sewaktu-waktu kita dipangil olehNya. Kita pun harus siap. Mulai dari sekarang syukurin yang sudah kita dapat. Tidak peduli besar atau kecil. Banyak atau sedikit. Dengan bersyukur membuat hidup kita menjadi lebih nyaman dan damai. Kita pun rela memberi kepada yang membutuhkan. Tidak hanya dalam bentuk materi. Tapi dalam bentuk kasih sayang, nasehat dan perhatian.
Tiga batu ujian sudah ada di tangan anda sekarang. Siapkah diri anda menjalaninya ?
Daniel Kurniawan, Trainer & Motivator www.rumahmotivasi.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 3:52:00 PM
  |
|
|
|
|
|