Sebenarnya ada perasaan malu untuk menceritakan hal ini, karena biar bagaimanapun juga, ini adalah masalah intern dapur kami. Tetapi apa boleh buat, komitmen pribadiku mengharuskan aku berbagi cerita tentang sesuatu yang mungkin akan berguna -apapun itu- kepada siapa saja yang memerlukannya.
Ini tentang Mei, mantan pembantuku. Dia masih ABG. FreshButNotGraduate alias tidak tamat SMP. Anak ke dua dari lima bersaudara. Kedua adiknya dan seorang lagi bayi ibunya, adalah hal-hal yang memaksa ia harus merantau kekota. Seperti peribahasa : buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, Meipun memilih profesi yang tidak jauh dari Ayahnya. Jika Sang ayah bekerja sebagai tukang kebun, Mei jadi pembantu. Tidak ada yang istimewa dari wajah Mei. Begitu juga dengan postur tubuhnya. Gampangnya, tidak ada yang terlalu istimewa dari segi fisik yang bisa dijadikan topik yang menarik. Tetapi jika pembicaraan sudah masuk kewilayah pengetahuan, kecerdasan dan intelektual, ini menarik.
“Bu besok saya mau ke Mall Ambassador”, ujar Mei disuatu kesempatan makan malam kami.
“Boleh..emang mo ngapain kamu ?”, tanya istriku iseng.
“Handphone saya rusak, mungkin 3G nya, jadi aku gak bisa kirim email, Bu”, jawabnya kalem.
Walaupun tigak seperti disambar petir, aku dan istriku kaget bukan kepalang. Apaaaa ???
Dialog setelah itu tambah mencengankan lagi buat kami.
Ternyata Mei begitu akrab dengan teknologi mobile dan internet terkini.
Luar biasa !!
Seperti yang sudah kuutarakan diatas, Mei memang punya kecerdasan diatas rata-rata pembantu yang kami kenal. Caranya mengatur pekerjaan, kecepatan memperlajari sesuatu yang baru dan pertanyaan-pertanyaan yang kadang dilontarkannya mengindikasikan itu semua.
Satu lagi. Tidak seperti pembantu-pembantu yang lain, yang mati-hidup bergelimang sinetron. Mei, persis seperti kami majikannya, kurang berminat terhadap tontonan seperti itu. Bukan karena sentimen atau apa, memang kami tidak terlalu suka nongkrong didepan televisi (kecuali acara-acara berpengetahuan dan motivasi).
(sampai sekarang aku tak habis pikir, bagaimana mungkin sinetron-sinetron dengan sebagian besar cerita konyol yang mirip-mirip seperti itu digilai segolongan orang berselera aneh. Tapi mau dibilang apa..namanya juga selera !!)
Sebagai gantinya CD, audiobooks, buku-buku motivasi.
Dengan tidak bermaksud pamer, aku dan istriku punya sebuah komitmen unik bahwa kami dilarang mengatakan sesuatu yang bernada keraguan, ketakutan, dan hal-hal negatif lain.
(Atmosfir rumah kami, haruslah selalu positif dan itu dimulai dari penghuninya)
Karena hampir merupakan sebuah kebudayaan dirumah kami, Mei pun ikut-ikut terkena imbasnya. Beberapa kali kami pergoki ia mencuri dengar program-progam motivasi yang sedang kami putar dan memperhatikan buku-buku yang tersebar diruang keluarga dengan penuh rasa ingin tahu.
Beberapa kali juga, kami terlibat percakapan intens diseputar cita-cita, kerja keras dan impian.
“Kalau kamu bersungguh-sungguh, meskipun kamu sudah putus sekolah. Kamu bisa mencapai keinginan-keinginanmu Mei. Manusia itu sampai kapanpun lebih hebat dari semua persoalannya !!”, kataku kepadanya disebuah percakapan.
Mei pun tampak lebih dari sekedar mendengarkan.
Beberapa kali, karena ingin memberinya wawasan kami mengajaknya untuk membantu kami sekedar membawakan beberapa berkas dokumen pada agenda meeting ku dengan client. Dan Mei sangat menikmati kesempatan itu.
Kemudian inilah yang terjadi setelah dua bulan. Mei pamit, ingin resign. Ia bermaksud belajar menjadi seorang Baby Sitter. Meskipun secara pendidikan itu tidak mungkin, namun sinar matanya yang menyala-nyala itu mengisyaratkan ada api yang sedang berkobar didada seorang Mei.
Aku dan istriku segera “merasa” dihadapkan pada posisi yang sulit. Waktu itu –mungkin ini yang aku maksud agak memalukan- kami menanggapi insiden itu dengan negatif. Kecewa, bingung, marah, jengkel bergabung jadi satu. Sampai suatu saat kami mencoba menganalisa permasalahan Mei dari sisi yang lebih positif. Perlahan namun pasti, setitik sinar bangga bercampur haru pun muncul di benak kami, makin lama makin besar.
Rupanya tanpa kami sadari, tindak tanduk dan perkataan kami telah memotivasi Mei sedemikian rupa, sehingga seorang pembantu sepertinya, ABG yang tidak tamat SMP itupun kini tegak berdiri. Siap menghadang kesulitan apapun yang berdiri diantara ia dan cita-citanya, tanpa dapat ditakut-takuti dan dibuat minder oleh apapun.
Unbelievable !!!
Itu berarti sekecil apapun yang kita lakukan baik negatif atau positif -bisa jadi tanpa kita ketahui – kadang berdampak luar biasa bagi orang lain. Sehingga ketika dampak itu sekonyong-konyong muncul kepermukaan kita tidak mengetahui kapan dan apa yang menjadi penyebabnya.
Ada sebuah cerita sederhana yang cukup mengesan, yang mirip-mirip tentang hal
itu. Andrea adalah gadis cilik yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh
kedua orang tuanya. Ia sering melihat ayahnya mencium dan memeluk ibunya dan ini
tentunya sangat menyenangkan buat Andrea. Kerap kali Andrea dengan polos
menceritakan prilaku ayahnya itu kepada sahabatnya, Hanny. Suatu saat, Hanny pun
bertanya kepada ayahnya, tentang cerita sahabatnya itu, lalu bertanya
mengapa hal yang sama tak pernah ia lihat dilakukan sang ayah dirumah. Dan
betapa inginnya Hanny menyaksikan hal yang kata Andrea “demikian menyenangkan”
itu. Ayahnya yang sibuk luar biasa, tiba-tiba saja tersentak kaget, mendengar
pertanyaan polos itu. Tiba-tiba hatinya terenyuh, karena menyadari betapa sering
ia –karena alasan kesibukan yang luar biasa- mengabaikan istrinya.
Jika ini bisa terjadi pada diri Mei, berarti ini bisa berlaku pada diri siapapun. Istri, suami, anak, tetangga, tukang bakso di komplek kita, pengemis, tukang kebun, kuli bangunan, pengamen dan siapapun disekitar kita.
Kemudian sebuah khayalan iseng muncul di kepala.
Bayangkan seperti apa kebangkitan bangsa kita, jika para motivator, inspirator, hypnoteraphist, mental healer, NLP expert atau apapun gelar mereka, yang selama ini lebih sering berakrobat diruangan ber-AC hotel-hotel, membantu orang-orang yang sudah punya duit untuk lebih kaya lagi, sekarang bergerak bersama-sama, turun mimbar, membuka jas-jas sutera mereka, lalu menyeberang kejalan-jalan, sekolah-sekolah, perkampungan kumuh, ke pasar-pasar, lokalisasi PSK, penjara-penjara, kemudian menggunakan keahlian, ketrampilan, talenta dan kesaktian untuk memotivasi orang-orang terpinggirkan itu, membangkitkan mayat-mayat untuk hidup kembali, menyelamatkan orang-orang tanpa harapan yang sedang berjalan terhuyung-huyung menuju tiang pancungan.
Bukankah sebuah tanggung jawab besar selalu mengikuti sebuah talenta yang besar pula ? Bukankah keduanya adalah dua sisi koin yang sama ? dimana penolakan terhadap salah satunya, akan berakibat kehilangan keduanya ?
Lalu apa untungnya ?
Jika yang ada dijidat kita hanya lembaran-lembaran uang berlabel “keuntungan” nampaknya agak sulit untuk dirumuskan. Tapi bukankah keuntungan dan upah tidak selalu datang dalam wujud serendah tu ?
Jika saja Aburizal Bakrie, salah satu orang terkaya di Asia itu, merasa sangat cocok, sangat suka dan bersimpati dengan kita, apakah yang kira-kira bakal terjadi dengan kondisi finansial dan bisnis kita ? Itu baru Ical, bagaimana jika DIA yang menciptakan Aburizal Bakrie, jatuh cinta pada diri kita ? Pemilik jutaan galaxy, bumi, langit, laut beserta isinya. Dia yang sanggup menggerakkan apa saja untuk mengangkat derajat kita. Tentunya “ekuntungan” seperti ini jauh lebih signifikan dibanding lembaran-lembaran uang tadi.
Apalagi kemuliaan seorang manusia dinilai bukan seberapa cerdas, seberapa hebat orasinya, seberapa kaya, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikannya kepada orang lain ?
Dalam kasus Mei misalnya, paling tidak kepergiannya membuat kami jauh lebih sehat. Terutama aku pribadi yang kini tampak lebih cerah dan lebih kekar dari biasanya, karena harus mencuci pakaian, menyapu, mengepel lantai sendiri, setiap hari, sebelum kami menemukan pengganti Mei ?
“Mei, kami iklash melepasmu pergi. Dan semoga hidup yang luar biasa mengagumkan ini akan mempertemukan kita dalam keadaan yang jauh lebih mulia dari sekarang. Dan semoga dalam perjalanan hidupmu, engkau –dengan mata kepalamu sendiri- membuktikan betapa hebatnya seorang manusia dipersenjatai Pencipta mereka dan betapa berharganya kita dimata-NYA”(eh..jangan-
jangan tanpa sepengetahuan kami, Mei bergabung dengan salah satu milis, lalu membaca tulisan ini)
what a wonderfull world !
Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer & penulis
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/
081317822720
Koq gak ada widget buat sharenya..padahal aq mo share buat teman2 yg laen ni....