| Beranie Gagal Commercial |
Cara Pasang Banner
|
| Donasikan Blog Ini |
|
|
| Beranie Gagal Award |
|
| Beranie Gagal Partners |

BERHADIAH 30 JUTA KLIK DISINI
|
| Hubungi Kami |
|
|
| Quote's Of The Day |
|
|
|
| Thursday, February 25, 2010
|
|
Tiga Kesalahan Besar yang Sering Dilakukan Terhadap Masalah yang Terjadi
|
|
Kunci sukses seseorang dalam hidup adalah bagaimana ia bereaksi terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam hidupnya.
Masalah demi masalah selalu datang menghampiri hidup kita tanpa mengenal lelah. Masalah hampir sama seperti air yang tidak akan pernah habis melalui siklusnya yang berliku-liku. Ya, inilah faktor utama yang paling menentukan kesuksesan seseorang dalam hidup ini. Ada tiga kesalahan utama yang dilakukan banyak orang dalam menghadapi masalah yang terjadi.
Kesalahan pertama adalah ia tidak menyadari bahwa masalah sedang terjadi dalam hidupnya. Banyak sekali orang yang melakukan kesalahan ini. Misalnya, ada seorang agen asuransi yang sangat berprestasi dalam penjualannya. Ia mampu meraih puluhan nasabah hanya dalam waktu beberapa minggu. Tentunya, ia merasa bangga atas prestasi yang ia raih dan tentunya komisi yang diberikan perusahaan kepadanya semakin banyak pula. Ia pun semakin giat melakukan penjualan untuk terus meningkatkan prestasinya. Ia sangat giat bekerja dan menghabiskan sepanjang hari-harinya untuk melakukan penjualan. Ia tidak merasakan kelelahan karena baginya itu adalah hal yang sangat mengasyikkan. Nah, di sinilah kesalahan yang ia lakukan. Ternyata, ketika ia semakin giat bekerja dan menghabiskan hari-harinya dengan bekerja dan bekerja, ia tidak menyadari bahwa ada masalah yang sedang ia hadapi. Lalu apa masalah itu? Mungkin, istri dan anak-anaknya merasa terabaikan sehingga keluarganya menjadi kurang harmonis. Mungkin, ia mengalami hubungan yang renggang dengan Tuhan. Mungkin, ia akan mendapati tubuhnya semakin lemah karena ia kurang menjaga kesehatannya.
Itulah kesalahan yang telah dilakukan banyak orang selama ini. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa ia sedang menghadapi masalah yang sangat fatal dalam hidupnya. Mengapa mereka tidak menyadarinya? YA, jawabnya mereka terlalu asyik dengan apa yang dikerjakannya. Mereka tidak mengalami kehidupan yang seimbang.
Alasan kedua adalah ia tidak mau mengakui dan menerima bahwa masalah demi masalah akan terus terjadi dalam hidupnya. Ini adalah hal yang sangat fatal. Saya sudah menjelaskan di artikel yang sebelumnya bahwa masalah itu sama seperti air yang tidak akan pernah habis melalui siklusnya yang berliku-liku. Jadi, apabila kita tidak mau mengakui dan menerima bahwa masalah akan terus menghampiri kita selama kita hidup, lebih baik kita tidak usah hidup. Berikan kepada saya contoh dari manusia yang tidak pernah mendapati masalah dalam hidupnya atau contoh dari manusia yang pernah mendapati masalah tetapi kini sudah tidak lagi mendapati masalah.
Seberuntung apapun kehidupan kita, pasti masalah akan terus menghampiri hidup kita. Jadi, marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi datangnya masalah! Orang yang tidak mau mengakui dan menerima datangnya masalah dalam hidupnya, pasti akan hidup dalam kekecewaan. Selain itu, ia pun tidak akan pernah bisa hidup dalam kebahagiaan yang sepenuhnya. Ia menginginkan kehidupan yang sempurna tanpa masalah tetapi hal itu memang tidak akan pernah terjadi. Dampaknya, ia akan mengalami kehidupan tanpa gairah dan tanpa kebahagiaan seumur hidupnya. Sungguh sangat disayangkan!
Alasan ketiga adalah ia tidak tahu bagaimana caranya mengatasi masalah yang sedang terjadi. Ia tidak tahu bagaimana caranya menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi. Hal ini banyak sekali dialami oleh banyak orang. Namun sebenarnya, bukan hanya sekedar mencari jalan keluar atau solusi dari masalah-masalah yang terjadi. Sederhananya begini, banyak orang tidak tahu caranya menjadikan masalah-masalah dalam hidupnya menjadi tidak masalah lagi.
Wow, luar biasa!!! Bagaimana seandainya setiap masalah yang kita hadapi berubah wujud menjadi hal yang tidak masalah lagi. Misal, kita mungkin mengahadapi masalah seperti ini: "saya diputus pacar", "saya kehilangan sepeda motor", "saya gagal lulus ujian", "saya tidak pandai menjual", "saya cuma punya tampang pas-pasan", "saya sedang sakit keras", "saya mengalami kecelakaan di jalan", "saya disakiti", "saya dihina", atau apapun masalah-masalah itu, lalu kita mengubahnya menjadi: "sekarang itu sudah tidak masalah lagi!"
Kisah sukses yang didapati dari beberapa orang sukses di dunia sebenarnya bermula dari bagaimana mereka menjadikan masalah dalam hidup mereka menjadi tidak masalah lagi. B Bagaimana dengan Anda? Oleh : Bagas Karyadi Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:09:00 PM
  |
|
|
|
|
|
Bibit Mangga
|
|
Sobat yang luar biasa!! Pagi ini, saya membawakan cerita motivasi "BIBIT MANGGA" pada talk show AW Success Wisdom & Motivation di jaringan radio Sonora. Ini adalah cerita analogi yang inspiratif. Rasa, aroma, dan bahkan warna buah mangga itu ditentukan oleh unsur-unsur yang ada di dalamnya. Tak ada buah mangga yang memiliki ketiga hal tersebut yang sama persis dengan yang lainnya. Begitu pun dengan manusia. Dari luar manusia itu terlihat sama, namun kualitas manusia itu berbeda-beda satu sama lain. Nah, kualitas manusia itu ditentukan oleh kualitas unsur-unsur yang ada di dalamnya. Teman-teman yang ikut seminar saya "Create Your HOKI/Success in Business & Career" pada Sabtu 20 Februari kemarin, tentu masih ingat tentang "Lima Faktor Pencipta Hoki/Sukses" yang saya uraikan. Faktor pertama yang saya kemukakan adalah "karakter". Ini adalah faktor yang sangat penting. Karakter, bagi saya, adalah kualitas manusia itu sendiri. Kualitas seseorang tercermin dari karakternya. Karakter itu memiliki unsur disiplin, mau bekerja keras, pantang putus asa, bertanggung jawab, suka bergaul, mau belajar, berpikiran positif, dan lain sebagainya. Selama kita memiliki karakter positif, masa depan kita akan cerah! Perlu dicatat, tidak ada kegiatan sehari-hari yang tidak mengarah pada pembangunan karakter. Jadi jelas, setiap menemui tantangan, halangan, atau rintangan, itu merupakan kesempatan untuk membangun karakter kita. Selamat belajar dan membangun karakter!! Sampai jumpa pada talk show minggu depan... Salam sukses, LUAR BIASA!!
Oleh : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:02:00 PM
  |
|
|
|
| Tuesday, February 23, 2010
|
|
Harapan Adalah Jawaban Terbaik Saat Gagal
|
Tiga anak kecil bermain lompat tali. Aturannya sederhana. Dua anak memegangi tali. Sedang yang seorang berusaha melompatinya. Bila ia gagal atau tersangkut, ia harus ganti memegangi tali. Dan, yang lain mengambil giliran melompat. Ketika tali masih rendah, ia mampu melompatinya. Saat sedikit-demi-sedikit tali meninggi, ketidakyakinan mulai datang. Keraguan merambah.
Namun, tekad untuk tidak kalah lebih kuat sehingga ia harus mencoba. Keyakinan diri membara saat ia mampu melompatinya meski ujung kaki menyentuh tali. Semua anak bertepuk tangan. Namun, ketika tali sejajar pandangan, ia gagal. Dengan sedikit kecewa ia ganti memegangi tali.
Tahukah anda apa yang ada dalam benak anak kecil itu? Saat memegangi tali, ia menunggu ada temannya yang gagal sebagaimana ia pernah gagal. Dan berharap ia bermain lagi agar bisa melompati ketinggian yang gagal ia lalui. Menjadi pemain selalu menyenangkan karena bisa merasakan keberhasilan. Namun, hanya bila anda tak kehilangan harapan di sela-sela kegagalan, anda layak menantikan saat untuk bermain kembali.
Bahkan kita pun harus tahu bagaimana menjadi gagal. Tanpa itu, kita tak tahu bagaimana menjadi menang. Dodi Andreas Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:19:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, February 17, 2010
|
|
Rahasia Kesempatan
|
Selamat tahun baru Imlek 2561. Xin nian kuai le. Wan shi ru yi. Gong xi fa chai. Selamat kepada Anda yang merayakannya.Ada banyak orang yang menganggap tahun baru adalah kesempatan baru. Karena itu mereka menyambut kedatangan tahun baru dengan semangat baru dan kesiapan baru. Bagi saya bukan hanya tahun baru yang merupakan kesempatan baru. Setiap hari adalah hari baru. Setiap hari adalah kesempatan baru. Pagi hari ini saya membahas "Rahasia Kesempatan" pada talk show AW Success Wisdom & Motivation di Jaringan Radio Sonora. "Rahasia" karena tak semua orang bisa dengan mudah menangkap kesempatan. Meski kesempatan berseliweran di hadapannya, orang yang tak peka tak bisa menangkap kesempatan yang ditemuinya. Mereka biarkan kesempatan berlalu begitu saja. Teman-teman, Ada yang bertanya, bagaimana supaya kita bisa peka terhadap kesempatan karena sering kali baru menyesal setelah melewatkan kesempatan? Kepekaan tidak tumbuh dengan sendirinya. Kepekaan itu perlu dilatih, kepekaan itu perlu action. Melakukan pekerjaan kita dengan konsisten merupakan cara mengasah kepekaan kita. Dengan terus-menerus melakukan pekerjaan kita, kita akan tahu mana yang salah dan mana yang benar, mana kesempatan kita mana yang bukan. Karena itu tetap action dan jangan mudah patah semangat. Jika gagal, cepat bangkit lagi. Gagal lagi, bangkit lagi. Ingat bahwa hambatan terbesar kesuksesan bukan pada orang lain melainkan pada diri kita sendiri. Maka kita harus keras dan tegas pada diri kita sendiri dan melakukan kegiatan positif serta pengembangan diri sehingga memungkinkan kesempatan-kesempatan bermunculan.
Oleh : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:10:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, February 16, 2010
|
|
Apa Definisi Anda Tentang Pekerjaan Idaman?
|
Setiap orang pasti memiliki impian untuk mendapatkan pekerjaan idamannya. Akan tetapi, belum tentu pekerjaan idaman anda sama dengan pekerjaan idaman orang lain. Jangankan jenis pekerjaannya. ’Definisi tentang pekerjaan idaman’ saja bisa jadi berbeda. Jadi, apa sebenarnya definisi anda tentang pekerjaan idaman?
Kebanyakan orang menganggap bahwa yang disebut bekerja adalah berstatus karyawan untuk sebuah perusahaan. Jika itu adalah pengertian bagi kata ’bekerja’, maka setelah selesai kuliah saya tidak langsung bekerja. Sebab, begitu saya mendapatkan ijazah dari kampus; saya melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan sebutan ’karyawan’.
Pada umumnya, orang tidak memiliki ’pekerjaan’ karena memang mereka tidak mempunyai kesempatan untuk ’bekerja’. Atau lamaran yang mereka ajukan tidak mendapat sambutan dari perusahaan yang dilamarnya. Atau mereka kalah dalan bersaing dengan pelamar lainnya. Saya tidak demikian. Sebab, ada banyak kesempatan bagi saya untuk mendapatkan ’status sebagai karyawan’. Sekalipun ada perusahaan yang memanggil untuk bekerja bersama mereka, namun saya tidak terlampau menggubrisnya. Mengapa saya tidak terlalu tertarik penawarannya? Karena, saya menganggap bahwa semua kesempatan dan penawaran yang mereka berikan bukanlah pekerjaan yang saya idamkan.
Jika anda mengira bahwa saat berprinsip demikian jiwa saya sudah matang, anda keliru. Semoga bukan sebuah aib jika saya mengatakan bahwa yang sebenarnya terjadi adalah; saya justru belum benar-benar memahami apa sesungguhnya pekerjaan idaman bagi saya itu. Saya memang memiliki beberapa kriteria terhadap pekerjaan yang saya inginkan. Tetapi, jujur saja; saya tidak benar-benar mampu membedakan apakah itu kriteria pekerjaan idaman, atau sebuah daftar panjang tuntutan-tuntutan yang saya ingin agar perusahaan yang mempekerjakan saya memenuhinya. Faktanya, saya sendiri tidak begitu faham; bagaimana dan dimana saya bisa mendapatkan pekerjaan ideal macam itu. Sekarang anda boleh mengingat kembali; apakah diusia yang sama anda juga mengalami kegalauan yang sama?
Saya membutuhkan waktu satu tahun untuk menyadari bahwa cara berpikir saya keliru. Sebab, seperti hal-hal ’ideal’ lainnya, keinginan untuk mendapatkan ’pekerjaan ideal’ harus sejalan dengan ’situasi real’ yang kita hadapi. Jika situasinya memungkinkan untuk mendapatkan ’pekerjaan ideal’ itu, maka kita memang layak memperjuangkannya. Namun, jika situasinya seperti langit dan bumi, maka mungkin kita membutuhkan sebuah tangga untuk menghubungkan kenyataan ditanah tempat kita berpijak, dengan angan-angan yang bergelantungan diatas awan.
Saya sangat beruntung telah melewati masa satu tahun yang ’aneh’ itu. Sebab, dari hasil pengembaraan itu akhirnya bisa menemukan definisi ’bekerja’ itu apa. Sehingga, saya memiliki kemantapan hati ketika akhirnya saya benar-benar mendapatkan ’pekerjaan’. Maka, jadilah saya seorang karyawan. Dan tahukah anda, pekerjaan apa yang saya dapatkan? Saya menjadi seorang salesman. Sekarang boleh jadi hati kecil anda berbisik; ’jeh, untuk jadi salesman saja kok ribet amat.....’
Mungkin anda benar. Sesungguhnya itu adalah hal yang sederhana saja. Namun, tidak demikian bagi saya pada saat itu. Karena, ketika itu saya tengah memasuki tahap pendewasaan kejiwaan yang penuh dengan gejolak. Sekalipun demikian, proses panjang itu dikemudian hari akan saya sadari sebagai tahapan yang saya perlukan. Sehingga meskipun pekerjaan itu benar-benar jauh dari apa yang saya idamkan; tapi bisa menjadi tangga yang bisa membawa saya kepada sesuatu yang dicita-citakan. Oleh karena itu, ketika saya telah bulat tekad untuk menjadi karyawan, saya melakukannya dengan sepenuh hati. Dan saya tidak mau tergoda oleh kemalasan atau tindakan yang melenakan.
Banyak nasihat yang kita dengar tentang ’melakukan sesuatu dengan sepenuh hati’. Kita memahami nasihat itu secara konsepsi. Namun, seringkali kita secara sengaja mengingkari. Sehingga saat bekerja kita sering lupa membawa hati. Makanya, tidak heran jika saat bekerja kita sering ingin segera berhenti. Lalu melakukan hal-hal lain yang sama sekali tidak memberikan nilai tambah apapun terhadap kualitas pekerjaan kita. Tidak pula meningkatkan kualitas diri kita sebagai seorang pekerja.
Perjalanan dialog diri selama setahun itu membawa berkah bagi saya. Karena, ketika menemukan bahwa hati yang penuh diperlukan saat bekerja; saya selalu berupaya untuk membawa hati itu serta. Hasilnya? Sebelum genap enam bulan memulai pekerjaan itu, saya mendapatkan kesempatan untuk ’naik satu level’ dalam pekerjaan saya. Setelah itu, saya bertanya-tanya; apakah perusahaan ini bisa membawa saya kepada apa yang saya idamkan?
Jawabannya; bisa. Tapi, belum seperti yang saya inginkan. Maka pada bulan ke-12, saya bermigrasi kepada organisasi yang ’saya kira’ akan membantu saya mendapatkan pekerjaan idaman. Saya memang menginginkan sesuatu diperusahaan yang baru itu. Namun, mereka tidak mau memberikannya. Bahkan, diperusahaan itu saya hanya dihargai sebagai salesman. Dan itu berarti saya harus kembali turun tingkatan. Saya terima? Ya. Saya menerimanya. Kemudian saya menuliskan surat pengunduran diri kepada perusahaan pertama.
Untuk mengejar sebuah impian, mungkin diperlukan pengorbanan. Jika memang demikian, saya tidak keberatan. Namun, ketika memulainya kembali saya harus mempunyai rencana yang lebih rapi. Maka, ketika menjalani pelatihan sebelum bekerja itu saya membuat ’rencana kerja 5 tahun’ pertama saya. Dan 5 tahun kemudian, saya menemukan bahwa semua hal yang saya rencanakan itu benar-benar dikabulkan Tuhan. Jika ada hal yang tidak bisa saya raih, maka itu berarti saya mendapatkan yang lebih baik dari yang saya rencanakan. Buah manis atas kesediaan membawa hati kedalam pekerjaan. Dan ditahun ke-10 sejak memulai perjalanan itu, saya menemukan bahwa pencapaian yang saya raih jauh melampaui apa yang bisa diwujudkan oleh kebanyakan orang seprofesi saya.
Jika anda mengira bahwa perjalanan karir saya ’mulus-mulus’ saja, anda keliru. Karena, saya belum menceritakan pahit getirnya. Semoga bukan merupakan sebuah aib, jika saya mengatakan bahwa selama bekerja beberapa belas tahun itu sudah dua kali saya berhadapan dengan situasi dimana saya ’nyaris dikeluarkan’. Bukan ’nyaris di-PHK’, tapi ’nyaris dikeluarkan’. Tahukah anda, mengapa saya ’nyaris dikeluarkan’? Itu adalah dampak dari eksperimen-eksperim en yang saya lakukan. Ya, saya menyebutnya eksperimen. Sebab, semua itu saya lakukan dengan kesadaran sepenuh hati untuk menemukan nilai tambah yang bisa saya berikan kepada perusahaan, dan kepada diri sendiri.
Saya tidak menganggapnya sebuah aib karena eksperimen-eksperim en itu tidak melanggar norma. Tidak pula mengabaikan etika. Apalagi mengkhianati integritas diri. Kedua peristiwa itu terjadi karena hati saya sepenuhnya menyadari bahwa saya harus melakukan tindakan yang terbaik bagi perusahaan. Mungkin, landasan itulah pula yang akhirnya ’menyelamatkan’ saya dari pemecatan. Sebab, saya percaya bahwa perusahaan, tidak ingin kehilangan karyawan yang bersedia mendedikasikan diri dengan sepenuh hati.
Lagipula, jika anda yakin bahwa anda memiliki kualitas diri yang tinggi. Dan anda dengan sepenuh hati melakukan yang terbaik bagi perusahaan; mengapa anda takut dikeluarkan? Bahkan, sekalipun anda benar-benar kehilangan pekerjaan itu; apa yang mesti anda khawatirkan? Sebab, kekhawatiran hanya bisa menghinggapi orang-orang yang tidak yakin akan 2 hal. Yaitu; kualitas dirinya, dan kebenaran tindakannya. Jika anda yakin dengan kedua hal itu, kekhawatiran tidak mungkin mengambil alih diri anda, bukan?
Saat memilih untuk berhenti, beberapa teman mengira saya bodoh. Memang, dari dulu saya telah mengambil banyak keputusan yang bodoh. Namun, tak satupun yang saya sesali. Sebab, eksperimen untuk menemukan definisi tentang apa sebenarnya ’pekerjaan idaman’ ini memang menuntut saya memasuki lorong-lorong yang kelihatannya bodoh. Namun, jika kita melintasi lorong gelap itu sepenuh hati; mudah-mudahan bisikan nurani bisa membawa kita kepada cahaya. Sehingga kita bisa menemukan jalan keluar diujung sana.
Apa definisi anda tentang pekerjaan idaman? Barangkali anda sudah berhasil menemukan sebuah jawaban. Namun, bagi saya pribadi; ’pekerjaan idaman’ itu bukanlah sebuah titik akhir. Sebab, ternyata setelah anda berhasil mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang anda idamkan, hati nurani anda membisikan definisi lain yang menuntut anda untuk mengejarnya kembali. Saat anda menjadi salesman, misalnya; anda mendefinisikan pekerjaan idaman sebagai supervisor. Saat anda jadi suprvisor, definisi anda berubah menjadi Sales Manager. Begitu seterusnya, sehingga anda tidak betul-betul tahu; dimana letak titik akhir dari definisi ’pekerjaan idaman’ itu. Tetapi, setiap kali kita menjalaninya dengan kesungguhan hati dan dedikasi yang tinggi; saya yakin, anda tidak akan pernah tersesat. Sebab, setiap eksperimen yang kita lakukan selalu sarat dengan pelajaran. Dan semakin banyak pelajaran yang kita dapatkan, semakin berkembang pula; definisi kita. Tentang. Pekerjaan idaman.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
“SS-Pro™ Personality Leadership Strategy” Learning Facilitator http://www.dadangka darusman. com/
Catatan Kaki:
Bekerja bukanlah semata-mata untuk mendapatkan sejumlah imbalan. Melainkan salah satu cara bagi kita untuk mensyukuri anugerah dari Tuhan. Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:45:00 PM
  |
|
|
|
| Monday, February 15, 2010
|
|
Bukan Sekadar Mimpi
|
Bermimpilah yang tinggi, tetapi bukan sekadar mimpi. Tidak akan berguna mimpi yang indah atau mimpi yang luhur jika tanpa tindakan untuk memulai meraih mimpi tersebut. Mimpi memang sangat perlu untuk memelihara gairah hidup dan kemajuan, tetapi mimpi tanpa disertai tindakan hanyalah seperti pepesan kosong belaka.
Belajarlah tiada henti. Belajar adalah salah satu modal sukses bagi setiap orang. Sering orang mengatakan tidak bisa tanpa pernah belajar. Jika saat ini masih banyak yang belum Anda kuasai, sudahkah Anda belajar? Namun belajar tidak akan ada gunanya, meskipun seberapa lama Anda belajar, seberapa tinggi ilmu Anda, dan seberapa kompleks ilmu Anda, tanpa disertai aplikasi dari ilmu tersebut.
Jangan hanya asyik dengan belajar, mencari strategi yang jitu agar Anda bisa sukses cepat. Karena suatu strategi bisa diketahui jitu jika kita telah mengaplikasikan strategi tersebut, bahkan keadaan lapangan bisa berbeda dengan teori. Teori memang perlu, belajar memang perlu, tetapi mengaplikasikan teori yang telah kita pelajari itu lebih perlu.
Aplikasi atau tindakanlah yang membuat orang sukses, tentu saja setelah mimpi yang tinggi dan ilmu yang mencukupi. Tindakanlah yang membedakan antara orang yang sukses dengan pemimpi di siang bolong. Tindakanlah yang akan memberi makna terhadap ilmu yang Anda miliki, sebagaimana peribahasa Arab mengatakan "Ilmu tanpa amalan bagaikan pohon tanpa buah." Ilmu dan tindakan merupakan satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan.
Tindakan bukan sembarang tindakan, tindakan yang diperlukan untuk sukses adalah tindakan yang kontinu (berkseinambungan) penuh komitmen. Ini sejalur dengan hadis Nabi yang mengatakan, "Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang sedikit tapi berkelanjutan". Tindakan yang cerdas bukan hanya keras, tindakan yang dilandasi dengan strategi jitu yang sudah kita susun dengan tepat. Integritas serta komitmen amatlah dituntut untuk mencapai apa yang selama ini diharapakan dalam mencapai sebuah mimpi. Siapkah Anda mengamalkan ilmu Anda...?
_________________
Muhammad Nur adalah Alumnus Ponpes Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatra Utara. Kini, ia dalam masa pengabdian di Ma'had selaku Guru B. Inggris dan staf pengasuhan santri. Gemar dalam kepenulisan, diskusi, maupun kegiatan ekstrakurikuler di ponpes. Sedang mendalami dunia kepenulisan dan motivasi. Bagi anda yang ingin melihat tulisan-tulisannya dapat berkungjung di http://elahmady1809.blogspot.com.
Ia juga dapat dihubungi via e-mail di Muhammad.nur609@yahoo.co.id / muhammad.nur1809@hotmail.com ATAU HP: 081396856500. Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:24:00 PM
  |
|
|
|
| Thursday, February 11, 2010
|
|
Bibit yang Tidak Bisa Bertunas
|
|
Alkisah, di sebuah kerajaan. Karena raja tidak memiliki putra penerus, maka raja menganggap perlu mencari dan memilih calon penggantinya. Untuk itu, dibuatlah sayembara pemilihan ke seluruh negeri, agar diseleksi per daerah hingga ujian terakhir yang akan ditentukan oleh baginda raja sendiri. Babak akhir, tersisa delapan orang yang memiliki kepandaian setara dan lulus seleksi. Di ibu kota kerajaan, mereka harus menjalani proses tes terakhir oleh sang raja. Raja dengan seksama menyeleksi mereka satu persatu. Di hadapan mereka raja berpesan, "Anak-anakku. Tugas sebagai abdi negara bukanlah hal yang mudah. Itu adalah amanah yang harus diemban dengan tanggung jawab penuh. Kalian berdelapan terpilih sebagai calon yang terbaik. Nah, sebagai tes terakhir, ini kuberi tiap orang 5 butir biji bibit tanaman. Tanam dan rawatlah seperti engkau nantinya harus memelihara kerajaan dan rakyat negeri ini. Pulanglah dan datanglah 2 minggu kemudian kemari beserta hasil tanaman yang kalian bawa pulang ini." Dua minggu kemudian, di hadapan raja, 7 pemuda dengan bangga memperlihatkan tanaman yang mulai tumbuh bertunas. Tiba giliran pemuda yang ke-8, dengan wajah malu dan kepala tertunduk, ia melihat ke arah pot yang dibawanya dan berkata, "Ampun baginda, maafkan hamba. Biji yang baginda berikan telah saya tanam, saya rawat dengan hati-hati, tetapi hingga hari ini bibit ini tidak mau tumbuh seperti yang diharapkan. Saya telah gagal menjalankan perintah baginda! Saya tidak mengerti dimana kesalahan saya, tetapi setidaknya saya telah berupaya maksimal. Saya serahkan semua keputusan di tangan baginda." Terlihat senyum penuh kepuasan kemudian disusul tawa terbahak-bahak sang baginda. "Hahaha...!" Semua yang hadir disitu saling berpandangan heran melihat reaksi raja seperti itu. Lalu, Raja menepuk pundak si pemuda, dan berkata, "Terima kasih anak muda. Baginda senang dan puas. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Masih ada pemuda calon pemimpin bangsa di antara seluruh rakyat negeri ini!" Sambil berpaling kepada semuanya, raja melanjutkan," Dengar baik-baik. Pemuda ini telah memenuhi harapan terakhirku. Dia pemuda yang jujur, calon pemimpin kerajaan ini di masa depan. Memang tanamannya tidak tumbuh, sepertinya dia gagal! Tetapi sebenarnya, biji yang aku berikan kepada semua peserta telah aku rebus terlebih dahulu, jadi ..ya pasti tidak mungkin bisa tumbuh tunas walaupun dirawat sebaik apapun, karena biji itu telah mati. Aku kecewa sekali saat melihat tumbuhnya tunas yang dibawa anak-anak muda ini. Hai...kalian 7 pemuda, tidak jujur! Kalian pantas dihukum karena berani menipu baginda!" Segera ketujuh pemuda itu berlutut memohon ampun, namun baginda raja langsung memerintahkan untuk menangkap dan menghukum berat ketujuh pemuda itu. Sungguh tragis, ambisi mereka untuk meraih jabatan tersandung karena ketidakjujuran . Netter yang luar biasa, Kejujuran adalah mutiara pribadi yang harus kita miliki dan pelihara dengan baik! Kejujuran adalah "mata uang" yang berlaku di mana-mana. Walaupun kita hidup tidak berkelimpahan harta, namun dengan kejujuran, hidup kita akan bebas dari perasaan waswas, takut, dan cemas. Sehingga, kita akan menikmati kehidupan ini dengan tentram, damai, dan bahagia. Salam sukses, LUAR BIASA!!
Oleh : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:09:00 PM
  |
|
|
|
| Wednesday, February 10, 2010
|
|
Hadapilah Masalah dengan Ketenangan
|
|
"Ketenangan adalah sumber kekuatan yang luar biasa". (Lao Tzu) Setiap orang tidak akan lepas dari masalah. Secara sederhana, masalah dapat diartikan tidak sesuainya antara harapan dengan kenyataan. Jika suatu permasalahan mendatangi kita, tentu saja kita akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin. Namun, bagaimana jika masalah yang datang itu begitu pelik dan kita belum menemukan solusinya? Apakah yang sebaiknya kita lakukan? Mudah-mudahan kisah berikut ini dapat memberikan inspirasi bagi kita. Suatu saat seorang tukang kayu sedang asyik bekerja. Secara tak sengaja arlojinya jatuh dan terbenam ke dalam tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji tersebut merupakan hadiah dari seorang sahabatnya, dan telah lama dipakainya. Karena begitu menyukai arloji tersebut, iapun berusaha untuk menemukannya kembali. Sambil mengeluhkan keteledorannya, tukang kayu tersebut membongkar tumpukan serbuk kayu. Teman-temannya ikut pula membantu menemukan arloji tersebut. Namun setelah membolak-balik tumpukan serbuk kayu tersebut, arloji tersebut belum juga ditemukan. Ketika jam istirahat tiba, semua pekerja pergi meninggalkan bengkel tersebut untuk makan siang. Tukang kayu yang kehilangan arloji tersebut, dengan lesu juga meninggalkan bengkel. Saat itu datanglah seorang anak mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Rupanya sudah sejak tadi dia memperhatikan mereka mencari arloji yang jatuh ditumpukan serbuk kayu. Anak itu lalu berjongkok dan mulai mencarinya. Tak berapa lama kemudian, ia berhasil menemukan arloji tersebut. Anak itu kemudian menyerahkan arloji tersebut kepada tukang kayu. Alangkah gembiranya tukang kayu karena arloji kesayangannya ditemukan kembali. Ia berterima kasih kepada anak tersebut dan bertanya bagaimana ia bisa menemukannya. Padahal sebelumnya banyak orang yang membongkar serbuk kayu tersebut. Anak itupun menjawab: "Saya hanya duduk tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi ‘tok-tak, tok-tak'. Dengan itu, saya tahu di mana arloji itu berada". *** Ketika kita mendapatkan masalah, kita ingin masalah itu cepat selesai. Tidak seorangpun ingin masalahnya berlarut-larut yang pada gilirannya dapat menghambat aktivitas. Namun, seringkali ketika masalah itu datang, kita belum memiliki jalan keluarnya. Hal ini terjadi karena peliknya masalah yang dihadapi. Menghadapi suatu masalah pelik, alih-alih memikirkannya setiap saat ada baiknya sejenak kita lupakan masalah tersebut. "Duduklah dengan tenang dan buatlah secangkir teh", demikian kata seorang bijak. Lao Tzu, seorang filsuf China pernah berucap, "Ketenangan merupakan sumber kekuatan yang luar biasa". Dalam suasana yang tenang dan nyaman, otak kita akan mampu berpikir dengan baik. Ketenangan memberikan kekuatan bagi otak untuk bekerja dengan baik. Berbagai alternatif untuk memecahkan masalah yang pelik tersebut, akan muncul dengan sendirinya dalam pikiran kita. Layaknya detak arloji yang terdengar di keheningan. Oleh sebab itu ketika kita kehilangan akal dalam menghadapi suatu persoalan, maka jangan ambil keputusan apapun. Alih-alih mengambil keputusan yang tergesa-gesa, lebih baik tenangkan pikiran terlebih dahulu. Ketika saatnya tiba, pikiran akan memberikan jalan keluar yang efektif. Saat itulah waktu yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan. ______________
Yusrizal Penulis adalah Staf ADM di FBSS Universitas Negeri Padang, juga aktif menulis di http://yusrizalfirzal.wordpress.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:49:00 PM
  |
|
|
|
| Monday, February 08, 2010
|
|
Mengapa Aku "RESIGN" dari Bank Central Asia (Inspiration Story)
|
“Kok resign sih dari BCA ?”
Entah sudah berapa kali, pertanyaan simple (yang jawabannya sama sekali tidak simple) ditanyakan kepadaku. Seandainya saja aku mau berusaha keras untuk mengingat kemudian menghitung jumlahnya, aku akan kesulitan melakukannya. Karena memang tak terhitung jumlahnya, alias sudah teramat sering.
Bahkan beberapa orang sempat berkali-kali memintaku untuk menuliskan hal itu. Supaya menjadi pelajaran bagi orang lain, begitu alasan mereka. Bagi siapa ? Entahlah.
Segolongan teman yang mewakili wiraswasta atau lebih beken disebut enterpreneur, menunggu jawaban yang mereka harapkan dapat menjadi sekedar pembenaran bagi alasan-alasan mereka menjadi enterpreneur. Alasannya beragam, dari gaji karyawan yang dianggap kurang, dendam pada atasan, tidak punya pilihan, dan berbagai alasan lainnya.
Sedangkan golongan yang kedua adalah kaum profesional (baca : karyawan) tentunya, seringkali merasa jengah, bahkan sebelum mereka mendengar sepatah kata apapun sebagai jawaban atas pertanyaan diatas.
Bagiku pribadi keduanya sama-sama klise dan sama-sama menggelikan.
Aku bekerja di PT. Bank Central Asia, Tbk dengan awal yang unik. Sebagai seorang yang masih tergolong freshgraduate aku dipanggil oleh BCA untuk sebuah wawancara. Sebagai sebuah catatan, ketika itu krisis moneter tengah hebat-hebatnya terjadi di Indonesia. Puluhan ribu karyawan di PHK, sementara puluhan ribu sarjana dan calon sarjana, ketar-ketir harap-harap mules, di kampus mereka masing-masing. Mau keluar dari sana, tidak ada pekerjaan. Mau bertahan dikampus, malu karena ketuaan.
“Saya ingin ditempatkan di team internet banking BCA”, jawabku ketika dua orang petinggi di Divisi Teknologi Informasi bertanya tentang minat yang mendorongku bergabung dengan mereka. “Tetapi team yang Anda maksud belum ada”, jawab salah satu dari mereka, sambil menatapku tajam. “Dalam beberapa bulan lagi team itu akan Bapak bentuk”, jawabku tidak mau kalah.
Mereka saling berpandangan satu sama lain.
“Salah seorang direktur BCA mengatakannya di koran”, sahutku seolah mengerti jalan pikiran mereka. “Ia mengatakan dalam beberapa bulan BCA akan mengkonsetrasikan diri mereka kepada pengaplikasian teknologi internet. Dan itu pastilah berarti bahwa BCA akan membentuk team itu segera. Dan saya ingin berada disana !”.
Salah seorang kembali bertanya, “Seandainya saja Anda ditempatkan di team lain, dengan bidang yang lain, yang bukan merupakan team yang Anda mau. Apakah Anda bersedia ?”.
“Maaf Pak, yang saya inginkan hanya di team internet banking, dan bukan yang lain. Jika saya diletakkan dibagian lain, saya lebih memilih untuk tidak diterima di bank ini, karena bagi saya itu adalah sebuah langkah mundur”, jawabku membulatkan tekad memberanikan diri.
Dengan tidak aku duga sama sekali, kedua orang pewawancara itupun tertawa terbahak-bahak, sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka.
“Orang gila..orang gila….ya..ya..ya..”, kata mereka kepadaku.
Interview hari itu ditutup begitu saja. Dengan sebutan gila untukku dan terakhir sebuah jabat tangan erat.
Beberapa hari kemudian aku dipanggil kembali, kali ini oleh dua orang yang berbeda. Yang seorang berwajah tampan menggunakan kaca mata dan berkulit putih bersih. Dia jauh lebih irip seorang model atau pemain film, dibandingkan seorang pakar IT(Information Technology). Sedangkan yang seorang lagi, berambut tipis dan memiliki perut yang gemuk. Kalau yang satu ini memiliki aura IT yang begitu kental. Sorot matanya menandakan ia orang yang sangat cerdas.
“Ha..ha..ha..rupanya ini orangnya…ha..ha…ha..”, sambut mereka serempak ketika baru saja melihat sosokku memasuki pintu ruangan itu.
Kami segera berjabat tangan (lagi), dan setelah itu entah mengapa kedua orang itu menghabiskan kurang lebih 2 menit selanjutnya dengan mengamatiku, berpandangan satu sama lain, kemudian tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa.
Singkat cerita, beberapa bulan kemudian BCA membangun aplikasi Internet Banking mereka yang kemudian diberinama klikBCA, dan aku ada disana, sebagai team inti yang bertanggungjawab akan tugas tersebut. Sesuatu yang sangat membanggakan dan tidak akan terlupakan seumur hidupku. Aku mendapatkan apa yang sungguh-sungguh ingin ku kudapatkan. Teknologi internet banking, database, networking, web programming dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, sejak saat itu aku mendapat sebuah pelajaran yang sangat berarti, bahwa hidup ini akan memberikan sesuatu apapun itu (yang baik) kepada siapapun yang sungguh-sungguh meminta dan mengingininya.
Perjalanan yang sangat mengasyikkan kulakoni di bank itu, hingga tidak terasa hampir tujuh tahun berlalu ! Banyak hal berharga yang telah kuterima dari BCA kala itu, diantaranya : memperkokoh gelar Sarjana Komputer dari kampus, dengan serangkaian praktek nyata dilapangan, belajar sistem dunia perbankan, investasi didunia saham, termasuk pelajaran-pelajaran “tambahan” lain.
Sepanjang waktu itu juga aku bertemu dengan beberapa tipe karyawan yang “katanya” nyaris ada disetiap perusahaan. (Bahkan diperusahaan yang kubentuk )
Tipe pertama, mereka yang antusias akan pekerjaan mereka dan bahagia sekaligus bersyukur dengan salary yang mereka dapatkan. Mereka adalah golongan orang-orang yang walau masih hidup didunia, tetapi merasa di surga.
Golongan kedua adalah mereka yang pasrah dengan pekerjaan mereka dan iklash dengan salary mereka. Ini adalah tipe robot, yang melakukan sesuatu bukan karena hasrat, tetapi sebagai sebuah kebiasaan. Dingin dan otomatis.
Golongan karyawan ketiga, adalah mereka yang begitu termotivasi pada pekerjaan mereka tetapi tidak ambil pusing pada gaji yang mereka peroleh. Ini adalah golongan pekerja sosial.
Yang terakhir, golongan keempat, adalah mereka-mereka yang benci pada pekerjaannya, tetapi menerima uangnya (karena alasan kebutuhan). Tipe ini akan selalu komplain, tetapi tidak pernah berani keluar dari tempat dimana ia bekerja. Golongan ini kami sebut (bukan oleh saya…tetapi oleh kami)..agak kasar mohon maaf…sekali lagi maaf…sebagai pelacur.
Golongan pelacur inilah yang paling mengherankan. Mereka komplain setiap hari akan pekerjaan mereka, komplain akan gaji mereka, setiap hari menjelek-jelekkan perusahaan tempat mereka bekerja, selalu merasa diperlakukan tidak adil, selalu kurang, selalu ada yang salah, tetapi tidak berani atau tidak berhasil mendapatkan tempat kerja baru. (mungkin karena takut, atau mungkin tidak keterima dimana-mana).
Kempat hal inilah pelajaran “tambahan” yang kumaksud itu.
Oh iya, ada satu hal lagi yang paling berharga yang kuterima dari BCA saat itu, yaitu diperkenalkan pada sebuah hobby bernama photography. Sebuah hobby yang sangat luar biasa. Hobby ini juga yang membuat hari Sabtu dan Minggu adalah hari tanpa istirahat buatku. Senin sampai Jumat di kantor, sedangkan Sabtu, Minggu motret. Hobby ini terus bergerak sedemikian rupa sehingga membuat Selasa hingga Kamis ada di kantor, Jumat bolos setengah hari, untuk motret. Senin bolos fullday (jika Sabtu Minggu motret diluar kota). Sabtu dan Minggu, hampir pasti untuk motret.
Boss di kantor yang semula bertanya, “Kemana lu kok nggak masuk ?”, akhirnya mengubah pertanyaan itu menjadi “Gimana foto kemaren, bagus nggak ?”
Clientnya pun beragam, dari wedding, perorangan hingga perusahaan. Bahkan kegiatan potret memotret didunia wedding, secara tidak sadar menggiring kami untuk membentuk sebuah wedding planner yaitu Kistijah, yang tetap beroperasi hingga sekarang. Lebih dari itu hobby photography akhirnya menggiringku kesebuah persimpangan yang membuat aku mau tidak mau harus memilih yang satu dan meninggalkan yang lain.
Tidak ada yang salah dengan Bank Central Asia, yang terjadi adalah sesuatu yang berbeda dalam diriku. Aku menemukan sebuah panggilan yang semakin lama semakin kurasakan memang diperuntukkan oleh kehidupan bagiku. Dan panggilan itu bernama “enterpreneur”.
Proses kontemplasi ini berlangsung selama sebulan penuh pada saat aku terbaring karena sakit dirumah. Ketika itu aku baru saja selesai mengerjakan sebuah proyek foto dari dua buah perusahaan obat-obatan terbesar di Indonesia, yaitu Kalbe Farma dan Dankos Laboratories. Mungkin juga karena kurang beristirahat setiap minggunya, membuatku kelelahan dan akhirnya jatuh sakit.
Merasa terpanggil, dan tidak ingin mendua hati, disamping perasaan bersalah kepada BCA karena tidak bekerja seoptimal dulu, membuat aku akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu dan meninggalkan Divisi Teknologi Informasi PT. Bank Central Asia, Tbk.
Jadi alasan kepergianku dari BCA dan memulai perjalanan dalam dunia enterpreneur tidak sama dengan alasan klise yang sering “digembar-gemborkan” oleh sebagian dari mereka yang kemudian beralih dari karyawan menjadi siluman enterpreneur. Orang-orang yang merasa mentok di karir pekerjaan, atau ingin buru-buru kaya, ataupun dendam akan pekerjaan dan perusahaan mereka.
(Aku resign dari BCA, sambil mengantongi sebuah janji promosi di satu tahun kedepan)
Entah mengapa begitu banyak orang, baik dari golongan profesional/karyawan maupun enterpreneur, mempunyai anggapan bahwa enterpreneur itu berada di srata lebih tinggi dari kaum karyawan. Sebuah anggapan yang bagiku pribadi, tidak selalu benar dan sangat tidak mendasar. Padahal kaum enterpreneur seringkali sangat menggantungkan kesuksesan dan kelangsungan hidup bisnis mereka pada para profesional yang ada. Apakah pengusaha sekaliber Bob Sadino tidak membutuhkan sederet kaum profesional yang membantunya mencetak miliaran rupiah ? Rasanya tidak mungkin.
Anggapan ini juga sama kelirunya -bagiku pribadi- dengan sebuah anggapan bahwa kalau ingin cepat kaya jadilah enterpreneur, sedangkan kalau mau miskin seumur hidup jadilah karyawan. Ini sesuatu yang aneh, mengingat setiap orang memiliki gunung rejekinya sendiri-sendiri. Dan TUHAN, Yang Maha Kaya sama sekali tidak dapat diukur dengan “besar-kecilnya” gaji yang diperoleh oleh karyawan diperusahaan tempatnya bekerja, karena rejeki yang IA siapkan tidak terbatas bagi masing-masing orang.
Sekali lagi, bagiku pribadi, semua ini adalah masalah panggilan dan pilihan.
Sehingga tidak ada alasan untuk tidak berbangga menjadi seorang karyawan/kaum profesional apalagi seorang karyawan yang sungguh-sungguh profesional. Dan sama sekali tidak ada alasan bagi kaum enterpreneur untuk membusungkan dada dan memandang rendah mereka yang berada diquadrant lain.
Seperti nasehat bijak yang pernah kudapatkan dari seseorang yang luar biasa, “Yang jelas dimanapun kita berada dan apapun status kita, selalu berikan yang terbaik. Jika kita kebetulan sebagai karyawan, berikan yang terbaik dan berdoalah selalu bagi perusahaan tempat kita bekerja. Jika kita adalah enterpreneur, berikan yang terbaik untuk karyawan kita dan untuk client-client kita, maka rekaman-rekaman tak kasat mata dalam hidup ini akan mencatat secara sangat detail semua sumbangsih kita, kemudian menunggu waktu tepat untuk membalaskan kepada kita semuanya itu. Bukan berdasarkan golongan enterpreneur atau karyawan, tetapi seberapa tulus kita memberikan yang terbaik bagi kehidupan. Karena TUHAN pemilik kehidupan ini tidak pernah membiarkan diri-NYA berhutang kepada siapapun !” (***)
what a wonderfull world ! what a exiciting journey !! Made Teddy Artiana, S. Kom http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/ mobile # 0813 178 227 20 Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:08:00 PM
  |
|
|
|
| Saturday, February 06, 2010
|
|
Airnya Yang Keruh, Atau Dispensernya Yang Berdebu?
|
Hore, Hari Baru! Teman-teman. Apakah anda pernah berurusan dengan para pemakai ’topi negatif?’ Apapun yang anda katakan, mereka selalu menanggapinya secara negatif. Sekalipun anda membicarakan sesuatu yang positif, dimata mereka tetap saja negatif. Bahkan, sekalipun mengakui bahwa gagasan anda mengandung sisi positif, mereka tetap berdiri disudut pandang negatif. Walhasil, mereka tidak mendapatkan manfaat apapun dari apa yang anda sampaikan. Eh, jangan-jangan; yang memakai topi negatif itu kita sendiri, ya? Teman saya yang bekerja disebuah perusahaan air minum dalam kemasan bercerita tentang seorang pelanggan yang komplain dengan sangat garang. Sungguh seorang pelanggan yang sadar bahwa ’Customer is King’. Didorong oleh dedikasi, teman saya mengunjungi rumah sang pelanggan untuk menindaklanjuti pengaduannya. Tahap pertama yang dilakukan oleh teman saya adalah memastikan bahwa air minum yang dibelinya memang asli keluaran perusahaannya. Ternyata asli. Jadi, seharusnya air itu mencerminkan komitmen perusahaan terhadap kualitas air yang dipasarkannya. Tahap kedua, teman saya menginspeksi tata cara penanganan air tersebut. Termasuk diantaranya kondisi dispenser yang digunakan tuan rumah. Pemeriksaan tidak hanya dibagian yang mudah terlihat, melainkan juga bagian dalamnya. Dan dengan disaksikan oleh tuan rumah, pemeriksaan itu menghasilkan ’beberapa telur kecoa’ dan biangnya sekalian. Sekali lagi, salah satu sifat ’lemah’ manusia muncul. Jika air yang keluar dari dispenser kita kotor, kita berkesimpulan bahwa air yang kita beli kualitasnya buruk. Dan pihak yang harus bertanggungjawab adalah produser air itu. Dalam banyak situasi, kisah nyata yang diceritakan oleh teman saya itu sangat mirip dengan keseharian kita. Kita cenderung melihat ’keluar’ daripada ’kedalam’. Makanya tidak heran jika ada saja orang-orang yang selalu memandang negatif terhadap pemikiran, gagasan dan pendapat orang lain. Dari sudut pandang ilmu perilaku, hal semacam itu disebut dengan istilah ’judgemental’. Orang dengan sikap ’judgemental’ selalu terfokus kepada kelemahan pendapat orang lain. Sehingga, terhadap apapun yang dikatakan oleh orang lain; dia selalu berusaha menemukan sisi buruknya. Tidak peduli betapa baik dan mumpuninya gagasan seseorang, pasti ada celah untuk diserang. Lagipula, bukankah kita percaya pada dogma ’tidak ada yang sempurna’? Lho, bukankah kemampuan seseorang untuk menemukan titik lemah adalah salah satu ciri kecerdasan? Itu betul. Karena kemampuan untuk berpikir kritis adalah tanda dari orang-orang yang IQ-nya tinggi. Namun, kita semua tahu, bahwa IQ bukanlah faktor penentu utama dalam mengukur kualitas diri seseorang. Karena, tanpa standar kecerdasan lain, seseorang dengan IQ tinggi hanya mirip mesin hitung. Sederhananya, ’berpikir kritis’ ada di daerah ’kedigdayaan’ IQ, sedangkan ’menemukan cara terbaik untuk ’mengekspresikan’ beda pendapat ada di wilayah ’kearifan’ EQ. Dan untuk membangun interaksi positif manusia butuh kedua-duanya. Makanya, orang-orang yang hanya cerdas IQ tapi rendah EQ, sering dilanda frustrasi karena kegagalannya untuk meraih penerimaan orang lain atas ’kecanggihan’ dirinya. Tahap ketiga yang dilakukan oleh teman saya adalah menunjukkan cara membersihkan dispenser, dan tips merawatnya agar tetap bersih. Dan setelah dispenser itu dibersihkan, ternyata air yang keluar dari dalamnya juga bersih. Boleh jadi, bukan gagasan atau sumbernya yang bermasalah, melainkan kepala dan hati kita yang berfungsi seperti dispenser itu yang kurang bersih. Sehingga kalau kita bersedia membersihkannya, akan kita temukan kebenaran, dan kejernihan dari gagasan yang datang dari orang lain. Mengapa kita butuh itu? Karena, orang paling cerdas sekalipun tidak mampu menemukan semua solusi. Sehingga, kesediaan kita untuk menerima gagasan dan masukan dari orang lain dengan hati yang bersih menjadi faktor penting. Apakah itu berarti kita harus selalu setuju dengan gagasan orang lain? Tidak juga. Namun, setidak-tidaknya kita bisa bertukar pikiran dengan itikad yang baik, melalui cara yang baik, untuk menemukan solusi terbaik. Mengapa begitu? Karena, dari sudut pandang ilmu komunikasi, bukan hanya isi atau konten yang harus baik, melainkan juga bagaimana cara menyampaikannya. Jika menerapkan prinsip ini, mungkin kita bisa menghindari konflik yang terjadi karena salah satu pihak merasa benar sendiri. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bersedia membersihkan ’dispenser’ didalam dirinya sendiri. Caranya? Antara lain, (1) Menghargai hak orang lain untuk menyampaikan gagasan, (2) Membuka diri akan kemungkinan kebenaran pihak lain, (3) Menenpuh jalan elegan saat berbeda pendapat, dan (4) Jikapun tidak bisa mencapai kata sepakat, junjung tinggilah norma yang berlaku dimasyarakat. Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman “SS-Pro™ Office Communication Strategy” Learning Facilitator http://www.dadangkadarusman.com/ Catatan Kaki: Kualitas diri seseorang tidaklah semata-mata dinilai dari kecanggihan hasil pemikirannya. Melainkan juga, melalui cara dia menyampaikannya. Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:39:00 PM
  |
|
|
|
| Friday, February 05, 2010
|
|
Anda Hanya Butuh 1 Kata dalam berhubungan dengan orang lain yaitu Pujian
|
Cerita-cerita terdahulu banyak sekali yang memberitahukan kita bahwa setiap manusia itu ingin dan selalu ingin merasa di hargai dan diakui keberadaannya di dunia ini. Yaa...pengakuan ini tentu saja akan berbeda-beda bagi setiap orang tergantung siapa dan bagaimana backgroundnya terdahulu. Namun benang merahnya (seperti kata dalang dalam OVJ), untuk mendapatkan hal ini hanya satu yaitu memperoleh perasan penting diantara rekan teman,keluarga dan lingkungan sejawatnya.
Hasrat menjadi penting dan besar hampir sama mutlaknya seperti keinginan makan dan tidur. Hal ini merupakan gambaran yang jelas yang pernah di keluarkan oleh beberapa orang besar yaitu Sigmun Freud yang pernah berkata,
"Bahwa segala yang anda dan saya kerjakan berasal dari dua motif, desakan seks dan hasrat menjadi besar".
John Dewey: "Desakan yang paling dalam pada sifat dasar manusia adalah hasrat untuk menjadi penting". William James" "Prinsip paling dalam pada sifat dasar manusia adalah kebutuhan di hargai".
Bahkan Lincoln juga pernah mengirim suratnya dengan mengucapkan, "setiap orang menyukai pujian".
Kita ambil saja contoh George Washington ingin dipanggil yang mulia. Colombus memohon mendapatkan sebutan "Admiral lautan dan raja muda india". Yang mulia Catherine menolak untuk membuka surat-surat yang tidak bertuliskan yang mulia. Yang di depan mata kita saja bagaimana guru bangsa kita yang baru saja berpulang sedang berusaha mendapatkan gelar pahlawan.
Tidak aneh memang hal ini terjadi, dan ini memang sifat dasar. Kalau anda pernah merenungkan diri anda sendiri, anda baru akan sadar kalau biasanya pada saat anda tidak memikirkan sebuah pekerjaan, maka lebih dari 75 % waktu anda akan anda habiskan untuk memikirkan diri anda sendiri. Apa yang anda pikirkan ini menunjukkan bahwa setiap orang itu memang memiliki sifat egoisme dan mengutamakan dirinya di dalam kehidupannya. Hal ini sangat wajar dan tidak ada yang salah dengan itu.
Menarik bukan, penjabaran di atas penting sekali dalam kehidupan kita karena hal tersebut dapat menjadi modal utama bagi kita semua untuk dapat berhasil dalam hidup kita. Seorang teman saya di kantor yang terdahulu, yang sering selalu saya sebut sebagai ideal leader, adalah sebuah karakter yang sempurna menurut saya. Dia adalah seorang teman, atasan dan rekan kerja yang luar biasa. Beliau adalah seorang pemimpin department di sebuah perusahaan besar di Indonesia. Beliau sangat tahu bagaimana untuk menghargai orang lain dan dengan kemampuannya ini menjadi tenaga pegas yang luar biasa dalam karirnya.
Dengan umurnya yang terbilang muda beliau sudah bisa memimpin sebuah departemen strategis di perusahaan tersebut. Saya sempat terheran melihat beberapa hal yang dia lakukan didalam kegiatan bersosialisasi di kantor. Mari kita telaah beberapa kebiasaaanya :
Dia selalu memuji setiap pendapat yang di keluarkan siapapun, bahkan menurut saya itu pendapat yang biasa banget tapi dia bisa memberikan penghargaan yang tulus akan itu (pujian/penghargaan).
Dia selalu fokus dan berusaha tidak terganggu oleh apapun apabila orang lain sedang berbicara, dan seakan-akan pendapat orang tersebut sebegitu pentingnya untuk dia (pujian/penghargaan).
Dia selalu mengingat beberapa patah kata yang pernah dia dengar dan dalam kesempatan lain dia akan memberitahukan kata-kata tadi dan memberitahukan dia mendapatkan pendapat itu dari siapa (pujian/penghargaan).
Beberapa tindakan diatas saya sampaikan dengan maksud ingin menunjukkan kepada anda, bahwa memang pujian dan penghargaan merupakan hal penting dalam hidup ini. Saya yakin anda pun setuju bahwa dipuji atau di hargai orang lain merupakan kebutuhan dasar kita.
Untuk itu mari kita berhenti memikirkan diri sendiri saja, luangkan waktu yang lebih untuk mencari kelebihan seseorang dibandingkan mencari kelemahan seseorang. Berilah pujian yang tulus, lakukan pujian itu sepenuh hati. Ingat bahwa seorang M. Schwab - seorang pemimpin perusahaan baja terkenal yang bergaji sejuta dolar tiap tahun atau tiga ribu dolar sehari- pada saat berbagi rahasaianya beliau berkata,
"Bahwa asset yang paling besar yang saya miliki adalah kemampuan saya dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain, dan hal ini saya lakukan dengan sebisa mungkin memberikan penghargaaan dan pujian dan meninggalkan sejauh-jauhnya yang namanya kritik". Salam hangat dari saya dan sukses selalu
D_loebiz Founder & Motivator Beranie Gagal.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:03:00 AM
  |
|
|
|
| Wednesday, February 03, 2010
|
|
Haruskah Kita Memarahi atau Mengkritik? I Don't Think So...
|
Setiap hari kita bertemu dengan berbagai macam orang, pasti akan menjadi alat musik yang akan menjadi nada-nada yang mengisi kehidupan kita. Ada yang lagi senang, sedih, bahagia bahkan ada yang lagi tidak jelas sambil tertawa (hihihihi.. mudah-mudahan bukan kita), ada juga yang sambil terbengong bengong.
Fyuh...seru sekali yah. Itulah memang kenyataanya bahwa latar belakang dan permasalahn yang dihadapi setiap orang yang menyebabkan mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang mungkin menurut kita bodoh atau sama sekali out of our mind. Mungkin anda akan bilang: "Gila apa ya?!", "Kok bisa ya?", "Ampun deh", "Woww!!", dan mungkin masih banyak lagi yang lainnya. Terkadang kegiatan-kegiatan yang tidak masuk akal ini akan mereka lakukan di dalam kehidupannya bertetangga dengan kita, bekerja sama dengan kita dan berbisnis dengan kita. Dan kalau ini terjadi menyebabkan kita ingin meledak dan memakan orang-orang ini, karena dengan adanya masalah-masalah mereka kita yang terkena dampaknya.
Pernah dalam satu diskusi dengan teman saya, sebut saja TAnzil, beliau mengatakan,
"Dod, di dalam hidup ini hanya satu yang nggak ingin saya temuin"
"Apa tuh zil?" tanya saya, beliau menjawab,
"Saya gak pingin ketemu dengan orang gila",
Saya tercengang, dan kembali menanyakan maksud dari perkataan dia tadi, lalu teman saya ini menjawab,
"Kalau sampai saya ketemu satu orang gila aja pasti akan merusak semua kehidupan saya", semakin bingung saya dan kembali menanyakan apa maksudnya, sambil dia tertawa dia menjelaskan,
"Kamu bayangin kalau kamu ketemu tetangga yang gila dan hidup seenaknya. Bagaimana kehidupan kita bermasyarakat pasti ada yang tak beres. Kalau di kantor ketemu orang gila pasti akan ada aja ritme yang dirusak. Kalau berbisnis bertemu orang gila pasti ada aja yang jahilin. Itu lah makanya saya tidak ingin ketemu dengan orang gila".
Kiasan yang menarik dan saya sangat menyetujuinya. Tapi apakah anda bisa menghindarinya? Tentu tidak, di kantor saya yang dahulu ada seperti itu, di tempat usaha saya ada yang seperti itu, di lingkungan saya pun ada. Lalu apakah kita harus menghindar? Tentu tidak!
Lalu apa yang terjadi kalau kita bertemu dengan orang-orang semacam ini? Setiap kali kita bertemu dengan orang-orang semacam ini, saya yakin anda akan terpancing emosinya dan marah lalu mengkritiknya. Tidak ada yang salah, sangat manusiawi, bahkan dulu saya juga pernah melakukannya. Namun apakah tindakan itu benar? Ya, saya rasa anda tahu jawabannya, marah atau mengkritik bukan solusi yang terbaik dalam menghadapi hal ini. Anda tahu bahwa kritik dan marah adalah hal yang sia-sia.
Mengapa demikian? Karena kedua hal ini menempatkan seseorang dalam posisi defensive dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik dan marah itu sangat berbahaya karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya dan meimbulkan rasa benci.
Pasti anda akan bertanya Mengapa demikian? Dalam buku "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengarui Lawan", karangan Dale Carnegie, beliau mengatakan bahwa semua orang tidak pernah merasa salah, dan apa yang mereka lakukan mereka selalu rasionalisasi. Sebagai contoh:
Seorang pembunuh berdarah dingin di Amerika (Crowley) yang tidak segan-segan membunuh siapapun dengan sadis. Pada saat membunuh polisi yang dibunuhnya dan pada saat sebelum tertangkap Crowley menulis dengan darah "Di balik pakaian saya ada hati yang letih, tapi ada sebuah hati yang baik". Begitu pula pada saat hendak di hukum mati, Crowley mengatakan bahwa apa yang saya lakuan karena membela diri saja.
Al capone, yang pemimpin gang yang paling kejam dan pernah membantai di Chicago, menganggap dirinya adalah dermawan yang tidak dihargai dan tidak di mengerti.
Dutch Schultz, salah seorang penjahat paling terkenal di New York, menyatakan dalam wawancara bahwa dia adalah dermawan publik.
Ketiga contoh di atas diakui oleh Lewis Laws yang merupakan sipir penjara sing sing New Yor , yang menyatakan bahwa hanya sedikit dari para kriminal yang menganggap dirinya orang jahat, dan mereka sama manusiawinya seperti anda dan saya.
Dari beberapa hal di atas membuktikan bahwa semua orang itu tidak ada yang menganggap dirinyaitu gila, salah dan buruk. Mereka beranggapan bahwa kita saja (orang di sekelilingnya) yang tidak mengerti kenapa mereka melakukan itu, dan hal ini yang menyebabkan mengkritik dan memarahi adalah hal fatal dalam bersosialisasi.
BF Skinner, seorang psikolog terkenal di dunia membuktikan lewat pengalamannya, bahwa seekor binatang yang diajari dengan imbalan hadiah akan belajar jauh lebih cepat dibandingkan yang dengan menggunakan hukuman dan amarah.
Hans Selye, seorang psikolog besar lainnya mengatakan bahwa kehausan kita akan persetujuan sama besarnya dengan ketakutan kita atas kritik.
Dari beberapa hal di atas saya ingin kita semua memahami bahwa it's useless (tidak guna) bagi kita untuk memarahi dan mengkritik seseorang, maka jadilah temannya, pahami dia dan sentuhlah dia tepat di hatinya (hua hua hua seperti lagunya ari lasso), maka anda akan jauh lebih mudah merubah seseorang. Ingat hal ini, memarahi dan mengkritik hanya akan membuat anda ikut kesal, capai dan buang-buang tenaga. Jadilah orang yang yang wise, memahami dan merubah orang lain dengan hati.
Salam hangat dari saya dan sukses selalu,
D_loebiz Founder & Motivator BeranieGagal.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 8:41:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, February 02, 2010
|
|
Beranie Gagal Desember 2009 & Januari 2010 Versi PDF Sudah Ada
|
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal!
Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal Desember 2009 & Januari 2010 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2009 untuk Desember 2009 dan E-book Beranie Gagal > Arsip 2010 untuk Januari 2010. Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?!
Selamat Membaca!
Salam sukses!
Ryan Founder & Moderator Beranie Gagal Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:44:00 AM
  |
|
|
|
|
|
Monyet di Pucuk Pohon Kelapa
|
Sahabat, ada cerita seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede.
Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.
Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik.
Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik.
Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.
Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin TOPAN duluan, dia tiup sekencang-kencangnya, Wuuusss…
Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.
Giliran Angin TORNADO. Wuuusss… Wuuusss… Dia tiup sekenceng-kencengny a. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.
Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss… Wuuuss… Wuuuss… Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.
Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.
Nggak banyak omong, Angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss… Enak banget. Adem… Seger… Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.
Sahabat, dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah: Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN… Dicoba dengan Penderitaan… Didera Malapetaka.. . Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya.. .
Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN.. . KESENANGAN.. . KELIMPAHAN.. . jangan sampai kita terlena... Kita mesti tetap hati-hati...
Sumber: Anonymous Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 6:07:00 AM
  |
|
|
|
|
|