| Beranie Gagal Commercial |
Cara Pasang Banner
|
| Donasikan Blog Ini |
|
|
| Beranie Gagal Award |
|
| Beranie Gagal Partners |

BERHADIAH 30 JUTA KLIK DISINI
|
| Hubungi Kami |
|
|
| Quote's Of The Day |
|
|
|
| Wednesday, September 30, 2009
|
|
Surat Dari Ayam
|
Rumah Jagal, 30 September 2009
Kepada :
Saudaraku yang terkasih,
Manusia
Salam kasih saudaraku,
Maafkan aku kalau tulisanku ini mengganggumu. Aku sendiri juga tidak yakin apakah benar menulis surat ini atau tidak.
Tapi, kupikr, jika surat ini tidak pernah ada, mungkin tidak akan lagi ada kesempatan. Dengan tulisan ku yang berantakan ini, ha.. ha.. kamu menyebutnya cakar ayam, semoga masih bisa terbaca, aku memberanikan diri.
Masih teringat, tiap pagi kamu selalu telat bangun. Sulit sekali untukmu bangun pagi. Sering kali kamu tidak sarapan, langsung saja berangkat. Lihat saja, badan kamu jadi kurus begitu. Tahukah kamu? Aku sangat sedih. Aku bertekad berbuat sesuatu untukmu. Tiap pagi aku akan bangun pagi-pagi, aku akan teriak terus sampai kamu bangun. Sering kali, tenggorokanku sakit, suaraku hilang, tapi aku tetap berusaha teriak sampai kamu bangun. Sekarang mungkin kamu harus berjuang sendiri, maafkan aku, aku tidak bisa lagi membangunkanmu.
Kata dokter, telurku banyak mengandung protein. Aku begitu bahagia bisa memberikan sesuatu dari diriku untukmu. Memang aku sulit sekali menerima ini, aku begitu sulit bertelur dengan harapan dapat anakku dapat segera menetas. Tapi sepertinya harapan itu tidak akan pernah terwujud.
Setidaknya aku bisa melihatmu sehat karena telurku. Aku tidak pernah menyesal, karena aku mengasihimu, aku sangat mengasihmu.
Akhir-akhir ini, aku merasa aneh, daging pada tubuhku terasa membengkak, terutama bagian pahaku.
Aku mulai bertanya kapan aku terakhir fitness¦ Tapi rupanya itu bukan hasil fitnessku selama ini, kamu telah melakukan sesuatu padaku. Seingatku sering kali aku tertusuk jarum yang tajam dan setelah itu, terasa ada carian yang masuk ke tubuhku. Pertama-tama kukira dengan badanku seperti ini, kamu ingin aku jadi atlit binaraga. Aku begitu bahagia, kamu begitu memperhatikanku. Ketika aku diangkut ke truk bersama teman-temanku, aku masih berpikir aku akan pergi ikut turnamen binaraga. Aku begitu bahagia berpikir bisa membawa pulang piala buatmu sampai aku sadar tempat apa yang kami tuju. Aku melihat teman-temanku sudah terkapar, darah mengucur dimana-mana, mereka sudah tidak beryawa. Teriakanku tertahan, Ini bukan gedung turnamen, ini adalah rumah jagal.
Akhirnya aku mengerti, ternyata aku disuntik supaya dagingku besar, kamu akan menikmati dagingku. Tapi semua itu sudah terlambat. Aku takut sekali, aku ingin lari keluar tapi aku tak bisa, aku tak berdaya.
Satu-persatu temanku dimasukkan ke dalam sebuah alat yang besar, teriakan mereka begitu menyayat hati. Aku tahu pasti, sebentar lagi aku akan merasakannya. Aku heran, suara teriakan yang begitu keras, tidakkah itu mengganggumu? Mungkin kamu tidak mendegarnya atau lebih tepatnya tidak mau mendengarnya?
Bukankah kita sama-sama mahkluk ciptaan Tuhan? Bukankah dulu kita saling mengasihi? Kenapa kamu berubah begitu cepat? Apakah aku benar-benar tidak bermakna di matamu?
Waktuku sudah hampir habis, sebentar lagi akan tiba giliranku. Sudah tidak ada gunanya lagi aku berbicara terlalu banyak. Ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Hmm, mungkin juga aku sudah berada dalam perutmu!
Tapi ada satu hal yang aku ingin sekali kamu tahu, bahwa aku masih mengasihmu, saudaraku. Aku doakan semoga kamu bisa hidup bahagia denga kasih. Semoga pengorbananku ini bermakna bagimu. Aku masih terus menantikan hari dimana kita bisa hidup bersama, saling mengasihi.
Mungkinkah hari itu akan tiba?
Selamat tinggal saudaraku.
Yang mengasihimu,
Ayam Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:34:00 PM
  |
|
|
|
| Tuesday, September 29, 2009
|
|
Bukalah Hatimu
|
|
Dikisahkan, ada seorang anak muda yang merasa dirinya tidak bahagia. Setiap hari, dari jendela kamarnya dia melihat taman dan pemandangan alam yang sangat indah, orang berlalu lalang, anak-anak bermain dengan gembira. Tetapi fenomena itu tidak membuat hatinya bahagia. Justru dia tidak mengerti, mengapa orang-orang di luar sana bisa tertawa-tawa bersama atau setidaknya menunjukkan wajah yang gembira. Karena melihat keadaan di sekitarnya, atinya yang hambar, terusik pada pertanyaan, "Apa rahasia bahagia?" Demi mendapatkan jawaban tersebut, si pemuda memutuskan keluar dari kamarnya dan mulai bertanya kepada siapa saja yang mungkin bisa memberi jawabannya. "Maaf Pak, saya mau bertanya, dari mana bahagia itu?" tanyanya kepada seorang bapak yang tampak gembira melihat anak-anak yang sedang berlarian. "Bahagia? Dari mana datangnya? Lihat saja anak-anak itu," jawab si bapak santai. Si pemuda mencermatinya dan tidak mengerti mengapa melihat anak-anak itu adalah kebahagiaan. Dia pun berjalan terus dan berusaha bertanya ke beberapa orang lainnya tetapi tetap saja tidak menemukan jawabannya, apa dan bagaimana bahagia itu. Hingga tibalah dia di depan rumah seorang petani yang sedang beristirahat sambil meniup seruling dengan nikmatnya. Si pemuda menunggu sampai lagunya selesai dan mengajukan pertanyaan yang sama. "Ayo, masuklah kemari," si petani mempersilakan si pemuda dengan ramah. "Bapak sedang membuat seruling baru. Lihatlah! Begini caranya." Tangannya pun sibuk memperagakan memilih bambu, mengusap dan membersihkan bulu-bulu halusnya dengan cermat. "Setelah bersih, kini saatnya meratakan dan kemudian melubanginya." "Bapak, saya kemari bukan belajar membuat suling dan apa hubungannya semua ini dengan kebahagiaan?" tanya si pemuda dengan kesal. "Anak muda, jangan marah dulu. Perhatikan dulu apa yang hendak Bapak jelaskan. Bambu sekecil ini bisa mendatangkan nada yang indah, rahasianya ada di lubang-lubang kecil ini. Nah, sama dengan kebahagiaan yang kamu tanyakan. Buatlah lubang dan biarkan dia terbuka di dalam hatimu. Karena tanpa kamu pernah membuka hati, sama halnya kamu tidak pernah memberi kesempatan pada hatimu sendiri dan selamanya kamu tidak akan mengenal, apa itu bahagia. Mudah kan? Apakah kau mengerti?" "Ya Pak, saya mengerti. Terima kasih." Para pembaca yang budiman, Merasa senang dan bahagia adalah keadaan hati. Seringkali kita melihat ataupun mendengar banyak orang yang memiliki harta berlimpah tetapi hidup tidak bahagia. Ada pula orang yang hidupnya biasa-biasa saja, tetapi tampak sekali kebahagiaan melingkupinya. Membuka hati berarti bisa menerima keadaan apapun kita hari ini, namun TETAP berikhtiar mengejar mimpi yang kita harapkan. Mampu menikmati hidup ini secara positif dan bernilai bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Dengan sikap mental hidup seperti itu, PASTI setiap saat kita bisa menikmati kebahagian secara alami. Salam sukses luar biasa!!
Oleh : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:53:00 PM
  |
|
|
|
| Saturday, September 26, 2009
|
|
Sekantong Bibit Kacang Tanah
|
|
Dikisahkan, ada seorang gadis muda yang bertekad membantu desa asalnya yang miskin dan terbelakang. Dia rajin mengusahakan segala daya upaya untuk bisa menghasilkan uang guna membeli buku dan perlengkapan sekolah anak-anak di sana. Tetapi, sehebat apapun usahanya, terasa masih saja serba kekurangan. Hingga suatu hari, dia mendapatkan janji bertemu dengan seorang kaya di kota, dengan harapan si tuan kaya mau memberi sumbangan uang. Setelah bertemu, si gadis muda menceritakan keadaan desanya dan sarana pendidikan yang jauh dari memadai serta memohonkan bantuan untuk mereka. Dengan nada bosan dan tidak bersahabat, tuan kaya berkomentar santai, "Gadis muda. Kamu salah alamat. Di sini bukan badan amal yang memberi sumbangan cuma-cuma. Kalau memang anak-anak desamu tidak bisa sekolah, ya itu nasib mereka. Kenapa aku yang harus membantu?" Tampak dia tidak mempercayai sedikitpun ketulusan gadis muda di hadapannya. Dengan pandangan tidak berdaya dan putus asa, si gadis tahu, usahanya telah gagal. Tetapi sebelum pergi, dia mencoba berusaha yang terakhir, "Tuan, kalau boleh, apakah saya bisa meminjam sekantong bibit unggul biji kacang yang tuan hasilkan selama ini? Anggaplah hari ini tuan telah membantu kami dan saya berjanji tidak akan mengganggu tuan lagi." Dengan heran dan karena ingin segera mengusir si gadis, tanpa banyak cakap, segera diberinya sekantong bibit kacang tanah yang diminta. Sepulang dari sana, si gadis memulai gerakan menanam biji kacang tanah di atas tanah penduduk miskin, dengan tekad sebanyak satu kantong biji kacang tanah, akan menghasilkan kacang sebanyak yang bisa tumbuh di sana. Usahanya berhasil. Dan beberapa saat setelah panen, si gadis kembali mendatangi si hartawan, "Tuan, saya datang kemari dengan tujuan untuk mengembalikan sekantong biji kacang tanah yang saya pinjam waktu itu." Lalu si gadis menceritakan keberhasilan mereka menanam hingga memanen, dari sekantong biji kacang menjadi sebanyak itu. Si tuan kaya terkesan dengan hasil usaha dan ketulusan si gadis muda dan berkenan datang ke desa meninjau. Dia sangat terkesan dan kemudian malahan menyumbangkan alat-alat pertanian, mengajarkan cara bertani yang baik, dan membeli semua hasil panen yang dihasilkan desa tersebut. Tiba-tiba kehidupan di desa itu berubah total. Mereka mampu menghasilkan uang, hidup lebih sejahtera, dan mampu membangun sekolah untuk pendidikan anak-anaknya. Sungguh perjuangan seorang gadis muda yang membanggakan dan nyata! Tidak ada usaha yang sia-sia! Seluruh penduduk desa selalu bersyukur dan berterima kasih atas jasa si gadis muda. Para pembaca yang luar biasa, Kehidupan di dunia ini sangat realistis. Saat kita dalam keadaan lemah, mundur, gagal, banyak orang mencemooh kita. Saat kita ingin memulai usaha atau ada ide-ide baru yang mau kita kerjakan, ada saja orang yang tidak mau membantu tetapi meremehkan, menghina dan memandang sebelah mata. Ya, tidak usah marah, dendam ataupun membenci. Lebih baik siapkan segalanya secara maksimal dan perjuangkan sampai berhasil. Setelah ada bukti sukses baru orang akan percaya dan lambat atau cepat akan memberi pengakuan pada kita. Tapi jangan heran, saat kita sukses ada pula orang yg menunggu kapan kita jatuh. Maka yang paling utama adalah sikap kita. Sewaktu kita gagal dan diremehkan tidak marah. Sewaktu kita sukses, tidak lupa diri. Walaupun sukses tetap rendah hati dan bersahaja. Dan, tetap optimis menciptakan kesuksesan yang lebih besar. Salam sukses luar biasa!!
Oleh : Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 3:54:00 PM
  |
|
|
|
| Wednesday, September 23, 2009
|
|
Rahasianya adalah “Pilihan” Anda !
|
|
Dalam hidup kita, seringkali ada perbedaan yang mencolok di antara satu dengan yang lain. Ada orang yang sangat sukses, ada yang rata-rata, dan ada juga yang gagal. Lantas apa yang membedakannya ? Beberapa hari yang lalu, saya menanyakan satu pertanyaan kepada teman-teman di Facebook : “Apa yang membedakan orang yang mempunyai penghasilan 1 juta perbulan dengan orang yang mempunyai penghasilan 100 juta perbulan?" Apakah orang yang penghasilan 100 juta perbulan mempunyai kepintaran 100 kali lipat dibandingkan dengan yang mempunyai penghasilan 1 juta perbulan ?? Langsung saya mendapatkan banyak tanggapan dan komentar dari teman-teman. Dalam artikel ini, saya ingin sharing apa yang disampaikan oleh teman-teman di facebook, begitu juga tanggapan dari beberapa peserta dalam seminar saya. Jawaban yang paling sering dilontarkan adalah bahwa : 1Orang yang penghasilan 100 juta lebih kerja keras dan rajin dari pada yang 1 juta. 2Lebih berani ambil risiko dan selalu take action. 3Orang yang punya penghasilan 1 juta tidak berani untuk bermimpi, tidak melakukan secara maksimal, belum apa-apa selalu negatif duluan... menganggap 100 juta itu impossible dan hanya mengganggap orang-orang yang berilmu tinggi yang sanggup mendapatkan penghasilan 100 juta. alias minder. 4Orang yang 100 juta mempunyai sistem yang bekerja untuk mereka alias lebih bijak. 5Orang yang berpenghasilan 100 juta mempunyai impian dan target yang jauh lebih besar alias ukuran impian mereka. 6Tempat di mana mereka bekerja atau alat yang dipakai. 7Sistem kepercayaan/ keyakinan mereka. 8.Kemampuan melihat peluang dan selalu melakukan yang terbaik. 9.Kemampuan memimpin/delegasi tugas. 10.Orang yang 100 juta lebih positif thingking dan selalu mencari kesempatan disetiap tantangan yang dihadapi. 11Faktor keberuntungan/nasibnya lebih baik. 12Mempunyai tujuan yang jelas untuk apa setelah mendapatkan 100 juta, sehingga passion nya lebih besar. 13Lebih banyak melayani dan selalu membuat orang lain senang. 14Cara kerja dan prosesnya berbeda. 15Knowledge dan informasinya lebih lengkap/ karena tahu caranya. 16Dan banyak sekali faktor lainnya. Semua jawaban di atas ini adalah benar dan merupakan faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan antara orang yang mempunyai penghasilan 100 juta perbulan dengan yang penghasilan 1 juta. Tetapi kurang tepat karena masih ada satu faktor yang paling penting atau kita sebut kunci utamanya. Karena kebanyakan kita sudah tahu jawaban di atas, tetapi hidup kita tidak berubah, dan tetap biasa-biasa saja. Jawaban-jawaban di atas ibaratnya adalah mutiara-mutiara/batu diamond yang berceceran di lantai, dimana masih kurang satu faktor terpenting yang bisa membuat batu-batu diamond itu menjadi sangat berharga yaitu talinya. Jika mutiara-mutiara itu kita satukan dan rangkakan dengan talinya, maka akan menjadi sebuah kalung diamond yang begitu indah dan bernilai tinggi. Begitu juga dalam hidup kita dan faktor terpenting itu adalah PILIHAN Anda ! Yes.. Pilihan Andalah yang menentukan segalanya. Apakah jawabannya adalah sesederhana ini, saya sering mendapat respon dari teman-teman dan peserta seminar: “Masa perbedaannya adalah pada pilihan kita, kalo gitu saya pasti mau pilih 100 juta dong..” Ya Betul.. tapi pertanyaannya adalah : “Apakah selama ini Anda sudah buat pilihan? Keputusan dalam hidup Anda untuk menjadi orang yang mempunyai penghasilan 100 juta perbulan?” Dan jawabannya Anda tahu sendiri… Pembaca yang budiman, Dalam hidup kita yang hanya 1 kali ini saja, buatlah pilihan yang berharga dalam hidup Anda. Anda pantas untuk hidup jauh lebih sukses dan lebih baik dari hari ini, sesuai ilustrasi di atas, Anda juga berhak untuk mempunyai penghasilan 100 juta perbulan atau 100 kali lipat dari penghasilan Anda sekarang. Sekarang Anda sudah tahu rahasianya adalah pilihan Anda, so beranilah untuk buat pilihan, karena ketika Anda membuat pilihan, maka Anda akan sadar bahwa harus melakukan dengan cara yang berbeda. Anda akan lebih rajin dan lebih smart dalam memilih alat. Jika Anda fokus pada hasil 100 kali lipat dari sekarang, Anda pasti mulai mencari segala faktor dan strategi yang mendukung Anda untuk mencapainya. Bertanyalah kepada diri Anda sendiri: apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya pelajari, siapa yang bisa membantu saya, mungkin saya harus pakai alat/kendaraan apa, sistem apa yang saya bisa pakai supaya bisa melipatgandakan hasil saya. Mulailah sebuah pencarian dan petualangan baru, yang pasti setelah Anda sudah membuat pilihan, maka hidup Anda mulai berubah! Selamat mencoba dan saya doakan semoga Anda menempuh sebuah perjalanan hebat yang luar biasa dan segera memiliki kehidupan yang jauh lebih Sukses, Sehat, Kaya, dan Bahagia! *** Rudy Lim adalah inspirator muda, motivator, trainer, dan public speaker, sekaligus Founder & Director of Youngs Spirit - Seminar & Workshop Training. Rudi dapat dihubungi di nomor handphone 0812 8500 686 atau kunjungi website pribadinya di www.rudylim.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:09:00 AM
  |
|
|
|
|
|
Berbuat Baik Kok Takut?
|
|
Kalau apa yang kamu lakukan adalah sebuah kebaikan dan disertai niat baik dan ketulusan, janganlah takut, karena kebaikan dan ketulusan akan menyertaimu. Memang kedengaran lucu dan aneh, mau berbuat baik saja takut, ragu-ragu atau curiga. Akhirnya kita justru mengabaikan panggilan hati dan lebih mengikuti pikiran. Kalau pun akhirnya berbuat baik pun, harus dengan perasaan takut-takut. Ambil contoh, saat malam hari ada seorang bapak tua di pinggir jalan dalam keadaan hujan sedang memperbaiki motornya yang mogok, dan saya melintas. Pertama yang muncul adalah panggilan hati untuk membantu atau menolongnya. Tapi sesaat ada pikiran yang mengacaukan, "Jangan. . . Siapa tahu itu jebakan!" Terjadilah perang antara hati, nurani, dan pikiran. Pikiranlah yang kemudian jadi pemenang. Lewatlah kesempatan untuk berbuat baik! Seringkali juga saya melihat, kadang-kadang orang-orang mau beramal pun terlihat ketakutan, hanya membuka sedikit lubang jendela mobil lalu melemparkan uangnya. Atau juga ada orang yang saat dimintai sumbangan, hati dan tangannya sudah mau memberi. Tapi pikirannya mencegah, "Jangan. . . jangan-jangan cuma penipu?" Seorang teman juga pernah komentar, "Lihat tuh, pengemis itu, masih muda. Mungkin mereka itu malas! " Di lain waktu, istri pernah sedikit menegur saya. Saat ada seorang pemuda tahu-tahu ada di depan rumah dan mengatakan kehabisan ongkos, spontan saya memberikan sedikit uang padanya. Sebab, saat itu yang ada di hati semata-mata keinginan untuk menolong! Teman-teman, mengapa dalam berbuat baik, haruslah dengan ketakutan, dan kecurigaan? Pasti kita akan memberikan argumen-argumen yang meyakinkan bahwa kita benar dengan tindakan kita. Namun kalau mau direnungkan kembali, apa yang harus kita takutkan kalau yang kita lakukan itu adalah sebuah kebaikan? Adalah hukum yang pasti: lakukan yang baik, dapatlah yang baik. Jadi kalau memang ada kemampuan dan kesempatan, lakukanlah kebaikan! Mau?
Oleh : TAOLIE Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 11:06:00 AM
  |
|
|
|
| Friday, September 18, 2009
|
|
Melepaskan Diri dari Jebakan Permainan Pikiran
|
|
Segala keruwetan hidup, segala beban pikiran, segala ratapan akan kegagalan, sejatinya adalah hasil dari "Permainan Pikiran" kita sendiri. Kehidupan ini dipenuhi oleh rangkaian fragmen-fragmen. Satu peristiwa, dapat saja disikapi secara berbeda oleh individu-individu yang terlibat di dalamnya. "Musibah" bagi satu orang, di saat bersamaan boleh jadi justru menjadi "anugerah" bagi orang yang lain. Sebagai contoh, penulis pernah mengalami sendiri kehilangan mobil satu-satunya yang dicuri dari garasi rumah di pagi buta. Situasi menjadi sulit, selain karena hilangannya aset keluarga, praktis sementara belum mendapatkan mobil pengganti, penulis harus mengandalkan ojek, angkot, bus umum atau pun taxi untuk bekerja. Namun di sisi lain, musibah ini justru menjadi "rejeki" untuk tukang ojek, supir angkot, taxi dan bus yang kini mendapatkan pelanggan baru. Tak ketinggalan tukang bangunan yang kemudian dipesan secara khusus untuk memperkuat konstruksi pagar rumah. Satu peristiwa bisa dimaknai secara sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Agar tidak terjebak dalam "permainan pikiran" kita sendiri, diperlukan adanya "Prasangka Baik" (Possitive Thinking). Kepada siapa? Tentu pada Sang Maha Pemberi Kehidupan, yang telah mengatur fragmen-fragmen kehidupan tersebut. Prasangka baik akan menuntun kita untuk "tajam" dalam mengambil pembelajaran dari tiap kejadian. Hidup adalah sebuah perjalanan untuk "MENJADI". Setiap kita hakikatnya sedang dalam perjalanan untuk "menjadi". Jiwa yang sederhana yang dianugerahkan pada setiap bayi yang baru lahir, ditempa untuk "menjadi" melalui serangkaian pengalaman hidup. UMUR adalah Time Line-nya, sejauh mana kehadiran kita memberikan MANFAAT adalah Measurement-nya, sementara SUKSES adalah Bonus-nya. Tidak ada yang namanya kegagalan, karena kegagalan hanyalah "sinyal" agar kita mengevaluasi diri dan memperbaiki cara kita bekerja. Tidak ada yang namanya musibah, karena musibah hanyalah "momen" untuk introspeksi dan mengoptimalkan potensi diri yang ternyata selama ini masih Idle (terpendam). Karena itu, ada beberapa pedoman yang bisa digunakan agar kita terbebas dari jebakan "permainan pikiran" kita sendiri: 1. Bahwa Sang Maha Pemurah tak akan pernah menyengsarakan hamba-Nya 2. Bahwa setiap hal pasti selalu diciptakan secara berpasang-pasangan 3. Bahwa dibalik setiap kesukaran pasti selalu ada kemudahan. Pertama, Tuhan tidak akan pernah "menyengsarakan" kita. Jati diri manusia sejatinya merupakan cerminan dari Kemuliaan Sifat Tuhan, karena itulah manusia diberi "tugas" untuk memakmurkan semesta kehidupan. Artinya, kita semua sesungguhnya ditakdirkan untuk SUKSES. Namun dalam prosesnya, diberikanlah oleh-Nya ujian hidup, baik berupa kegagalan, kesukaran, kekeliruan, kerumitan, atau pun musibah. Mengapa demikian? Karena manusia yang mampu untuk memakmurkan semesta kehidupan, adalah manusia dengan JIWA yang telah bertumbuh. Dan pertumbuhan ini selalu melalui proses yang berjenjang. Ujian hidup merupakan SARANA untuk mengangkat kita ke jenjang berikutnya, karena ujian hidup akan memberikan tempaan, lecutan motivasi, pencerahan, titik balik, atau pun kesadaran untuk introspeksi. Namun demikian, skenario ini akan bisa berhasil bila kita menjalaninya dengan "Prasangka Baik". Kedua, setiap hal selalu diciptakan berpasang-pasangan. Bila kita tidak mengenal bengkok, tentu kita tak akan menghargai lurus. Tanpa adanya gelap, terang menjadi tidak berarti. Putih menjadi kehilangan makna tanpa noda hitam yang bisa mengotorinya. Demikian pula, tanpa mengenal kegagalan, kita tak akan bisa menghargai keberhasilan. Kita akan mengejar keberhasilan bila kita memahami KEMULIAAN dari keberhasilan itu sendiri. Karena itulah, "diciptakannya" kegagalan sesungguhnya merupakan anugerah. Ketiga, di balik setiap kesulitan PASTI ada kemudahan. Ini adalah sebuah hukum alam, sekaligus merupakan janji Tuhan. Pakar Fisika Prof. Yohannes Surya menyebutnya sebagai Fenomena "Mestakung". Kesulitan memang terasa menyesakkan, namun bila kita berhasil melaluinya, kita akan tersadar bahwa ternyata solusi itu SELALU tersedia. Sebagai contoh, nusantara yang dahulu terdiri atas berbagai kerajaan, telah kenyang menelan penderitaan karena selama 350 tahun dijajah oleh VOC (kemudian diteruskan oleh Hindia Belanda). Namun dari penderitaan ini, para pendiri Republik menjadi tersadar akan pentingnya nilai persatuan, maka kemudian lahirlah Indonesia. Bisa dikatakan, bahwa VOC-lah yang telah menginisiasi persatuan Indonesia. Hasilnya, sampai detik ini pun para pakar Geo-Politik dunia masih menyebut Indonesia sebagai "Keajaiban Abad 21". Sebuah wilayah yang multi etnis, terdiri atas ribuan pulau dan dipisahkan oleh lautan, nyatanya bisa bersatu sebagai sebuah negara. Berkaca dari runtuhnya Soviet, tragedi Balkanisasi, serta carut-marutnya Timur Tengah (sebuah wilayah yang sejatinya "Single" etnis tapi justru terdiri atas banyak negara), maka Negara Indonesia sungguh merupakan sebuah keajaiban. Senang dan susah sebenarnya hanyalah ilusi. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu memetik pembelajaran, sehingga akhirnya kehadiran kita selalu memberikan manfaat. Tidak perlu terlampau DUKA untuk sebuah kegagalan, demikian pula tidak perlu terlampau BANGGA akan sebuah keberhasilan karena semuanya adalah bagian dari proses untuk "menjadi".
Oleh : Tommy Setiawan Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 5:37:00 PM
  |
|
|
|
| Thursday, September 17, 2009
|
|
Self – Audit
|
|
Setiap perusahaan (kecil, menengah, atau besar) pasti mempunyai petugas yang bekerja sebagai auditor. Seorang auditor yang bekerja di perusahaan bertugas memeriksa apakah jalannya operasi perusahaan itu telah berjalan dengan baik. Seorang auditor harus memeriksa kebenaran data stok barang, memeriksa kebenaran jumlah uang tunai milik perusahaan, memeriksa jalannya manajemen perusahaan, dan lain sebagainya. Tujuan akhir dari kehadiran seorang auditor adalah untuk memastikan tingkat kesehatan perusahaan. Kita sebagai makhluk individual, sudah seharusnya membentuk petugas auditor untuk kepentingan diri kita sendiri. Petugas auditor ini bertugas mengamati isi pikiran kita, apa yang kita ucapkan, dan apa yang kita lakukan setiap saat. Kalau kita tidak membentuk satuan audit internal dalam diri kita, kita akan mudah terjebak pada kebiasaan-kebiasaan buruk, yang sering kali lebih banyak merugikan diri sendiri. Di dalam diri kita, hanya ada satu pikiran yang mempunyai dua karakteristik. Yang pertama adalah Pikiran Pelaku. Inilah pikiran yang selalu mencari sasaran. Pikiran ini melompat dari satu tempat ke tempat lainnya. Pikiran ini selalu mencari kepuasan sesaat. Pikiran pelaku ini bekerja melalui panca indera kita - visual, auditory, perasaan, pengecapan, dan penciuman. Sebagai contoh, Anda berada di sebuah plaza atau pusat perbelanjaan. Anda melihat kue blackforest di sebuah bakery. Lalu Anda membayangkan nikmatnya makan blackforest, dan perasaan Anda merasa senang ketika membayangkan kue tersebut. Lalu, tanpa disadari, Anda langsung mendekati toko kue itu dan membeli kue tersebut. Apakah Anda lapar dan membutuhkan sekali makan kue itu? Jawabannya, "belum tentu". Hanya perasaan Anda yang mendorong keinginan membeli tanpa sadar itu. Setelah Anda bawa pulang kue itu, mungkin anda menyesal, "Kenapa saya membeli kue itu?" Inilah proses bekerjanya pikiran pelaku. Yang kedua adalah Pikiran Pengamat. Pikiran ini jarang dimanfaatkan oleh kebanyakan orang. Pikiran ini seharunya berperan aktif dalam kehidupan Anda sehari-hari. Pikiran pengamat bertugas mengamati setiap aktivitas pikiran, ucapan, dan perilaku Anda. Pikiran pengamat sering kali dikenal dengan sebutan Kesadaran. Kalau Anda mempunyai kesadaran yang tinggi, sudah pasti Anda akan mampu mengendalikan hawa nafsu Anda. Orang yang memiliki kesadaran yang tinggi mereka akan selalu aware - waspada, terhadap setiap aktivitas dirinya. Sebagai contoh, bila Anda mengendarai kendaraan, dan Anda melihat di depan ada perempatan jalan, lalu Anda sadar tentang kondisi itu, maka tentunya Anda akan memperlambat laju kendaraan. Dan, Anda akan diselamatkan dari kemungkinan kecelakaan. Sebaliknya jika Anda tidak sadar, mungkin Anda akan terus tancap gas walaupun lampu pengaturan lalu lintas sudah menyala merah. Apa yang mungkin bisa terjadi ? Pada prinsipnya, Anda dapat mengatifkan satuan internal audit yang ada di dalam diri anda. Caranya (antara lain) lakukan latihan meditasi secara rutin dan teratur. Kalau Anda mempunyai tekad yang kuat, Anda pasti bisa mengaktifkan auditor ini. Salam Bahagia dan Sejahtera.
Oleh : Soegianto Hartono
Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 12:05:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, September 15, 2009
|
|
Apa Yang Akan Terjadi Setelah Ini?
|
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Ada kalanya kita berharap untuk bisa mengetahui apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Namun, bahkan seorang peramal terbaikpun tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok. Yang bisa kita ketahui hanyalah sederetan kemungkinan. Alasan mengapa semua itu disebut kemungkinan adalah karena hal itu mungkin terjadi, mungkin juga tidak.
Ada sebuah kisah tentang seorang karyawan yang bekerja lembur hingga larut malam dikantornya. Tiba-tiba, ada pesan aneh dilayar monitor komputernya. Sebelum mengklik pesan itu, sempat terlintas dipikirannya;”jangan-jangan pesan aneh ini mengandung virus....” Tetapi, tampilan yang menarik mengalahkan kewaspadaannya. ”Ah, mumpung tidak ada orang lain dikantor,” pikirnya. Tetapi, begitu dia meng-klik pop-up itu, serta merta saja isi komputernya diacak-acak virus. Dan karena komputernya terhubung ke jaringan kantor, maka seluruh sistem dikantornya terinfeksi. Setelah semua kekacauan itu, dilayar komputernya muncul sebuah gambar mahluk bertanduk merah dan berekor tombak, yang berkata; ”Now, explain this to your boss!!!”
Rupanya, hidup kita juga kurang lebih demikian. Kita tidak sungguh-sungguh tahu apa yang akan terjadi sepersekian detik setelah ’saat ini’. Sehingga ketika menjalani hidup, sesungguhnya kita dihadapkan pada banyak kemungkinan. Mungkin hidup kita menjadi lebih baik, atau sebaliknya menjadi lebih buruk. Lantas, bagaimana kita bisa tahu semua itu? Karena sejatinya kita semua ingin agar hari esok kita senantiasa lebih baik dari hari ini. Tetapi, seperti pesan pop-up dilayar komputer itu; kita tidak tahu apa yang tersembunyi dibalik setiap peristiwa, setelah kita meng-klik-nya.
Setiap pakar internet berbagi sebuah gagasan yang sama. Gagasan itu berbunyi;”Hanya link atau lampiran yang datang dari sumber terpercaya saja yang patut dibuka.” Dengan value ini, para pakar internet etis bersedia saling memberi komitment untuk tidak secara sengaja mengirim link yang berbahaya. Oleh karena itu, ketika kita mendapatkan pesan dari teman kita, kita percaya bahwa itu baik adanya. Sehingga, setiap kali kita mendapatkan pesan dari teman terpercaya, kita tidak memiliki sedikitpun keraguan untuk membukanya. Dan dengan cara itu, kita bisa saling menjaga.
Kelihatannya, prinsip itu berlaku juga dengan hidup kita. Kita akan baik-baik saja jika tetap konsisten untuk hanya meng-klik link-link yang datangnya dari sumber-sumber terpercaya. Namun demikian, kita semua percaya bahwa segala sesuatu yang mutlak bukanlah milik para manusia, sehebat apapun dirinya. Sebab satu-satunya pemilik kemutlakan adalah dzat yang maha mutlak sendiri. Sehingga, sejatinya kita memiliki keyakinan yang lebih tinggi untuk mengklik link yang dikirimkan oleh Tuhan kepada kita. Tanpa harus mengkhawatirkan kemana link ini akan membawa hidup kita. Bahkan sekalipun kelihatannya itu menuju sebuah jalan yang berliku.
Bayangkan jika kita bisa menerima apapun yang Tuhan mau kita ’klik’ dalam komputer kehidupan kita. Kita pasrah saja kepada apa maunya Dia. Kita terima saja apa yang Dia mau kita terima. Mungkin kita bisa terbebas dari keluh kesah ini. Mungkin kita bisa merdeka dari risau ini. Mungkin kita bisa keluar dari ragu ini. Sebab, kita percaya bahwa semua yang datang darinya pastilah hanya kebaikan saja. Sehingga, ketika Dia mengirimi kita dengan rona-rona indah kehidupan, kita tidak terlena untuk berbalik lupa kepadaNya. Sebaliknya, ketika Dia menguji kita dengan awan dan halilintar yang mendebarkan, kita tidak terlampau takut untuk menjalaninya.
Dia adalah yang terpercaya. Sehingga kita percaya bahwa apapun yang Dia pilihkan untuk kita, adalah yang terbaik bagi kita. Yang perlu kita lakukan untuk menyambut kepercayaan itu adalah; mengklik isyarat link nya dengan sepenuh hati dan segenap potensi. Sebab, jika kita menjalani semuanya dengan seluruh potensi diri dan daya hidup yang kita miliki, maka kita mempunyai kesempatan untuk bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang Dia hamparkan dimasa depan. Dan kita, bisa menghadapinya tanpa keraguan. Jika gagal sekalipun, mungkin kita bisa memperbaikinya lain kali.
Pertanyaannya adalah;”Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita bisa menjalani semua keputusanNya?” Kita tahu karena kita percaya bahwa Dia menciptakan kita dengan penuh perhitungan. Dia tahu bahan baku untuk membuat kita. Karakteristiknya, dan batas kekuatannya. Karenanya, Dia tahu sampai dimana kita bisa menerima tempaan dariNya. Dia sudah memperhitungkan beban seperti apa yang bisa kita terima. Sehingga, Dia hanya akan membebani kita sesuai dengan kemampuan kita. Tantangannya adalah; sudahkah kita menggunakan seluruh daya hidup yang kita miliki untuk menjalaninya?
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator http://www.dadangkadarusman.com/ Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 12:08:00 AM
  |
|
|
|
| Saturday, September 12, 2009
|
|
Mencari Kesempurnaan
|
Ini kisah perjumpaan dua orang sahabat yang sudah puluhan tahun terpisahkan hidupnya. Mereka kangen-kangenan, ngobrol ramai sambil minum kopi di sebuah cafe.
Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.
“Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum juga menikah?” ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang membujang.
“Sejujurnya sampai saat ini saya terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu saya berjumpa dengan seorang gadis cantik yang amat pintar. Saya pikir ini adalah wanita ideal yang cocok untuk menjadi istriku. Namun ternyata dimasa pacaran ketahuan bahwa ia sangat sombong. Hubungan kami putus sampai di situ.”
“Suatu saat, saya ketemu seorang wanita rupawan yang ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama, aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun ternyata belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab.”
“Saya terus berupaya mencari. Namun selalu saya temukan kelemahan dan kekurangan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua wanita ideal yang selama ini saya dambakan. Ia demikian cantik, pintar, baik hati, dermawan, dan suka humor. Saya pikir, inilah pendamping hidup yang dikirim Tuhan.”
“Lantas,” sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan,
“Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak segera meminangnya?”
Yang ditanya diam sejenak. Suasana hening.
Akhirnya dengan suara lirih, sang bujangan menjawab,
“Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna.”
Adakah yang sempurna? Siapa?
Sumber: Anonymous Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 8:52:00 PM
  |
|
|
|
|
|
Kentang
|
Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.
Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.
Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.
Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.
Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.
pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu,sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.
Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap,bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.
Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.
Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedengkian hati.
Sumber: Anonymous Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 8:51:00 PM
  |
|
|
|
| Thursday, September 10, 2009
|
|
Pilih Lingkungan Anda Untuk Sukses
|
Keadaan sekeliling dan lingkungan kita dapat mempengaruhi kita. Keadaan jiwa juga dapat mempengaruhi kita. Keadaan suasana hati dapat pula mempengaruhi kita. Mempengaruhi untuk bersikap dan melakukan sesuatu tindakan.
Pada bulan puasa beberapa waktu lalu, saya diberitahu tentang banyaknya pengemis yang dapat penghasilan 1-2 juta per hari. Ibu-ibu tua, bahkan anak-anak di pinggir jalan tiba- tiba penghasilannya meningkat di bulan Ramadhan dan puncaknya pas lebaran. Karena hal ini pula seringkali mereka khusus datang dari desa ke kota hanya untuk mengemis.
Namun mengapa orang-orang begitu baik hati untuk beramal? Kenapa mereka beramal sedemikian banyak pada waktu itu? Semua karena hatinya yang menjadi khusyuk sewaktu menjalankan ibadah di bulan yang suci itu. Mereka begitu bersemangat menjalankan semua ibadah yang bisa dilakukan, termasuk banyak beramal.
Orang Amerika yang sering pergi ke Las Vegas, tahu-tahu ada kabar menikah di sana. Mendadak saja keinginan menikah mereka timbul. Hal ini dikarenakan suasana kota Las Vegas yang sering kali menikahkan dengan persyaratan dan tata cara yang begitu mudah. Katanya satu gereja sehari bisa menikahkan sampai 30 pasangan. Sampai antri segala.
Saya sering tanya ke teman-teman yang sering bepergian ke Singapura, "Kalau kamu ke Singapura, apakah kamu akan membuang sampah sembarangan?" "Tidak," jawab mereka. "Lalu kenapa kalau di Indonesia masih membuang sampah sembarangan?". "Ya, karena di sini semua begitu."
Apakah mereka tidak bisa disiplin? Apakah mereka tidak bisa diajarkan yang seharusnya? Bisa. Bahkan tidak usah diajarkan, suruh saja mereka ke Singapura. Begitu sampai di sana mereka sudah tidak mau membuang sampah sembarangan. Kenapa di Indonesia mereka melakukannya? Karena mereka mengganggap di Indonesia sah-sah saja untuk melakukan seperti itu. Tidak apa-apa, tak ada tindakan. Beda dengan di Singapura yang bisa didenda sampai ratusan ribu rupiah.
Saya punya teman yang sangat pelit. Dia bahkan di awal-awal tinggal di Amerika tidak mau memberi tip, uang terima kasih untuk karyawan restoran. Namun setelah tinggal di sana selama 3-4 bulan, dia terbiasa untuk memberi tip 15% dari total pengeluaran, minimal 10%. Kok berubah? "Saya bisa celaka kalau tidak memberi tip. Bisa dipanggil untuk dimintai," jawabnya.
Ternyata orang yang pelit yang biasanya tidak memberi tip, sampai di tempat dimana semua orang memberi tip, dia juga turut melakukannya. Hal ini karena lingkungan sekitarnya melakukan itu sehingga mempengaruhinya.
Suasana hati seperti bulan puasa, lingkungan seperti di Singapura, nilai-nilai budaya seperti di Amerika mau tidak mau mempengaruhi kita. Yang pelit menjadi beramal. Yang biasa tidak berderma menjadi berderma. Yang tidak disiplin menjadi disiplin.
Nah, demikian juga sukses. Sukses juga akan dipengaruhi oleh lingkungan, orang-orang sekeliling kita dan nilai-nilai buadaya yang dianut. Karenanya kita juga harus mencari lingkungan, orang-orang yang mempunyai nilai- nilai yang sukses. Karena hal ini akan mempengaruhi kita menjadi sukses pula.
Oleh : Tanadi Santoso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:07:00 PM
  |
|
|
|
|
|
Apakah Nilai Diri Anda Lebih Tinggi Dari Uang Seribu Rupiah?
|
Mohon maaf jika judul artikel ini agak mengesalkan anda. Sebab, kita semua tahu bahwa nilai anda jauh lebih tinggi dari sekedar nilai uang seribu rupiah. Tetapi, percayakah anda kalau kita semua perlu sesekali menguji kebenaran premis bahwa; ’nilai kita lebih tinggi dari uang seribu rupiah’ itu? Agak janggal memang. Tapi, sebentar lagi anda akan faham maksud saya. Pertama-tama, ingatlah kembali bahwa nilai selembar uang sangat ditentukan oleh jumlah angka nol yang dimilikinya. Lalu, berhentilah sejenak dari membaca tulisan ini. Dan renungkanlah ini; ”jika nilai uang ditentukan oleh jumlah angka ’0’ yang dimilikinya, maka apa yang menentukan nilai diri kita sebagai manusia?”
Saya bisa mengatakan bahwa uang seribuan itu mewakili kualitas standar yang dipersyaratkan bagi diri kita, supaya perusahaan menganggap kita masih layak untuk dipekerjakan. Perhatikan, uang seribuan memiliki 3 buah angka ’0’ (nol), dimana setiap angka nol itu mewakili satu kualitas penting yang harus dimiliki oleh setiap pekerja.
Angka ’nol’ pertama mewakili apa yang kita sebut sebagai Knowledge, alias ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, setiap proses rekrutmen mempersyaratkan standar pendidikan tertentu untuk setiap posisi yang akan diisi. Ijazah sedikit banyak memberikan gambaran apakah kita mempunyai standard pengetahuan yang memadai untuk pekerjaan yang kita lamar atau tidak. Jika kita memenuhi syarat pengetahuan yang ditetapkan, kita bisa memasuki tahap selanjutnya.
Angka ’nol’ yang kedua mewakili apa yang kita sebut sebagai Skill, alias keterampilan. Jika kita lulusan sebuah sekolah yang memiliki reputasi tinggi, tetapi skill kita sangat rendah dan kalah jauh dari orang lain yang lulusan sekolah biasa saja, maka nilai kita berada dibawahnya. Sehingga, wajar jika perusahaan lebih memilih orang lain daripada kita. Karena, dengan hanya berbekal Knowledge, nilai kita seperti uang 10 rupiah, sementara teman kita yang memiliki knowledge dan skill sudah memiliki 2 buah ’nol’ sehingga nilainya setara dengan 100 rupiah, alias sepuluh kali lipat nilai kita.
Angka ’0’ ketiga mewakili apa yang kita sebut sebagai Attitude, alias sikap. Cukup banyak yang mengeluhkan sikap orang-orang yang merasa dirinya hebat. Mereka mengira bahwa dengan ijasah dari perguruan tinggi kelas atas bisa menembus segala-galanya. Malah sebaliknya, sikap buruk seringkali menjatuhkan nilai orang-orang cerdas dan berbakat. Artinya, perusahaan sama sekali tidak tertarik kepada orang pintar yang attitude-nya buruk. Oleh karena itu, orang yang attitudenya lebih baik, lebih disukai daripada orang cerdas yang sikapnya buruk. Ibaratnya, sekarang orang pinter ini masih mengoleksi satu angka ’nol’ (knowledge), sementara orang lain sudah mengumpulkan tiga (knowledge, Skill, dan attitude). Jika hal itu terjadi dalam sebuah proses penerimaan karyawan, siapa menurut pendapat anda yang akan mendapatkan kesempatan?
Pertanyaannya kemudian adalah; ”apakah hal itu masih relevan bagi orang-orang yang sudah memiliki pekerjaan seperti kita?” Tentu. Malah lebih penting lagi, karena ini menyangkut 2 hal, yaitu; pertama, bagaimana caranya mempertahankan agar jumlah angka nol kita tidak berkurang, dan kedua, bagaimana caranya menambah angka nol kita?
Memangnya ’angka nol’ kita bisa berkurang? Bisa. Contohnya, berapa banyak karyawan yang pada awalnya, sangat knowledgeable, namun karena malas meningkatkan diri akhirnya pengetahuannya ketinggalan jaman. Berapa banyak karyawan yang pada awalnya, sangat skillful, namun karena enggan mempelajari hal baru akhirnya keterampilannya tidak sesuai lagi dengan tuntutan perusahaan. Berapa banyak karyawan yang pada awalnya, berperilaku sangat baik, namun karena satu atau lain hal akhirnya mereka bertingkah diluar norma sehingga tidak pantas lagi menjadi bagian dari budaya perusahaan? Inilah gambaran dari orang-orang yang ’angka nolnya’ berkurang.
Jika kita kembali kepada setiap angka ’nol yang dimiliki oleh uang seribuan tadi, maka setiap penambahan angka nol, menghasilkan nilai sepuluh kali lipat, dari nilai sebelumnya. Artinya, uang Rp. 100,- (yang memiliki 2 buah angka ’nol’) nilainya sepuluh kali lipat uang Rp.10,- yang hanya memiliki 1 angka nol. Dan uang Rp. 1000,- nilainya sepuluh kali lipat nilai uang Rp. 100,- sebab kita tahu bahwa setiap penambahan satu angka nol menaikkan nilainya sepuluh kali lipat. Oleh sebab itu, jika kepada uang seribu tadi ditambahkan satu lagi angka nol, maka nilainya sudah naik sepuluh kali lipat. Lalu, tambahkan lagi satu angka nol, maka nilainya naik lagi sepuluh kali lipat. Betul demikian?
Lantas, bagaimana caranya menambah angka nol itu? Kita sudah tahu bahwa angka ’0’ pada uang merupakan nilai tambah yang tidak terelakan. Pada manusia, nilai tambah itu setara dengan ’atribut-atribut’ positif yang mewujud pada perilaku, pengetahuan, dan keterampilan kita. Orang yang memiliki perilaku yang baik dan pengetahuan yang luas serta keterampilan yang tinggi tentu nilainya lebih tinggi dari orang lain yang hanya memiliki salah satu dari ketiga aspek itu. Ibaratnya uang yang memiliki satu ’0’ dibandingkan dengan ’000’. Jika ketiga hal diatas ditambah dengan ’kesediaan untuk memberikan pelayanan ekstra’, misalnya; maka nilainya bertambah sepuluh kali lipat karena sekarang angka ’0’ nya menjadi 4. Tambah lagi dengan ’senang membantu orang lain’; naik sepuluh kali lipat lagi nilainya.
Bayangkan jika kita bisa menambah puluhan atribut positif lain kedalam diri kita. Tentu kita bisa menjadi karyawan unggul bernilai sangat tinggi sebagai aset penting bagi perusahaan. Karena, sudah menjadi sifat alamiah kita untuk tertarik kepada seseorang yang memiliki banyak atribut positif didalam dirinya. Ini menegaskan bahwa ’nilai’ seseorang sangat ditentukan oleh kualitas dirinya. Dan kualitas diri kita itu, ditentukan oleh atribut-atribut positif yang kita miliki. Persis seperti uang yang nilainya ditentukan oleh jumlah angka ’0’ yang dimilikinya.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator http://www.dadangkadarusman.com/ Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:04:00 PM
  |
|
|
|
| Tuesday, September 08, 2009
|
|
Membangun Keyakinan Diri
|
|
Setiap orang yang dilahirkan pastilah memiliki bakat, kepintaran ataupun kemampuan yang relatif berbeda satu dengan yang lainnya. Namun terkadang mereka sulit untuk menemukan hal tersebut dalam dirinya sehingga tidak dapat meraih prestasi yang maksimal. Bahkan terkadang seseorang mencoba membanding bandingkan kemampuan yang dimilikinya dengan orang lain hingga membuat mereka merasa rendah diri. Padahal sering kali seseorang tidak bisa sukses bukan karena tidak memiliki bakat, kepintaran ataupun kemampuan tetapi karena mereka tidak memiliki rasa percaya diri dan mental yang baik. Jika kita melihat para juara dunia sejati, baik itu di bidang bisnis, ilmu pengetahuan, politik kenegaraan, pendidikan, atau bahkan seorang religius sekalipun, semuanya punya kepercayaan diri yang kuat. Kalau mereka gagal, mereka segera bangkit lagi. Mereka berani menentukan target, berani mulai melangkah dan berani berjuang mewujudkan keberhasilan. Mereka terus bertahan dan terus melangkah walaupun keberhasilan kelihatan jauh dari pandangan mata. Salah satu cerita tokoh yang luar biasa adalah Kolonel Sanders. Pada waktu ia menawarkan resep rahasia ayam gorengnya kepada orang lain. Dibutuhkan lebih dari 1.000 kali penolakan sebelum dia berhasil menjual waralaba KFC pertamanya. Padahal usianya waktu itu terbilang sudah lanjut tetapi berkat usaha dan kerja kerasnya akhirnya ia berhasil untuk mewujudkan cita citanya. Atau cerita tentang penemuan bola lampu pijar oleh Thomas A. Edison. Sebelum berhasil menemukan bola lampu, ia mengalami sembilan ratus sembilan puluh sembilan kegagalan dan baru pada percobaannya yang ke seribu ia berhasil menciptakan bola lampu pertamanya. Dan ketika ditanya dalam sebuah wawancara oleh Napoleon Hill,Mr Edison apa yang anda rasakan ketika mengalami 999 kegagalan?. Mr Edison menjawab," maaf saya tidak pernah gagal, saya sudah menemukan 999 cara yang tidak boleh dilakukan untuk menciptakan sebuah bola lampu". Sebuah kata luar biasa yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang memiliki kepercayaan dan keyakinan diri yang tinggi terhadap apa yang ia kerjakan. Dari cerita di atas memberikan inspirasi dan semangat kepada kita bahwa keyakinan atas pencapaian tujuan dan semangat pantang menyerah akan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan hidup. Karena kita tak pernah tahu, kapan datangnya kesuksesan. Mungkin kelihatan jauh, walaupun sudah begitu dekat. Keberanian untuk terus mencoba merupakan faktor kunci yang membedakan antara seorang yang gagal dengan orang yang berhasil meraih impiannya. Coba sejenak anda pikirkan jika di tengah tengah perjuangan, mereka menyerah pada kegagalan dan tak melanjutkan apa yang menjadi cita citanya. Apakah yang akan mereka rasakan pada akhir hayatnya? Penyesalan atau kebahagiankah yang mereka rasakan?. Sekarang marilah kita tanyakan pada diri kita, apakah kita begitu mudah menyerah dan berhenti mencoba dalam usaha meraih impian yang kita inginkan dalam hidup? Jika anda merasa ragu untuk memperjuangkannya, tanyakan kembali pada diri anda, apakah impian anda merupakan sesuatu yang sungguh-sungguh pantas diperjuangkan dan memberikan makna dalam hidup kita? Jika ya, maka pencapaian impian tersebut wajib anda perjuangkan. Jadikan impian itu suatu tanggung jawab, sesuatu yang akan kita sesali bila kita tidak pernah mencapainya. Lalu balut keyakinan tersebut dengan paradigma mencoba sekali lagi. Hambatan apa pun yang akan terjadi, kita selalu yakin dengan impian kita, lalu kita bangkit dan mencoba sekali lagi. Dengan mengembangkan mental diri yang positif, maka kita akan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Akhir kata, teruslah berjuang untuk meraih impian dan tujuan dalam hidup anda. Karena pada hakekatnya tidak ada keberhasilan yang sejati tanpa melalui sebuah proses kegagalan. Ketika kegagalan datang yakinlah bahwa anda sudah berada satu langkah semakin dekat dengan keberhasilan. Jangan biarkan ketakutan akan kegagalan menghilangkan tujuan sejati hidup anda.
Oleh : Dipankara Jayaputra Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 10:01:00 PM
  |
|
|
|
|
|
When Enough is Enough
|
|
Bila anda sempat berkunjung ke kota Solo, ada suatu hal yang cukup khas menghiasi tepi-tepi jalan kota ini, bahkan mungkin sampai masuk ke jalan-jalan kecil kampung atau pun perumahan. Sebuah warung tenda sederhana yang menjajakan segala macam makanan, nasi bungkus, gorengan, makanan kecil ringan. Anda jangan bayangkan sebuah warung tenda modern warna warni yang ada di kawasan hunian modern, warung tenda khas Solo ini umumnya hanya ditutup kain terpal, nuansa gelap diterangi lampu minyak tanah, atau kalaupun lampu listrik, hanya berupa lampu remang-remang lima watt. Sekitar lima belas tahun lalu, saya pernah memiliki langganan warung kaki lima ini. Sang penjual seorang bapak tua, yang di usia tuanya dengan tekun dia melayani pembeli. Segala macam profesi kehidupan pernah mampir di warung ini, sopir, polisi, tukang becak, pemulung, sales-man, dan selalu saja setiap malam para pelanggan ini juga seringkali bercerita kesana kemari tentang apa saja kepada bapak tua penjual. Semacam curahan hati. Dan sang bapak penjual, dalam ritual melayani si pelanggan itu, juga setia menjadi pendengar yang baik bagi si pembeli. Baru-baru ini, lima belas tahun kemudian, saya coba mampir ke warung nostalgia saya dulu itu, dan,.. potret yang kurang lebih sama dengan lima belas tahun lalu masih sama di sana. Sang bapak tua penjual yang seperti tak berubah, menyendok gula, menuangkan teh, menyajikan makanan, dengan ritme yang sepertinya sama, jumlah pengunjung yang kurang lebih sama, dikatakan sepi juga tidak, karena selalu tempat duduk yang mengelilingi tenda itu penuh, ditambah beberapa lembar tikar yang digelar di tepi jalan. Dikatakan ramai sekali juga tidak, karena, semua yang datang pasti kebagian tempat. Dan masih sama, orang-orang itu seperti menemukan tempat yang cocok melampiaskan curahan hati mereka, dan sang penjual tetap menjadi pendengar yang baik. Dipandang dari sisi manajemen usaha modern, mungkin anda bisa langsung mempredikati bahwa model usaha seperti adalah contoh usaha yang tidak begitu tumbuh berkembang, lima belas tahun lalu seperti itu, saat ini masih seperti itu. Saya pernah suatu kali melihat sebuah kisah dalam film. Bercerita tentang seorang tycoon pialang saham kaya raya yang begitu menyenangi profesinya sebagai seorang pemilik modal besar untuk jual-beli saham perusahaan-perusahaan raksasa. Diceritakan bahwa dia juga merangkak dari kecil untuk bisa seperti itu, tapi kemudian nalurinya terbentuk murni hanya dalam upaya untuk menumpuk harta dan menimbun kekayaan. Untung dan untung. Dia tidak berusaha untuk memahami arti sebuah proses produksi, dan maknanya bagi nilai tambah sebuah mata rantai kehidupan. Sehingga arti usaha baginya adalah menumpuk aset kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa batas. Kata-kata yang keluar dari mulutnya di setiap transaksi dan negosiasi, adalah ‘fair enough’, ’..good enough’,.. dimana arti kata ‘cukup’ baginya adalah ketika berhasil menguasai lawan bisnisnya. Sampai kemudian, dalam sebuah adegan, diperlihatkan seseorang yang kemudian berkata padanya, “.. when do you think.. when enough is enough..?” Di kehidupan ini, saya banyak menjumpai seseorang yang berkata bahwa apa yang dilakukannya masih belum cukup. Mereka bekerja siang malam, mengejar dead-line, mengejar target, berangkat ketika anak-anak belum bangun pagi dan pulang ketika anak-anak sudah tidur di malam hari. Sebagian lagi berkata bahwa apa yang mereka lakukan dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhannya, tapi mereka tetap bekerja siang malam, tidak sempat sekedar untuk menyapa anak-anak mereka setiap harinya. Memang tidak mudah mengartikan kata "cukup". Saya sendiri memahami bahwa cukup berarti berusaha menjadi bagian dari mata rantai sebuah kehidupan alam raya secara seimbang. Dan seperti selayaknya sebuah kesetimbangan alam, .. mengambil tidak lebih dari apa yang dibutuhkan. Maka ketika kita melihat manusia berupaya tanpa henti seolah untuk ingin mendapatkan semuanya,.. sambil kita berkata bahwa –bahkan- itu semua belum cukup. Rasanya pertanyaan itu menjadi relevan,.. when do we think when enough is enough..? Mungkin ditengah kesibukan kita, sesekali kita perlu belajar dengan orang seperti pak tua sang penjual warung tenda kaki lima yang saya ceritakan di atas. Untuk lebih memahami apa arti kata cukup bagi kita. 19 Agustus 2009 Pitoyo Amrih www.pitoyo.com Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 9:45:00 PM
  |
|
|
|
| Saturday, September 05, 2009
|
|
Can We Stopped The Sea ?
|
“Lacking money and machinery but rich in manpower, Bangladesh used the brawn of 15.000 men to close the mouth of the Feni River to control flooding and create a freshwater reservoir for irrigating rice. Crossing the muddy river bottom at low tide, workers carry 45 kilogram (100 pound) bags to 11 stockpiles. During a frenetic seven-hour intertidal marathon, they blocked a 1,300 meter (0,8 mile) gap, the largest dam yet built in the south Asian country.”
Ini adalah sebuah kisah nyata yang begitu spektakuler yang dilaporkan oleh Hans Van Duivenduk pada National Geographic di bulan Juli 1987. Kisah ini akan semakin membekas dihati jika saja Anda juga melihat foto-foto karya Pablo Batholomew yang turut merekam kejadian tersebut. Dalam foto itu tampak ribuan lelaki besar kecil berkulit gelap berpakaian sederhana –sarung, kaos dalam, celana pendek – memikul karung berisi pasir diatas kepala mereka.
Membendung aliran laut dan Sungai Feni, demi mencegah banjir dan menciptakan saluran irigasi untuk sawah, itu yang mereka lakukan. Sebagian besar masyarakat Bangladesh berada digaris kemiskinan –itu kita semua tahu- dan kini mereka punya masalah besar. Bagaimana menyelesaikan masalah itu dengan “sesuatu” yang mereka punya. Jelas-jelas mereka tidak punya uang berlebih, apalagi teknologi modern yang mempermudah mengundang solusi sebuah masalah, tetapi satu hal mereka punya sumber daya manusia, yang cukup kuat untuk memanggul jutaan karung pasir dengan berat sekitar 45 kg untuk membendung 1.300 meter gap pertemuan antara sungai dan laut. Dan mereka berhasil.
Contoh luar biasa tentang kemauan, kesederhanaan berpikir dan kecerdikan. Teladan bagi siapa saja, entah sebagai bangsa atau kita manusia secara pribadi, yang kerap kali menghadapi keterbatasan yang sama. Kita –kalau mau jujur- sering kali berpikir terlalu jauh tentang penyelesaian sebuah masalah. Pikiran melayang mencari jawaban dikaki langit, padahal pecahan-pecahan jawaban ada di depan hidung. Mengharapkan jawaban doa yang terlalu spektakuler, padahal sebelum meminta, Dia sudah meletakkan jawabannya dikantong baju kita. Menengadah terlalu lama, mengharapkan apa yang sementara ini belum kita punya, dan mengabaikan apa yang sekarang ada digenggaman. Dan ketika penyelesaian masalah itu –menurut versi kita- tak kunjung datang, mulailah kita memakai otak jenius kita untuk berlogika ria tentang mengapa itu tidak dapat kita lakukan. Mencari alasan yang begitu cerdas, tentang mengapa hal ini atau itu tidak dapat kita lakukan. Kurang modal, tidak punya gelar, bukan dari keluarga kaya raya, tidak sekolah diluar negeri, ini itu anu inu….dan lain sebagainya. Masuk akal. Selalu masuk akal.
Ujung-ujungnya, semua itu kembali kepada kita. Apakah kita sungguh-sungguh mau menaklukan masalah kita. Hari ini, mungkin hanya ketepel, beberapa potong roti dan ikan dan tongkat kayu yang ada dalam genggaman kita. Dunia ini mungkin berkata itu jauh dari memadai, tetapi TUHAN –yang menyukai para pemimpi yang berani- mengatakan itu : lebih dari cukup.
-- with friendship, respect & blessing Made Teddy Artiana, S. Kom Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 12:17:00 AM
  |
|
|
|
| Tuesday, September 01, 2009
|
|
Beranie Gagal Juli & Agustus 2009 Versi PDF Sudah Ada
|
Hi para pembaca setia blog Beranie Gagal!
Sekarang sudah tersedia Blog Beranie Gagal Juli & Agustus 2009 versi PDF (offline). Silahkan download filenya di sebelah kanan pada bagian E-book Beranie Gagal > Arsip 2009. Jadi anda bisa membaca blog Beranie Gagal tanpa harus online ke internet...menyenangkan bukan?!
Selamat Membaca!
Salam sukses!
Ryan Founder & Moderator Beranie Gagal Selengkapnya...
|
posted by misterRy
@ 1:35:00 PM
  |
|
|
|
|
|
Aku yang Salah
|
Suatu hari, tampak seorang pejabat mendatangi sebuah rumah besar. Di sana, tinggal keluarga besar yang cukup terpandang. Sayangnya, mereka juga terkenal berperangai keras sehingga sering terdengar percekcokan. Kadang, hal-hal sepele pun bisa menyulut kemarahan, mendatangkan pertengkaran, bahkan tidak jarang berakhir dengan baku hantam.
Dari dalam rumah tiba-tiba terdengar suara PRANG; gelas pecah.
"Hei! Matamu ditaruh di mana, gelas diam di situ ditabrak saja!"
Teriakan balasan pun segera bersambut, "Siapa suruh taruh gelas sembarangan di situ? Dasar goblok!" dan seterusnya. Satu sama lain saling menyalahkan dengan nada tinggi dan mau menang sendiri.
Si tamu pun segera berpamitan dengan tuan rumah, sebelum menyampaikan niatnya, yakni memberikan undangan raja ke istana kepada keluarga yang terpilih karena keteladanannya.
Si pejabat melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi sebuah rumah besar lainnya.
Setibanya di ruang tamu, terlihat seorang pemuda sedang mengepel lantai dengan tekun. Saat melihat ada tamu datang, segera dihentikan kegiatannya dan dengan ramah menyapa si tamu.
Dari arah yang berlawanan, tiba-tiba seorang pemuda yang lain melintas dengan cepat. Dan, GUBRAK, disusul suara mengaduh. Dia terpeleset dan jatuh terlentang!
Tergopoh-gopoh, si pemuda yang masih memegang tongkat pengepel, menghampiri sambil berseru, "Aduh maaf, maaf! Aku yang salah, aku salah. Lantainya basah, bikin terpeleset. Di mana yang sakit, Kak?"
Sambil meringis menahan sakit, si kakak yang terjatuh berkata, "Bukan, bukan salahmu Dik. Aku kok yang salah, jalan terburu-buru tidak melihat lantai masih basah. Tidak apa apa. Teruskan aja ngepelnya." Dia pun segera bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan tamunya.
Menyaksikan peristiwa di hari yang sama di dua keluarga yang berbeda, si tamu sontak mengerti mengapa keluarga yang ini begitu disanjung oleh orang-orang di sekitar situ. Rukun, kompak, dan saling menyayangi satu sama lain. Entah siapa yang salah, satu sama lain saling mendahului untuk meminta maaf, tidak berusaha mencari kesalahan yang lain dan membenarkan dirinya sendiri. Sungguh mengagumkan! Inilah keluarga yang pantas menghadap ke baginda raja untuk menerima penghargaan ke istana kerajaan.
Teman-teman yang luar biasa,
Manusia di kehidupannya sehari-hari, seringkali hanya karena masalah sepele bisa menimbulkan percekcokan, pertengkaran, permusuhan, bahkan dalam skala besar bisa menimbulkan peperangan. Semua berpangkal pada keinginan memuaskan ego atau gengsi manusia yang merasa benar sendiri, mau menang sendiri. Kalau itu tidak bisa dikendalikan dengan baik, maka akan timbul dampak kelanjutannya berupa lahirnya kebencian, dendam, dan penderitaan yang berkepanjangan.
Jika manusia mampu meredam ego, mau menang sendiri, dan berinisiatif mengakui kesalahan dan memohon maaf, seperti cerita di atas tadi, maka banyak masalah pertengkaran dan permusuhan bisa diredam bahkan dihilangkan. Sebagai gantinya, akan lahir kedamaian dan keharmonian yang seutuhnya.
Mengakui kesalahan sendiri membutuhkan jiwa besar, dan berjiwa besar tentu butuh belajar dan berlatih, di setiap kesempatan.
Selamat mencoba!
Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso Selengkapnya...
|
posted by Ryan - Dodi
@ 5:36:00 AM
  |
|
|
|
|
|