Beranie Gagal Commercial










Cara Pasang Banner

Donasikan Blog Ini
Beranie Gagal Award
 
Beranie Gagal Partners







BERHADIAH 30 JUTA
KLIK DISINI
TDW Mastery - Sources to Skyrocketing Your Success
















Hubungi Kami
Silahkan hubungi kami bila ada saran, kritik, pertanyaan, ingin kirim artikel ataupun tukeran link

Nama
Email
Judul
Pesan

Quote's Of The Day



   



Your Ad Here
Tuesday, January 26, 2010
Ada 4 Jenis Sekolah Bisnis, Mana yang Akan Anda Ikuti?
Ada yang pernah tahu sekolah bisnis? Kalau sekolah akademik pasti anda tahu kan? Ada playgroup, TK, SD, SMA, SMK, S-1, S-2 dan seterusnya.

Dulu saya tidak tahu seperti apakah sekolah bisnis tersebut. Waktu itu yang saya hanya berpikiran untuk mencari peluang bisnis saja.

Sampai suatu ketika saya membaca buku karya Robert T Kiyosaki, akhirnya saya mengetahui ada 4 jenis sekolah bisnis menurutnya. Dan beruntungnya, Kiyosaki sempat mengikuti keempat jenis sekolah bisnis tersebut.

1. Sekolah Bisnis Tradisional.
Sekolah ini berlokasi di perguruan tinggi negeri dan atau universitas swasta berakreditasi. Keduanya menawarkan gelar MBA. Para pengajar atau instrukturnya biasanya adalah karyawan sekolah bisnis tersebut atau karyawan perusahaan yang berpengalaman.

Siswanya sebagian besar berusaha menjadi karyawan yang berpendidikan tinggi dan bergaji tinggi, seperti halnya para pengajar atau instrukur mereka. Mereka berusaha mendaki tangga perusahaan untuk mencapai jabatan penting di perusahaan dimana mereka bekerja.


2. Sekolah Bisnis Keluarga.
Banyak bisnis keluarga yang bisa anda jadikan tempat yang bagus untuk mendapatkan pendidikan bisnis. Contoh bisnis keluarga adalah Bakrie Group atau yang semisalnya. Hanya saja, biasanya seseorang yang "diterima" di sekolah tersebut adalah keluarga mereka.

Tapi kalau anda dekat dengan salah satu dari keluarga mereka, anda bisa belajar banyak dari mereka. Sekolah tersebut adalah sekolah yang bagus. Apalagi jika pemilik perusahaan keluarga tersebut bukan hanya entrepreneur yang hebat, tapi juga guru yang baik.

Anda tidak perlu mencari bisnis sebesar Bakrie Group. Banyak bisnis skala kecil dan menengah yang telah sukses yang bisa anda ikuti. Tinggal mencocokannya dengan tipe bisnis yang cocok bagi anda. Kalau anda belum tahu tipe bisnis apa yang cocok bagi anda, bacalah artikel saya mengenai jenis-jenis bisnis yang cocok bagi anda.

3. Sekolah Bisnis Perusahaan.
Sebagian besar bisnis atau perusahaan menawarkan program internal bagi "siswa muda" yang menjanjikan. Setelah lulus, perusahaan tersebut akan menuntun kemajuan karier mereka. Biasanya perusahaan tersebut membayar biaya pendidikan siswanya, bahkan memberikan waktu untuk meneruskan pendidikan mereka.

Setelah menerima pendidikan formal, karyawan yang menjanjikan tersebut seringkali di rotasi ke divisi berbeda perusahaan itu sehingga mereka bisa melihat keseluruhan bisnis dan mendapatkan pengalaman langsung. Sebagai gambaran, ada sebuah perusahaan, sebut saja "Perusahaan X" yang mempunyai fasilitas pendidikan penjualan.

Anda akan dilatih dengan metode khusus mereka. Setelah itu, mereka akan menuntun anda untuk mepraktekan apa yang telah anda pelajari di ruang kelas. Mentor anda bisa membuat anda tetap berada sesuai dengan teori yang anda dapat di ruang kelas hingga anda mampu menerapkan pada tantangan bisnis di dunia nyata.

Banyak yang bisa anda dapat dari sekolah jenis ini. Tidak hanya ketrampilan menjual yang bisa anda dapat, tapi juga menganalisis strategi pesaing, membuat materi iklan yang efektif dan sebagainya.


4. Sekolah Bisnis di Jalanan.
Sekolah jenis ini menurut Kiyosaki adalah sekolah yang diikuti entrepreneur saat ia meninggalkan "rasa aman" yang ada di sekolah bisnis tradisional, sekolah bisnis keluarga atau sekolah bisnis perusahaan. Ini adalah sekolah tempat "kecerdasan jalanan anda" dibangun, yaitu anda memulai sendiri membangun "kerajaan bisnis" anda sendiri.

Sekolah bisnis di jalanan adalah sekolah bisnis yang buruk, guru yang kasar, dan pelit dalam nilai. Anda seringkali harus berhadapan dengan ketakutan terbesar yang didalamnya terdapat keraguan dalam diri anda. Seringkali anda harus menempuh resiko-resiko bisnis yang sebenarnya daripada hanya teori diatas kertas.

Bahkan jika anda pernah mengikuti sekolah bisnis perusahaan dan terjun langsung di lapangan, kerugian akibat kesalahan dan kegagalan anda ditanggung oleh perusahaan. Paling banter anda tidak mendapatkan komisi. Skenario terburuknya adalah anda dipecat. Di sekolah bisnis jalanan, andalah yang harus menanggung sendiri kerugian akibat kesalahan dan kegagalan anda.

Namun, sekolah jenis ini adalah sekolah bisnis terbaik bagi anda, setidaknya begitulah kata Kiyosaki. Anda tidak akan mendapatkan nilai A dan B, pujian atau komisi yang besar. "Nilai anda" di jalanan diukur dengan uang yang anda dapat dan uang yang anda keluarkan.

Kebanyakan pengusaha atau entrepreneur yang berhasil adalah orang yang mengikuti sekolah jenis ini, terjun langsung membangun sebuah bisnis.

Saya hanya pernah dan masih bersekolah di "sekolah bisnis jalanan" ini. Dan saya mempunyai seorang teman yang mengikuti sekolah bisnis tradisional, jenjang S-2. Saat kami sedang berdiskusi, banyak sekali pendidikan bisnis yang saya dapat dari dia.

Bahkan sampai ke beberapa teori dan perhitungan bisnis yang teramat rumit yang kadangkala bertentangan dengan apa yang saya dapat di sekolah bisnis jalanan. Memang tidak semua, beberapa diantaranya sangat bagus sebagai masukan bagi saya.

Sayangnya, saat ini teman saya memutuskan untuk bekerja membangun bisnis orang lain daripada membangun bisnisnya sendiri. Itulah mengapa saya setuju dengan pendapat Kiyosaki bahwa sekolah bisnis di jalanan adalah sekolah sekaligus guru yang terbaik.

Anda akan langsung berhadapan dengan "pendidikan bisnis jalanan" yang bengis, kejam dan tak pandang bulu. Seiring dengan waktu, di sekolah bisnis jalanan pengetahuan, keberanian dan mental pengusaha anda akan terbentuk. Jadi, bagi anda yang ingin sekolah bisnis, anda bisa memilih satu atau lebih dari sekolah bisnis diatas.

Kalau saya sendiri, saya lebih suka sekolah bisnis jenis yang keempat, sekolah bisnis jalanan. Karena bagi saya, hanya sekolah itu yang bisa saya pilih dan saya ikuti. Sekolah bisnis terbaik yang pernah saya dapatkan. Ingat, ini bagi saya lho, mungkin anda berbeda. Kalau anda sendiri, pilih yang mana?

Sumber: www.dokterbisnis.net
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 10:01:00 PM   5 comments
Monday, January 25, 2010
Jangan Lakukan Apa yang Orang Gagal Lakukan
Anda tahu alasan mengapa banyak orang tidak sesukses seperti apa yang mereka inginkan? Rasa takut! Ya, rasa takut yang berlebihan! Takut untuk melakukan kesalahan dan takut untuk gagal.

Perbedaan antara orang yang sukses dengan orang yang gagal hanya ditentukan oleh cara pandang terhadap "garis finis". Orang yang sukses, mereka tidak peduli apakah melintasi "garis finis" di tempat pertama atau terakhir.

Yang mereka pikirkan hanya bagaimana caranya melintasi "garis finis" tersebut. Orang yang gagal, mereka berhenti sebelum menang. Mereka lari 95 meter dari pertandingan 100 meter setiap hari dalam hidup mereka.

Dalam dunia kewirausahaan, anda harus mengalahkan rasa takut itu. Jangan menunggu segalanya berjalan sempurna. Jangan lakukan apa yang orang gagal lakukan, "menunggu semua lampu menyala hijau".

Mereka, orang-orang yang gagal ini, tiba-tiba terlihat seperti seorang "profesional & perfeksionis". Menunggu tiga hal muncul secara bersamaan. Satu : menemukan orang yang tepat, dua : menemukan peluang yang tepat dan tiga : mempunyai uang yang banyak.

Masalahnya, ketiga bagian itu jarang sekali muncul pada saat yang bersamaan. Seringkali mereka ini masih terpaku di depan garasi mereka dengan mesin yang masih mati. Diam di tempat dan selalu berandai-andai. Tentu saja, mereka tidak akan pernah gagal karena tidak pernah mencoba.

Dan sebagai seorang entrepreneur, anda HARUS tidak peduli apakah satu, dua atau bahkan semua lampu menyala merah.

Anda harus mencari dan menggabungkan peluang, uang dan orang yang tepat, bukan menunggu. Lampu yang menyala merah tidak mencegah seorang entrepreneur untuk tetap menjadi seorang entrepreneur.

Berpegang teguhlah pada tujuan anda. Fokus dan konsisten. Sekali anda mengambil keputusan, jangan lakukan apa yang dilakukan oleh orang gagal …berubah pikiran setelah mengambil keputusan dan menunggu segalanya berjalan dengan sempurna…

Sumber: www.dokterbisnis.net
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:39:00 PM   0 comments
Thursday, January 21, 2010
Amarah & Kritik Akan Merusak Segalanya
Emosi yang membara-bara kalau dalam dunia perang bagaikan peluru yang sudah di siapkan di dalam selongsong dan siap untuk di tarikkan pelatuknya pada saat dan tempat yang kita inginkan. Kapankah saatnya yang tepat bagi kita hamba lemah pada umumnya? Yupss... anda benar sekali, pada saat anda merasa kesal dan membenci suatu hal yang menurut anda adalah tindakan bodoh yang dilakukan oleh orang lain. Dan pada saat inilah anda akan menarik pelatuknya dan menembakkannya tepat di hati orang yang sedang anda luapkan amarahnya. Apa yang akan terjadi?

  • Anda akan sangat puas karena memang sudah lama peluru ini anda tidak gunakan dan terasa bahwa peluru ini akhirnya ada gunanya.
  • Anda akan membunuh mati karakter dan pertahanan orang yang sedang anda marahi sehingga orang tersebut hancur dan terenyuh dihadapan anda.
  • Anda akan menunjukkan kekuasaan dan power sesaat pada saat sang terpidana tertunduk dan tidak bisa berkata-kata.
  • Anda akan merasa mendapatkan hak penuh untuk berteriak dan berkata yang tidak sopan kepada seeorang.

Sebenarnya tahukah anda apa yang terjadi?

  • Anda sedang melemparkan boomerang yang anda tidak akan tahu kapan akan menampar muka anda kembali.
  • Anda sedang menanamkan luka yang sangat tajam dan menumbuhkan bibit permusuhan (anda bagaikan memukul paku yang walaupun paku itu di cabut namun dinding itu tetap berlubang).
  • Anda Sedang mengurangi tingkat kedekatan anda dengan teman anda ini kembali ke titik dasar dari hubungan manusia.
  • Anda sedang membangun dinding pertahanan dari orang yang anda marahi dan kritik, dan ini semakin menunjukkan kegiatan memarahi anda itu hanya sia-sia karena tidak akan merubah sesuatu.

Mengerikan sekali bukan bola salju yang diakibatkan oleh tindakan mengkritik dan luapan emosi anda. Memang begitulah adanya bila hal ini terjadi. Ini bagaikan bom ranjau bagi anda sendiri dalam menjalani kehidupan anda dimasa yang akan datang.

Kalau anda, saya, mereka dan kita semua hanya ingin menimbulkan rasa benci pada seseorang yang mungkin akan bertahan sekarang, esok, atau lusa bahkan akan bertahan satu dasawarsa kedepan, cobalah untuk turuti kata hati anda. Beri kritik dan emosi yang tajam – betapapun yakinnya kita akan kebenaran kita. Ingatlah teman, bahwa kita berhubungan dengan sesama manusia yang sebenarnya kita bukan berurusan dengan makhluk logika, akan tetapi dengan makhluk emosional yang selalu di selimuti rasa bangga dan sombong. Karena itu, untuk apa mengkritik dan emosi.

Kalau dalam kehidupan anda ingin merubah teman, keluarga dan lingkungan anda, itu merupakan hal yang sangat terpuji, dan saya dukung itu. Tapi marilah kita mulai dengan diri kita sendiri dan menjadi sangat bijaksana kalau kita yang memberikan contoh dalam perbuatan serta tidak hanya dalam kata-kata (walk the talk). Ingat, jangan pernah mengeluh mengenai kotoran pohon yang ada diserambi tetangga anda, apabila serambi rumah-rumah anda sendiri tidak bersih. Untuk itu stop mengkritik dan meluapkan emosi. Karena semua orang bodoh bisa mengkritik dan memarahi dan juga mengeluh serta hampir semua orang bodoh melakukannya. Saya yakin anda bukanlah salah satu dari mereka. Untuk itu mari berhenti mengkritik. Yang paling utama yang bisa kita lakukan adalah perbaiki diri sendiri, jadikan diri kita contoh ideal dan berilah masukan kepada orang lain bukan melalui kritik akan tetapi dengan tegur sapa yang halus dan penuh kelembutan.

Salam hangat dari saya dan sukses selalu


D_loebiz
Founder & Motivator Beraniegagal.com
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:00:00 AM   1 comments
Wednesday, January 20, 2010
Utamakan Kualitas
Sekarang ini kita memasuki abad "super". Perubahan di segala bidang, supercepat. Perkembangan teknologi, supercanggih. Persaingan bisnis, superketat. Kejahatan, supermerajalela. Jadi? Dibutuhkan seorang individu yang berkualitas super. Jika seseorang masih mengandalkan kekuatan diri sendiri, kualitas super tidak pernah diperoleh. Akibatnya, dia akan menjadi superbingung, superputusasa, superstress, yang ujung-ujungnya dapat mengantarkan kepada kondisi stroke, dan berakhir pada stop... game over.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Baik Rick Warren maupun Laura Nash dan Scotty McLennan, mengusulkan untuk menggunakan senjata pamungkas yang ampuh bernama "nilai-nilai spiritualitas" untuk menjawab berbagai tuntutan "super" itu. Nilai-nilai ini berakar pada nilai-nilai religi.

Spiritualitas, oleh Roy Sembel dipelesetkan menjadi superitualitas, harus menjadi jiwa dari tujuan yang akan dicapai. Manusia tanpa tujuan, ibarat kapal tanpa kemudi, kata Thomas Carlyle. Rick Warren melengkapinya dengan mengatakan, bahwa tanpa tujuan kehidupan tidak memiliki makna. Tanpa makna kehidupan tidak memiliki harapan. Tanpa harapan tidak ada kehidupan, karena harapan tidak berbeda dengan udara dan air dalam kehidupan ini. Jadi, tujuan erat kaitannya dengan eksistensi hidup, karena tujuan memberi makna bagi kehidupan kita.

Tujuan memberi energi. Energi membuat kita dapat beraktivitas. Dengan memiliki tujuan hidup, bangun pagi menjadi lebih bergairah, hidup menjadi lebih menyenangkan, kesulitan bukan merupakan hambatan, tetapi merupakan tantangan yang harus diatasi. Pekerjaan bukan merupakan beban, melainkan kewajiban, kesempatan dan anugerah. Dengan tujuan, segalanya menjadi lebih indah. Semakin jelas tujuan, semakin besar harapan dimunculkan, dan semakin kuat energi dibangkitkan.

Tujuan memberi fokus, yang membantu kita untuk lebih memusatkan perhatian, pikiran dan energi, sehingga kita semakin dekat dengan pencapaian. Kita menjadi lebih fokus dan selektif mengambil tindakan. Tanpa tujuan yang jelas kita mudah menghabiskan waktu dan energi untuk berganti-ganti arah hidup: berganti profesi, pekerjaan, hubungan atau lingkungan. Kekuatan yang terfokus merupakan kekuatan dahsyat untuk menggerakkan hidup, meraih tujuan hidup. Itulah yang dilakukan oleh orang-orang sukses, dari dulu sampai sekarang.

Cara pandang superitualitas mengubah cara pandang lama menjadi baru; melakukan terobosan yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak lazim menjadi lazim. Cara pandang lama dalam bisnis adalah : raup keuntungan sebanyak-banyaknya, kompetisi yang sengit, performa keuangan dan perebutan kekuasaan, telah menceburkan para pelaku bisnis dalam kehidupan yang penuh ketegangan, dan keputusasaan. Cara pandang ini harus dibuang jauh-jauh dan diubah dengan cara pandang baru, yaitu cara pandang spiritualitas.

Laura Nash dan Scotty McLennan menasihati kita jika ingin menerapkan cara pandang spiritualitas dalam bisnis, untuk melakukan hal-hal berikut:

1.Profit Sharing. Paradigma profit taking, hanya memikirkan profit bagi diri sendiri, perlu diubah menjadi profit sharing, yaitu memberi profit bagi pihak-pihak terkait yang membantu kelancaran operasonal usaha: karyawan, supplier dan distributor.

2.Sinergi. Dulu, kerja sama dengan pesaing dianggap tabu, maka tidak berlaku. Sekarang, pesaing bisa bekerja sama secara positif untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Misalnya, sinergi dalam membentuk kawasan bisnis bersama, menetapkan harga bersama, dan sinergi dalam pemberian fasilitas bersama bagi pelanggan.

3.Power Sharing. Dulu, kekuasaan ada pada puncak pimpinan dalam suatu perusahaan. Sekarang, kondisi ini perlu diubah. Dalam mengendalikan kegiatan bisnis, pimpinan puncak suatu perusahaan tidak dapat bergerak tanpa dukungan seluruh jajaran dalam perusahaan. Seorang atasan tidak bisa lagi kerja sendirian. Setiap departemen atau bagian memerlukan dukungan dari departemen atau bagian lainnya. Kondisi pasar yang superkompleks, dengan perubahan supercepat memerlukan kerjasama dalam tim yang solid. Tim yang berkualitas hanya mungkin jika diisi oleh individu yang berkualitas.

4.Ethical Performance. Jika dulu prestasi finansial dijadikan patokan dasar satu-satunya untuk mengukur kesuksesan suatu bisnis, sekarang kriteria itu perlu dilengkapi dengan standar etika yang menjadi kompas penunjuk arah sukses perusahaan. Perusahaan dengan standar implementasi etika yang tingi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk senantiasa berbisnis dengannya.

Ingin sukses dan berkualitas di dunia yang semakin serba "super"? Milikilah kekuatan super! Kekuatan super bukan berakar pada fisik kita sebagai manusia, tetapi kekuatan yang berasal dari nilai-nilai spriritualitas!

Selamat menjadi manusia berkualitas yang bersumber pada nilai-nilai Spiritualitas!

Live as if you were to die tomorrow,
Learn as if you were to live forever.
(Mahatma Gandhi)

Oleh : Teha Sugiyo
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:33:00 AM   0 comments
Tuesday, January 19, 2010
Bibit yang Tidak Bisa Bertunas
Alkisah, di sebuah kerajaan. Karena raja tidak memiliki putra penerus, maka raja menganggap perlu mencari dan memilih calon penggantinya. Untuk itu, dibuatlah sayembara pemilihan ke seluruh negeri, agar diseleksi per daerah hingga ujian terakhir yang akan ditentukan oleh baginda raja sendiri.

Babak akhir, tersisa delapan orang yang memiliki kepandaian setara dan lulus seleksi. Di ibu kota kerajaan, mereka harus menjalani proses tes terakhir oleh sang raja. Raja dengan seksama menyeleksi mereka satu persatu. Di hadapan mereka raja berpesan, "Anak-anakku. Tugas sebagai abdi negara bukanlah hal yang mudah. Itu adalah amanah yang harus diemban dengan tanggung jawab penuh. Kalian berdelapan terpilih sebagai calon yang terbaik. Nah, sebagai tes terakhir, ini kuberi tiap orang 5 butir biji bibit tanaman. Tanam dan rawatlah seperti engkau nantinya harus memelihara kerajaan dan rakyat negeri ini. Pulanglah dan datanglah 2 minggu kemudian kemari beserta hasil tanaman yang kalian bawa pulang ini."

Dua minggu kemudian, di hadapan raja, 7 pemuda dengan bangga memperlihatkan tanaman yang mulai tumbuh bertunas. Tiba giliran pemuda yang ke-8, dengan wajah malu dan kepala tertunduk, ia melihat ke arah pot yang dibawanya dan berkata, "Ampun baginda, maafkan hamba. Biji yang baginda berikan telah saya tanam, saya rawat dengan hati-hati, tetapi hingga hari ini bibit ini tidak mau tumbuh seperti yang diharapkan. Saya telah gagal menjalankan perintah baginda! Saya tidak mengerti dimana kesalahan saya, tetapi setidaknya saya telah berupaya maksimal. Saya serahkan semua keputusan di tangan baginda."

Terlihat senyum penuh kepuasan kemudian disusul tawa terbahak-bahak sang baginda. "Hahaha...!" Semua yang hadir disitu saling berpandangan heran melihat reaksi raja seperti itu.

Lalu, Raja menepuk pundak si pemuda, dan berkata, "Terima kasih anak muda. Baginda senang dan puas. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Masih ada pemuda calon pemimpin bangsa di antara seluruh rakyat negeri ini!"

Sambil berpaling kepada semuanya, raja melanjutkan," Dengar baik-baik. Pemuda ini telah memenuhi harapan terakhirku. Dia pemuda yang jujur, calon pemimpin kerajaan ini di masa depan. Memang tanamannya tidak tumbuh, sepertinya dia gagal! Tetapi sebenarnya, biji yang aku berikan kepada semua peserta telah aku rebus terlebih dahulu, jadi ..ya pasti tidak mungkin bisa tumbuh tunas walaupun dirawat sebaik apapun, karena biji itu telah mati. Aku kecewa sekali saat melihat tumbuhnya tunas yang dibawa anak-anak muda ini. Hai...kalian 7 pemuda, tidak jujur! Kalian pantas dihukum karena berani menipu baginda!"

Segera ketujuh pemuda itu berlutut memohon ampun, namun baginda raja langsung memerintahkan untuk menangkap dan menghukum berat ketujuh pemuda itu. Sungguh tragis, ambisi mereka untuk meraih jabatan tersandung karena ketidakjujuran .

Netter yang luar biasa,

Kejujuran adalah mutiara pribadi yang harus kita miliki dan pelihara dengan baik!

Kejujuran adalah "mata uang" yang berlaku di mana-mana. Walaupun kita hidup tidak berkelimpahan harta, namun dengan kejujuran, hidup kita akan bebas dari perasaan waswas, takut, dan cemas. Sehingga, kita akan menikmati kehidupan ini dengan tentram, damai, dan bahagia.

Salam sukses, LUAR BIASA!!

Oleh : Andrie Wongso

Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:08:00 AM   0 comments
Monday, January 18, 2010
Hidup Sejahtera

Kesejahteraan sebenarnya bukan terletak pada memiliki lebih banyak uang dan kekayaan. Memiliki uang dan kekayaan lebih banyak belum tentu menjamin bahwa orang itu akan hidup sejahtera.

Kalau kita perhatikan dengan seksama apa yang ada di masyarakat di sekeliling kita, kita bisa menemukan ada juga orang yang memiliki uang lebih banyak, memiliki benda-benda seperti rumah yang mahal, mobil yang mahal, ternyata hubungan keluarganya berantakan. Ada juga orang yang diselimuti rasa takut dan cemas walaupun mereka punya uang yang banyak.

Menurut Joseph Murphy pada bukunya "Think Yourself Rich" dikatakan bahwa makna hidup sejahtera yang sebenarnya adalah Anda mulai mengalami kemajuan secara mental, spiritual, intelektual, sosial, dan finansial. Uang dan kekayaan, hanyalah sebagian dari kesejahteraan itu. Dan tidaklah lengkap kesejahteraan Anda bila mental, spiritual, sosial, dan intelektual Anda tidak tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan kekayaan Anda. Sebab hidup Anda akan menjadi tidak seimbang.

Tumbuh secara mental, maksudnya adalah bahwa Anda telah mengubah pola pikir, dari pola pikir yang negatif menjadi pola pikir yang positif. Kalau dulu Anda sering berfokus pada kekurangan atau pada apa yang belum Anda miliki, sekarang Anda selalu fokus pada kelebihan, kebaikan, kemampuan, dan segala apa yang telah dimiliki. Anda tidak lagi merasa kekurangan, sebaliknya Anda merasa kecukupan. Pikiran Anda tidak lagi dipenuhi oleh kecemasan, ketakutan, stres, dan masalah. Tetapi sekarang Anda merasakan lebih damai, lebih tenang, dan lebih gembira.

Tumbuh secara spiritual, artinya Anda telah melepaskan semua keyakinan-keyakinan keliru yang menghambat kemajuan Anda, dan sekarang Anda bisa menerima dan mencintai diri sendiri. Sehingga keyakinan kepada diri sendiri semakin meningkat. Demikian juga, Anda bisa bersyukur atas kebaikan dan segala berkat Tuhan. Semakin tinggi tingkat spiritualitas Anda, semakin baik rasa kasih sayang Anda kepada sesama. Sebab, Anda akan menyadari bahwa orang-orang di sekeliling Anda sama halnya dengan anda, mereka juga merupakan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan, yang membutuhkan kasih sayang.

Secara intelektual, pengetahuan dan wawasan Anda seharusnya semakin berkembang. Anda menjadi semakin terbuka dan tidak berpikiran picik. Orang yang picik adalah orang yang ketakutan. Orang yang ketakutan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan. Orang yang kurang pengetahuannya hanya mengandalkan emosi dan ego.

Setelah mental, spiritual dan intelektual Anda berkembang, hubungan-hubungan sosial Anda akan ikut tumbuh dan berkembang. Anda bisa mengembangkan persahabatan yang lebih baik, yang tidak hanya didasari oleh kepentingan bisnis, uang, dan kekayaan belaka. Jika hubungan sosial Anda berkembang baik, emosi Anda akan menjadi lebih baik dan nyaman. Anda tidak lagi merasa ketakutan dan cemas bila berhadapan dengan orang lain. Mungkin kalau dulu Anda selalu curiga bila bertemu dengan seseorang, kini Anda akan menerima dirinya dengan senang hati tanpa perasaan curiga. Sekarang Anda menjadi lebih peka dengan keadaan lingkungan anda. Anda menjadi lebih murah hati terhadap orang lain.

Yang terakhir, uang dan kekayaan akan mengalir bebas dalam kehidupan, setelah Anda mengembangkan empat bidang di atas. Jadi, jangan pernah mencemaskan tentang uang, tetapi cemaskanlah mental, spiritual, intelektual, dan hubungan sosial Anda kalau semua ini tidak tumbuh dan berkembang dengan baik, karena dari sinilah semua keberhasilan finansial Anda datang.


Salam Bahagia,

dengan bahagia meraih kesejahteraan.


Soegianto Hartono

HP : 0813 - 64808061
Email : Soe_hartono@hotmail.com
Blogs : www.soegiantohartono.blogspot.com

Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 7:52:00 AM   0 comments
Friday, January 15, 2010
Kita adalah Arsitek Masa Depan Kita Sendiri
Semua mimpimu bisa menjadi kenyataan jika kamu memiliki keberanian untuk mengejarnya.
(Walt Disney)

Kebanyakan dari kita selalu berpikir tidak mungkin akan menjadi seseorang yang sukses. Banyak yang merasa tidak yakin akan kemampuan dirinya, tidak yakin akan bakat yang dia miliki dan selalu mendengar cemoohan orang lain. Akibatnya, kemampuan dan bakat yang dia miliki terkubur seiring berjalannya waktu.

Tahukah Anda, sebenarnya yang lebih mengetahui akan kemampuan dan bakat yang ada dalam diri kita adalah diri kita sendiri. Yang merencanakan masa depan, yang menjadi arsitek dalam kehidupan kita adalah diri kita sendiri. Kalau kita mengenali diri sendiri, pasti kita mengetahui apa yang kita senangi dan apa yang kita mampu untuk melakukannya. Jadi, jangan hiraukan apa yang dibilang oleh orang-orang tentang suatu hal yang dapat menghancurkan impian kita. Hilangkan kata "TIDAK" dalam kosa kata "TIDAK MUNGKIN" dalam pembendaharaan kata Anda, sehingga kata yang tinggal adalah kata MUNGKIN.

Tahukah Anda, Albert Einstein sampai saat ini dianggap sebagai orang paling junius di dunia. Karya "Albert Einstein" sangat fenomenal, contohnya teori relativitas yang menjadi cikal bakal penemuan pemusnah massal bom atom dan nuklir. Padahal ketika dia masih bayi, bicaranya kurang lancar dan ketika sekolah dia jarang belajar. Jika diajar, suka tidur dan terlalu banyak bertanya sehingga gurunya menggap dia abnormal. Dan dia juga tidak tamat sekolah tinggi dan mengalami kegagalan dalam ujian saringan Sekolah Politeknik Zurich.

Sementara, Thomas Alva Edison memiliki 1.093 karya besar dan merupakan orang yang mempunyai paten penemuan terbanyak di dunia. Tahukah Anda, ia bukan merupakan orang jenius. Di sekolah, ia menjadi langganan mendapatkan rangking terendah dan kepala sekolah menyebutnya 'otak udang' dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Pada akhirnya, dia hanya menjalani 3 bulan pendidikan formal.

Hellen Keller adalah seorang wanita tegar yang menjadi inspirasi bagi dunia. Ia dikenal sebagai pejuang hak-hak wanita, pembela orang-orang cacat, serta pengarang produktif dan sukses. Jutaan eksemplar bukunya terjual di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Apakah Anda tahu, ia adalah seorang wanita yang buta dan tuli, juga bisu? Tetapi dia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa dia mampu menjadi seseorang yang dia inginkan dengan keterbatasan fisiknya.

Dari ketiga tokoh di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kesuksesan tidak dipengaruhi oleh latar belakang, kejeniusan, dan fisik. Pun, tidak ada yang bisa mengekang manusia untuk menjadi seseorang yang sukses, selama ia masih memiliki keyakinan diri, yang diiringi dengan kerja keras dan semangat yang tinggi.


Oleh : Nover

Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:47:00 PM   0 comments
No Free Lunch!
"No Free Lunch!"
Istilah ini sudah sangat biasa kami dengar dari bos kami yang asli dari negri paman Sam itu.
Setiap menjawab candaan kami: "nraktir makan siang kok sambil meeting ?"

Itu bagi sebagian kami artinya makan siang yang "garing" karena membayangkan makan siang sembari meeting berbagai masalah dalam perusahaan. Dan nampaknya resep ampuh untuk mendinginkan suasana. Dan pas sekali kalau pihak management ingin menegosiasikan kebijakan baru dengan karyawan. Dengan sadar kita mengorbankan --waktu-- makan siang kita untuk keperluan pekerjaan … dan pihak managemen membayarnya dengan mentraktir makan siang… cukup fair kan?

"No Free Lunch!"

Istilah ini juga biasa saya pakai ketika memberi "petuah" kepada para karyawan yang meributkan tentang kenaikan pangkat, minta bonus hingga kenaikan gaji.

No free lunch di sini artinya apakah kita sudah bekerja keras semaksimal mungkin sehingga kita layak mendapatkan 'free lunch' , maksud saya tidak ada yang gratis di dunia ini bung!... Kalau kita berkaca kepada teman-teman kita yang meraih posisi puncak di usia muda, yang mencolok kelihatan perbedaan dari mereka dengan karyawan yang rata-rata adalah kemauan untuk bekerja keras dan kemauan untuk mengorbankan --waktu-- diluar jam kerja

mereka bekerja melebihi waktu bekerja rata-rata karyawan lainnya....

"No Free Lunch bro!"

Begitu pesanku pada seorang teman ketika mengeluh sudah bosan bekerja di sebuah perusahaan, ingin bebas merdeka menjadi "entrepreneur" .

"Entrepreneur" sebuah kata sakti yang luar biasa menyemangati, seolah hanya ada kenikmatan di sana.

Padahal segala sesuatu ada biaya yang harus dibayar (Everything has a price).
Apalagi untuk sebagian kita yang masih sebagai pegawai, perlu usaha keras karena kita harus membayar dobel.

Ada dua biaya yang harus dibayar yaitu mengamankan penghasilan yang ada dari gaji yang ada sekarang, berarti harus mau bekerja keras sebagai pegawai yang baik dan menjalankan dan merintis bisnis yang ingin kita gunakan sebagai kendaraan ketika hendak melepas title "pegawai" dari diri kita

Dan harga yang termahal yang harus siap kita korbankan untuk membayarnya adalah -- waktu--

Apakah kita siap mengorbankan sisa waktu istirahat kita untuk fokus menjalankan bisnis kita.

So.. Ready for FREE LUNCH Bro?



Salam Suksess Terusss!

Supriyadi
FB: Supriyadi Super Boss
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:34:00 PM   1 comments
Takut Salah? Nggak Usahlah!
Saya nyaris yakin bahwa Anda pasti bisa mengendarai sepeda. Roda dua maksud saya. Saya mengajak Anda berkelana ke masa lalu. Mari...

Anda pasti masih ingat bagaimana indahnya masa-masa itu. Masa kanak-kanak ketika kita merasa begitu bebas dan merdeka menjelajahi pelosok kampung kita, atau malah ke kampung-kampung tetangga, dengan bersepeda.

Salah satu kenangan terindah kita, berasal dari masa-masa itu. Entah Anda tinggal di perkotaan, di kompleks perumahan, di dekat pasar, atau di desa, bersepeda menyusuri pematang sawah barangkali.

Masih ingatkah Anda, tentang segala hal yang Anda alami sebelum masa-masa indah itu bisa Anda nikmati?

Maksud saya, saat kita baru belajar menaiki sepeda. Saat kita dilanda gelora emosi karena belum juga bisa mengendalikan dan menyeimbangkan posisi bersepeda. Saat itu, kita melakukan begitu banyak kesalahan. Inilah di antara kesalahan yang pernah saya buat kala itu:

1. Jatuh ke selokan.
2. Menabrak pagar rumah orang.
3. Nyelonong keluar dari gang dan menyeruduk mobil lewat.
4. Menabrak sepeda teman.
5. Terpeleset pasir.
6. Rem blong.

Anda tambahkan sendiri pengalaman Anda.

Saat itu, setahu saya, belum banyak helm pengaman dijual. Apalagi pengaman siku dan lutut seperti yang banyak beredar sekarang. Masih bagus, jika waktu itu sepeda Anda punya rem yang berfungsi dengan sangat baik.

Saya sendiri, pernah belajar dengan sepeda yang tidak punya rem. Waktu itu, cara saya menghentikan sepeda adalah dengan menekan sandal jepit saya langsung ke roda depan. Ha...ha...ha. . berhenti juga, walaupun overshoot (landing melebihi batas landasan).

Dengan segala kesalahan dan blunder yang saya lakukan itu, banyak yang terjadi pada diri saya:

1. Lecet dan keseleo.
2. Lutut memar.
3. Tulang kering luka dan terkelupas.
4. Sikut carut-marut.
5. Kadang ya benjol juga jidat.
6. Dimarahi orang, ini pasti.

Belum lagi menangis, atau berkelahi berebut sepeda, dan diomeli orang tua atau tetangga.

Lagi, Anda bisa tambahi daftar ini.

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, pedal sepeda yang memantul dan menutuk ke tulang kering Anda?

Masihkah Anda ingat bagaimana rasanya, terjerembab dengan telapak tangan menggelosor di atas aspal berpasir? Masih ingatkah Anda bagaimana rasanya malam hari setelah kejadian semacam itu? Telapak tangan yang terasa begitu panas dan berdenyut semalaman? Bisa jadi, Anda merasakannya sembari berlinang air mata dan terisak-isak.

Jawab pertanyaan saya, apakah semua kesalahan dan blunder itu, membuat Anda berhenti belajar naik sepeda?

Mengapa?

Ya! Tepat sekali, Anda ingin bisa.

The power of dream!

Kekuatan impianlah yang membuat Anda tetap berjuang dan belajar keras. Sampai bisa.

Kini, hari ini, saya yakin bahwa semua kesalahan dan blunder dari masa-masa itu, justru menjadi bagian dari keindahan itu sendiri. Setuju?

Jawab lagi pertanyaan saya. Kok bisa, kekuatan impian Anda begitu besarnya?

Ini rahasianya.

Ketika Anda kecil, Anda masih polos. Anda belum banyak dicekoki dan "diracuni" oleh berbagai pengertian dan pemahaman tentang benar atau salah, dan tentang baik atau buruk.

Saat itu, Anda sangat yakin dalam menyikapi segala kesalahan dan blunder yang terjadi. Di mata Anda, semua kesalahan dan blunder adalah semata-mata "kesalahan teknis".

Sejalan dengan usia dan pendidikan Anda, Anda mulai menyusun dan mengorganisir berbagai konsep dan pemahaman tentang salah, benar, baik, dan buruk. Tentang moralitas dan idealisme kehidupan. Sampai hari ini.

Ternyata, tanpa Anda sadari, Anda mulai merumuskan sebuah konsepsi baru tentang kesalahan, yaitu "kesalahan moral". Dan yang sangat sering terjadi, adalah kekurangwaspadaan Anda dalam memisahkan dua macam kesalahan itu.

Maka mulai sekarang, camkanlah ini.

Jika Anda mau melakukan sesuatu, dan kemudian menemukan berbagai kemungkinan kesalahan dan blunder yang mungkin akan terjadi, jangan langsung berhenti. Uji dahulu semua itu dengan menjawab pertanyaan-pertanya an ini:

Apakah jika kesalahan atau blunder itu terjadi, akankah:

1. Membuat Anda berdosa?
2. Membuat Anda masuk neraka?
3. Membuat Anda masuk penjara?
4. Mencederai moralitas dan keyakinan Anda?
5. Melukai orang-orang yang Anda cintai?
6. Merugikan khalayak?

Jika Anda bisa menjawab "tidak", maka segala kesalahan itu semata-mata hanya "teknis" sifatnya. Dan "kesalahan teknis" semacam ini, selalulah merupakan pembelajaran. Penting, dan bernilai untuk Anda. Jangan berhenti.

JANGAN BERHENTI!

Coba pertimbangkan hal-hal ini.

Anda mau membuka warung kelontong di garasi Anda, dan tetangga seberang rumah Anda sudah lebih dahulu membuka warung di garasinya. Anda ingin sekali, tapi Anda membatalkannya, karena "tidak enak hati".

Di Mangga Dua sana, ratusan toko elektronik berjajar rapi menjual barang yang identik dan persis sama. Rezeki ada yang mengatur!

Anda mau mengejar cita-cita, kemudian sekitar Anda memberi masukan negatif. Anda mau berhenti? Apakah Anda mau bilang, "apa kata orang nanti?"

Sudahlah. Jika Anda mampu menjawab "tidak" untuk enam pertanyaan di atas, lakukan saja!

LAKUKAN SAJA!

Di ballroom hotel Twin Plaza kemarin, ada seorang peserta yang bertanya kepada saya, "Pak, saya kok sering merasa terdemotivasi, gimana pak?" Saya bilang, "Bukan pak, Anda hanya sedang terdiskoneksi. ... - dari mimpi."

"People often think that they're being demotivated by their situations. No, they're just being disconnected from their dreams."

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:30:00 PM   0 comments
Tuesday, January 12, 2010
Hidup Bukanlah Sandiwara

Dunia ini panggung sandiwara.
Ceritanya mudah berubah.
Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani..

Setiap insan, dapat satu peranan.
Yang harus kita mainkan…


Sebuah lagu lawas yang populer dari "God Bless", diputar sebuah stasiun radio yang biasa menemani saya saat pagi berangkat atau pulang kantor sore hari. Namun pagi ini syair indah dari lagu tersebut tidak mampu meresap ke relung kalbu. Entah apa sebabnya, padahal sejak kecil ucapan bijak yang mengatakan “Hidup ini Hanya Sandiwara” sudah sering saya dengar.

Kalau kata “sandiwara” ini diterjemahkan secara terpisah, okelah! Karena “sandi” berarti rahasia atau kode, sementara “wara” diartikan sebagai berita atau pengumuman (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga). Jadi kehidupan seorang manusia adalah berita yang tersamar atau pesan bagi manusia lain. Dari sini kita bisa beranggapan bahwa hidup manusia lain dapat kita amati, untuk dijadikan pelajaran bagi hidup kita sendiri.

Namun tidak demikian bila kata “sandiwara” diartikan secara kesatuan, arti harafiahnya menjadi “pertunjukan lakon, drama atau cerita yang dimainkan oleh orang”. Jika hidup ini hanyalah sandiwara, maka saya, Anda, dan semua makhluk hidup adalah pemain sandiwara. Benarkah demikian?

Jika kita semua adalah pemain sandiwara dan dunia adalah panggungnya, lantas siapa penontonnya? Tuhan? Bukankah Tuhan yang menciptakan dunia berarti juga bahwa Dia-lah sang “sutradara”? Jadi, siapa penontonnya? Siapa penonton yang apresiasinya bisa kecewa, atau bisa memberikan penghargaan?

Naskah

Bagian paling mendasar dalam sebuah sandiwara adalah naskah. Naskah dibuat sebelum sandiwara itu sendiri ada. Artinya, bila Anda seorang pemain sandiwara, maka Anda harus memahami dan menghafal naskah agar kualitas sandiwara itu tinggi. Meski sutradara mengijinkan Anda untuk berimprovisasi, namun tidak akan melenceng dari naskah yang ada. Ketidakpahaman Anda terhadap naskah akan membuat space panggung lebih besar dari space pikiran. Kalau dipaksakan main, Anda akan mudah terkena demam panggung.

Kemudian Anda wajib memahami peta geografi panggung dan demografi penonton. Hal ini berguna dalam menentukan seberapa leluasa Anda bergerak mencurahkan kemampuan acting, menarik perhatian penonton, membuat mereka hanyut dalam alur cerita yang kita perankan.

Jadi bagaimana mungkin, hidup atau kehidupan ini sebuah sandiwara... jika Anda tidak tahu, apalagi paham dengan naskah yang harus dimainkan. Terlebih pula, Anda tidak tahu siapa penontonnya. Jika Anda meyakini hidup ini sebagai sandiwara dan Tuhan adalah “sutradara”, tak perlulah Anda berbuat banyak, cukup jalani saja hidup Anda yang sekarang. Anda seorang karyawan, cukup kerjakan tugas rutin sehari-hari, jangan berpikir untuk melakukan aktivitas lain, karena akan melenceng dari naskah, dan jalan hidup Anda sudah ditentukan sesuai naskah; takdir.

Sandiwara adalah Kehidupan

Buatlah sandiwara Anda sendiri! Jadikan sandiwara yang Anda buat adalah kehidupan Anda, kebahagiaan Anda, kesuksesan Anda. Sandiwara dapat mewakili gambaran yang terjadi di semua wilayah kehidupan kita. Jadikan diri Anda sebagai sutradara sekaligus pemain, jadikan dunia ini sebagai panggung, jadikan sebagian orang sebagai pemain dan sebagian lagi sebagai penonton. Maka buatlah naskah Anda sendiri! Tentukan darimana Anda memulai, kapan memulai, dan ke mana harus melangkah. Tentukan juga tujuan dari cerita yang Anda buat. Jadikan aktivitas yang Anda lakukan sebagi jalan untuk mencapai tujuan.

Meskipun kita tak akan pernah tahu di mana dan kapan kita dijatuhkan bahkan pasti dihentikan, namun naskah hidup yang kita buat dan jalani, akan menjadi ukuran penilaian manusia. Dunia tidak peduli dengan apa yang kita ketahui, tetapi lebih dari apa yang kita lakukan; puncak dari kehidupan adalah tindakan bukan pengetahuan.

Karenanya, susunlah naskah hidup Anda dan jalanilah! Jangan peduli berapa kali Anda dijatuhkan! Bangkit! Lihat apa yang membuat Anda jatuh! Ubah sedikit naskah Anda, jalani lagi! Ingat, yang menentukan nasib kita, bukanlah apa yang menimpa kita, melainkan keputusan yang kita ambil atas apa yang menimpa kita. Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya.

Untuk dapat menyusun naskah yang akan dibuat, ada baiknya kita bertumpu pada lima kriteria dari model berpikir strategis, yaitu: organisasi, observasi, sudut pandang, sumber kekuatan dan posisi ideal (dalam terjemahan bebas: “Strategic Management Thinking”: Women Business Center, Dallas TX 1997). Bila diterapkan dalam skala kecil (individu), maka bisa diartikan sebagai berikut:

1. Organisasi

Naskah hidup sebaiknya disusun berdasarkan pertimbangan, pengetahuan dan pemahaman tentang siapa orang-orang selingkungan yang akan terlibat mendukung agar menjadi tontonan sandiwara yang memuaskan diri kita dan menarik buat penonton.

2. Observasi

Naskah hidup sebaiknya disusun berdasarkan observasi atau pengamatan terhadap persoalan, agar kita dapat memahami dan fokus menyusun skala prioritas, tidak terjebak dalam labirin permasalahan.

3. Sudut Pandang

Naskah hidup sebaiknya disusun dari beragam sudut pandang, hal ini diperlukan untuk mengidentifikasi hasil yang diinginkan, mengukur tingkat ketepatan antara ide dan tindakan.

4. Sumber Kekuatan
Naskah hidup yang kita rumuskan sebaiknya jangan sekenanya atau membabi-buta, namun dibuat dengan perhitungan matang atas faktor kekuatan pemicu, pendorong, dan penopang. Naskah hidup harus mampu menjelaskan:

  • Visi (tujuan jangka panjang),
  • Definisi tujuan (manajemen keinginan),
  • Prinsip hidup (keyakinan totalitas dan tidak menerima kompromi),
  • Rumusan pelaksanaan sesuai dengan ketersediaan saat ini dan berdasarkan kemampuan nyata menurut apa yang telah kita alami dan telah kita capai.

Mudahnya, jangan sampai berperang tanpa mengetahui kekuatan diri sendiri, kekuatan musuh, kondisi lapangan, cuaca, dan faktor pendukung lain. Sebab, hidup ini bukan main-main.

5. Posisi Ideal
Naskah hidup perlu disusun tidak semata-mata berdasarkan “apa adanya” tetapi perlu melibatkan khayalan atau harapan tentang ‘‘apa yang semestinya” terjadi. Seperti kata orang, tidak selamanya orang gagal itu karena cita-cita hidup yang lebih besar dari kemampuan tetapi seringkali cita-cita dibuat berstandar rendah. Jadi, posisi ideal bukanlah tujuan akhir, namun merupakan proses di mana akhir adalah awal dari yang lain.

Memang tidak semua orang memiliki jumlah penonton yang besar, namun pada prinsipnya kitalah yang membuat naskah sandiwara untuk hidup yang kita jalani.

Semoga artikel ini dapat menjadi tuntunan untuk membuat naskah sandiwara dari hidup Anda.


Salam Bahagia,
Mugi Subagyo

Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:21:00 PM   0 comments
New Year Resolutions

Sampai saya menulis artikel ini, sudah separuh client saya menanyakan, apa New Year Resolutions Coach Tom? Awalnya saya hanya ingin menjawab polos semua resolusi yang telah saya tempelkan di dream chart yang dengan setia mengingatkan saya atas semua hal yang ingin saya capai setiap tahunnya. Namun sangat disayangkan jika orang yang bertanya hanya mendapat jawaban bukan bagaimana proses jawaban tersebut diciptakan.

Tahun lalu, 18 dari 21 goals saya tercapai. Sebagian dengan kerja keras, sebagian tercapai karena faktor 'kebetulan'. So, saya ingin share sekaligus memberikan tips cara membuat resolusi, yang sejauh ini efektif saya gunakan secara pribadi....

Semoga tips ini bermanfaat untuk Anda!

Step 1:
Saya bertanya, apa 100 hal yang paling saya syukuri tahun ini?

Sangat menarik, ketikan saya menuliskan apa yang saya syukuri, ternyata tidak semudah kata-kata. Silakan coba sendiri, kejar terus hingga Anda mendapat minimal 100 hal yang bisa Anda syukuri ...

Step 2:

Saya bertanya, apa kelebihan dan kekuatan saya, yang saya gunakan secara efektif di tahun ini?

Nah, kalau yang ini saya nggak punya masalah. Saya merasa telah memanfaatkan semua potensi yang saya ketahui. Tapi pertanyaan berikutnya sangat menarik!

Step 3:
Mengapa hanya itu kelebihan dan kekuatan saya?

Hmmm ... saya selalu malu dengan pertanyaan ini, karena jawabannya adalah, "Karena saya kurang disiplin dalam menimba ilmu baru." AHA .. new year resolution tahun 2010 saya temukan ...!

Step 4:
Bagaimana saya telah CUKUP memberi dan membantu kesuksesan orang lain?

Ini agak sensitif karena kadang ego kita bermain. Insting saya mengatakan, saya masih kurang membantu banyak orang.

Step 5:
Jika tahun 2009 bisa diulang, apa yang ingin saya ubah dari tindakan saya atau keputusan-keputusan saya?

So far so good
, nggak ada penyesalan di 2009. Dan saya ingin menambahkan apa yang telah menjadi baik di 2010 ini.

Step 6:
Menilai dan menimbang kondisi di atas ... apa yang ingin saya capai di 2010?

Step 7:
Apa yang palign membuat saya excited di tahun 2010 ini?

Hasilnya saya sangat excited dan look forward dengan 2010 ...

Apa NEW YEAR Resolutions teman-teman?


Salam FUNtastic!

Tom MC Ifle
Penulis buku best seller
Profit is King, Rahasia Meledakkan Profit Tanpa Iklan
Business, Life, and Executive Coach
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 11:17:00 PM   0 comments
Friday, January 08, 2010
Kakek Bodoh Memindahkan Gunung
Teman-teman yang luar biasa, berikut ini adalah cerita legenda dari Tiongkok kuno.

Alkisah, di sebuah desa terpencil, tinggallah seorang kakek bersama dengan keluarga besarnya. Desa tempat mereka tinggal itu terletak di antara dua gunung besar. Bila keluarga sang kakek itu hendak pergi ke desa lain, mereka harus berjalan kaki berhari-hari lamanya memutari gunung. Tentu itu sangat melelahkan dan menyita banyak waktu.

Suatu saat, sang kakek tua dengan pemikirannya yang lugu dan sederhana mengemukakan tekadnya. Ia mengajak segenap keluarganya untuk bahu-membahu memindahkan gunung. Pada hari yang telah ditentukan, keluarga sang kakek pun mulai menggali tanah lereng gunung. Hari demi hari dipenuhi dengan bekerja menggali-menggali dan menggali lereng gunung. Melihat kesibukan tersebut, beberapa hari kemudian para tetangga berdatangan. Salah seorang pemuda begitu penasaran dan bertanya pada si kakek.

"Kakek dan seluruh keluarga besar setiap hari terlihat begitu sibuk! Dari pagi sampai sore, menggali lereng gunung. Sebenarnya, apa maksud dan tujuan kakek?"

Si kakek menghentikan kerjanya. "Kami menggali untuk memindahkan gunung ini, Nak," jawabnya mantap.

"Hah, memindahkan gunung?? Mana mungkin, Kek?!" tanya si pemuda tidak percaya.

"Gunung sebesar itu kok mau dipindahkan," lanjutnya. "Kakek kan sudah tua. Saya yakin, sebelum gunung bisa dipindahkan, kakek pasti sudah meninggal lebih dulu. Dengan begitu, bukankah kakek mengerjakan sesuatu yang sia-sia belaka?"

Si kakek menjawab dengan lantang, "Kakek memang sudah tua. Tapi bila kakek meninggal, ada anak-anak yang meneruskan, ada cucu-cucu yang akan menggantikan, begitu seterusnya... Selama kami punya tekad, mau bekerja keras, penuh kesungguhan hati, dan konsisten, kakek yakin suatu hari kelak, gunung ini pasti bisa dipindahkan. Dan jalan kehidupan kita semua akan lebih mudah!"

Tekad si kakek dan keluarganya yang begitu kuat, menggoyahkan hati masyarakat sekitar situ. Maka, mereka pun berbondong-bondong bergantian, dengan peralatan yang seadanya, bahu membahu mulai ikut bersama-sama bekerja menggali lereng gunung itu.

Singkat cerita, hati para dewa di khayangan pun akhirnya tergerak ketika melihat tekad si kakek dan semangat warga desa. Kemudian, mereka sepakat membantu sang kakek untuk memindahkan gunung itu. Dan haaap, tangan para dewa sibuk melambai bekerja sama. Dalam sekejap, terjadilah keajaiban! Gunung pun berpindah tempat dan jalan terbentang luas menuju kemana pun masyarakat desa itu hendak pergi.

Netter yang luar biasa,

Di Tiongkok, kisah legenda ini terkenal dengan sebutan "Kisah si Kakek Bodoh Memindahkan Gunung."

Walau cerita itu hanya sekadar legenda, namun pesan moral tentang kekuatan tekad dan kesungguhan hati ini sungguh luar biasa!! Kita tahu, kemajuan peradaban manusia tidak akan seperti sekarang, jika dunia ini tidak dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki tekad seperti kakek tua tadi. Saat ini, tak terhitung jumlah penemuan baru dan teknologi modern sebagai karya-karya spektakuler dari manusia-manusia bertekad baja. Sulit dibayangkan, apa jadinya dunia ini jika tidak ada manusia-manusia yang memiliki cita-cita besar, tekad membaja, konsistensi, dan persistensi yang luar biasa.

Legenda di atas mengajarkan kepada kita, bahwa kemajuan pribadi-pribadi, kemajuan masyarakat, dan kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kekuatan tekad. Tekad merupakan sumber motivasi yang menggerakkan manusia menuju cita-citanya. Tekad merupakan kekayaan sekaligus modal bagi kemajuan dan kemakmuran. Bagi mereka yang memiliki tekad yang sangat kuat, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Nothing is impossible under the sun.

Selama memiliki tekad, kesungguhan hati, keyakinan dan konsistensi, kita akan mampu mewujudkan apa yang kita cita-citakan.

Miliki tekad dan ciptakan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin!

Salam sukses, LUAR BIASA!

Oleh : Andrie Wongso
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:24:00 AM   0 comments
Menikmati Permasalahan Hidup
"Kalau orang mengetahui menikmati permasalahan hidup itu enak,
pasti apa pun masalahnya, tetap bahagia".

Namun banyak orang susah dalam menikmati hidup. Apalagi dalam keadaan bermasalah; menjadi sulit makan, sulit tidur, sehingga penyakit berdatangan. Apa saja yang dilakukan, selalu bermasalah. Selagi hidup miskin mengeluh, begitu pun ketika kita telah memiliki segalanya, masih juga dikeluhkan.

Memang manusia itu tak pernah sepi dari masalah, siapapun orangnya. Orang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, lelaki atau perempuan, pegawai atau pengusaha, pasti masalah selalu menghampiri. Hakim mempunyai masalah ketika harus memutuskan permasalahan berat, apalagi yang diadili saudara sendiri; orang tua mempunyai masalah, ketika tak ada uang saat menyekolahkan anak; guru pusing ketika anggaran pendidikan tak memadai; kita sendiri bermasalah, ketika tak mampu menghidupi keluarga, minimal dalam penyediaan makan sehari-hari atau masalah lain yang datang silih berganti.

Sehingga, masalah itu terus ada. Namun yang membedakan, adalah cara orang menghadapi masalah tersebut. Ada yang menganggap masalah merupakan ujian dalam rangka naik kelas. Namun, ada juga yang menganggap masalah sebagai balasan akibat kita tak berbuat baik selama ini. Dan, ada juga yang menganggap masalah sebagai tantangan untuk maju.

Sehingga bagi mereka yang menganggap masalah sebagai hal positif, mereka menyambut permasalahan dengan perbaikan-perbaikan-baik itu perilaku, ilmu pengetahuan, serta mental dalam menghadapi masalah.

Bagi yang berpikir positif, misalnya yang berkaitan dengan masalah kemampuan, mereka akan menghadapinya dengan berusaha meningkatkan ilmu pengetahuan. Ia mulai kuliah lagi, ia mulai belajar lagi, ia mengikuti kursus dan keterampilan. Sedang bagi orang yang bermasalah dalam keberanian, ia mengatasinya dengan mengikuti berbagai acara outbound, serta berbagai kegiatan yang mengandung petualangan serta penguatan mental. Dan bagi orang yang susah berbicara di depan umum, ia ikut kursus MC serta cara tampil menghadapi orang banyak. Sehingga kursus fashion, model, serta kegiatan abang none, ajang putri indonesia dan berbagai kegiatan tampil lainnya menjadi ramai diikuti.

Maka mereka yang semula tampil grogi, selanjutnya malah menikmati. Jika semula tak berani, malah jadi berpetualang, semula takut sama ulat, malah jadi ahli hama penyakit tanaman. Semula takut jenazah, malah jadi ahli forensik. Dan mereka bisa berhasil karena mereka bisa menaklukkan masalah dan selanjutnya menikmati pekerjaan serta kehidupan yang penuh dengan rintangan dan keganasan kehidupan.

Selain itu, bagi mereka yang menikmati, masalah kehidupan menjadi ringan; bagi orang menikmati, masalah bisa berubah menjadi kemajuan. Itulah mengapa dalam bekerja, sering perusahaan mensyaratkan pekerja yang mampu bekerja dalam tekanan.

Karena mereka bisa tahan banting, karena mereka mau menikmati hidup, sehingga segala permasalahan akan disikapi dengan kenikmatan.

Bagi mereka yang bisa berperilaku begitu, ketika berkunjung ke rumah orang, yang sempit dan di gang sempit, akan terasa enak, lega, tak ada beban. Ketika kita menghadapi panas, kedinginan, kesumpekan..., kita akan menikmati itu. Nah dengan menikmati, rasa panas, rasa sakit, rasa sumpek, stres akan berkurang. Akhirnya kita menjadi terbiasa. Selanjutnya, masalah akan hilang dengan sendirinya.

Saya pernah diundang seorang teman yang akan berangkat naik haji. Ia tinggal di lorong sempit. Namun banyak undangan datang ke tempat itu, dari yang bergelar kiai, sampai rakyat biasa berbaur. Suasana sempit dan berdesakan begitu dinikmati, terasa enak. Kita bersatu dan merasa bahagia melihat teman yang bisa berangkat ke tanah suci, meskipun datang dari gang sempit.

Apapun masalahnya, ketika dinikmati, menjadi nikmat. Makan dengan apa adanya, bahkan hanya dengan garam dan minyak jelantah sisa penggorengan, bisa terasa nikmat. Sebaliknya, bagi mereka yang punya berbagai makanan namun hatinya gundah dan penuh dengan masalah, makanan yang tersedia menjadi tidak nikmat.

Dengan demikian, kalahkan permasalahan dengan cara dibalik, yaitu menikmati masalah. Setidaknya akan mengurangi masalah itu sendiri, bahkan masalah akan hilang dengan sendirinya.

Bayangkan, ketika tentara berlatih naik gunung turun gunung sambil membawa beban perbekalan! Kalau mereka tidak menikmati, apa jadinya? Yang ada, malah muntah-muntah atau uring-uringan kepada pelatihnya. Akan tetapi ketika mereka menikmati latihan, tenaga tambahan mendukung mereka, sehingga latihan menjadi gembira.

Mari, nikmati hidup ini. Meskipun keadaan Anda susah, dengan merasakan dan menikmati, kesusahan akan hilang, badai pasti berlalu, hujan pun ada bisa berhenti! Dan pada saat tertentu, keadaan bisa berbalik menjadi kegembiraan. Keadaan sakit menjadi sehat, prajurit jadi komandan, olahragawan jadi juara, guru jadi kepala sekolah, orang biasa jadi insinyur dan juga kebahagiaan lainnya. Intinya, kita mampu menikmati kehidupan, meskipun penuh masalah.

Gagan Gartika adalah Praktisi Silaturahmi Marketing (Simark), Pengusaha di bidang Forwarding, Transportasi dan Pengurusan Jasa Kepabeanan pada PT. Kumaitu Cargo dan PT. Penata Logistic. Ia pemilik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Bisnis (LPPB) Sinergi Indonesia. Pendidikan terakhir, S2 Manajemen dari Ibii. Untuk bidang pengajaran, ia mengabdi sebagai Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Trisakti, Jakarta.

Gagan bisa dihubungi via e-mail: : gagan@kumaitucargo.co.id

Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:21:00 AM   0 comments
Merobohkan Benteng Penghalang Impian
Jika ditanya, apa yang Anda inginkan, tentu saja Anda menginginkan banyak hal, mulai dari kebutuhan dasar sampai keinginan untuk kesenangan atau kebahagiaan. Sebagian keinginan mungkin sudah terpenuhi, tetapi masih banyak yang belum dicapai.

Saat kita bermaksud akan bertindak mencapai tujuan tersebut, sering terhalang oleh suatu "benteng", yang seakan-akan tidak bisa dilalui atau dirobohkan, sehingga keinginan tinggalah impian, khayalan, atau lamunan belaka. Kita sering mengurungkan langkah kita yang sudah mulai melangkah, bahkan tidak sempat melangkah karena baru di kepala saja.

Melupakan tujuan salah satu jalan yang sering diambil oleh kebanyakan orang. Konon, "Untuk bahagia, berharaplah lebih sedikit." Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana jika ada orang lain ternyata mampu mencapai keinginan yang sama atau lebih baik dari keinginan kita. Akan kita merasakan suatu perasaan yang enak? Ataukah kita tersenyum dengan mengatakan bahwa itu sudah rezeki dia atau bukan rezeki kita. Padahal kita tidak sedikit pun mengusahakannya.

Setiap orang punya tembok atau benteng penghalang seperti Anda! Tetapi kenapa sebagian orang berhasil melaluinya sementara sebagian -- termasuk Anda -- tidak mencapainya? Yang menjadi perbedaan adalah orang yang berhasil adalah mereka yang mampu merobohkan "benteng" yang menghalangi tujuan mereka. Bahkan tidak sedikit hasil yang mereka capai begitu mengagumkan (hal ini menggambarkan benteng yang menghalanginya pun sangat tinggi).

Anda tahu, "benteng" Anda untuk mendapatkan sebuah rumah impian tidak setinggi "benteng" Bill Gates yang mengejar ratusan juta dollar AS. Tetapi kenapa dia bisa melalui benteng penghalangnya, sedangkan Anda tidak?

"Meriam" yang bisa Anda gunakan untuk menghancurkan benteng tujuan adalah "pertanyaan-pertanyaan". Tanyakanlah pada diri sendiri, berbagai persepsi dan asumsi Anda saat ini. Bandingkan dengan berbagai asumsi dan persepsi orang lain, kenapa berbeda dan di mana perbedaannya. Terutama, bandingkan dengan persepsi orang yang telah berhasil dan mempunyai keberanian untuk bertindak menghancurkan tembok penghalangnya.

Jangan terpaku dengan asumsi dan persepsi sendiri, karena bisa salah. Cobalah mulai membuka pikiran Anda terhadap pikiran orang lain, tentu saja dengan filter nilai-nilai yang Anda anut. Tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini terhadap persepsi Anda, kenapa, bagaimana cara mengatasinya, dan adakah alternatif lain?

Semoga tulisan ini menjadi langkah awal dalam membangkitkan semangat anda demi merobohkan benteng penghalang yang selama ini menghambat langkah Anda menuju impian Anda.

Wallahu A'lam Bishowab.


Muhammad Nur adalah Alumnus Ponpes Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatra Utara. Kini, ia dalam masa pengabdian di Ma'had selaku Guru B. Inggris dan staf pengasuhan santri. Gemar dalam kepenulisan, diskusi, maupun kegiatan ekstrakurikuler di ponpes. Sedang mendalami dunia kepenulisan dan motivasi. Bagi anda yang ingin melihat tulisan-tulisannya dapat berkungjung di http://elahmady.blogspot.com.
Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:20:00 AM   0 comments
Bekerja Kompetitif adalah Kinerja yang Luar Biasa!
Sahabat yang Luar Biasa!

Jika kita amati, tidaklah banyak perusahaan yang bisa bertahan/eksis sampai 50 tahun, apalagi 100 tahun. Sebenarnya, dalam 10 tahun sejak berdiri, sebuah perusahaan akan mengalami fase krusial: turun, bertahan hidup, atau tumbuh. Satu di antara beberapa faktor yang sangat menentukan adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada.

Salah satu pemicu (trigger) agar SDM tersebut tetaplah unggul adalah senantiasa menempatkan mereka pada posisi kompetisi yang benar-benar kompetitif. "Wasit" dari arena kompetisi itu kita namakan KPI (Key Performance Indicator).

Biasanya KPI, baik di perusahaan swasta yang notabene business oriented maupun instansi yang service & support oriented mengandung unsur sebagai berikut:

Financial: indikator ini menunjukkan sejauh mana SDM tersebut memberikan kontribusi langsung terhadap profit perusahaan (jika perusahaan berorientasi profit). Sebalikjnya, ika instansi bersifat service & suport, indikator ini mengarah ke sejauh mana SDM bisa menghemat anggaran. Bentuk penilaiannya merupakan perkalian antara skor yang dibuat (misal 1-5) dengan bobot persentase yang ditetapkan.

Customer: indikator ini menunjukkan sejauh mana SDM yang ada bisa memberikan servis yang baik ke pelanggan/konsumen/masyarakat yang memerlukannya. Indikator pengukurannya sama seperti di atas (skor dikalikan dengan bobot). Yang jadi acuan misalnya servis level agreement (bisanya dinyatakan dengan jumlah hari), waktu pelayanan sampai selesai (biasanya menit/jam). Pelanggan bisa dalam bentuk eksternal/internal. Prinsipnya, dalam bisnis proses/pelayanan publik, the next process is our customer.

Internal Process: indikator ini menunjukkan sejauh mana SDM yang ada bisa melakukan kontrol pekerjaan sesuai mekanisme yang ada sehingga bisnis/servis yang diberikan bisa terjaga akuntabilitas dan transparansinya. Yang menjadi bahan kajian adalah aturan dibuat seideal mungkin. Sehingga, semakin tinggi jabatan seseorang, yang bersangkutan akan berhadapan pada kondisi "jika dijalankan melanggar aturan, jika tidak dijalankan bisnis/servis tidak bisa berjalan optimal".

Bisnis/institusi yang bergerak di bidang jasa keuangan paling dominan menghadapi kondisi seperti ini, sehingga pengambil keputusan dituntut untuk bisa mempertanggungjawabkan risiko.

People: indikator ini menunjukkan sejauh mana SDM yang ada bisa meningkatkan kompetensinya, baik secara formal (melalui training, coaching, dsb) atau non formal (dengan learning by doing atau belajar autodidak). Jika karyawan tersebut pada posisi pimpinan/supervisor, indikator ini menunjukkan sejauh mana pimpinan tersebut dapat membina bawahannya untuk berkembang dalam hal kompetensi yang dibutuhkan untuk menunjang kinerjanya.

Nah...apapun profesi Anda, tempatkanlah selalu diri Anda pada posisi di dalam arena kompetisi, sehingga Anda akan menjadi pribadi yang senantiasa unggul dan kompetitif.

Sukses di Tangan Anda..!

Salam Hangat,

Wahyudi Hari Siswanto,
Praktisi di Industri Jasa Pembiayaan

Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:17:00 AM   0 comments
Good Ending is Good Beginning

Tahun 2009 sudah kita akhiri bersama, walaupun diakhiri dengan kepergian dua tokoh Indonesia yaitu Bapak Abdurrahman Wahid dan Bapak Frans Seda. Kedua-duanya sudah memberikan kontribusi yang sangat baik untuk Indonesia. Selamat beristirahat dengan tenang, Bapak Gus Dur! Selama istirahat dengan tenang, Bapak Frans Seda! Kami, putra-putri Indonesia pasti meneruskan perjuangan Bapak untuk Indonesia yang tercinta ini.

Tentu setiap dari kita punya kenangan baik dan kenangan buruk pada tahun 2009. Negara kita pun sudah melalui masa pemilihan Presiden dengan cara baik.

Walaupun ada beberapa kasus yang perlu diselesaikan untuk mewujudkan Transparent and Good Governance, hendaknya kita tidak perlu terlalu terhanyut secara emosi dengan kasus-kasus tersebut. Berikan kepercayaan kepada mereka yang sudah terpilih untuk menjalankan tugas dengan baik.

Hendaklah kita menyadari dalam mengakhiri apapun, sebaiknya diakhiri dengan cara baik sehingga kita pun dapat memulai apapun dengan cara baik pula.

Dan untuk memulai sesuatu yang baik, perlu diingat apa yang baik sudah kita lakukan pada tahun 2009, seperti:

1. Apakah kita masih semangat menambah ilmu pengetahuan dengan membaca?
2. Apakah kita masih semangat untuk berdiskusi positif tentang pekerjaan dan pengetahuan?
3. Apakah kita melakukan riset pribadi tentang informasi yang kita dapat dari orang lain?

Jika kita mengakhiri apapun dengan perasaan kesal, marah, dan mengingat-ingat kesalahan yang sudah terjadi, maka lihatlah ketika memasuki Tahun Baru ini; dengan segera kekesalan, amarah pun terjadi.

Di lain pihak, jika tahun 2010 ini kita mulai dengan semangat positif yang baru dan ada rasa cinta kepada yang kita lakukan, maka semangat positif dan rasa cinta akan kita dapatkan dari mereka yang berurusan dengan kita.

Maka, ada sedikit saran dari saya, untuk mendapatkan semangat positif dan rasa cinta tersebut, lakukanlah hal-hal berikut ini :

1. Buatlah surat cinta kepada diri kita sendiri.
2. Mulailah dengan ungkapan kejadian apa yang membuat kita sedih pada tahun 2009.
3. Ungkapkan apa yang timbul dalam pikiran ketika hal yang menyedihkan itu terjadi.
4. Ungkapkan apa yang kita ingin kita lakukan untuk mengatasi kesedihan tersebut.
5. Ungkapkan harapan apa yang terjadi pada tahun 2010.
6. Ungkapkan kemungkinan kelemahan atau ancaman yang terjadi dari harapan yang diinginkan.
7. Akhiri dengan kata-kata "Itulah surat cinta yang saya tujukan pada diri saya sendiri. Semoga hal-hal yang sudah saya harapkan dapat terjadi."
8. Akhiri dengan "Dengan cinta kasih, (nama kita)" dan diberi tanda tangan.

Bacalah surat cinta ini sebelum kita tidur, memang sebaiknya dilakukan pada waktu malam Tahun Baru, tetapi dalam bulan pertama Tahun Baru pun masih bisa dilakukan. Maka lihatlah semangat positif dan cinta kasih segera timbul dalam diri kita masing-masing. Semoga!



Netter yang berhati budiman,

Tahun 2009 sudah kita tutup dengan tiupan terompet, salam dan pelukan hangat kepada orang yang kita cintai. Artinya kita sudah mengikhlaskan untuk menutup tahun 2009 dengan baik. Oleh sebab itu, bukalah Tahun 2010 dengan menulis surat cinta pada diri kita sendiri. Sebab...cintai diri kita dahulu, kemudian cintai orang lain...

Selamat Tahun Baru 2010 kepada Tim AndrieWongso dan juga untuk Bapak Andrie Wongso dan Ibu Lenny Wongso. Semoga kita semua yang tergabung dalam AW Club memiliki semangat positif dan cinta kasih yang murni satu sama lain.


Salam sukses Luar Biasa!!!
Debbie Sianturi

Selengkapnya...
posted by Ryan - Dodi @ 6:16:00 AM   0 comments

©2006- Beranie Gagal


Inilah Kami


Nama: Ryan - Dodi
Kota: Depok, Jawa Barat, Indonesia
Tentang Kami:
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Hi Succesor call Us Dodi dan Ryan, Kami Berdua adalah salah satu dari kalian semua yang datang kesini. Kami hanyalah pejuang-pejuang yang mencoba untuk mewujudkan satu persatu cita-cita kami mejadi kenyataan. Sudah lama kami sangat menyenangi artikel-artikel motivasi yang akan dan selalu membuat kami optimis dan bahagia dalam menapaki satu persatu anak-anak tangga yang akan mengantarkan kami ke dalam dunia kesuksesan. Untuk itu kami sangat berharap kebahagian kami ini dapat kami bagi kepada teman-teman semua dengan meramu blog ini menjadi semacam arena rekreasi soul and mind teman-teman semua, sehingga setiap kali teman-teman keluar dari blog ini maka akan ada semangat baru yang mengiringi langkah teman-teman dalam menjalani kehidupan.

Satu kalimat yang selalu kami usung :

"Kesuksesan itu bukan hanya dari banyaknya harta akan tetapi berapa banyak yang telah kita lakukan untuk mencapai kesuksesan"

Salam sukses dari kami!

Walaikumsalam Wr Wb.

Lihat profil lengkap kami

Online





Sekarang jam berapa ya?

Artikel sebelumnya

Arsip artikel

Cari Artikel @ Beranie Gagal





 Berlangganan Artikel @
 Beranie Gagal

Masukkan email anda di sini, bila ada postingan baru di blog kami otomatis akan ke kirim ke email anda :


E-book Beranie Gagal

Download Beranie Gagal
Versi PDF


Situs Mitra

Shout it out!




Help us to spread the world





Silahkan copy & paste kode banner di dalam box untuk di pasang di website atau blog anda
Terms
  • Boleh mengutip tulisan-tulisan dari blog kami, asal disebutkan sumbernya.
  • Dipersilahkan bagi yang hendak me-link blog kami. Tak perlu minta ijin. Justru kami akan berterima kasih.

Visitor since 18 Desember 2006

Web Counter
Web Counter

Statistics